NovelToon NovelToon
Pengantin Genderuwo

Pengantin Genderuwo

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Dunia Lain / Suami Hantu
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

Mirasih gadis yatim piatu yang di tinggal orang tuanya karena kecelakaan, di adopsi Pamannya.Tapi di balik kebaikan semu pamanya,ternyata semua harta ayah ibu nya di ambil semua ,dia dijadikan pembantu,kerap di siksa dan di pukuli hingga di jadikan tumbal pesugihan nya kepada genderuwo.Hanya secercah harapan kepada Aditya yang membuatnya kuat dan sabar menghadapi semuanya.. Apakah Aditya jujur dan setia janjinya kepada Mirasih?Sampai kapanpah Mirasih menjadi pengantin Ki Ageng sang Genderuwo itu ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepulangan Adit

​Sinar matahari Jakarta terasa lebih menyengat di atas tumpukan semen dan besi tua, namun bagi Aditya, panas itu tak lagi terasa menyiksa. Sejak Tono kembali dari kampung halaman membawa kabar yang menggetarkan sukma, semangat Aditya seolah dipompa oleh mesin hidrolik yang tak kenal lelah.

​"Dit, kamu tidak akan percaya kalau tidak lihat sendiri," ucap Tono sore itu di bedeng, sambil menenggak air mineral dengan rakus. "Rumah Mirasih... itu bukan lagi rumah, Dit. Itu istana! Ada satpamnya, ada pembantunya. Pagar besinya saja mungkin lebih mahal dari upah kita setahun. Desa kita sudah berubah, jalanannya mulus, lampu-lampu jalan terang benderang. Mirasih sekarang jadi orang paling dihormati di sana."

​Mendengar itu, hati Aditya membuncah. Ada rasa bangga yang luar biasa, namun terselip sedikit rasa minder yang ia tepis jauh-jauh. “Mirasih sudah sukses. Paman Broto pasti sudah kaya raya sekarang. Aku harus segera pulang agar bisa bersanding dengannya. Aku tidak boleh membiarkan dia menunggu lebih lama lagi,” batinnya.

​Nasib baik seolah berpihak pada kerinduan Aditya. Proyek pembangunan gedung perkantoran yang mereka garap, yang seharusnya memakan waktu tiga bulan lagi, ternyata mengalami percepatan karena penambahan tenaga ahli dan lembur besar-besaran. Mandor mengumumkan bahwa pekerjaan akan rampung minggu depan. Gaji dan bonus lembur akan segera dicairkan.

​Aditya dengan cekatan mulai merapikan baju-bajunya yang kusam ke dalam tas jinjing besar. Ia mencuci sepatu botnya, melipat sarung kesayangannya, dan menata oleh-oleh kecil berupa kain batik Jakarta untuk Mak Inah serta jam tangan untuk Siti.

​Kabar percepatan selesainya proyek ini pun sampai ke telinga Ningsih. Gadis itu merasa dunianya seolah akan runtuh jika ia harus berpisah dengan Aditya begitu saja. Baginya, kepulangan Aditya adalah momen krusial. Jika ia membiarkan Aditya pulang sendirian, ia takut "kedekatan" mereka selama di Jakarta akan menguap begitu saja.

​Ningsih berlari terengah-engah menuju bedeng Aditya. "Mas Adit! Mas benar-benar mau pulang minggu depan?"

​Aditya menoleh sambil tersenyum lebar. "Iya, Ning. Alhamdulillah, kerjaan selesai lebih cepat. Aku sudah kangen rumah, kangen Ibu, kangen semuanya."

​Ningsih meremas ujung celemeknya, matanya menatap Aditya dengan penuh harap. "Mas... Ningsih boleh ikut tidak? Ningsih mau ikut pulang ke kampung Mas Adit. Mau liburan sebentar, penat di Jakarta terus. Bapak sama Ibu sudah kasih izin, katanya asal Mas Adit yang jaga, mereka percaya."

​Aditya tertegun sejenak. Ia berpikir secara logis dan polos. Selama ia sakit dan susah di Jakarta, keluarga Ningsih adalah orang pertama yang menolongnya. Ibu Ningsih memberinya makan gratis, Ningsih merawatnya dengan telaten. Baginya, membawa Ningsih pulang adalah cara untuk membalas budi, sekaligus memperkenalkan kepada Mak Inah bahwa ada keluarga yang sangat baik padanya di perantauan.

