NovelToon NovelToon
Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:492
Nilai: 5
Nama Author: Mokhammad Soni

cerita fantasi berlatarbelakang zaman majapahit, ada plot twistnya, ada pengkhianatannya, penghiatan cinta, sahabat, ada percintaan, percintaan sebelah tangan, cinta segitiga, ada intrik sosial ada intrik politik, pemeran utama adalah anak penguasa yang terbuang, dihinakan, terlunta-lunta dengan dibenci karena orang tuanya yang dicap penghianat, pada akhirnya dia menapak sedikit demi sedikit dengan menyembunyikan identitas, merangkak naik kekuasaan untuk membalas dendam, pemeran utama tidak baik-baik amat, dia juga menggunakan cara-cara untuk mencapai tujuan baik itu cara licik, pura2 menjalin hubungna asmara, pura-pura bersahabat untuk mencapai tujuan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 2 JALUR GELAP WILWATIKTA

Malam belum sepenuhnya menenggelamkan Wilwatikta pada kesunyian malam.

Api masih menyala di beberapa sudut Rumah Rakyan Arya Wardana, menggerogoti balok-balok kayu tua yang sejak lama menopang kebesaran simbol Jabatan Rakyan. Asap hitam menggantung rendah, membuat bulan tampak seperti mata pucat yang mengintip dari balik kabut dosa.

Raka berlari tertatih di lorong sempit di bawah tanah.

Tangannya digenggam erat oleh seorang abdi dalem, abdi dalem yang sudah tua—bahunya bongkok, napasnya berat, namun langkahnya pasti. Obor kecil di tangan lelaki itu bergoyang, menciptakan bayangan panjang yang menari liar di dinding batu.

“Tetap lihat ke depan Ndoro. Jangan menoleh kebelakang, Ndoro,” bisik sang abdi dalem.

“Apa pun yang panjenengan dengar dan yang terlihat, tetaplah untuk maju kedepan jangan pernah menoleh kebelakang.”

Raka tidak menjawab. Suara itu tertahan di kerongkongannya. Seolah-olah tenggorokannya terlalu kering untuk mengeluarkan suara. Setiap tarikan napas terasa seperti menghirup bara api.

Di atas mereka, suara gaduh pergerakan orang-orang yang mencari Raka masih terdengar. Langkah kaki para prajurit prajurit. Bentakan perintah, umpatan. Bunyi pintu didobrak. Menandai pergerakan pencarian dilakukan secara sistematis dan pengeledahan telah dimulai lebih intensif.

Semakin kedalam lorong itu makin rendah dan sempit. Raka harus menunduk, kadang merangkak. Batu-batu tajam mulai mengikis telapak tangannya, meninggalkan luka-luka kecil yang perih. Namun rasa sakit itu tenggelam di bawah satu ketakutan yang lebih besar—takut tertangkap.

“Kenapa mereka masih mencari?” Raka akhirnya berbisik.

Abdi dalem itu melirik sekilas, wajahnya diterangi cahaya obor. Keriput di wajahnya tampak seperti peta jalan penderitaan.

“Karena kalau hanya darah Rakryan hal tersebut bagi tentara masih jauh dari cukup sehingga bagi mereka kata belum cukup bagi mereka,” jawabnya pelan.

“Pengorbanan selalu butuh saksi terakhir.”

Raka tidak sepenuhnya mengerti, tapi dadanya mengencang.

Lorong bercabang dua.

Abdi dalem berhenti, menempelkan telinga ke dinding. Dari celah batu, suara di atas terdengar semakin dekat.

“Cari setiap sudut! Anak itu harus ditemukan!”

Suara itu asing, tapi penuh kuasa. Raka membeku.

Tangannya gemetar. Ia teringat wajah ayahnya yang terakhir—tenang namun pasrah. Terbayang senyum ibunya yang memintanya pergi.

Hidup… dan balas dengan akal.

Abdi dalem menariknya ke cabang kiri.

“Jalur kanan menuju gudang senjata,” bisiknya. “Mereka pasti ke sana dulu.”

Mereka bergerak cepat.

Di lain tempat, Raka..

Perjalanan semakin ke dalam. Lorong makin sempit. Bau lembap dan tanah basah menusuk hidung. Sesekali air menetes dari langit-langit batu, jatuh ke kepala Raka, membuatnya terlonjak.

Tiba-tiba obor padam. Gelap menelan mereka. Raka menahan napas, jantungnya berdegup liar.

“Diam,” suara abdi dalem hampir tak terdengar. Ia menggesek batu api dengan tangan gemetar. Percikan kecil muncul, lalu cahaya redup kembali menyala.

