"Dasar pria buta, dia cuma hidup dari sumbangan keluarga Wijaya!" cibir seorang wanita.
Sepertinya kehadiran Elang telah menjadi tontonan bagi mereka. Semua orang mengatainya sebagai pria tak berguna,
"Aku calon istri dari pria yang kalian bicarakan."
Entah naif atau bodoh, ucapan Nila berhasil menarik perhatian Elang.
Setelah kecelakaan 10 tahun lalu, pria itu kembali dari pengasingan panjang. Diam-diam bertingkah lemah demi membalaskan dendam,
Namun siapa sangka? di tengah sandiwara dia justru bertemu seorang gadis liar yang membuat hidupnya berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlilit hutang
Dua bulan telah berlalu semenjak kejadian itu, Juna mendapat hukuman setimpal. Bukan hanya fisik yang babak belur tapi masa depannya juga hancur,
Elang memastikan agar Juna tak bisa lagi bekerja di perusahaan manapun. Sebenarnya dia ingin menjebloskan pria itu ke dalam penjara, namun dihentikan Herman karena dinilai berlebihan dan takut memicu reaksi publik, lagipula mereka berhasil menyelamatkan Nila sebelum hal buruk terjadi.
Nila juga kembali bekerja tanpa gangguan apapun, dalam waktu terakhir dia berhasil menunjukkan hasil terbaik dan naik jabatan sebagai staff senior.
Drt...Drt...Drt...
Suara dering telfon terdengar, membuat gadis yang tengah sibuk mengamati berkas harus terjeda. Merogoh laci dan menerima panggilan tersebut,
"Kemana saja kamu? Kenapa tidak pulang ke rumah!" pekik suara dari balik telpon,
Nila mengernyit, kupingnya panas mendengar omelan. "Aku benar-benar lupa," batin Nila menyadari sudah 4 bulan dia tak pernah pulang atau mengunjungi keluarganya.
"Maaf paman, aku sibuk bekerja."
"Jangan bohong. Aku dengar kamu sudah menikah dan menikahi pria buta pengangguran." celetuknya terdengar begitu marah.
"Paman tahu dari mana?" Nila terkejut, bagaimana bisa berita itu sampai ke telinga paman.
"Ga penting siapa yang ngasih tahu, pokoknya paman mau kamu pulang dan bercerai."
"Asal kamu tahu, ayahmu mati ninggalin banyak hutang! Seharusnya kamu menikahi pria kaya raya buat bayar semua hutang ayahmu."
"Hutang? Sejak kapan ayah punya hutang," sontak Nila menunduk sambil berbisik, jangan sampai karyawan lain mendengar keributan dari mejanya.
"Kamu pikir uang buat operasi waktu ayahmu kecelakaan itu pake daun?" oceh paman semakin kesal.
"..." Nila terdiam sejenak menelaah ucapan tadi, mungkinkah benar mendiang ayahnya sempat berhutang?
Sekali lagi Nila berpikir dia sudah tahu segalanya, tapi ternyata tidak.
"Paman ga mau tau, nanti kamu harus pulang ke rumah." tegasnya sebelum menutup panggilan.
Nila melirik layar ponsel yang telah mati, memasukkan kembali ke dalam laci. Menarik nafas panjang lalu memijat pelan dahinya yang terasa nyeri,
Mengusap kasar wajahnya dengan batin penuh beban. "Masalah apalagi ini?"
"Darimana paman tahu kalau aku sudah menikah? Jangan-jangan..." gadis itu menganga memberikan tuduhan pada mantan kekasihnya.
Hanya Rangga yang bisa melakukan semua ini, apalagi dulu pamannya sering menghubungi Rangga secara diam-diam untuk meminta uang.
Nila tahu tabiat buruk pamannya yang tak akan pernah berubah, bagaimana kalau cerita hutang tadi hanyalah kebohongan?
Seketika dia membayangkan apa pendapat Elang. "Cerita ga ya---tapi aku ga mau nyeret dia ke dalam masalah ini." gumam Nila merasa bimbang.
Tapi sesulit apapun, Elang tetaplah suaminya. Meski berat Nila memutuskan untuk pergi, melihat jam yang menunjukkan waktu istirahat. Dia berniat untuk menyelesaikan masalahnya sendiri kemudian memberitahu Elang,
"Tuan---nyonya baru saja pergi." lugas Herman tengah berdiri di depan jendela berukuran besar.
Dari lantai atas dia bisa mengawasi semua orang yang melewati gerbang perusahaan. Mendapati motor familiar milik Nila baru saja melintas keluar,
"Ga biasanya nyonya pergi jam segini.Gimana menurut Tuan? Perlukan saya suruh orang untuk membuntuti?" menoleh ke arah pria yang tengah duduk di kursi.
"Siapkan mobil, jangan sampai kita kehilangan jejak." ucap Elang dengan wajah datar,
Perintahnya berhasil mengagetkan Herman, pertama kali melihat Elang bertindak sendiri. Padahal sebelumnya dia selalu menyerahkan segala hal pada Herman, "Tuan jadi sedikit berubah.."
