Farhan bercerai dengan Sinta, wanita yang ia nikahi selama tiga belas tahun. . Farhan jatuh cinta dengan wanita lain,, maka Sinta memilih mundur.
Setelah perceraiannya Farhan menikahi wanita pujaannya itu. Rani seorang janda beranak satu bernama Claudia. Sosok wanita rapuh, yang selalu membutuhkan dirinya. Farhan ingin jadi seseorang yang dibutuhkan di dalam keluarga. Tidak seperti Sinta yang terlalu mandiri.
bagaimana kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RENCANA 2
Rani tertegun di kursi empuk toko perhiasan itu.
Angka 2,5 Miliar berdengung di telinganya seperti sihir. Selama ini ia tahu Farhan kaya, tapi ia tak menyangka benda yang melingkar di lehernya setara dengan harga beberapa rumah mewah.
"Dua setengah miliar?" bisik Rani, suaranya tercekat.
"Kalau saya butuh uangnya cepat, apa toko ini benar-benar tidak bisa?" pemilik toko menggeleng sopan.
"Untuk transaksi sebesar itu, kami harus verifikasi sertifikat dan asal-usul barangnya, Bu. Apalagi ini permata rubi kualitas terbaik. Biasanya hanya kolektor atau rumah lelang besar yang sanggup!" jawab pria itu.
Rani mendengkus frustrasi. Ia memakai lagi kalungnya dengan anggun dibantu oleh salah seorang pekerja toko.
"Ya sudah, terima kasih!"
Ia keluar dari toko dengan langkah terburu-buru.
Pikirannya kalut. Ia butuh uang tunai, dan ia butuhnya sekarang.Rani pulang dari kawasan perbelanjaan elit.
Mobil merahnya membelah jalan raya. Siang itu sangat terik, tapi di dalam mobilnya yang ber-AC, tentu ia tak merasakan kepanasan sama sekali.
Perlahan, ia membelai kalung yang ia kenakan. Hampir seluruh toko yang ia kunjungi tak mampu membeli kalung yang ia tawarkan itu. Bahkan yang terakhir menyangsikan jika benda ini benar-benar miliknya.
Lalu matanya menatap sebuah kartu nama yang tadi diberikan oleh salah satu pemilik toko. Kartu nama dengan tinta emas.
Matanya membola ketika membaca nama yang tertera di sana.
"Mas Farhan? Apa dia sekaya itu sampai kartu namanya ada di mana-mana?" decaknya frustrasi.
Rupanya untuk melepaskan diri dari Iqbal tidak semudah yang ia bayangkan. Bayangan lari dan membawa kabur semua harta Farhan, tidak lah mudah. Terlebih hampir semua harta di sana tidak atas namanya.
"Apa sertifikat rumah atas namaku? Dulu, Mas bawa aku ke sana tanpa berkata apa-apa. Dia cuma bilang jika itu rumah kita berdua!" gumamnya kesal.
Rani memukul setir mobilnya dengan gusar.
"Bodoh! Kenapa aku tidak pernah memastikan status aset-aset itu?"
Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu terlena dengan "uang jajan" ratusan juta dan fasilitas mewah.
Hingga lupa bahwa secara hukum, ia tidak memiliki pijakan yang kuat. Ditambah lagi, status pernikahannya dengan Iqbal yang belum tuntas secara negara membuat posisi hukumnya dengan Farhan menjadi sangat rentan.
"Kalau aku tidak bisa menjual kalung ini, setidaknya aku harus mengamankan uang tunai di brankas rumah," gumamnya sambil mempercepat laju mobil.
Butuh waktu sepuluh menit ia sampai rumah. Ketika masuk, ruang tamu sepi. Ia menatap jam dinding, sudah setengah satu siang.
"'Mereka sudah tidur semua sepertinya," gumamnya pelan.
Rani berjalan ke meja makan. Ia membuka tudung saji. Kosong! Ia nyaris membanting tudung saji itu. Tapi urung karena tau Asih hanya bekerja untuk Rafna. Bukan untuk dirinya apa lagi Claudia.
"Tapi dia selalu baik sama Claudia!" gumamnya lagi.
Hingga ketika ia meletakkan tudung saji ke atas meja. Pintu kamar Rafna terbuka, Asih keluar dan menutup pintu hati-hati.
"Nyonya. Anda sudah pulang?" tanyanya saat melihat Rani di ruang makan.
"Iya ... Mana makan siang?" sahut Rani angkuh.
"Ada Nyonya. Apa perlu saya panaskan?" jawab Asih sambil menawarkan.
"Tidak usah. Nasinya kan hangat!" sahut Rani lalu duduk di kursi makan dan menunggu.
