Nirmala Dizan tak pernah menyangka bahwa ia akan mendapatkan ujian yang begitu besar dan tak terduga. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dan kemudian ia harus menghadapi kekejaman dunia bisnis yang penuh intrik sendirian. Di saat dirinya putus asa terbitlah sebuah asa, pertemuan dengan Aleandra Nurdin seorang mahasiswa yang mampu mengubah hidup Nirmala yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Buron
Rumah Sakit Medika Jakarta tampak tenang saat ambulans yang membawa Nirmala tiba. Namun, ketenangan itu adalah ilusi yang mematikan. Di balik pilar beton gedung parkir rumah sakit, Rini Susilowati mengamati dengan senyum miring yang mengerikan. Ia telah berganti pakaian—kini mengenakan jas putih panjang milik seorang perawat yang ia lumpuhkan di toilet tadi.
Di tangannya, ia menjinjing sebuah tas medis yang isinya bukan obat-obatan, melainkan empat tabung gas asap kimia hasil jarahannya.
"Rumah sakit adalah tempat untuk mati, bukan untuk sembuh, Nirmala," desis Rini. Ia menarik selendang imajinernya, melakukan gerakan seolah sedang mencekik udara.
Di dalam ruang observasi IGD, Nirmala mulai merasa lebih baik. Ale duduk di sampingnya, meski perawat berkali-kali memintanya untuk membersihkan luka-lukanya sendiri.
"Ale, pergilah bersihkan dirimu. Aku sudah aman di sini. Ada polisi di depan pintu," ucap Nirmala lembut di balik masker oksigennya.
"Gue nggak percaya pada siapa pun kecuali diri gue sendiri hari ini," sahut Ale tajam.
Tiba-tiba, suara DUM! yang tumpul terdengar dari arah koridor utama lobi rumah sakit.
Nirmala dan Ale tersentak. Seketika, sirine kebakaran rumah sakit yang memiliki nada berbeda—lebih melengking dan mendesak—mulai meraung.
TIIIIIIIIIIT! TIIIIIIIIIIT! TIIIIIIIIIIT!
"Tidak... tidak mungkin," bisik Nirmala.
Asap putih tebal mulai merembes masuk dari bawah pintu IGD. Suara jeritan pasien dan deru langkah kaki suster yang panik meledak di luar. Rini telah melakukannya lagi. Ia tidak hanya ingin membunuh Nirmala; ia ingin menghancurkan kewarasan gadis itu dengan membuktikan bahwa tidak ada tempat yang aman di muka bumi ini selama Rini masih bernapas.
****
Di lobi rumah sakit, kekacauan massal pecah. Pasien-pasien yang menggunakan kursi roda terdorong oleh orang-orang yang panik. Rini melangkah dengan tenang di tengah kabut asap, mengenakan masker medis yang menutupi separuh wajahnya. Ia tertawa di balik masker itu—suara tawa yang teredam namun penuh dengan kegembiraan yang jahat.
"Hmph... Mmph... Hahahaha!"
Ia melewati meja informasi yang sudah kosong, menjatuhkan satu tabung asap lagi ke arah unit apotek. Ia merasa seperti Tuhan yang sedang membagikan takdir. Baginya, setiap orang yang berteriak adalah musik bagi telinganya.
"Dendamku abadi, Keponakanku!" Rini berbisik saat ia melewati pintu IGD yang sedang dijaga polisi yang mulai terbatuk-batuk karena asap kimia. "Aku akan mengejarmu sampai ke liang lahat, dan bahkan di sana pun, aku akan membakar nisanmu!"
Rini menyelinap melalui pintu darurat samping, menghilang sebelum aparat sempat menyadari bahwa "perawat" berambut putih itu adalah otak di balik teror ini. Ia meninggalkan rumah sakit itu dalam keadaan chaos total, meninggalkan Nirmala yang kini meringkuk di atas ranjang rumah sakit dengan mata terbelalak ketakutan, menyadari bahwa ia sedang diburu oleh iblis yang tidak akan pernah berhenti tertawa.
****
Jakarta perlahan-lahan mencoba mencuci sisa jelaga dan aroma belerang yang ditinggalkan oleh dua teror beruntun. Gedung Dizan Holding telah beroperasi kembali, meski di setiap sudutnya kini berdiri pria-pria berbadan tegap dengan seragam keamanan baru yang jauh lebih ketat. Namun, bagi Nirmala Dizan, normalitas adalah sebuah kebohongan yang manis.
