NovelToon NovelToon
The Journey Of Soul Detective

The Journey Of Soul Detective

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Mata Batin
Popularitas:431
Nilai: 5
Nama Author: humairoh anindita

Daniel Rei Erwin, seorang siswa baru yang dapat melihat arwah orang yang sudah meninggal. Berteman dengan 3 orang siswa penghuni bangku belakang dan 2 orang siswi pandai yang penuh dengan logika.

Ia kira semua akan berjalan normal setelah ia pindah, namun tampaknya hari yang normal tidak akan pernah ada dalam hidupnya.

Semuanya berawal dari kasus kesurupan misterius dan menjalar ke kasus-kasus lainnya, hingga pada akhirnya ia tidak tahu kapan ini akan berakhir.

Jalani saja semuanya dengan sepenuh hati, mungkin akan ada satu hati lain yang akan ia temukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon humairoh anindita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KASUS 2 bagian 8

Senin pagi diawali dengan gerimis yang mengguyur seluruh kota, suasana mendung dan suhu udara menurun. Pagi ini Daniel datang lebih pagi dari sebelumnya, Hani bahkan belum datang. Ia perlu memastikan kecurigaannya. Benarkah orang yang memasang perangkat itu adalah petugas kebersihan itu, dan apa alasannya. Saat ini hanya ada 2 orang penjaga malam yang tampak mengantuk dan seorang tukang sapu yang dicurigai sebagai saudara Yuan. Daniel menatapnya dengan seksama, tidak ada yang mencurigakan dari orang itu. Tatapannya ramah, badannya sehat dan yang pasti dia tidak terlihat menyimpan dendam.

Tapi siapa yang tahu hati seseorang? Tidak semua orang dapat dengan mudah menggambarkan emosi yang terpendam dalam dirinya. Beberapa orang dengan sengaja menyimpannya, namun beberapa orang tidak tahu bagaiman cara mengungkapkannya. Daniel tidak tahu petugas kebersihan ini berada dalam kategori yang mana. Mungkin yang pertama, dan akan meledak begitu ada yang menyentuhnya.

Ia perlu berbicara dengannya, tapi topik apa yang perlu ia bahas. Tidak mungkin orang asing sepertinya tiba-tiba membicarakan adiknya yang sudah meninggal dan mengatakan bahwa arwahnya masih berkeliaran di sekolah. Siapa yang akan percaya? Dia ingat sampai saat ini beberapa orang masih menganggap kasus kesurupan Mitha adalah ajang cari perhatian, padahal jika dinalar orang bodoh mana yang ingin mencari perhatian sampai di larikan ke rumah sakit selama berhari-hari.

“Petugas kebersihan itu rajin sekali, belum ada orang yang datang sudah selesai tugas saja. Mencurigakan” ucap Mas Rian memecah keheningan.

“Mas Rian pernah mengobrol dengan petugas kebersihan itu?” tanya Daniel begitu mendengar Mas Rian membuka topik. Terkadang info yang didapatkan Mas Rian lebih akurat dari yang ia cari. Para pekerja cenderung lebih jujur dengan sesama pekerja, apalagi jika beda tempat kerja. Ajang curhat adalah hal yang sangat umum terjadi.

“Iya pernah, orangnya ramah. Dia juga baru masuk di tahun ajaran ini. Katanya sih dulu adiknya sekolah disini tapi meninggal sebelum acara kenaikan kelas” jawab Mas Rian.

“Dia langsung cerita gitu Mas? Dia cerita adiknya meninggal karena apa tidak?” Tanya Daniel.

“Ya tidak langsung cerita seperti itu, saya hanya bilang kalau Aden anak baru di sekolah terus dia cerita tentang adiknya itu. Katanya sih kecelakaan, tapi dia tidak cerita spesifik kejadiannya, tapi dia cerita kalau baru-baru ini mereka membongkar kamar adiknya dan menemukan banyak hal yang tidak terduga. Salah satunya adalah hasil tes kehamilan yang menunjukkan hasil positif dan beberapa alat kontrasepsi. Agak miris saya mendengarnya padahal masih SMA kelas 10 pergaulannya sudah sebebas itu. Padahal orang tuannya strict parent masih bisa kebobolan juga” jawab Mas Rian. Ekspektasi sulit dijelaskan antara simpati, jijik atau mungkin tidak peduli.

