NovelToon NovelToon
Heart'S

Heart'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Cintapertama
Popularitas:358
Nilai: 5
Nama Author: Reyna Octavia

Dino pamungkas, pemilik tubuh tinggi dan wajah tegas itu merupakan ketua geng Ultimate Phoenix. Mendadak dijodohkan, Dino sempat menolak. Namun, setelah tahu siapa calon istrinya, dia menerima dengan senang hati.

Dara Farastasya, yang kini dijodohkan dengan Dino. Dara bekerja menjadi kasir di supermarket. Gadis cantik yang ternyata sudah mengambil hati Dino semenjak satu tahun lalu.

Dara tidak tahu, Dino menyukainya. Pun Dino yang gengsi mengatakannya. Lantas, bagaimana rumah tangga dua orang pekerja keras itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Istirahat

...SELAMAT MEMBACA!...

...🦕💞...

...Jangan menangis, jangan bersedih, mari kita saksikan cinta antara Dara dan Dino, pasangan paling akur sedunia. Ehe...

...〜🦋🌹💅〜...

Pertengkaran masih berlanjut. Dara mengerucutkan bibirnya, melipat kedua tangan di depan dada, tak mau berpegangan pada suaminya yang menyetir motor. Angin berhembus pelan menerpa wajah Dara, sebab Dino hanya melaju dengan kecepatan sedang.

Dino menarik sudut bibirnya, ia tahu istrinya itu sedang marah besar. Dengan jahil, Dino menambah kecepatan motornya membuat Dara kehilangan sedikit keseimbangan. Kesal, sontak Dara memukul punggung suaminya itu. "Makanya pegangan!" seru Dino.

Dino mulai memelankan laju motornya, ia tahu kondisi wajah istrinya sekarang. Gadis itu merenggut kesal. "Pegangan, Ra!" ujar Dino, sedikit berteriak.

Dara menghembuskan napas berat, kemudian meletakkan kedua tangannya di atas pundak Dino. Ia memutar malas bola matanya, memandang ke arah jalan. Dino pun sudah lelah bila harus meladeni istrinya yang pemarah itu sedang merajuk. Dengan cepat, tangan kiri Dino bergerak memindahkan tangan Dara agar bertaut di pinggangnya.

Dara melotot kaget, melihat kedua tangannya kini merangkul Dino dan lelaki itu menganggukkan kepala. Dara mencoba melepaskan, tetapi Dino menahannya agar tetap di sana. "No," cetus Dara, dengan suara ketus.

"Apa, Sayang?" jawab Dino, dengan suaranya yang terbawa angin.

Seketika, Dara merinding, jantungnya jadi berdetak kencang dan tatapan matanya kosong.

Angin berhembus menerpa, membuat Dara merasa wajahnya seperti kesemutan. "Ra, kita ke bengkel dulu, ya," ujar Dino.

"Terserah kamu," jawab Dara. Lalu, ia perlahan mendekatkan wajahnya ke pundak Dino dan menempelkan dagunya di sana. "Aku kayak gini, boleh, No?"

Dino lama tidak menjawab, ia tersipu sambil tersenyum tipis merasakan kulit wajah Dara menempel di lehernya sebab sama-sama tak memakai helm. "Boleh. Lo gitu terus juga gak masalah, Ra," kata Dino.

Langit biru dan sinar matahari menemani perjalanan mereka. Awan membuat gumpalan hingga jalanan tidak terlalu panas. Dara terlalu banyak terkena angin hingga matanya menjadi panas, ia hampir saja tertidur, tetapi Dino tiba-tiba menghentikan motornya. Mereka telah sampai di bengkel dan segera ke dalam.

Kedatangan Dino rupanya membahagiakan bagi para pekerja di sana. Mereka langsung tersenyum lebar melihat bosnya menghampiri. "Akhirnya, ada dewa penolong," celetuk seorang laki-laki.

Dino tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepala karena sudah mengerti akan maksud ucapan tersebut.

Orang-orang di bengkel itu sedang kesulitan dengan banyaknya pelanggan, sedangkan energi mereka tidak terlalu besar. Jadi, kedatangan Dino sangat berharga bagi mereka, bagaikan penyelamat.

"Ra," panggil Dino.

Dara yang berdiri di samping Dino itu mendongak, agar dapat menatap wajah suaminya. Dino melepaskan jaket yang ia kenakan, kemudian memberikannya kepada Dara. "Lo ke ruangan gue aja! Gue mau bantu di sini dulu, gak apa-apa kalau lo tunggu?" ujar Dino.