​"Ya sudah, kalau Bapak dan Ibu mengizinkan, boleh saja, Ning. Nanti biar kamu tahu rasanya udara desa. Ibu dan Bapakku pasti senang ada tamu dari kota," jawab Aditya tanpa curiga sedikit pun.

​Aditya tidak menyadari, dengan memberikan izin itu, ia secara tidak sengaja telah menyulut sumbu ledak di desanya. Ia tidak tahu bahwa kehadirannya bersama seorang wanita kota akan menjadi "bukti nyata" bagi segala fitnah yang telah disebarkan oleh Mirasih dan Ki Ageng Gumboro. Ia sedang melangkah menuju jebakan maut dengan senyum di wajahnya.

​Hari kepulangan itu tiba. Setelah pembagian gaji dan bonus yang lumayan besar, Aditya berpamitan dengan haru kepada orang tua Ningsih di warteg.

​"Jaga anak saya ya, Dit. Kabari kalau sudah sampai," pesan Ibu Ningsih sambil memberikan bungkusan nasi untuk bekal di jalan. Ia menatap Aditya dengan pandangan seolah-olah Aditya adalah menantu yang sedang membawa istrinya mudik.

​"Nggih, Bu. Pasti saya jaga," jawab Aditya mantap.

​Ningsih tampil sangat rapi. Ia mengenakan baju baru, sepatu yang bersih, dan membawa tas penuh oleh-oleh: kue-kue kaleng, susu bubuk, hingga pakaian untuk keluarga Aditya. Ia ingin memberikan kesan pertama yang sempurna. Di dalam hatinya, Ningsih sudah berangan-angan akan disambut hangat sebagai calon menantu, duduk di ruang tamu sambil bercanda dengan adik Aditya.

​Perjalanan di dalam bus antarkota ditempuh dengan tawa. Ningsih terus bercerita tentang rencana-rencananya selama di desa, sementara Aditya lebih banyak menatap ke luar jendela, membayangkan wajah Mirasih yang merona saat melihatnya kembali.

​Sore hari, saat matahari mulai condong ke barat dan langit berwarna jingga kemerahan, bus menurunkan mereka di depan gapura masuk desa. Aditya turun pertama kali, menghirup udara desa yang ia rindukan. Namun, matanya langsung membelalak.

​"Gusti... ini benar desaku?" bisik Aditya tercengang.

​Gapura desa yang dulu hanya dari kayu kini berdiri kokoh dari beton dengan ukiran yang indah. Jalanan setapak yang dulu becek jika hujan, kini sudah teraspal mulus. Rumah-rumah warga tampak lebih teratur, dan ada taman-taman kecil di pinggir jalan. Kemakmuran itu terasa nyata, namun ada hawa dingin yang aneh menyambutnya.

​Ningsih turun di belakang Aditya, menjinjing tasnya dengan gaya yang sedikit angkuh, merasa dirinya sangat keren sebagai orang kota yang sedang berkunjung ke desa. Ia membetulkan rambutnya, menebar senyum kepada beberapa orang yang lewat.

​Beberapa warga desa yang sedang duduk-duduk di depan rumah atau sedang pulang dari sawah segera menghentikan aktivitas mereka. Mata mereka tertuju pada Aditya yang membawa seorang perempuan asing dengan pakaian modis.

​"Loh, itu kan Aditya?" bisik Bu RT kepada tetangganya.

​"Iya benar! Astaga... jadi benar kata Nak Mirasih. Lihat itu, dia pulang bawa perempuan dari kota. Ganjil sekali penampilannya," sahut yang lain dengan nada sinis.

​Aditya, yang tidak tahu apa-apa, merasa heran dengan tatapan warga. Ia melihat mereka tidak menatapnya dengan kerinduan, melainkan dengan pandangan tidak suka, jijik, dan penuh selidik. Bisik-bisik mereka terdengar seperti desis ular di telinga Aditya.

​Ia mencoba bersikap ramah. Dilihatnya Bu Maman, ibu dari teman mainnya dulu, sedang menjemur kerupuk di pinggir jalan.

​"Assalamualaikum, Bu Maman! Sehat, Bu? Wah, desa kita sudah bagus sekali ya," sapa Aditya dengan senyum tulus.