Makan siang terhidang, sayur lodeh, ayam dan tempe goreng juga sambal. Begitu sederhana. Karena lapar, Rani menyantap makanan itu tanpa berdoa.
Selesai makan, ia berdiri dan pergi ke kamarnya. Ia tidak bertanya perkara dua anaknya. Bahkan ia lupa jika tadi pagi Asih memberitahu jika putrinya Rafna panas.
"Nyonya, besok jadwal Nenh Rafna imunisasi ...," Rani berhenti melangkah.
"Iya, besok kamu ikut!" sahut Rani malas.
Ia kembali melangkah menaiki tangga. Asih menghela nafas panjang kemudian ia membersihkan meja.
Sementara di kamarnya, Rani menatap berkeliling. Ruangan itu bersih, tak ada berangkas yang tertanam di dinding atau disembunyikan di belakang lukisan.
"CK! Berangkas apaan!" dengkusnya kesal.
"Eh ... Apa ada di ruang kerja Mas Farhan?" Rani kembali ke luar kamarnya.
Ia berdiri lama, lalu matanya menatap kamar yang tertutup rapat. Di sana ruang kerja Farhan, ia tak pernah masuk ke sana.
Perlahan langkahnya mendekat. Pintu kayu jati berukir berdiri kokoh di depannya. Rani menaikkan tangan dan meraih handel.
"Mestinya tak dikunci!"
Klik! Pintu terbuka, Rani tersenyum. Ia masuk ke dalam ruangan dan menyalakan lampu.
Sebuah meja dari kayu mahoni warna coklat tua dan kursi kerja. Komputer dan PC berada di atas meja tersebut, sangat rapi.
Deretan buku bisnis terpanjang di dinding. Bau khas Farhan tercium di hidung Rani.
"Astaga Mas. Ruangan ini seperti dirimu!" gumamnya takjub.
Rani memindai setiap ruangan. Mencari apa yang ia cari. Lalu matanya menangkap benda yang ia cari, sebuah brangkas besi tepat di bawah rak-rak buku. Ia gegas mendekat dan jongkok.
"Angka apa yang jadi passwordnya?" Rani menekan tanggal lahir di angka yang ada di depan pintu brangkas.
Tit! Brangkas tidak terbuka, Rani mematung. Rupanya Farhan membuat kode lain untuk keamanan aset yang ia lindungi di dalam brangkas.
Rani menggigit bibirnya.
“Bukan tanggal lahirnya?”
Ia menatap deretan angka kecil di panel brankas itu.
Tangannya masih bertumpu di lutut karena posisi jongkok membuatnya sedikit pegal.
“Mas Farhan pasti pakai sesuatu yang penting,” gumamnya.
Lalu ia memasukkan lagi sebuah angka. Kali ini tanggal pernikahan mereka. Tapi sekali lagi pintu besi itu masih tertutup rapat.
"Astaga ... Mas!"
"Hachi!" Farhan bersin di depan kolega. Mereka tengah berkumpul berdiskusi masalah polemik global yang tengah terjadi.
"God bless you, Mister Farhan. Are you okay?" tanya salah satu kolega asing.
"I'm fine. My nose is a little itchy!" jawab Farhan sambil menggosok hidungnya.
Kembali ke ruang kerja Farhan. Rani duduk lemas di atas karpet tebal. Lantai ruangan itu dialasi karpet tebal warna coklat.
Ia menatap brangkas yang masih tertutup rapat. Sudah lebih dari tiga kali ia menekan nomor tapi semuanya gagal. Tanda merah menyala di panel angka. Ia diberi peringatan untuk tidak mencoba memaksa menekan angka.
"Mas Farhan pasti curiga kalau benda ini ada yang memaksa membukanya!" gumamnya putus asa.
Rani berdecak kesal. Ia sangat marah, suaminya ternyata masih bisa menyimpan rahasia begitu ketat di dalam rumah.
Ia akhirnya berdiri, tulisan reset all password tertulis di sana. Ia yakin, ketika Farhan kembali dan memeriksa benda itu akan langsung bertanya padanya.
"Ah ... Peduli setan!" umpatnya kesal.
ia keluar dari ruangan itu dan menutupnya sedikit keras. Lalu Rani melangkah sedikit menghentak-hentakkan kakinya.
"Kalung nggak bisa dijual, brangkas malah error dan langsung ter-reset!" ocehnya bergumam.
"Apa aku jual perhiasan yang biasa ya?" pikirnya lalu masuk kamar dan langsung menuju lemari.
Ia membuka satu kotak perhiasan. Sebuah gelang dengan taburan berlian tampak berkilau di sana.
"Ah, jual ini dulu. Satu-persatu. Kalau habis ... Baru pergi!" lanjutnya santai.
Bersambung.
Emang edan Rani.
Next?