Karena keinginan Laras, Rangga melepas semua beban yang selama ini menghimpit dadanya. Satu kata talak sudah cukup untuk mengakhiri pengabdian tulus yang selama ini diinjak-injak.
Namun, dunia seolah berputar. Saat Rangga mulai menata hidup yang baru, Laras yang dulu menghancurkannya kini bersimpuh di kakinya. Memohon satu kesempatan yang sudah mustahil untuk diberikan.
"Jangan mengejar apa yang sudah kau buang, karena hatiku bukan tempat untuk pulang bagi pengkhianat."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NAMA YANG TERTULIS DI HATI
Sore itu, aroma tanah basah setelah hujan sisa siang tadi merayap masuk melalui celah jendela jati di ruang tengah. Lembang sedang dingin-dinginnya, membungkus rumah mereka dengan kabut tipis yang terlihat seperti kapas putih dari kejauhan. Di dalam rumah, suasana terasa hangat sekali. Bunyi detak jam dinding beradu pelan dengan suara gesekan pensil warna di atas kertas. Rinjani sedang asyik mewarnai di meja kecilnya, sementara Rangga duduk di sofa, berkutat dengan tumpukan map plastik berisi berkas administrasi sekolah.
Rangga menarik napas panjang, menghirup wangi teh melati yang baru saja diletakkan Syakira di atas meja. Jemarinya memegang pena, namun ragu sejenak saat matanya menatap satu kolom kosong di formulir pendaftaran ulang: Nama Ibu Kandung/Wali.
"Mas, kok melamun sih? Tehnya nanti dingin loh," tegur Syakira lembut. Ia duduk di samping Rangga, tangannya yang halus mengusap perutnya yang mulai menonjol di balik daster batik yang ia kenakan.
Rangga tersenyum tipis, tapi matanya tetap terpaku pada kertas itu. "Ini loh, Dek. Urusan administrasi Rinjani buat naik kelas. Mas cuma... agak bingung di bagian ini."
Rinjani yang tadinya sibuk mewarnai matahari dengan krayon kuning, seketika berhenti. Ia meletakkan krayonnya, lalu berjalan mendekat ke arah meja ayahnya. Langkahnya pelan, suara gesekan kaus kakinya di atas lantai kayu terdengar jelas. Ia berdiri di samping lutut Rangga, matanya yang bulat menatap lurus ke arah kertas kusam itu. Ia seolah mengerti apa yang sedang membuat ayahnya mematung.
"Ayah..." suara Rinjani kecil sekali, tapi terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu.
"Kenapa, Nak? Ada tugas sekolah yang susah ya?" tanya Rangga sambil mengelus pipi putrinya yang terasa kenyal dan hangat.
Rinjani menggeleng. Jari telunjuknya yang mungil menunjuk tepat ke kolom Nama Ibu. "Boleh nggak... kalau di situ ditulis nama Mama Syakira saja? Jangan dikosongin lagi kayak kemarin, Yah."
Pena di tangan Rangga nyaris terjatuh. Ia menatap Rinjani dengan perasaan yang campur aduk. Hatinya bergetar hebat. Dulu, kolom itu adalah lubang menganga yang menyakitkan. Saat di Jakarta, ia sering menatap Rinjani menunduk sedih setiap kali guru di sekolah lamanya menanyakan keberadaan ibunya yang tak pernah muncul. Nama Laras pernah ada di sana, tapi cuma sebagai deretan huruf tanpa nyawa.
"Nak, ini dokumen resmi loh. Rinjani yakin?" Rangga memastikan dengan suara yang agak berat, tenggorokannya terasa tersumbat. "Nanti semua orang di sekolah bakal tahu kalau Mama Syakira itu ibunya Rinjani di kertas ini. Guru-guru, teman-teman Rinjani, semuanya."
"Yakin sekali, Yah! Rinjani mau semua orang tahu kalau ibu Rinjani itu Mama Syakira. Biar kalau ada yang tanya siapa yang masak bekal enak buat Rinjani, Rinjani bisa bilang itu Mama Syakira di kertas ini. Emang boleh kan, Yah? Mama nggak keberatan kan?" tanya Rinjani sambil menoleh ke arah Syakira dengan pandangan penuh harap.
Syakira tertegun di tempatnya. Gelas teh yang baru saja ia pegang terasa bergetar halus di jemarinya. Ia menatap Rinjani, lalu beralih menatap Rangga. Ada sesuatu yang meledak di dalam dadanya—rasa haru yang luar biasa besar sampai-sampai ia merasa oksigen di sekitarnya mendadak menipis.
Seketika, Syakira meletakkan gelasnya dengan gerakan yang kaku di atas meja. Matanya mulai berkaca-kaca, tampak seperti genangan air bening yang siap tumpah kapan saja. Ia tidak menyangka bahwa pengakuan terbesar dalam hidupnya sebagai seorang ibu sambung justru datang lewat permintaan sederhana dari bibir bocah yang dulu ia selamatkan dari trauma.