​Bu Maman menghentikan kegiatannya, menatap Aditya dari atas ke bawah, lalu melirik Ningsih yang berdiri di samping Aditya sambil memegang lengan baju Aditya (karena Ningsih merasa agak risih dilihat banyak orang).

​"Waalaikumussalam," jawab Bu Maman dengan nada yang sangat ketus, hampir seperti membentak. "Oalah, baru pulang kamu, Dit? Kirain sudah lupa jalan pulang karena asyik di kota."

​Aditya tersentak. "Loh, Bu Maman kok bicara begitu? Saya kerja di sana buat keluarga, Bu."

​"Kerja atau main perempuan?" sindir Bu Maman sambil menunjuk ke arah Ningsih dengan dagunya. ". Ternyata kamu pulang sudah bawa 'oleh-oleh' hidup. Itu perempuan dari mana? Mau kamu jadikan istri atau memang sudah hamil duluan makanya dibawa pulang cepat-cepat?"

​Wajah Aditya mendadak merah padam. "Bu! Tolong jaga bicaranya! Ini Ningsih, dia anak pemilik warung tempat saya makan. Dia cuma mau main ke sini!"

​"Halah! Main kok sampai bawa tas banyak begitu? Di sini bukan tempat penampungan perempuan kota, Dit! Malu-maluin keluarga saja kamu ini!" pungkas Bu Maman sambil membanting nampan kerupuknya dan masuk ke dalam rumah.

​Ningsih terdiam, wajahnya pucat. Kegembiraan yang tadi ia rasakan seketika menguap berganti rasa malu dan sakit hati. "Mas... kenapa ibu itu jahat sekali?" bisiknya gemetar.

​Aditya tidak menjawab. Jantungnya berdegup kencang karena amarah dan kebingungan. Ia segera menarik tangan Ningsih. "Ayo, Ning. Jangan dengarkan mereka. Kita pulang ke rumahku dulu. Mungkin mereka cuma salah paham."

​Aditya berjalan dengan langkah seribu, tidak lagi berani menoleh ke kanan atau ke kiri. Ia merasakan setiap pasang mata di desa itu menghakiminya. Ia bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi selama ia pergi? Kenapa nama Mirasih disebut-sebut seolah ia telah melakukan dosa besar padanya?

​Ia tidak tahu bahwa berita kepulangannya bersama seorang wanita telah sampai ke telinga Mirasih bahkan sebelum kakinya menyentuh tanah desa, melalui bisikan ghaib sang suami.

1
Nurr Tika
kasian adit padahal ga salah
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
apakah Mak Inah meninggal?
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
baru sadar kau Adit ,
membawa Ningsih ke desa adalah
kehancuran mu
Nurr Tika
lanjut thor
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
Aditya terlalu lemah
sampai kapan kau biarkan keadaan bgini
bahkan kau pun tak kan bisa membawa Mirasih kembali menemukan jiwa nya yg tergadai iblis
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
ruwett ruwet
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
penjelasnmu tak kan mampu
menarik kembali Mirasih yg dlu Aditya
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
kamu tdk akan bisa kembali memiliki Mirasih Aditya
selama kemewahan dari iblis dinikmati Mirasih yg dgn sukarela menggadaikan nyawa nya
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
andaikan Mirasih tdk terbujuk rayu iblis yang memiliki jiwa nya ..
semua kepalsuan itu di tanganmu sendiri Mirasih ...
mata hati mu tertipu iblis yg dulu kau benci
Nurr Tika
kamu akan menyesal mirasih
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
Mirasih matii sisi manusia nya
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
masa pubertas sitii
jodoh ngga ya sama mas Budi
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
badai yang diciptakan oleh Mirasih
kabut ghoib genderuwo tak akan membiarkan Mirasih lepas darinya
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
setitik nafas Mirasih masih mengingat Tuhan ,tapi mengingkarinya
mungkin kah Budi penawar luka Mirasih setelah kehilangan Aditya
Nurr Tika
knp ga dari awal mirasih ikut adit ke kota
Nurr Tika
kenapa kamu mau menuruti mereka
Nurr Tika
sungguh kasihan mirasih
Nurr Tika
tega sekali meraka
Nurr Tika
mending kabur aja
Nurr Tika
ga tega liat mirasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!