Fred Tucker, mahasiswa kedokteran diparis, penampilan biasa, agak gempal dan bukan pusat perhatian. satu kali menjadi dirinya menjadi target pembunuh bayaran. Dia harus melarikan diri tanpa tahu penyebabnya. bukan miliarder, bukan siapa-siapa, orang tua biasa saja namun menjadi target mati. hidupnya hancur, orang tua nya mati. Untuk mengetahui apa yang terjadi hidupnya maka Fred harus menjadi pembunuh bayaran. berlatih dan menjadi kuat Dia harus ke berbagai negara sebagai Assassin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setengah Siap
Tidak ada hari yang benar-benar bisa Fred ingat dengan jelas setelah titik tertentu.
Awalnya, ia menghitung. Hari ke-7. Minggu ke-3. Bulan ke-2. Ia mencatat semuanya seperti mahasiswa kedokteran mencatat gejala: kemajuan kecil, kemunduran, rasa sakit, jam tidur, denyut nadi setelah lari.
Lalu suatu pagi, ia bangun, memandang cermin, dan menyadari ia sudah tidak menghitung lagi.
Waktu tidak lagi berbentuk kalender. Waktu berubah menjadi rutinitas.
Dan rutinitas itu mengubah tubuhnya lebih kejam daripada sekadar latihan.
Dulu, Fred gempal. Bahu turun, leher pendek, napas cepat. Tubuh yang tidak pernah benar-benar disiapkan untuk berlari dikejar maut, hanya disiapkan untuk duduk lama membaca buku.
Sekarang… tubuhnya tidak mengenal Fred yang lama.
Bahunya lebih tegas. Perutnya rata bukan karena “diet”, melainkan karena setiap pagi tubuhnya dipaksa memilih: menyesuaikan, atau patah. Kakinya bukan lagi kaki yang memohon berhenti, tapi kaki yang mengerti ritme. Keringat tidak lagi membuatnya malu; keringat menjadi tanda ia masih bergerak, masih hidup.
Mercer tidak pernah memuji dengan benar.
Pujian Mercer selalu terdengar seperti hinaan yang disamarkan.
“Bagus,” kata Mercer suatu subuh ketika Fred menutup jarak dan tidak terengah. “Sekarang kamu cuma terlihat seperti target yang mahal, bukan target yang mudah.”
Fred cuma mengangguk, menahan napas agar tidak tertawa dan tidak marah sekaligus.
Latihan tetap dimulai pagi buta, tapi bentuknya berubah.
Tidak ada lagi ban truk yang menyeret pinggangnya sampai rasanya ingin robek. Beban itu sudah digantikan oleh sesuatu yang lebih sederhana dan lebih brutal: repetisi.
Lari tetap lari. Tapi setelah itu, Mercer menambahnya dengan sit up, push up, plank, dan rangkaian gerak lain yang membuat otot-otot Fred terbakar sampai ia tidak tahu lagi mana rasa sakit dan mana rasa lelah. Mercer selalu berkata hal yang sama saat Fred mulai mengeluh.
“Kalau kamu bisa mengeluh, berarti kamu masih punya energi.”
Fred belajar menelan keluhannya sendiri.
Siang hari, ruang bawah tanah tidak lagi terasa seperti tempat rahasia. Itu terasa seperti sekolah.
Papan senjata di dinding tetap rapi, tetap dingin, tetap menuntut rasa hormat. Fred belajar mengenali berat benda, bahasa logam, dan yang paling penting: belajar bahwa benda-benda itu tidak pernah “keren”.
Mercer menekankan satu hal berkali-kali, bukan teknik, bukan gaya, melainkan sikap.
“Senjata itu bukan simbol,” kata Mercer. “Senjata itu konsekuensi.”
Fred mempelajari cara membongkar dan memasang kembali berbagai jenis senjata dengan target waktu. Stopwatch menjadi hakim yang kejam. Tidak ada “hampir”. Tidak ada “lumayan”. Kalau lambat, Mercer hanya berkata:
“Kamu mati.”
Jika cepat, Mercer hanya berkata:
“Kamu belum mati.”
Fred juga dikenalkan pada hal-hal lain yang membuatnya makin sadar betapa dunia ini berlapis: perangkat, jebakan, benda-benda yang bisa membuat orang hilang tanpa suara. Tapi Mercer tidak mengajarkan itu sebagai permainan. Mercer mengajarkan itu sebagai peta ancaman, apa yang harus dikenali, apa yang harus dihindari, bagaimana cara selamat ketika dunia mencoba menutup jalan.
Sore hari, tinju bukan lagi satu-satunya bahasa tubuh yang Fred pelajari.
Mercer membawanya ke disiplin lain, yudo untuk mengerti jatuh tanpa mematahkan tubuh, karate untuk memahami jarak, jiu-jitsu untuk mengerti bagaimana seseorang bisa mengendalikan orang lain hanya dengan posisi. Latihan itu tidak indah. Tidak seperti demonstrasi di dojo.
Ini latihan yang memar.
Latihan yang membuat napas Fred habis di lantai.
Latihan yang membuat Fred memahami satu hal yang dulu tidak ia pahami ketika menonton film: kebanyakan pertarungan selesai bukan karena pukulan paling keras, tapi karena orang yang kalah kehabisan pilihan.
Fred berkali-kali tercekik, berkali-kali ditahan, berkali-kali dipaksa mengetuk lantai sebagai tanda menyerah.
