NovelToon NovelToon
Heart'S

Heart'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Cintapertama
Popularitas:149
Nilai: 5
Nama Author: Reyna Octavia

Dino pamungkas, pemilik tubuh tinggi dan wajah tegas itu merupakan ketua geng Ultimate Phoenix. Mendadak dijodohkan, Dino sempat menolak. Namun, setelah tahu siapa calon istrinya, dia menerima dengan senang hati.

Dara Farastasya, yang kini dijodohkan dengan Dino. Dara bekerja menjadi kasir di supermarket. Gadis cantik yang ternyata sudah mengambil hati Dino semenjak satu tahun lalu.

Dara tidak tahu, Dino menyukainya. Pun Dino yang gengsi mengatakannya. Lantas, bagaimana rumah tangga dua orang pekerja keras itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Maaf

SELAMAT MEMBACA!

Mencari sebuah ketenangan, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kebanyakan dari mereka tak mendapat kata tenang di hidupnya. Terkadang, dia berpikir dunia ini terlalu berisik untuknya yang membenci banyak omong kosong, bukan benci akan keramaian.

Pavita benar-benar menahan Dara beserta suaminya agar tidak pulang meninggalkannya. Wanita itu akhirnya mau mengisi perut setelah beberapa kali dipaksa oleh Dara. Padahal sebelumnya, ia sama sekali tak mau kecuali permintaannya dituruti.

Dara jadi harus absen dari kerja karena tidak bisa pulang pagi. Mama mertuanya itu pun meminta dibuatkan sup seperti kemarin. Gadis tersebut merasa terlalu semena-mena terhadap pekerjaannya sekarang, karena usaha itu adalah milik sang papa mertua. Namun, Dino berujar di saat Dara takut. "Gak apa-apa, Ra. Lo kerja di sana dan masuk satu kali sebulan pun, dan lo mau dapet gaji utuh, pasti dikasih."

Sebenarnya, Dino, Pavita, dan Dava sudah merekomendasikan kepada Dara untuk menjadi ibu rumah tangga saja, tanpa bekerja. Atau, Dara juga bisa menjadi manager di supermarket tempatnya bekerja. Namun, jika Dara meninggalkan pekerjaannya, kegiatan seperti apa yang akan dilakukan dari pagi hingga malam. Dara merasa lebih baik bekerja saja.

Sarapan di rumah yang besar itu sudah selesai. Mereka sangat menikmati masakan Dara. Padahal, jika di rumahnya sendiri, Dara tidak selalu mendapatkan pujian seperti itu. Semenjak menikah, gadis itu jadi lebih rajin, mungkin karena memang kewajibannya.

Bermalam di kamar Dino, kamar lelaki itu dominan berwarna gelap. Dindingnya saja berwarna abu-abu. Katanya, tempat ini baru saja dicat ulang. Saat ini, Dara berdiri di balkon yang langsung terhubung dengan kamar Dino. Semilir angin menerpa wajah Dara hingga terasa sejuk.

Dara berniat untuk menghubungi Ambo. Dia sudah memikirkan ini secara matang. Mempunyai masalah dengan orang-orang seperti itu, sedikit menganggu kehidupannya. "Aku cuma akan bantu menyampaikan, selebihnya biar mereka yang mutusin," ucap Dara. Lalu, ia berdiri dan berpegangan pada pagar pembatas. Maniknya menatap sekitaran rumah dari sini.

Dara tidak sadar, sepasang netra melihatnya sejak tadi. Dino memandangi punggung istrinya yang nampak menikmati semilir angin. Lalu, dia berjalan mendekat dan berdiri di samping sana. Dara menyadari, kemudian menoleh dan tersenyum tipis. "Lo di sini nyaman kan, Ra?" tanya Dino.

Dara menoleh, mengangguk singkat. "Siapa yang nggak suka tinggal di rumah sebagus ini, No?" Dara berpikir, rumahnya adalah yang paling indah. Namun, rumah Dino ternyata lebih dari segalanya dan memiliki semua fasilitas. "Kamu beneran anak tunggal ya, No?" celetuk Dara.

"Iya."

"Sering ngerasa kesepian nggak?"

Dino menggelengkan kepala membuat Dara mengerutkan dahi. "Gue punya banyak saudara, Ra. Meski mereka gak sedarah sama gue, tapi gue seneng punya mereka," katanya. "Gue gak pernah kesepian. Anak-anak Ultimate Phoenix udah isi kesendirian di hidup gue sebagai anak tunggal."