"Apa maksudmu?" tanya Elang mengerutkan alis,
"Gapapa---saya cuma berpikir pribadi Tuan makin menyenangkan sejak bersama nyonya." tersenyum kikuk, jangan sampai dia menyinggung Elang.
"Sok tau! Udah cepat, tunggu apalagi?" Meninggikan suara,
Membuat Herman panik, "Siap! Saya siapkan mobil sekarang." kelabakan pergi keluar ruangan.
Mereka berhasil mengikuti Nila sampai ke tujuan. Berhenti memarkirkan mobil di pinggir jalanan, menatap Nila masuk ke sebuah rumah.
"Inikan----" Herman terbelalak mengenali kediaman tersebut.
"Ada apa?" ujar Elang penasaran melihat raut kaget di wajah asistennya.
Herman menelan ludah karena gugup, perlahan menoleh membuka suara. "Tuan ingat setelah menjalani operasi, waktu itu Tuan menyuruh saya buat mencari korban kecelakaan?"
"Iya, aku ingat. Waktu itu kamu baru bekerja, terus aku memberimu tugas untuk mencari orang yang kami tabrak. Apa ada hubungannya dengan rumah ini?"
Herman mengangguk, semakin jelas setelah mendengar cerita Elang. Dia juga menyadari sesuatu, "Korban kecelakaan itu, sepasang suami istri. Dan ini rumah mereka,"
"Istrinya meninggal dan si suami mengalami patah tulang parah. Jadi itu, alasan saya merasa nyonya mirip seseorang yang pernah saya temui,"
"Maksudmu Nila putri mereka?" sontak Elang mengernyit, berharap kalau tebakannya salah.
Namun Herman mengangguk pelan, "Saya ga nyangka dunia akan sesempit ini."
"Sial!" hardik Elang menggertakkan gigi, tangannya mengepal kuat.
Mau mengelak pun tidak bisa, mobil keluarganya lah yang merenggut kebahagiaan Nila. Meski tak sengaja Elang tetap merasa bersalah atas semua yang telah terjadi,
Di sisi lain,
Tampak Nila yang begitu kaget melihat tumpukan kardus berisi barang miliknya tertata di luar rumah. "Ada apa ini?"
Kakinya berjalan masuk ke dalam mencari seseorang, mendapati paman dan sepupunya tengah sibuk mengobrak-abrik kamar.
"Kenapa ini? Kenapa paman ngambil semua barang-barang ayah?!" amuk Nila menarik paksa lengan pria yang terus mengeluarkan baju dari lemari.
"Aku mau jual rumah ini." tegas paman melepaskan diri,
"Kenapa dijual? Inikan rumah ayah---"
Paman menoleh dengan mata membulat. "Tapi ayahmu udah mati! Lebih baik rumah ini dijual buat bayar hutang." meninggikan suara,
"Memang berapa hutangnya sampe harus jual rumah?" sahut Nila dengan raut serius.
"500 juta!"
"500 juta?! Ga mungkin uang sebanyak itu cuma buat operasi," komen Nila tak percaya, pasti ada hal lain yang paman sembunyikan.
Dia menatap penuh rasa curiga, hingga membuat pamannya merasa panik. "Sial! Sejak kapan gadis ini semakin berani menentangku."
"Gara-gara aku gagal menikahkan dia dengan tuan tanah. Mereka jadi menagih semua uang yang sudah kuhabiskan untuk menguliahkan Raisa." menggerutu dalam hati,
Dulu tuan tanah pernah menghubunginya dan melakukan perjanjian agar bisa meminang Nila. Dia juga memberikan uang 500 juta kepada paman sebagai imbalan, tapi karena rencana mereka gagal tentu saja paman harus mengembalikan semua uang itu kepada pemiliknya.
Namun sayang uang sebanyak itu sudah habis demi gaya hidup dan menguliahkan putri bungsunya.
"Ya emang 500 juta. Itu udah ditambah bunga karena ayahmu ga pernah nyicil," dusta paman bersikap angkuh,
Nila yang belum percaya terus mencecar dengan seribu pertanyaan. "Emang berapa jumlah bunganya? Kok bisa sampai segitu. Ayah ngutang sama siapa?"
"Mana aku tahu, tanya aja sama ayahmu yang udah mati itu. Berapa uang yang dia minta---dia utang sama pak Broto! Kemarin bawahannya nagih dan bilang kalau ayahmu punya utang 500 juta." pekik paman tak merasa bersalah, terus saja membuat kebohongan baru.
"Bohong. Ayah ga mungkin ngambil hutang ke pak Broto." jawab Nila semakin memberontak.
Tahu kalau ayahnya tidak mungkin berani. Nama Broto sudah terkenal sebagai lintah darat di daerah mereka, mustahil ayah Nila berhutang meski dalam keadaan kepepet.
"Pasti paman kan yang punya hutang ke pak Broto? Ngaku!"
Pria itu geram melihat tingkah Nila yang sok pintar. "Pokoknya, rumah ini harus dijual buat bayar utang."