Namun suara di atas kini tepat di atas kepala mereka.

“Di sini! Ada lorong lama!”

Bayangan tombak terlihat melalui celah di langit-langit. Abdi dalem mendorong Raka ke ceruk kecil di dinding.

“Masuk,” katanya tegas.

“Itu sempit—”

“Masuk!”

Raka menyelip ke dalam ceruk, tubuhnya terjepit. Abdi dalem menutup celah itu dengan papan batu tipis yang nyaris menyatu dengan dinding.

Raka terkurung. Gelap. Sempit. Sunyi. Di luar, suara prajurit terdengar jelas.

“Ada jejak darah.”

“Periksa!”

Langkah kaki mendekat.

Raka menutup mulutnya dengan tangan. Napasnya terasa terlalu keras. Dadanya sesak, seolah dinding-dinding batu itu hendak meremukkannya.

Ia teringat ibunya. Jangan percaya pada nama. Ia menahan napas.

Waktu berjalan lambat. Sangat lambat. Akhirnya, langkah-langkah itu menjauh.

Papan batu digeser. Wajah abdi dalem muncul, pucat tapi lega.

“Syukurlah belum waktunya untuk mati,” katanya lirih.

Mereka melanjutkan perjalanan.

Lorong berakhir pada sebuah pintu besi kecil, setengah berkarat.

“Inilah àdalah jalur terakhir Raka,” ujar sang abdi dalem. “Dibuat Rakryan Arya Wardhana bertahun-tahun lalu. Kalau istana jatuh, katanya, darah keluarga harus punya jalan keluar.”

Tangannya gemetar saat membuka pintu.

Ternyata saat pintu itu terbuka, itu bukanlah sebuah jalan kebebasan.

Melainkan sebuah selokan besar yang mengalirkan limbah istana ke luar tembok istana Wilwatikta.

Bau busuk menyergap.

Raka meringis.

“Apa kau yakin? Kita harus lewat selokan ini?”

Abdi dalem mengangguk. “Istana menyembunyikan kebusukannya di sini. Tak ada prajurit yang mau turun.”

Teriakan kembali terdengar dari arah belakang.

“Mereka ke arah selatan!”

Waktu habis.

Abdi dalem turun lebih dulu, menginjak lumpur dan air kotor. Ia menoleh ke atas.

“Ndoro, dengarkan aku baik-baik,” katanya. “Setelah keluar, panjenengan jangan pernah memakai nama Raka Wardhana lagi.”

Raka menelan ludah.

“Aku harus pakai nama apa nanti?”

Abdi dalem menatapnya lama.

“Siapa pun boleh Ndoro yang penting nama itu bisa membuatmu bertahan.”

Raka turun.

Air kotor mencapai pinggangnya. Bau menyengat membuatnya ingin muntah. Namun ia terus berjalan, dibimbing oleh tangan renta itu.

Di belakang mereka, suara besi dipukul keras.

Pintu lorong ditembus.

“Kejar!”

Mereka berlari terseok di dalam selokan.

Akhirnya, cahaya samar terlihat di kejauhan.

Lubang keluar.

Abdi dalem mendorong Raka lebih dulu.

Begitu Raka keluar, udara malam menghantam wajahnya. Ia terjatuh ke tanah berlumpur di luar tembok istana.

Abdi dalem menyusul—lalu berhenti.

“Pergilah,” katanya. “Aku akan menutup jalur ini.”

“Tidak—”

“Ndoro,” suara itu tegas. “Ini tugasku.”

Langkah prajurit makin dekat.

Raka mundur, air mata bercampur lumpur.

“Terima kasih…”

Abdi dalem tersenyum tipis.

“Bertahanlah untuk hidup Ndoro.”

Ia menutup pintu besi dari dalam. Bunyi benturan senjata. Badan yang roboh, Sunyi.

Raka berlari menjauh dari tembok Wilwatikta. Di belakangnya, istana berdiri gelap dan berdarah. Di hadapannya, dunia asing menunggu.

Bunyi pintu pelarian itu didobrak dan beberapa prajurit keluar dari pintu itu, mereka kemudian menyebar, meneliti kemungkinan adanya tanda-tanda dari target yang melarikan diri.

Prajurit-prajurit itu tersenyum dan tanda itu itu jelas terlihat.

Darah Raka Wardana.

Dan merekapun tersenyum penuh arti. Mereka melihat kearah jejak yang tertinggal. Satu orang mengirim pesan ke pimpinan sedang yang lain bergerak mendekat kelokasi Raka. .

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!