NovelToon NovelToon
The Monster'S Debt

The Monster'S Debt

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mafia / Nikah Kontrak / Berbaikan
Popularitas:41
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Dante Valerius tidak mengenal ampun. Sebagai pemimpin sindikat paling ditakuti, tangannya telah terlalu banyak menumpahkan darah. Namun, sebuah pengkhianatan fatal membuatnya sekarat di gang sempit—hingga sepasang tangan lembut membawanya pulang.
​Aruna hanya seorang janda yang mencoba bertahan hidup demi putra kecilnya. Ia tahu pria yang ia selamatkan adalah maut yang menyamar, namun nuraninya tak bisa membiarkan nyawa hilang di depan matanya.
​Kini, Dante terjebak dalam hutang nyawa yang tidak bisa ia bayar dengan uang. Ia bersumpah akan melindungi Aruna dari bayang-bayang masa lalunya. Namun, mampukah seekor monster mencintai tanpa menghancurkan satu-satunya cahaya yang ia miliki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Perjamuan di Tepi Jurang

Restoran Le Sommet biasanya merupakan tempat di mana para elite kota merayakan kemenangan bisnis atau pertunangan yang megah. Namun malam ini, restoran yang terletak di lantai 60 gedung tertinggi di pusat kota itu terasa seperti sebuah peti mati kaca yang mewah. Seluruh staf telah dipulangkan, digantikan oleh pria-pria bersetelan jas gelap yang berdiri kaku di setiap sudut ruangan dengan tangan yang tak pernah jauh dari balik jas mereka.

​Julian Thorne berdiri di dekat meja bundar yang terletak di tengah ruangan. Di atas meja itu, lilin-lilin perak menyala pelan, memantulkan bayangan pada peralatan makan berlapis emas. Aruna melangkah masuk, suara hak sepatunya terdengar seperti detak jam dinding di tengah kesunyian yang mencekam. Gaun merah marunnya menyapu lantai, memberikan kesan bahwa ia sedang menyeret jejak darah di belakangnya.

​"Kau tepat waktu, Aruna. Ketepatan waktu adalah bentuk rasa hormat yang paling murni," sapa Julian sambil menarikkan kursi untuk Aruna.

​Aruna duduk dengan anggun, namun ia tidak menyentuh serbet atau peralatan makan di depannya. Matanya tertuju langsung pada Julian yang kini duduk di hadapannya. "Aku tidak di sini untuk menghormatimu, Julian. Aku di sini karena kau mengancam fasilitas publik. Mari kita lewati basa-basi ini."

​Julian tersenyum, sebuah senyuman yang tampak seperti torehan pisau di wajahnya yang tampan secara simetris. "Selera makanmu hilang setelah meledakkan ratusan juta dolar milikku semalam? Itu wajar. Adrenalin seringkali membunuh nafsu makan."

​Seorang pelayan—yang Aruna tahu adalah salah satu tentara bayaran Julian—menuangkan anggur merah ke gelas mereka.

​"Kau ingin membicarakan tentang pembagian dunia," ucap Aruna, suaranya tetap rendah namun berwibawa. "Aku tidak tertarik pada wilayah. Aku hanya ingin kau menarik semua pengaruhmu dari organisasi Valerius dan berhenti mengusik keluargaku."

​Julian menyesap anggurnya, menatap Aruna melalui tepian gelas. "Dante adalah masa lalu, Aruna. Dia adalah sisa-sisa dari era mafia yang berisik dan berlumuran darah. Dunia sekarang dikuasai oleh mereka yang bisa menggerakkan angka di layar komputer, bukan mereka yang memegang pistol di gang sempit. Aku tidak ingin menghancurkan Valerius. Aku ingin membelinya. Dan kau... kau adalah aset paling berharga yang pernah dimiliki organisasi itu."

​"Aku bukan aset yang bisa kau beli," desis Aruna.

​"Benarkah?" Julian meletakkan gelasnya. "Mari kita bicara tentang Satria Kirana. Kau pikir kau sudah tahu segalanya tentang dia setelah melihat flashdisk itu? Satria bukan hanya seorang kurir yang ingin keluar. Dia adalah orang yang aku latih secara pribadi sebelum dia 'diberikan' kepada Marco. Satria mencintaimu, itu benar. Tapi dia mencintaimu karena itu adalah instruksi pertamanya: hiduplah sebagai orang biasa, carilah kelemahan manusiawi di Jalan Kenanga, dan jadilah mata-mata untukku."

​Darah Aruna seolah membeku. Ia mencoba tetap tenang, namun genggamannya pada tas kecil di bawah meja mengencang. "Kau berbohong. Kau hanya mencoba memanipulasiku agar aku meragukan Dante."

​"Dante?" Julian tertawa pelan. "Tanyakan padanya suatu hari nanti. Siapa yang memberikan informasi lokasi Satria kepada Marco pada malam kecelakaan itu? Siapa yang butuh kematian Satria agar dia bisa masuk dan menjadi pahlawan bagi janda yang malang? Dante Valerius tidak menemukanmu karena takdir, Aruna. Dia menemukanmu karena dia butuh kunci untuk menghancurkan bisnis Marco, dan kunci itu ada di tangan Satria."

​Ruangan itu seolah berputar bagi Aruna. Setiap kata yang keluar dari mulut Julian terasa seperti racun yang merayap di pembuluh darahnya. Apakah benar cinta Dante hanyalah sebuah skenario yang matang? Apakah ia hanya berpindah dari satu sangkar ke sangkar yang lain?

​Namun, Aruna teringat luka tembak di perut Dante. Ia teringat bagaimana Dante melompat di depan peluru demi Bumi di dermaga. Pria yang hanya melakukan "tugas" tidak akan mempertaruhkan nyawanya seperti itu.