"Rinjani... Sayang..." bisik Syakira. Suaranya serak, tertahan oleh gumpalan haru di tenggorokan.
Rinjani tidak menunggu jawaban lagi. Ia langsung menghambur ke pelukan Syakira, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher wanita yang sangat ia sayangi itu. "Mama... Rinjani mau nama Mama yang tertulis di situ. Biar selamanya Rinjani jadi anak Mama. Biar nggak ada lagi yang bilang Rinjani nggak punya Mama."
Tangis Syakira pecah seketika. Ia mendekap tubuh kecil Rinjani dengan erat sekali, sampai bahunya terguncang hebat. Air matanya jatuh membasahi seragam sekolah yang masih dikenakan Rinjani. Ia menciumi puncak kepala Rinjani berulang kali, menghirup aroma sampo stroberi yang manis. Bagi Syakira, momen ini jauh lebih berharga daripada mas kawin atau perhiasan mahal mana pun. Ini adalah penobatan batin yang sesungguhnya.
"Makasih ya, Nak... makasih sudah mau terima Mama yang banyak kurangnya ini," isak Syakira di sela tangisnya.
Rangga yang menatap pemandangan itu cuma bisa terduduk kaku, mencoba menahan air matanya sendiri agar tidak ikut tumpah. Dadanya terasa sesak oleh rasa syukur yang meluap. Ia teringat kembali malam-malam jahanam di Jakarta, saat ia harus menggendong Rinjani di tengah hujan badai karena diusir oleh Laras. Saat itu, ia merasa hidupnya sudah hancur berkeping-keping dan tak akan pernah utuh lagi.
Tapi sekarang, menatap Syakira dan Rinjani yang berpelukan begitu erat, ia merasa setiap kepingan itu sudah kembali ke tempatnya. Bahkan, ia merasa hidupnya jauh lebih indah sekarang. Lingkaran keluarganya kini beneran sudah utuh. Secara hukum memang sedang diupayakan, tapi secara batin, mereka sudah menyatu tanpa celah sedikit pun. Rangga menyadari bahwa rumah bukan cuma bangunan fisik di Lembang ini, tapi pada nama yang tertulis di hati Rinjani.
"Sudah, sudah... jangan nangis terus dong, nanti Dedek bayi di perut Mama ikut sedih loh," ujar Rangga sambil merangkul keduanya. Tangannya yang lebar dan masih sedikit kasar bekas bekerja kasar dulu kini merangkul dua harta paling berharganya.
Syakira mencoba tersenyum di balik air matanya, ia mengusap pipi Rinjani yang juga ikut basah. "Iya, Sayang. Tulis saja nama Mama di situ, Mas. Tulis yang bagus, biar semua orang tahu Rinjani itu anak aku."
Dengan tangan yang masih sedikit bergetar, Rangga mulai menggoreskan pena di atas formulir pendaftaran itu. Huruf demi huruf ia rangkai dengan penuh khidmat. S-y-a-k-i-r-a M-a-n-s-y-u-r. Setiap goresan tinta itu terasa seperti doa yang sedang dikabulkan satu per satu. Ia menatap tulisan itu dengan perasaan lega yang tak terlukiskan. Nama itu kini resmi menjadi tameng bagi Rinjani, menghapus sisa-sisa bayang kegelapan masa lalu.
Suasana ruangan kembali tenang, cuma ada suara sisa sedu sedan Syakira yang mulai mereda. Rinjani kembali ke kursinya dengan wajah yang jauh lebih ceria, seolah beban seberat gunung baru saja terangkat dari bahu kecilnya. Syakira masih memegangi tangan Rangga, menyandarkan kepalanya di bahu suaminya dengan penuh kedamaian.
"Mas, makasih ya sudah kasih aku kesempatan buat jadi ibu buat Rinjani," bisik Syakira pelan, nyaris tak terdengar.
"Aku yang makasih, Dek. Kamu sudah sembuhin luka kami berdua," jawab Rangga sambil mengecup kening istrinya lama sekali.
Tapi, kedamaian itu terusik saat ponsel Rangga yang tergeletak di atas meja seketika bergetar hebat. Layarnya menyala terang di tengah remang sore yang mulai gelap. Sebuah email masuk dengan notifikasi mendesak. Rangga mengernyitkan dahi, perasaannya mendadak tidak enak. Ia membuka pesan itu; undangan peresmian lokasi baru untuk cabang elit di Jakarta Pusat yang selama ini ia incar.
"Dek," Rangga menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Minggu depan kita berangkat ke Jakarta. Lokasi cabang elit yang kemarin itu sudah deal. Kita buka cabang di sana."
Seketika, atmosfir di ruangan itu berubah. Syakira tersenyum bangga, tapi Rangga merasakan desir aneh di punggungnya. Jakarta. Kota yang dulu membuangnya sebagai sampah, kini mengundangnya kembali sebagai raja. Tapi Rangga tahu, kota itu tidak pernah benar-benar membiarkan siapa pun pulang tanpa menghadapi hantu dari masa lalunya.