“Dia cerita tentang pergaulan adiknya mas?”  Tanya Daniel lagi.

“Tidak secara spesifik sih, dia hanya cerita kalau adiknya sebenarnya punya banyak pacar jadi ia tidak tahu adiknya itu hamil anak siapa, kan tidak mungkin tanya pacarnya satu per satu”  jawab Mas Rian.

Daniel terdiam mendengarnya. Menyadari sesuatu, dia segera bergegas keluar dari mobil dan masuk ke kelasnya. Melewati lorong-lorong yang masih sepi dan udara yang terasa lebih dingin dari biasanya. Belum ada satu siswa pun yang datang, jadi belum ada gosip dan topik berita yang memenuhi lorong. Ia tidak tahu apakah berita kesurupan yang terjadi pada saat perkemahan menyebar atau belum, yang pasti itu akan menjadi topik utama Minggu ini. Dia tidak peduli.

Dia sampai ke ruang kelas dengan nafas yang tersegal, dan benar saja dugaannya arwah Yuan masih duduk di bangku paling depan. Namun saat ini ia tidak menatap papan tulis, ia menatap Daniel dengan tatapan memelas.

“Aku mengerti” gumam Daniel samar.

Arwah itu menghilang seiring dengan sekumpulan siswa yang berlalu lalang. Hani masuk tidak lama setelah itu disusul oleh Ida, Jonatan dan Andre. Ilyas belum terlihat dimana pun, mungkin ia masih terjebak di lorong yang penuh dengan gosip. Daniel tidak bisa menunda lebih lama lagi, begitu Andre duduk dia bergegas bertanya.

“Ndre, kamu pernah lihat saudara laki-laki Yuan di sekitar sekolah baru-baru ini?”

“Iya, kemarin aku baru sadar dia jadi petugas kebersihan halaman depan. Padahal dia lulusan terbaik di angkatannya, malah memilih menjadi petugas kebersihan. Apa mungkin gajinya lebih besar ya? Kalau aku sih tidak akan tertarik juga mau gajinya sebesar apa pun, sekolah ini secara tidak langsung membuat adiknya meninggal” Andre dengan malas. Ia faham kemana arah pertanyaan Daniel.

“Kenapa bertanya seperti itu Dan?” tanya Jonatan was-was. Dari ke-5 anak yang berteman dekat dengan Daniel, hanya Jonatan yang sebenarnya takut pada sosok hantu tapi ia berusaha untuk terlihat berani.

“Pagi ini aku mendapatkan kabar dari Mas Rian, sopir pribadiku. Katanya ia sering berbicara dengan petugas kebersihan baru di halaman depan, dan petugas kebersihan itu bilang kalau adiknya dulu bersekolah di sini. Tapi sudah meninggal akhir semester lalu, dan kalian tahu dia bercerita bahwa adiknya dicurigai sedang hamil saat meninggal. Dia dan keluarganya baru membongkar kamar adiknya beberapa bulan terakhir dan menemukan alat uji test kehamilan dengan hasil positif dan beberapa alat kontrasepsi” jawab Daniel.

“Dan, itu serius?” Tanya Andre kaget.

“Mungkin karena itu arwahnya tidak tenang dan menjadi pemalu, karena dia melakukan kesalahan. Satu hal yang membuatku heran, mengapa keluarga nya tidak melakukan otopsi segera? Atau sejak awal dia meninggal” heran Daniel.

“Kecelakaan itu terjadi secara kebetulan dan tidak melibatkan siapa pun. Bahkan sopir truknya tidak mendapatkan sangsi apa pun karena dia memang tidak bersalah. Yuan meninggal karena penyakitnya kebetulan kambuh dan tidak dilakukan otopsi karena sebab kematiannya memang tidak berkaitan dengan siapa pun. Masuk akal” ucap Jonatan tenang.

“Jo, kok kamu biasa saja sih?” Tanya Hani curiga.