Mercer tidak pernah mengejek. Mercer juga tidak pernah memeluk.
Mercer hanya berkata:
“Bangun.”
Dan Fred bangun.
Malam hari, buku-buku itu masih ada.
Tebal. Kering. Tidak ada gambar dramatis.
Fred membaca sampai matanya panas, sampai tulang lehernya kaku. Ia menghafal bukan karena ia suka, tapi karena ia sadar: di lapangan, tubuh bisa gagal. Tapi kepala yang tajam bisa menyelamatkanmu satu detik lebih lama, dan satu detik itu bisa jadi perbedaan antara hidup dan mati.
Mercer bahkan melatih hal-hal yang membuat Fred, seorang calon dokter, merasa malu pada dirinya sendiri.
Bukan malu karena moral. Malu karena ia ternyata selama ini “tidak mengerti manusia”.
Mercer menyuruhnya latihan menyamar: bukan sekadar ganti baju, tapi ganti cara berdiri, cara melihat, cara merespons. Mercer membuat Fred berlatih menjadi orang lain, orang yang percaya diri, orang yang takut, orang yang ramah, orang yang tidak terlihat. Fred belajar bahwa penyamaran bukan topeng. Penyamaran adalah kebiasaan yang dipakai.
Mercer juga melatihnya bersandiwara. Bukan sandiwara lucu, tapi sandiwara yang meyakinkan. Percakapan yang tampak santai. Senyum yang tepat. Kebohongan yang tidak dibunyikan seperti kebohongan.
Dan yang paling menyakitkan: Mercer mengajari Fred bagaimana cara menipu tanpa terlihat menipu.
“Dunia ini tidak membunuhmu karena kamu jahat,” kata Mercer suatu malam ketika Fred menutup buku dengan kesal. “Dunia ini membunuhmu karena kamu naif.”
Fred menatap Mercer, mata lelah. “Jadi aku harus jadi pembohong?”
Mercer mengangkat bahu. “Kamu harus jadi orang yang bisa melewati pintu tanpa harus memecahkannya.”
Fred diam.
Ia mengerti.
Kadang, kalau kamu memecah pintu, semua orang akan melihatmu.
Dan di dunia pembunuh, dilihat sama saja dengan ditembak.
Tiga tahun berlalu tanpa terasa seperti tiga tahun.
Bagi Fred, tiga tahun itu terasa seperti satu napas panjang yang tidak pernah benar-benar selesai.
Ada hari-hari ketika ia merasa kuat.
Ada hari-hari ketika ia merasa kosong.
Ada hari-hari ketika ia bangun dan tiba-tiba ingat rumah orang tuanya, rumah yang bukan rumah, dan perutnya mual sampai ia tidak bisa makan.
Di hari-hari seperti itu, Mercer tidak memberi pelukan atau kata manis.
Mercer hanya memberi tugas.
Lari.
Pukul.
Baca.
Karena Mercer percaya satu hal: kalau Fred berhenti bergerak, pikirannya akan memakan dirinya sendiri.
Dan di atas semua itu, ada Maëlle.
Maëlle yang masih koma.
Maëlle yang masih berbaring di ruang steril dengan bunyi bip yang jadi soundtrack setiap kemajuan Fred.
Kadang Fred berdiri di depan ranjang Maëlle setelah latihan, masih berkeringat, masih memar. Ia tidak bicara banyak. Ia hanya berdiri, melihat, memastikan Maëlle masih ada.
Di satu tahun pertama, ia masih berharap Maëlle akan bangun besok.
Di tahun kedua, ia berhenti berharap “besok”.
Di tahun ketiga, harapannya berubah bentuk.
Bukan “bangunlah”.
Tapi “aku akan siap ketika kamu bangun.”
Dan ternyata, itu lebih kuat.
Suatu pagi, setelah lari, setelah rangkaian push up yang membuat lengan Fred seperti mau lepas, Mercer berhenti di halaman dan menatap Fred lebih lama dari biasanya.
“Tarik napas,” kata Mercer.
Fred menarik napas.
Mercer menatapnya seperti orang memeriksa hasil operasi—bukan hasil sempurna, tapi cukup stabil.
“Kamu setengah siap,” kata Mercer akhirnya.
Fred berkedip. “Setengah?”
Mercer mengangguk. “Setengah siap untuk diturunkan di lapangan.”
Fred menelan ludah. Kata “lapangan” terasa seperti pintu yang akhirnya terbuka menuju dunia yang selama ini hanya ia baca.
“Apa artinya setengah siap?” tanya Fred.
Mercer menjawab datar, “Artinya kamu tidak akan langsung mati dalam lima menit pertama.”
Fred hampir tertawa, tapi suaranya tidak keluar.
Mercer melanjutkan, suaranya dingin tapi jelas, “Lapangan bukan tempat untuk memuaskan dendam. Lapangan tempat untuk pulang hidup. Kalau kamu ingin balas dendam, kamu harus tetap hidup cukup lama untuk membalas.”
Fred mengepalkan tangan. Lalu mengendurkannya.
Ia mengerti, meski tidak suka.
Mercer menatap Fred dan berkata pelan, “Besok kita mulai tahap berikutnya.”
Fred menelan ludah. “Tahap apa?”
Mercer tidak bicara, hanya melangkah seolah tidak ada yang terjadi. membiarkan Fred dalam kesendiriannya.
Tapi satu hal jelas: tiga tahun ini bukan akhir.
Ini baru fondasi.