“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”
Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.
Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.
Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Susu 17
Pedar lilin menari lembut di dinding tiap kali semilir angin menyusup dari celah jendela. Cahaya keemasannya mengusir gelap yang mengendap di sudut ruangan, memberi rasa tenang serta kehangatan.
Namun tidak untuk Hasna, cahaya remang dari api kecil di ujung lilin yang menjilat malam, seolah bara yang membakar habis hatinya. Gadis itu menangis tersedu sambil menggenggam sapu tangan jingga bersulam benang emas dengan inisial huruf R&H di ujungnya.
“Kenapa, Bang? Kenapa harus ada Nadya!” gumamnya disela tangisnya yang kian sesak.
Bayangan bagaimana Rizal mengusap gemas puncak kepala Nadya, kembali menari di pikirannya.
“Aku sudah mengalah dengan Sukma, dan sekarang Allah kasih kesempatan untuk kita. Tapi, kenapa Abang hadirkan gadis itu? Jika tau akan seperti ini kejadiannya, aku tidak menunda kepulanganku, Bang,” ratap Hasna.
Tangisnya kian pecah di antara pedar lilin yang bergoyang di dinding bercat kuning gading. Pikirannya kembali menerawang kenangan berpuluh tahun silam.
Sore itu hujan deras mengguyur tanpa henti, membuat jalanan yang beralas tanah merah menjadi licin dan becek. Tanah yang lengket, mengendap di antara ban dan rangka belakang sepeda yang dituntun Hasna, membuat rodanya terkunci seketika.
Di tengah kepanikannya karena hujan yang tak kunjung reda dan petir yang terus menyambar, Rizal datang memberi bantuan. Di tengah guyuran hujan, laki-laki itu membantu Hasna membersihkan tanah yang menggumpal, lalu mendorong sepedanya ke gardu yang ada di sisi jalan.
“Lain kali kalo mau pergi mengaji panggil Abang, kita berangkat bareng,” Suara Rizal remaja terngiang di telinga. “Abang itu udah janji sama Wak Sopyan, akan jaga kamu terus, Has kalo beliau nggak ada. Jadi, kedepannya kita harus selalu sama-sama, ya, jangan nyelonong sendiri.”
Sejak sore itu dan ucapan Rizal remaja, Hasna merasa terikat oleh laki-laki itu, namun pil pahit harus ia telan saat Rizal lebih memilih menikahi Sukma—sahabat karibnya hanya karena alasan dijodohkan oleh Ayah mereka.
Hasna terpaksa mengalah.
Saat mendengar kabar sahabatnya meninggal dunia, Hasna merasa itu adalah jawaban atas doa-doanya, namun pil pahit harus kembali ditelan gadis cantik itu saat melihat kehadiran Nadya di sisi Rizal.
“Apa Abang lupa sama janji Abang? Abang bilang kita harus selalu bersama,” lirih Hasna di sela tangisnya yang masih mengisi kamar remang itu.
Ia kemudian menatap tampilannya di kaca, mengusap pelan wajahnya yang ayu khas gadis Sumatera, tatapan gadis itu tiba-tiba mengeras, giginya bergemeretak.
“Untuk kali ini, aku tidak akan mengalah lagi, Bang. Cukup Sukma yang ngerebut Abang, nggak akan ada lagi yang lain,” gumamnya penuh amarah yang terpendam.
.
.
.
Kabut tipis menggantung di rimbunnya hutan bukit barisan, butiran embun berkilau lembut di hamparan rumput, tersapu hangat cahaya matahari yang mulai merangkak dari ufuk timur.
Di sisi jalan, Rizal dan Nadya berjalan beriringan sambil mendorong stroller Adam. Sudah seminggu berlalu sejak sore itu, Nadya selalu menyiapkan menu makanan untuk Rizal dan sang Ibu.
Sambil berjalan-jalan menikmati udara pagi, Nadya berniat ke warung Yuli untuk membeli beberapa bahan masakan di temani Rizal dan Adam. Sesekali terselip canda diantara langkah kaki mereka.
Pemandangan penuh kehangatan itu sontak mencuri perhatian penduduk desa, termasuk Hasna yang sedang menyapu di halaman rumahnya. Ia lalu menghampiri Rizal dan Adam yang melintas di depan rumahnya.
“Hey, anak ganteng tante maraton, ya?” sapanya, sambil berjongkok di depan stroller Adam, lalu mendongak pelan, menyapa Rizal dengan senyum manis, tentu saja senyum itu hanya di tujukan untuk Rizal, dan berubah menjadi seringai sinis saat melihat ke arah Nadya.
“Kamu tumben beberapa hari nggak main ke rumah, Has? Abang kira udah balik ke Palembang,” balas Rizal, seraya tersenyum pada beberapa orang yang melintasi mereka.
“Sibuk, Bang di rumah. Lagi pula, Adam ‘kan sudah ada pengasuhnya, takut ganggu kalo aku sering main,” sahut Hasna sembari mengangkat Adam ke gendongannya.
“Ganggu kenapa? Mainlah kalo ada waktu, ajakin ngobrol Nadya biar kalian makin akrab, biar dia ada temennya juga,” ujar Rizal, mata sendu pria itu melirik kecil ke arah Nadya yang berdiri acuh di sebelahnya.
Hasna menunduk sejenak, mencium kecil pipi gembul Adam. Seringai sinis tergaris di sudut bibirnya, namun seketika berubah manis saat ia kembali menoleh ke arah Rizal. “Memangnya kalo saya sering main nggak ganggu Kak Nadya, saya dengar Kak Nadya kurang suka kalo ada orang yang menengok Adam.”