​"Strategi yang bagus, Julian," Aruna tersenyum tipis, sebuah senyum dingin yang mengejutkan Julian. "Kau mencoba menghancurkan kepercayaanku pada Dante karena kau tahu, selama kami bersama, kau tidak akan pernah bisa menyentuh kami. Jika Dante memang merencanakan kematian suamiku, dia tidak akan membiarkanku hidup sampai sekarang. Dia tahu aku adalah orang yang paling berisiko mengungkap kebenaran."

​Aruna mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kau bicara tentang masa depan dan teknologi, tapi kau masih menggunakan trik lama: adu domba. Sekarang, dengarkan tawaranku. Kau kembalikan semua rekening Valerius yang kau bekukan, atau dalam tiga menit, Menara Obsidian akan kehilangan hak kepemilikan atas tanahnya sendiri."

​Julian mengangkat alisnya. "Apa maksudmu?"

​"Aku sudah mempelajari portofolio keuanganmu pagi ini dengan bantuan tim intelijen Dante. Kau membangun gedung-gedungmu di atas tanah yang secara hukum masih milik yayasan tua yang sudah mati. Dan tebak siapa yang baru saja membeli yayasan itu melalui perusahaan cangkang di Swiss sepuluh menit yang lalu?" Aruna menunjukkan layar ponselnya.

​Wajah Julian yang tenang mulai retak. "Kau membeli tanah itu?"

​"Bukan aku. Bumi yang membelinya. Atas namaku sebagai walinya," Aruna berdiri. "Jika kau tidak melepaskan blokade keuangan kami, aku akan mengajukan pembongkaran paksa atas gedung-gedungmu karena pelanggaran hak guna bangunan. Aku akan menyeretmu ke pengadilan sipil—sesuatu yang sangat kau benci karena kau tidak bisa menembak hakim di depan publik, bukan?"

​Julian menatap Aruna dengan kemarahan yang tertahan. Ia menyadari bahwa wanita ini tidak menyerangnya dengan peluru, tapi dengan sistem yang selama ini ia agungkan. Aruna telah belajar dengan sangat cepat.

​Tiba-tiba, suara tembakan terdengar dari luar restoran. Pintu ganda restoran itu hancur tertabrak tubuh salah satu penjaga Julian yang terlempar masuk.

​Enzo masuk dengan senapan serbu, diikuti oleh beberapa pria berpakaian hitam. Namun, yang mengejutkan adalah sosok yang berjalan di belakang mereka.

​Dante Valerius.

​Dante berjalan perlahan, dipapah oleh seorang pengawal, namun tangannya memegang pistol yang diarahkan tepat ke kepala Julian. Luka di kemejanya kembali merembeskan darah, tapi tatapan matanya cukup untuk membuat Julian mundur selangkah.

​"Makan malamnya selesai, Julian," suara Dante menggelegar di ruangan itu.

​"Dante! Kau seharusnya tidak di sini!" seru Aruna, segera menghampiri Dante untuk menahannya agar tidak jatuh.

​Dante mengabaikan Aruna sejenak, matanya tetap terpaku pada Julian. "Kau mencoba meracuni pikirannya dengan cerita tentang Satria? Aku memang bukan orang suci, Julian. Tapi aku tidak pernah mengkhianati orang yang menyelamatkan nyawaku. Kau, di sisi lain, mengkhianati setiap orang yang bekerja untukmu."

​"Dante, hentikan. Aku sudah menanganinya," Aruna memegang tangan Dante yang memegang pistol. "Jika kau membunuhnya di sini, polisi akan mengepung tempat ini dalam lima menit. Kita punya cara yang lebih bersih."

​Dante menatap Aruna, melihat kekuatan dan kemandirian di mata istrinya itu. Perlahan, ia menurunkan senjatanya. "Kau benar. Dia tidak layak mendapatkan peluruku."

​Dante menoleh ke arah Julian yang kini tampak sangat hina di tengah kekacauannya. "Kau punya waktu enam jam untuk meninggalkan kota ini, Julian. Jika matahari terbit dan kau masih di sini, aku tidak akan peduli pada hukum sipil yang Aruna gunakan. Aku akan memburumu sampai ke lubang tikus mana pun kau bersembunyi."

​Aruna menatap Julian untuk terakhir kalinya. "Jangan pernah kirim bunga atau cokelat lagi ke rumahku. Karena kali berikutnya, aku yang akan mengirimkan peti mati ke rumahmu."

​Aruna memapah Dante keluar dari restoran, diikuti oleh Enzo dan timnya. Di dalam lift yang turun menuju lobi, suasana hening. Dante bersandar pada dinding lift, napasnya memburu karena menahan sakit yang luar biasa.

​"Apakah itu benar?" tanya Aruna tiba-tiba saat lift mulai bergerak turun. "Tentang Satria?"

​Dante menatap Aruna dengan lelah. Ia tidak segera menjawab. Pintu lift terbuka sebelum ia sempat berkata-kata. "Kita bicarakan di rumah, Aruna. Ada hal-hal yang tidak bisa aku katakan di bawah kamera pengintai."

​Aruna tahu, malam ini ia menang atas Julian Thorne, namun ia merasa ia baru saja membuka kotak pandora yang mungkin akan menghancurkan hubungannya dengan Dante selamanya. Perjalanan menuju Bab 80 masih sangat panjang, dan di Bab 19 ini, benih keraguan telah ditanamkan dengan sangat rapi oleh musuh mereka.

​Di luar, hujan masih turun. Aruna membantu Dante masuk ke mobil, sementara hatinya terus bertanya-tanya: Siapa sebenarnya pria yang tidur di sampingku setiap malam? Seorang pelindung, atau dalang dari semua tragedi dalam hidupku?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!