“Ya aku harus bilang apa? Memang faktanya itu yang terjadi, orang yang membonceng di belakangnya tidak apa-apa dan motornya pun tidak disabotase jadi itu murni kecelakaan. Lagipula jika memang sepupuku atau Dimas yang dicuriga, kenapa kakaknya ini tidak meneror mereka?”  jawab Jonatan santai.

“Aku setuju, memang kita harus bagaimana? Dia tidak terlalu dekat dengan kita juga, bahkan aku yang dulu sempat satu sekolah dengan dia pun tidak mengenalnya dengan baik. Aku dulu sempat menasehatinya tentang kebiasaannya bergonta-ganti pacar itu tapi yang ada aku dituduh iri karena saat itu aku belum punya pacar”  imbuh Ida.

Keheningan terjadi sesaat setelah kalimat Ida. Apakah ini salah satu bentuk ketidakpedulian? Sebenarnya untuk apa peduli pada orang yang tidak begitu dikenal? Terkadang niat baik tidak selalu dianggap baik. Mengatakan sesuatu yang pada akhirnya tidak didengar itu menyebalkan, namun lebih menyebalkan lagi mendengar keluhan orang tentang apa yang sudah kita ingatkan. Dalam kasus kali ini Yuan meninggal dan dia tidak mengatakan sepatah kata pun, tapi arwahnya masih di kelas. Meski tidak menggangu tapi cukup mengusik ketenangan. Mungkin Daniel perlu disalahkan dalam hal ini, mengapa ia bisa melihat arwah?

“Tunggu, apakah kalian menyadari sesuatu? Saat pertama kali isu penampakan di toilet depan itu muncul, orang pertama yang dihantui adalah anak kelas 10 yang bernama Alfi, dia adiknya Arfian. Lalu suara-suara aneh di halaman belakang, tidak ada satu pun satpam atau siswa yang mendengarnya. Satu-satunya orang yang mendengarnya ya si Alfi itu, mungkin kah kakaknya Yuan ini mencurigai Arfian?” sela Ida memecah keheningan.

Kalimat itu membuat semua orang terdiam. Jika itu memang benar mungkin kah dia mencurigai Arfian pelakunya? Tapi jika memang benar Yuan hamil, belum tentu Arfian bisa disalahkan juga. Tindakannya yang pergi sebelum pemakaman usai mungkin mencurigakan, namun di lain sisi dia belum diperkenalkan sebagai kekasih Yuan mungkin saja ia merasa tidak tepat berada di sana. Lagipula Yuan meninggal saat mereka masih berstatus pacaran, mungkin dia meras tidak ingin membebani Yuan dengan status itu.

“Jadi sudah pasti orang yang memasang perangkat di toilet itu kakaknya Yuan?” tanya Hani.

“Kemungkinan besar iya. Ia lulusan terbaik di angkatannya, memasang perangkat seperti itu bukanlah hal yang rumit dan untuk suara-suara tangisan di halaman belakang. Mungkin dia memasang sejenis speaker bluetooth yang bisa dikontrol dari jauh. Dia berusaha mengingatkan kita tentang adiknya, mungkin dia ingin mengungkapkan siapa orang yang telah menghamili adiknya, dan tempat terdekat adalah sekolah ini. Secara kebetulan rekrutmen besar-besaran dilakukan setelah kasus terakhir, dia bisa dengan mudah masuk” jelas Daniel. Ia mencoba merinci satu persatu kejadian yang terjadi beberapa Minggu terakhir, dan jelas itu lebih masuk akal dari pengalaman supranaturalnya.

Belum sempat mereka berspekulasi lebih lanjut, bel masuk menggema di setiap sudut lorong berbarengan dengan teriakan Ilyas yang memasuki ruangan. 

“Gaes, anak kelas sebelah kesurupan. Dia berteriak mencari seseorang bernama Alfi di lapangan” ucapnya dengan nafas yang masih tersengal.

Mendengar kalimat itu semua orang segera bergegas ke lapangan. Tempat itu sudah dipenuhi oleh begitu banyak siswa, dan di tengah lapangan seorang siswi masih berteriak dengan mata yang melotot. Guru agama baru itu mencoba menenangkannya dengan membaca begitu banyak do’a tapi gadis itu malah menendangnya.