Dara mengangguk cepat. "Aku bisa tunggu kok, No," jawab Dara.

Tangan kekar Dino bergerak di atas kepala Dara, mengelus surai rambut Dara dengan lembut sambil tersenyum tipis. "Di sana ada tangga, lo naik aja!" ujar Dino, memberikan petunjuk tempat ruangannya kepada sang istri.

"Oke." Dara membalas senyuman Dino. "Aku ke sana, ya? Semangat kerjanya!" kata Dara, menepuk pundak Dino sebelum melenggang pergi.

Memandang kepergian istrinya dengan senyum tipis dan sorot mata tajam. Dino merasa semangat di dalam jiwanya terbakar. Lalu, ia pun mulai menghampiri karyawannya untuk bertanya masalah apa sebenarnya yang sedang mereka hadapi.

Keahlian milik Dino memang sangat lebih. Di bengkel itu, ia satu-satunya yang dapat menguasai seluruh teori hingga mempraktekkannya. Berawal dari menjadi pegawai magang saat kuliah, kini ia bisa mempunyai bengkel sendiri. Memulainya dari nol, tidak semudah bangun dari mimpi. Dino perlu merelakan seluruh waktu luang demi impian dan menumpahkan puluhan juta keringat di lapangan kerja.

Benar. Perjuangan tidak akan sia-sia bila dilakukan dengan setulus hati, juga hasilnya tak akan pernah mengkhianati. Tuhan maha adil, ia memberikan cobaan serta jalannya.

Memasuki ruangan suaminya untuk pertama kali, setelah beberapa bulan lalu menikah, membuat jantung Dara berdebar. Tangannya bergetar ketika membuka pintu dari kaca itu. Tempat ini sungguh terlalu mencolok jika ditempatkan di dalam bengkel, yang dominan kotor.

Perabotan minimalis dan menempatkan yang tepat membuat Dara tidak berhenti berkata wow sambil membulatkan mata. Gadis itu melangkah masuk, mendengarkan pandangannya. Ada sebuah kaca berdiri sebagai dinding, membuatnya bisa melihat ke area luar. Dara melihat suaminya sedang berjongkok membelakanginya, Dino memberi tahu karyawannya tentang bagaimana menyelesaikan masalah di motor tersebut.

Dara masih memandangnya, sisi positif Dino yang tidak sengaja ia lihat secara langsung. Lelaki itu pekerja keras. Rupanya, kepribadian cuek Dino, membuatnya agar terlihat lebih tegas. Dino berdiri dari sana, kemudian membalikkan badan hingga tidak sengaja saling memandang dengan Dara di sana.

Dino melambaikan tangan, ia dengan jelas dapat melihat Dara sedang berdiri di sana, menatap ke arahnya sangat intens. Lalu, Dara membalas lambaian itu dengan senyuman di bibirnya.

Berkendara terlalu lama dan tidak cukup tidur di malam kemarin, membuat Dara sangat mengantuk setelah ia memutar film di handphone. Dara duduk di kursi Dino, menyandarkan kepalanya pada meja, dan tangan sebagai bantal. Mata gadis itu perlahan tertutup, kemudian Dara tertidur karena sudah tak tahan dengan kantuk yang menguasai.

Pada akhirnya, ponsel di film yang menyaksikan Dara tidur.

Selain kurang tidur, Dara juga kelelahan dan banyak pikiran. Masalah akhir-akhir menghampirinya bergantian, tanpa henti, tidak membiarkannya beristirahat. Kehidupan setelah pernikahan, cukup mengejutkan bagi Dara. Apalagi, ia harus melanjutkan hidup tanpa orang yang paling disayanginya, mendiang Agun membuat hidupnya indah bagai manusia dengan kebahagiaan melebihi batas.

Setelah beberapa masalah menghantam kehidupannya, Dara menjadi lebih sadar bahwa suaminya nyata berada di dalam hidupnya dan berperan penting. Mungkin, ia sengaja dikirim untuk menemani, menggantikan sosok Agun di dunia ini. Kesepian, tidak lagi menghampiri Dara, mungkin sampai kini atau nanti, dan seterusnya.

Matahari semakin naik, membuat jalanan tidak lagi ada sejuk-sejuknya, apalagi ini Jakarta dengan pengguna kendaraan yang tinggi. Udara kotor di mana-mana, tiada hari tanpa suara klakson.

