"Aku akan selalu mencintaimu, tapi ketika kau mengkhianati aku, di saat itulah aku akan pergi." Yasmin
"Aku hanya sekali melakukan kesalahan, tolong maafkan aku dan beri aku kesempatan." Jacob
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lebih sensitif
Napas Jacob terengah-engah, keringat sudah membasahi seluruh badannya. Namun usaha Jacob tidak mengkhianati hasil. Setelah menempuh perjalanan panjang dan melelahkan, hingga membuat mobil hitam miliknya jadi berdebu. Akhirnya, pagar kayu vila keluarga Surya mulai terlihat dari kejauhan. Pintu gerbang Vila mewah tersebut sedikit terbuka, seolah menyambut kedatangannya.
Jacob memarkirkan mobilnya di tepi jalan, kemudian melangkah masuk ke dalam Vila. Udara sejuk pegunungan menyambutnya, tapi Vila tersebut terlihat sunyi, seperti tak berpenghuni. Tidak ada suara orang mengobrol, tidak ada langkah kaki, hanya kedamaian yang terasa mencekam. Seolah-olah Vila tersebut sudah ditinggalkan oleh pemiliknya.
"Yasmin!" Teriak Jacob memecah keheningan. "Sayang, aku datang untuk menjemputmu pulang!"
Jacob berjalan cepat melintasi taman yang banyak ditumbuhi bunga liar. Tanpa permisi Jacob mulai memasuki Vila berbahan kayu tersebut. mencari keberadaan sang istri di setiap sudut rumah, tapi orang yang Jacob cari seperti menghilang ditelan bumi.
Langkah kaki Jacob berhenti di ruang tamu, aroma parfum Yasmin yang wangi bunga mawar masih tertinggal di sana. Mata Jacob berotasi ke sekitar, fokusnya kini tertuju ke meja tamu. Sepotong kue coklat yang sudah di makan sedikit, sisa sop krengsengan yang menjadi favorit Yasmin, serta sebuah cangkir teh yang masih mengeluarkan asap tipis masih tertata rapih di atas meja. Membuat Jacob yakin kalau Yasmin belum lama meninggalkan vila tersebut.
"Di mana dia sebenarnya?"
Jacob tidak mau menyerah begitu saja, Ia terus melanjutkan pencarian sang istri, mulai dari kamar tidur, dapur, sampai bangku kayu yang ada di pinggir danau.
"Yasmin! Aku datang untuk menjemputmu!" Jacob terus memanggil nama Yasmin berulang-ulang. Namun hening, masih tidak ada jawaban. Hanya gema suaranya sendiri yang memantul di dinding kosong.
Jacob kembali ke ruang tamu, mencari petunjuk di mana keberadaan sang istri. Sampai matanya menangkap sesuatu di sudut ruang, di dalam tempat sampah yang sedikit terbuka. Di dalam tempat sampah berwarna hitam tersebut terlihat jelas bungkus kondom bekas pakai.
Darah Jacob membeku, pipinya sudah memanas, rahangnya juga mengeras.
"Ini tidak mungkin! Pasti ini bukan milik Yasmin, benda ini pasti milik pengunjung Vila sebelumnya." Mata Jacob membelalak, Ia tidak bisa percaya dengan apa yang dia lihat.
"Yasmin sangat mencintaiku, dia tidak akan tega mengkhianati aku." Jacob mencoba berpikir positif, tapi hatinya berkata lain.
"YASMIN!!!" teriaknya dengan sekuat tenaga, suaranya memecah keheningan pegunungan. Air mata Jacob hampir keluar, tapi Dia menahannya. Dia tidak akan menangis. Dia tidak akan putus asa semudah ini.
"Aku bersumpah, aku akan menemukanmu walaupun kau pergi ke ujung dunia sekalipun, aku akan menangkapmu dan meminta penjelasan atas sikap kekanak-kanakanmu ini, Yasmin!"
Angin bertiup kencang, membawa suara angin yang seolah-olah menertawakan kelemahannya.
***
Suara teriakan Jacob yang menyayat hati melayang-layang melalui udara pegunungan, menyebar jauh hingga terdengar jelas di vila tempat Yasmin dan Javier berada. Suara tersebut terdengar penuh kesedihan dan kemarahan.
Yasmin duduk di sofa yang terletak di balkon Vila, memegang cangkir teh hangat dengan anggun. Senyum puas memancar di bibirnya. Seolah-olah suara itu adalah hadiah terbaik yang dia dapatkan setelah lama menunggu.
Di sebelahnya, Javier berdiri dengan wajah penuh kekhawatiran. Matanya memandang ke arah vila keluarga Surya, dahinya sedikit berkerut.
"Apa ini tidak keterlaluan, Yasmin?" ucapnya dengan nada pelan tapi tegas. "Jacob bisa berbuat nekat jika dia sampai percaya kau telah selingkuh dengan pria lain."
Meskipun Javier tidak menyukai Jacob, selalu menganggap pria itu penghalang dalam hubungannya dengan Yasmin, tapi Javier tidak mau ada hal buruk yang terjadi pada Jacob. Javier khawatir tindakan nekat Jacob akan merepotkan banyak orang, termasuk Yasmin nantinya.
Yasmin menyipitkan mata. Wajahnya tiba-tiba berubah, terlihat kesal dan marah.
"Sebenarnya kau ada di pihakku atau Jacob sih?!" tanya Yasmin dengan nada ketus.
"Kalau kau ada di pihaknya, sana temani saja dia. Tidak usah peduli padaku!"
Tanpa menunggu balasan dari Javier, Yasmin berdiri dari duduknya dengan cepat. Yasmin menghentakan kakinya dengan kasar, berjalan menuju kamar tidur dan membanting pintu dengan bunyi yang keras, sampai membuat dinding Vila bergetar.
Javier menggelengkan kepala, bahkan sampai mengelus dadanya sendiri saat melihat tingkah Yasmin.
"Kenapa dia marah? Apa aku salah berbicara? Kalau terjadi sesuatu pada Jacob, kan nanti dia juga yang repot." Gumam Javier.
Javier memandang pintu kamar yang tertutup rapat, perasaan bingung meliputi dirinya. Sejak hamil, Yasmin memang jadi berbeda. Lebih sensitif, gampang marah, bahkan gampang nangis tanpa alasan jelas. Jika ada sesuatu yang tidak disukainya, Yasmin akan mengungkapkannya saat itu juga, tanpa memikirkan perasaan orang lain.
Javier tetap berdiri di teras, memikirkan apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
Bersambung...