“Sepertinya gadis itu punya dendam pribadi pada guru agama”  ujar Ilyas.

“Daniel?” ucap Hani yang berdiri di depannya.

“Kenapa Alfi itu tidak kunjung datang? Guru agama akan babak belur jika dia tidak kunjung datang.” Tanya Daniel bingung.

“Kata teman sekelasnya dia tidak masuk. Sejak kesurupan kemarin dia dipulangkan karena demam dan belum sembuh sampai hari ini” jawab Ilyas. 

“Itu gadis kesurupan yang kemarin disembuhkan guru agama?” Tanya Daniel lagi.

“Iya” jawab Ilyas.

“Ya sudah biarkan gadis di lapangan itu teriak-teriak dulu, nanti kalau sudah capek sembuh lah itu” jawab Daniel sambil berbalik dan pergi. Teman-temannya yang mendengar kalimat itu juga ikut berbalik kembali ke kelas. Rasanya tidak berguna menonton drama tidak jelas.

“Kenapa apa siswi itu berpura-pura juga?”  tanya Hani.

“Ya, gadis itu juga berpura-pura, mungkin itu salah satu trik yang digunakkan petugas kebersihan untuk menjalankan misinya, kenapa tidak memastikan dulu apakah siswanya ada atau tidak. Tapi jika gadis yang bernama Alfi itu yang pertama kali disembuhkan saat kesurupan kemarin maka dia benar-benar kesurupan. Tidak bisa dibilang kesurupan juga sih, dia hanya ketempelan arwah yang tinggal di ruang kepala sekolah. Oh aku jadi ingat sesuatu, apa kalian punya foto kepala sekolah lama?” jawab Daniel. Ia terus berjalan ke kelas dan mengabaikan kerumunan siswa yang semakin berisik.

“Ku rasa aku punya, apa ada kasus lainnya? Kita seperti detektif arwah”  ucap Jonatan. Dia mengambil ponselnya dan menunjukkan pada Daniel sebuah foto club basket sekolah yang memenangkan sebuah piala.

“Ini kepala sekolah lama” tunjuk Jonatan.

Mereka berhenti di sudut lorong yang sepi untuk mengamati gambar itu sebentar. Keributan yang terjadi di lapangan membuat semua orang tertarik untuk menonton, dan seperti para guru pun lebih tertarik untuk menonton pertunjukan daripada memulai jam pelajaran. Sekolah elit dengan jam pelajaran yang fleksibel, bukankah itu menyenangkan?

Daniel terdiam, alisnya berkerut heran begitu melihat foto itu. Arwah yang dia lihat di kantor kepala sekolah jelas bukan arwah wanita ini. Itu wanita lain yang jelas lebih muda, dan jika ia memper lebih jelas arwah wanita itu tampak sangat mirip dengan Vito. Mangkin kah dia ibu Vito yang hilang? Tapi bagaimana dia bisa ada di ruang kepala sekolah?

“Ndre, sepertinya Pak Bima bakalan sibuk akhir tahun ini” ucap Daniel.

“Iya. Hari ini dia akan membongkar dua makam, Yuan sama satu lagi aku tidak tahu. Tapi rencananya siang ini dia bakal datang ke sekolah untuk menyelidiki kepala sekolah. Kalian ingat puntung rokok yang kita kirimkan pada kasus kemarin, ternyata itu rokok impor ilegal. Aku tidak tahu pasti peran kepala sekolah itu sebagai pengedar atau pemakai, yang pasti ia juga terlibat. Mungkin kita akan ganti kepala sekolah semester depan” ucap Andre. Ia bersandar pada dinding kelas yang kosong dan tampak memikirkan banyak hal.

“Oh pantas saja kemarin pas mati listrik kepala sekolah kelabakan pas ada yang masuk ke ruangannya. Ternyata takut rahasianya terbongkar, kenapa juga itu tikus bisa masuk ke sana padahal pintu itu sangat jarang dibuka” ucap Ilyas. Ia mengingat kejadian saat perkemahan itu. Bagaimana cara kepala sekolah memarahi petugas kebersihan itu seperti mencari kepastian dan hari ini ia tahu alasannya.