Dino pun sudah selesai dengan pekerjaannya, tinggal sedikit dan menjadi tugas karyawannya di sana. Lelaki itu berniat untuk mendatangi istrinya karena dari bawah, Dino tidak dapat melihat sosok Dara di sana.

Kaki Dino melangkah melewati anak tangga satu per satu, sambil mengelap tubuhnya yang basah karena keringat. Langkah kaki Dino berhenti di depan pintu, mendapati istrinya menutup mata di meja kerjanya. Wajah kelelahan Dara membuat senyuman tipis terukir di wajah Dino.

Perlahan, Dino mendekat ke arah Dara. Ia mematung sejenak ketika berada di samping Dara, memandangi wajah itu dengan sangat lamat, menelisik setiap inci manis di sana. Dino melihat, film di handphone Dara masih terputar, membuatnya menggelengkan kepala.

Tangan kekar Dino bergerak membelai pipi Dara yang lembut itu. Namun, Dino sungguh terkejut, sentuhannya membuat Dara membuka mata cepat.

Dino langsung mematung melihat istrinya panik melihat sekeliling. "No, aku di mana ini? Kamu gak culik aku, kan!" seloroh Dara.

Dara terdiam melihat suaminya yang hanya menatapnya dengan mata bulat. Ia berdiri dari sana, kemudian berusaha melihat sekitarnya lagi. "Oh, iya, lagi di ruangan kamu," kata Dara. Ia selalu lupa akan kejadian sebelum tidur ketika bangun.

"Kocak banget lo, Ra." Dino menertawai istrinya yang kini terlihat linglung dengan ulahnya sendiri. "Aneh," seloroh Dino.

"Namanya juga bangun tidur," gerutu Dara, sambil memeriksa ponselnya. "Aku lewatin berapa episode, nih?" Sungguh buruk jika sudah sangat mengantuk.

Setelah melewati pagi hingga siang di bengkel Dino, Dara menginginkan tidurnya yang nyenyak di kasur empuk, padahal tadi tidurnya sudah lumayan lama. Namun, Dino seperti vampir tanpa istirahat, lelaki itu izin pergi ke basecamp.

"Yakin gak mau ikut?" tanya Dino, sambil merapikan pakaiannya.

"Nggak, deh. Mau tidur," jawab Dara.

"Tidur terus hidup lo, Ra," celetuk Dino. "Mau dibawain sesuatu?"

"Tidur harus jadi prioritas," jawabnya. Dara berpikir sejenak, menimang keputusannya. "Kacang rebus!"

Dino tergelak tawa, menutupi wajahnya dengan kedua tangan membuat Dara bertanya-tanya. "Gue pernah denger, ceweknya Derwan minta dibawain martabak manis kalau pulang nongkrong. Kenapa lo beda dari cewek pada umumnya? Pick me, ya?" seloroh Dino.

Sontak melayangkan tinjuan maut Dara, tetapi berhasil di tahan oleh Dino. "Kalau nggak mau tinggal bilang!" ketus Dara.

"Bercanda, Sayang." Dino menempelkan tangan Dara ke pipinya. Namun, Dara menariknya dengan cepat.

"Jangan nakal-nakal kalau main!" tutur Dara, kembali duduk untuk makan apel potong.

"Siap, Istriku!"

Malam ini, Dara benar-benar pergi ke kasur setelah Dino pergi. Ia akan mematikan lampu dan memutar suara hujan agar dapat menikmati tidurnya. Sedangkan Dino di basecamp, sedang berbicara hal acak dengan anggota lain.

"No, ditantang balapan sama Ansas. Hadiahnya 10 juta kalau lo menang," ucap Derwan, kepada Dino di sampingnya sambil menunjukkan pesan dari seorang ketua geng motor.

Kegaduhan di sana sontak menjadi sunyi. Dino mematung memikirkan tawaran menggiurkan itu.

"Terima aja! Lumayan," ujar Hamid.

"Bener, Kak. Terima, deh!" sambung Mahen.

"Jangan, kalau lo gak mau istri lo marah lagi, Kak," sahut Aga, yang melemparkan tatapan datar. Namun, bukannya mengambil keputusan, Dino hanya diam saja. Lalu, Dino menganggukkan kepala membuat seluruh orang di atas rooftop itu mengembangkan senyum.

...🦕...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!