"Sebelum kenal mereka, kamu sama siapa, No?"

"Sebelum ada mereka, gue temenan sama anggota inti terdahulu. Alias temen-temen dari kakek gue. Gue seneng karena jadi yang paling muda."

Seuntai senyum Dino terbitkan, ia menghembuskan napas panjang. "Mau main kelinci gak, Ra?" ujar Dino.

"Kamu punya, No?" Dara balik bertanya, dengan memasang wajah kaget dan mata bulatnya. Lalu, Dino menarik tangan Dara dan mengajaknya pergi dari sana.

Dara pikir, itu benar-benar kelinci hidup yang lucu. Namun, Dino malah mengajaknya memasuki sebuah ruangan penuh dengan banyak boneka. Dara heran, hanya ada boneka kelinci di sana. "Aku pikir kelinci beneran!"

Dara memukul lengan Dino dengan kesal. Lalu, dia melangkah memasuki ruangan itu. "Punya siapa, No?" tanya Dara.

Dino menyusul, berdiri di samping gadis yang berbinar melihat banyak boneka di sana. "Punya adik sepupu, yang pernah diasuh Mama," jawab Dino.

Dara mendongak, menatap wajah suaminya yang terlihat sangat datar seperti biasa. "Terus, dia ke mana?"

Dia menunduk dalam, memandang sepasang kaki yang beralaskan sandal. "Udah pergi ke surga."

...🦋...

Seorang pria dan wanita berdiri di sebuah rumah yang sederhana. Mereka mengetuk pintu beberapa kali, tetapi tak ada jawaban dari dalam sana. Wanita itu duduk di kursi, raut wajahnya terlihat kesal dengan tatapan tajam dan bersendekap dada. "Sya, apa yang perlu aku lakuin supaya kamu maafin aku?" ujar sang lelaki.

Itu adalah Nasya dan Ambo yang mendapat undangan dari sang pemilik rumah. Namun, Dara dan Dino masih belum pulang. Nasya tidak menghiraukan ucapan Ambo, dia hanya mau pergi bersama pria itu karena urusan dengan Dara.

Akhirnya, suara deru motor Dino mulai terdengar. Lalu, itu benar-benar mereka. Dara segera turun dan menghampiri tamunya. "Maaf ya, baru sampai," ujar Dara. "Udah nunggu lama, ya?" Dara segera membuka pintu yang dikunci.

"Ayo, masuk!" ajak Dara, kemudian Nasya mengikuti langkah gadis itu di belakang.

Nasya merasa canggung, kemudian ia duduk terlebih dahulu di sofa ruang tengah sambil menunggu Dara yang pergi ke kamar. Nasya mengedarkan pandangannya, menjelajahi setiap sudut rumah. Lalu, tidak lama Dara keluar menghampiri. Bersamaan dengan itu, Dino dan Ambo datang.

Dino menghampiri istrinya, kemudian membisikkan sesuatu. "Gue ke kamar aja, ya? Kalau butuh apa-apa, panggil aja, Ra!"

Dara menganggukkan kepala. Lalu, dia ikut duduk di sofa, menemani tamunya. Sedangkan Dino, ia membiarkan istrinya itu bebas di sana. "Mau minum apa?" tawar Dara.

"Gak usah repot-repot," jawab Nasya. "Kamu juga baru pulang, pasti capek." Dia tersenyum tipis.

Dara membalas senyuman itu. Dia juga ingin segera menyelesaikannya, agar hidup menjadi lebih damai. Dia juga sudah berumahtangga, penting baginya sebuah ketenangan.

"Oh, iya, nama aku Nasya." Dia mengulurkan tangan, kemudian dibalas oleh Dara. "Agun gak pernah kenalin aku ke kamu, ya?" katanya.

"Iya, aku cuma tahu nama kakak aja," balas Dara. Ia merasa sedikit canggung karena bingung harus mengatakan apa untuk memulainya.

"Aku minta maaf buat semuanya, Ra. Mungkin maaf dari kalian buat aku, memang sedikit sulit, ya?" Manik Nasya berair. "Wajar aja kalau kalian gak maafin aku karena penyebab ini semua adalah aku," ucapnya.

Dara menggelengkan kepala. "Aku udah maafin siapapun itu. Aku coba menerima. Lagian, buat apa menyimpan dendam? Nggak akan bisa bikin Kak Agun kembali." Dia tersenyum tipis.

Suasana di ruangan itu benar-benar menegangkan. Pembicaraan serius untuk menyelesaikan masalah di masa lampau, membuat pihak yang terlibat merasakan debaran jantung.