“Tapi memang aneh sih, menjaga kesehatan tapi merokok. Rokoknya ilegal pula, agak lain memang otaknya. Itu membuktikan kata-kata bahwa semua orang berpendidikan tinggi itu tidak selamanya pintar”  ucap Jonatan.

“Halah, bilang saja kamu tidak cukup pintar. Berhenti meremehkan orang lain dengan kata-kata bijak yang terkadang tidak bijak itu” sahut Ida sedikit kesal.

“Jadi kita perlu DNA mantan-mantannya Yuan tidak nih, mencari barang bukti secara diam-diam itu seperti mencari informasi ilegal. Harus penuh pertimbangan” cetus Jonatan mengalihkan pembicaraan. Ia memang tidak terlalu pintar, namun bukan berarti ia orang yang bodoh.  Misi terakhirnya mungkin berjalan dengan baik, tapi membiasakan diri dengan sesuatu yang diam-diam itu bukan kemampuannya.

“Kita tidak akan terlibat dalam pencarian bukti. Jika Yuan memang benar hamil maka pihak kepolisian akan melakukan pencarian bukti sendiri, mereka akan mendatangi mantan kekasih Yuan dan mencocokkan DNA-nya, tapi jika tidak kasusnya akan berlalu begitu saja” ucap Andre malas.

“Dan lagi menurut penuturan Mas Rian, pacarnya Yuan itu tidak hanya satu. Mungkin kita perlu energi ekstra dan sangat mustahil jika harus mengambil sampel satu persatu tanpa diketahui. Kalian hanya tahu 3 orang mantan Yuan, bagaimana jika ia punya lebih banyak dari yang kalian tahu?” ucap Daniel sambil merenung. Ia berjalan menuju kelas dengan pikiran yang rumit, dan tiba-tiba bayangan arwah yang ada di aula sore itu terus membayanginya. Sebenarnya siapa wanita itu?

“Ndre, Pak Bima sedang menangani kasus apa?” Tanya Daniel dengan tatapan kosong..

“Kasus orang hilang beberapa waktu yang lalu sudah beres namun kasusnya kembali mencuat kudengar itu tentang Wijaya Kusuma atau apa lah, Om Bima dan beberapa rekannya curiga kasus itu sebenarnya belum selesai jadi mereka sepakat untuk melakukan penyelidikan ulang tanpa melibatkan pihak kepolisian. Aku tidak terlalu mengerti apakah itu tindakan yang diperbolehkan atau tidak, yang pasti jika kasus yang selesai itu sebenarnya tidak selesai maka akan terjadi kericuhan di dalam kepolisian” jawab Andre malas. Ia hanya mengutip pembicaraan yang ia dengar dari Bima dan Ibunya, ia tidak terlalu memperhatikan.

Daniel mencoba menghubungkan satu persatu kabel yang ada dalam otaknya. Ia mencoba mengingat siapa itu Wijaya Kusuma, namun ia tidak mengingat apa pun. Dia mengambil hp Jonatan dan mencoba menelusuri kasus ini.

“Di mana hpmu Tuan Muda, itu kuota sudah mulai sekarat kamu mau apa?” tanya Jonatan. Namun ia tidak keberatan hpnya diambil.

Daniel tidak menggubris kata-kata Jonatan.

“Kemungkinan besar kasus itu memang belum selesai, dan jika kasus itu selesai karena penyelidikan ulang maka Pak Bima dan rekannya mungkin akan disebut penghianat. Dan kemungkinan besar kita akan punya kepala sekolah baru semester depan” ucap Daniel sambil mengembalikan hp Jonatan. Ia berjalan pergi meninggalkan teman-temannya yang kebingungan.

“Daniel apa maksudmu? Apa kepala sekolah memang terlibat dalam kasus impor rokok ilegal itu. Ah ayah dan anak sama saja, semuanya kriminal” seru Ilyas.

“Ya itu bisa juga. Sudahlah itu tidak penting, kita tunggu saja hasil otopsi Yuan apakah memang seperti yang diduga semua orang” sahut Daniel.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!