Nadya terpengarah sesaat mendengar ucapan Hasna, bibirnya bergumam pelan. “Ngapa pula saya jadi alasan, kamu mau main tinggal main juga. Lawang!”
Rizal menoleh ke arah Nadya—menangkap jelas raut tidak nyaman di wajah manis gadis itu. Ia lalu mengusap lembut pundak Nadya seraya berujar pelan. “Kamu ke warung Yuli dulu, gih. Abang sama Adam tunggu di sini.”
Nadya mengangguk pelan, lalu berjalan ke warung Yuli yang berada tepat di sebelah rumah Hasna.
Setelah Nadya pergi, Hasna kembali melanjutkan obrolannya dengan Rizal, senyum manis terus terbingkai di wajah gadis itu.
“Tapi, serius Bang, Kak Nadya nggak akan marah kalo aku sering ke rumah?” tanyanya seolah ingin memastikan posisi Nadya di rumah itu.
“Nggaklah, Nadya itu emang keliatannya aja galak, sebenernya dia baik kok, sangat baik malahan,” jawab Rizal, ada gurat berbeda di wajahnya saat mereka membicarakan Nadya.
Hasna menunduk sesaat, lalu kembali mengangkat dagunya—menatap lekat netra amber milik Rizal. “Abang pasti sedih banget, ya di tinggal Sukma. Aku nggak nyangka dia bakal pergi secepat ini."
Rizal menghela napas pelan, satu tangannya mengusap kepala sang putra yang mulai mengantuk karena terus di timang oleh Hasna. “Sedih itu pasti, Has, tapi ya Abang coba lewati, apalagi ada Adam yang harus Abang jaga dan besarkan sendiri."
Hasna tersenyum hangat, tatapannya teduh. “Abang nggak perlu merasa sendiri, aku siap kok kalo Abang butuh bantuan untuk menjaga Adam.”
“Terima kasih untuk niat baik kamu, Has,” sahut Rizal.
Ia kemudian menoleh ke arah Nadya yang sudah selesai berbelanja. Sudut bibir laki-laki yang tidak hanya tampan, tapi juga terkenal paling sukses di desa itu melengkung pelan. Tangannya terulur mengambil bungkusan plastik yang di bawa Nadya, seraya bertanya dengan suara kha baritonnya. “Ada semua bahan yang kamu cari?”
Nadya mendengus kecil, wajahnya sedikit muram. “Kopinya nggak ada.”
“Terus? Mau cari di warung lain nggak?” tanya Rizal.
“Nggak usah, saya ada beli yang lain. Tapi, nggak tau sama nggak rasanya. Ayo pulang matahari udah tinggi,” sahut Nadya.
“Ya sudah, Has kami pulang dulu,” pamit Rizal sambil berniat mengambil Adam dari gendongan Hasna.
“Adam biar di sini aja dulu, Bang, nanti kalo sudah bangun aku antarkan pulang,” pinta Hasna.
Mendengar itu, pundak Nadya merosot malas, rahangnya sedikit mengeras. “Bocah kalo di gendong, mau seharian juga bakalan tidur. Lagian aneh betul sih orang sini, tau anak diem tinggal biarin geletak kalian mau ngobrol tinggal ngobrol, ngapa pula di gendong-gendong. Kurang gawe.”
“Itu namanya perhatian, Kak, bukan kurang gawe,” sahut Hasna, suaranya di buat selembut mungkin meski dalam hatinya bara api sudah membara.
“Perhatian sama cari perhatian beda tipis ya shay,” celetuk Nadya, lalu berjalan santai sambil mendorong stroller anak susunya.
Rizal lekas menyusul langkah Nadya setelah berpamitan dengan Hasna, senyum kecil terbit di wajah tampan laki-laki itu saat sudah mensejajarkan langkahnya di samping Nadya, meninggalkan Hasna yang masih terpaku di tempatnya. Hati gadis itu semakin mencelos saat melihat tangan Rizal lagi-lagi dengan begitu ringan mengusap puncak kepala Nadya. Ia kemudian melanjutkan menyapu halaman rumah dengan bara api yang masih menyala hatinya.
Sementara itu, kekehan kecil terus meluncur dari bibir Rizal saat mendengar Nadya yang tak henti-hentinya mengomel tentang pola didik orang-orang di lingkungan mereka.
“Kamu kayaknya cemburu betul, Nad, lihat Abang ngobrol sama Hasna,” celetuk Rizal di sela-sela ocehan Nadya.
“Dih, PD betul ini orang,” balas Nadya, acuh.
“Biasanya kamu nggak se emosi ini tau, cemburu ya? Ngaku aja, Nad,” ledek Rizal, sambil mendorong kecil pundak Nadya.
“Mabok kecubung ini orang,” kilah Nadya, kepalanya menggeleng kecil berusaha menutupi wajahnya yang sedikit memanas.
Rizal masih menggoda gadis manis itu hingga mereka sampai di depan rumah, laki-laki itu terus melancarkan aksinya sambil tertawa jahil.
“Nad-nad cemburu, Dam, ciee … cemburu loo … cemburu nih yee.”
Mendengar ocehan Rizal, Nadya menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap ke arah laki-laki itu, mengikis jarak hingga menyisakan sejengkal saja.
“Terus kalau saya cemburu, Abang mau apa?!”
Bersambung.
Semangat 🔥