NovelToon NovelToon
Bayangkan Di Rumah Sendiri

Bayangkan Di Rumah Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Cerrys_Aram

Di balik kemewahan mansion Omerly, Zerya Clarissa Omerly hidup dalam dunia yang tak pernah memberinya hangat. Prestasi dihitung sebagai kewajiban, senyum dihargai sebagai topeng, dan setiap kata bisa menjadi kesalahan.
Hingga suatu malam di sebuah kafe, Zerya bertemu seorang pria yang bertolak belakang dengan dunianya—Javian Arka Talandra, CEO yang dingin namun misterius. Satu pertemuan itu membuat Javian merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan di rumahnya yang hangat: rasa ingin tahu… dan rasa ingin melindungi.
Saat kedua keluarga bertemu dalam pertemuan bisnis, topeng Zerya mulai retak. Perlahan, Javian menyadari bahwa di balik penampilan sempurna, ada rahasia dan luka yang selama ini tersembunyi. Kini, di tengah intrik keluarga, ambisi, dan ekspektasi yang menekan, Zerya harus menemukan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri—atau terus tersesat di bayangan rumahnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Garis di Cakrawala

Enam Bulan Kemudian.

Udara Jakarta terasa lebih bersahabat sore itu. Di lantai teratas gedung Talandra Group, suasana tidak lagi sesibuk enam bulan lalu saat badai London dan Paris menghantam. Saham Talandra memang sempat terjun bebas 40%, namun transparansi Javian justru menarik gelombang investor baru yang lebih menghargai integritas daripada sekadar angka.

Zerya berdiri di kantor CEO yang kini menjadi tanggung jawabnya sementara. Di meja kerja Javian, terdapat sebuah bingkai foto kecil—bukan foto keluarga, melainkan foto tim Talandra saat peluncuran proyek CSR pertama mereka di pesisir.

Pintu terbuka. Bukan Bram yang masuk, melainkan asisten baru yang jauh lebih muda dan efisien.

"Nona Zerya, mobil sudah siap. Jadwal kunjungan ke Lapas Salemba sesuai rencana," ucap asisten itu.

Zerya mengangguk singkat. "Terima kasih. Kosongkan jadwal saya setelah ini."

Di ruang kunjungan yang dibatasi kaca, Javian duduk dengan tenang. Ia mengenakan seragam petugas binaan, namun karismanya tetap tidak bisa disembunyikan. Ia tampak sedikit lebih kurus, namun matanya jauh lebih jernih. Masa tahanannya tinggal menyisakan beberapa minggu lagi setelah proses banding dan pengakuan sukarelanya diterima dengan baik oleh pengadilan.

Zerya mengangkat gagang telepon. Javian melakukan hal yang sama di balik kaca.

"Bagaimana kabar Talandra?" tanya Javian.

Suaranya terdengar lebih santai, tanpa beban ribuan kontrak di pundaknya.

"Kita baru saja memenangkan tender energi terbarukan di Marseille," jawab Zerya, bibirnya membentuk senyum tipis. "Otoritas Prancis sangat menyukai laporan transparansi yang kamu tinggalkan."

Javian terkekeh pelan. "Aku sudah menduganya. Dan Aldric?"

Ekspresi Zerya berubah sedikit lebih datar. "Proses hukumnya di Prancis akan memakan waktu bertahun-tahun. Julian Vane mencoba menarik dukungannya, tapi dia juga ikut terseret investigasi pencucian uang. Kurasa... Papih tidak akan melihat Singapura untuk waktu yang sangat lama."

Hening sejenak. Mereka berdua menatap pantulan satu sama lain di kaca pembatas.

"Bram mengirim surat dari penjara London minggu lalu," ucap Javian tiba-tiba. "Dia meminta maaf. Dia bilang dia akhirnya punya waktu untuk menulis surat pada anaknya setiap hari."

"Apa kamu memaafkannya?"

"Aku memaafkan diriku sendiri karena tidak melihatnya sebagai manusia," jawab Javian jujur. "Itu pelajaran termahal yang pernah aku bayar."

Javian meletakkan telapak tangannya di kaca. Zerya menempelkan tangannya di titik yang sama.

"Aku akan keluar dua minggu lagi, Zerya," bisik Javian. "Dan aku tidak ingin kembali ke kursi CEO itu segera. Aku ingin melihat desa pesisir yang kamu bangun. Tanpa kamera. Tanpa kontrak. Hanya kita."

Zerya merasakan matanya sedikit memanas, namun ia tetap tegak. "Aku akan menjemputmu di gerbang depan. Dan kali ini, aku yang akan menyetir."

Javian tersenyum lebar. "Aku pegang janjimu."

Saat Zerya melangkah keluar dari gedung penjara, ia menatap langit sore yang berwarna jingga keunguan. Ia bukan lagi pion Aldric, bukan lagi sekadar "aset" Javian. Ia adalah Zerya. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, jalan di depannya benar-benar bersih.

Badai telah berlalu, dan di cakrawala, ia melihat masa depan yang akhirnya ia pilih sendiri.

Javian menatap telapak tangan Zerya di balik kaca untuk waktu yang lama, seolah sedang menghafal garis tangannya. Sebelum petugas memberi tanda bahwa waktu kunjungan habis, Javian mendekatkan bibirnya ke gagang telepon.

"Zerya," panggilnya pelan.

"Ya?"

Javian tersenyum tipis—kali ini tanpa topeng CEO, tanpa kalkulasi bisnis. Hanya Javian. "Terima kasih sudah tidak pergi."

Zerya tertegun sejenak, tenggorokannya terasa tersumbat oleh emosi yang tiba-tiba meluap. Ia hanya mengangguk pelan, meletakkan gagang telepon, dan memberikan satu senyuman terakhir sebelum berdiri.

Zerya melangkah keluar dari gedung penjara, disambut oleh semilir angin Jakarta yang membawa aroma aspal dan harapan. Ia berhenti sejenak di depan mobilnya, menatap kunci di tangannya.

Badai akhirnya benar-benar berlalu.

Untuk pertama kalinya, Zerya tidak lagi sedang melarikan diri dari bayang-bayang ayahnya atau bersembunyi di balik kontrak orang lain. Ia masuk ke kursi pengemudi, menyalakan mesin, dan menatap jalanan panjang di depannya. Ia sedang berjalan menuju masa depan yang ia pilih sendiri.

1
Iqlima Al Jazira
next thor, kopi & vote untukmu👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!