"Sebelumnya, aku undang Kakak ke sini karena Kak Ambo," ujar Dara. "Dia udah menyesal, dia udah dapat hukuman, dia sudah bertanggung jawab atas tindakannya."

"Kami sekeluarga sudah merelakan kepergian Kak Agun dan memutuskan untuk tidak lagi membenci siapapun. Sekalipun orang itu sudah membuat Kak Agun pergi selamanya."

"Kak Ambo juga melakukan itu demi cintanya." Dara menunduk dalam, sesungguhnya ia ingin menangis sekarang juga. "Kakak seharusnya juga memaafkan, sama seperti kami," ucap Dara.

Nasya hanya diam, kemudian ia melirik sekilas ke arah Ambo yang menundukkan kepala. "Sebelum itu, Ra. Kamu pasti udah tahu apa akar dari masalah itu," ujar Nasya. "Aku bener-bener anggap cincin itu penting."

"Aku ngerti, Kak. Memang, perjuangan yang terlihat nggak dihargai, selalu menyakiti hati," ujar Dara. "Tapi, nggak semua yang kita lihat itu benar."

Benar, Nasya waktu itu hanya melihat tanpa mau mendengarkan Agun. "Waktu itu, Kak Nasya bahkan nggak mau dengerin Kak Agun. Sama sekali nggak. Seolah Kak Agun berpaling dari Kak Nasya, padahal Kak Agun cuma berbuat kesalahan yang nggak disengaja," ungkap Dara. "Maaf itu perlu dari sebuah hubungan, agar tetap berjalannya hubungan itu."

"Maaf, Ra."

"Aku udah maafin Kakak. Sekarang, giliran Kak Nasya yang maafin Kak Ambo yang udah berjuang buat cintanya ke Kakak." Dara mengulas senyum tipis. Kalimat membuat Nasya dan Ambo saling menatap. Namun, tak ada dari salah satu bersuara.

Ambo menghembuskan napas berat. "Gue memang gak pantas buat dimaafin," katanya.

Keheningan mengudara sejenak, memberi waktu Nasya untuk berpikir. Lalu, dia berujar dengan suara pelan."Aku akan usahakan itu."

Ambo mengangkat wajahnya, menatap Nasya dari samping dengan wajah senang.

"Aku harap, masalah ini nggak pernah terjadi. Biar Kak Agun tenang di sana, kita di sini harus bahagia," ujar Dara.

Menatap langit biru yang cerah, Nasya hanya diam di jalan. Dia tidak berminat untuk berbicara dengan Ambo saat ini. Ia berpikir bagaimana caranya memaafkan itu karena Ambo adalah akar dari ini semua.

Mungkin, jika Ambo tidak membuat cerita palsu itu, pasti tak akan ada pertengkaran di antaranya dengan Agun. Juga usahanya yang mati-matian untuk mendapatkan hadiah berharga tersebut. Aku cinta sama kamu, Agun.

Aku rela jual harga diri aku buat kamu.

Maaf. Mungkin, kamu gak akan seneng.

...🦋...

Dara itu berbohong, tadi dia dengan tenang mengatakan semuanya. Namun, sepulangnya Ambo dan Nasya dari sana, gadis itu menangis kencang di pelukan Dino. "Aku nggak bisa maafin semuanya kalau disuruh jujur, No," rengeknya.

"Mungkin, memang aku bilang udah maafin mereka. Tapi, aku aslinya nggak, No. Hatiku nggak bisa maafin mereka, semuanya."

"Aku nggak rela, dari dulu aku nggak pernah mau Kak Agun pergi. Bahkan, dia mau kuliah di luar kota, tapi aku larang."

"Sekarang apa, No? Dia bahkan pergi selamanya dari dunia ini."

"Aku nggak punya teman sebaik Kak Agun, No," lirih Dara. Air matanya sudah tidak terbendung lagi.

Dino mengelus surai lembut Dara, sesekali ia menepuk kepala gadis itu dan mengecupnya singkat hingga membuat Dara diam seketika. "Udahan nangisnya! Baju gue basah kena air mata lo," seloroh Dino.

Dara sedang sedih, tetapi malah dibuat kesal. Ia memukul pelan dada bidang Dino dengan kepalan tangan, sehingga suaminya itu tersenyum tipis.

Besok ulang tahun Dino kan, ya? Batin Dara, kemudian senyum miring mulai ia terbitkan.

...🦋...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!