Di dalam ruang inap yang mewah, Nirmala duduk di balik meja jati besarnya. Tangannya yang memegang pena tampak bergetar hebat saat ia mencoba menandatangani dokumen operasional. Setiap kali suara pintu terbuka atau desing mesin pendingin ruangan berubah nada, jantungnya seolah melompat keluar dari rongga dadanya. Trauma itu bukan lagi luka terbuka, melainkan infeksi yang merayap ke dalam jiwanya.
****
"Nona, Anda harus makan. Sejak pagi Anda hanya memutar-mutar cangkir kopi itu," suara lembut Aleandra Nurdin memecah keheningan yang menyesakkan.
Nirmala mendongak. Matanya cekung, dikelilingi lingkaran hitam yang tak mampu disembunyikan oleh riasan mahal sekalipun. "Ale... apakah dia benar-benar sudah pergi? Atau dia sedang berdiri di balik tirai itu sekarang?"
Ale melangkah mendekat, meletakkan tangannya di atas meja sebagai bentuk dukungan yang sunyi. "Gedung ini sudah bersih, Nona. Polisi berjaga di setiap radius seratus meter. Dia tidak akan bisa menyentuhmu."
"Kau salah, Ale," desis Nirmala, suaranya parau. "Rini tidak butuh pintu untuk masuk. Dia masuk melalui ketakutan. Dia ada di setiap asap yang kulihat, di setiap sirine yang kudengar. Selama dia masih bernapas, udara di kota ini akan selalu terasa beracun bagiku."
Nirmala berdiri, berjalan menuju jendela antipeluru. Ia menatap jalanan Jakarta yang sibuk, merasa seperti seekor burung dalam sangkar emas yang menunggu elang datang merobek jerujinya. Ia tahu, bibinya yang telah kehilangan seluruh kewarasan itu sedang menyusun sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar bom asap. Rini sedang menyiapkan sebuah panggung, dan Nirmala adalah tokoh utama yang dipaksa mati di akhir cerita.
****
Jauh dari gemerlap Sudirman, di sebuah gudang tua yang tersembunyi di kawasan industri terbengkalai dekat pelabuhan, Rini Susilowati sedang merayakan kebebasannya. Ruangan itu hanya diterangi oleh beberapa lilin yang mulai meleleh, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding penuh coretan darah dan arang.
Rini tidak lagi memakai baju perawat. Ia kini mengenakan gaun merah tua yang compang-camping, sisa kejayaannya yang ia curi dari sebuah toko barang bekas. Di tengah ruangan, sebuah meja kayu penuh dengan foto-foto Nirmala, Ale, dan Januar yang ditusuk dengan pisau lipat karatan.
Ia sedang memegang sebuah botol anggur murah, menyesap isinya seolah-olah itu adalah sampanye terbaik di dunia.
"Mmph... Hmph... Hahahaha!"
Tawa itu pecah, melengking tinggi menembus celah-celah atap seng yang bocor, membelah sunyinya langit malam yang pekat. Rini tertawa hingga tubuhnya melengkung ke belakang, rambut putihnya yang kusam menjuntai ke lantai yang kotor.
"Hahahaha! Kau pikir kau bisa bersembunyi di balik baja dan kaca, Nirmala?" Rini berbicara pada foto Nirmala yang matanya telah ia lubangi dengan rokok. "Kau hanya memperindah peti matimu sendiri, Sayang. Bibi sudah menyiapkan skenario yang sangat spesial. Sebuah perjamuan yang tidak akan pernah kau lupakan... selamanya."
Rini melangkah menuju sebuah peta Jakarta yang terbentang di meja. Jemarinya yang kurus dan berkuku hitam merayap di atas peta itu, berhenti tepat di sebuah titik yang ia tandai dengan tinta merah pekat—titik di mana ia akan melakukan eksekusi terakhirnya.
"Bukan lagi asap, bukan lagi gertakan," gumamnya dengan nada yang tiba-tiba berubah dingin dan tenang, sebuah transisi yang mengerikan dari tawa histerisnya. "Kali ini, aku ingin melihat warna merah yang asli. Aku ingin merasakan hangatnya darahmu di telapak tanganku, seperti saat aku menggendongmu dulu ketika kau masih bayi."
Ia kembali tertawa, kali ini lebih parau dan menyeramkan. Ia menarik selendang imajinernya, melilitkannya ke lehernya sendiri sambil membayangkan ia sedang melakukannya pada Nirmala.