NovelToon NovelToon
Si Imut Milik Ketua Mafia

Si Imut Milik Ketua Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Diam-Diam Cinta / Kisah cinta masa kecil / Mafia / Cinta Murni / Berbaikan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Elrey

Caca, gadis kecil ceria, berteman dengan Rafi tanpa tahu bahwa dia adalah putra kepala mafia Bara Pratama. Meskipun dunia mafia penuh bahaya dan banyak orang melarangnya, persahabatan mereka tumbuh kuat hingga menjadi cinta. Bersama, mereka berjuang mengubah organisasi mafia menjadi usaha hukum yang bermanfaat bagi masyarakat, menghadapi musuh dan masa lalu kelam untuk membangun masa depan bahagia bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTOLONGAN RAFI YANG TIBA-TIBA

Lima tahun telah berlalu sejak kita pindah dari kampung. Aku sekarang sudah remaja, dengan rambut yang lebih panjang dan tubuh yang tumbuh lebih tinggi.

Hidup di kota baru ini tidak pernah sama dengan di kampung—aku punya teman baru, tapi tidak ada yang bisa menggantikan Rafi dalam hatiku. Setiap hari aku melihat gelang bintang di tanganku dan merindukan teman terbaikku.

“Hai Caca, kamu lagi merenung tentang teman lama mu ya?” tanya Maya, teman sekelas ku yang selalu ada bersamaku. “Kamu selalu melihat tanganmu setiap waktu!”

Aku sedikit malu dan menutupi tanganku dengan cepat. “Iya, memang aku merindukannya. Dia adalah teman terbaikku sebelum kita pindah.”

“Hari ini kita ada kegiatan ekstrakurikuler basket lho,” ujarnya dengan senyum. “Ayolah, jangan terus-terusan merenung saja! Kita harus berolahraga agar badan sehat!”

Aku mengangguk dan mengikuti Maya ke lapangan basket sekolah. Acara itu memang menyenangkan dan membuatku sedikit melupakan rasa rindu.

Namun saat jam sudah menunjukkan pukul lima sore dan kita ingin pulang, tiga anak laki-laki dari sekolah sebelah menghalangi jalan kita di gang kecil yang harus kita lewati untuk pulang ke rumah.

“Kamu adalah Caca ya?”amu adalah Caca ya?” tanya salah satu anak laki-laki itu dengan suara yang menyakitkan telinga. “Kita sudah mencari kamu sejak beberapa hari yang lalu.”

“Apa yang kalian inginkan?” tanyaku dengan suara yang sedikit gemetar tapi tetap berusaha tampak tegas.

“Kamu dulu teman dekat dengan Rafi, putra kepala mafia Bara Pratama bukan?” ujar anak laki-laki yang paling tinggi di antara mereka. “Keluarga kita memiliki masalah dengan keluarga mereka. Dan kamu akan menjadi alat untuk membuat mereka menderita!”

Maya segera menarik tanganku dan mencoba berlari, tapi salah satu dari mereka menghalangi kita dan mendorong Maya hingga dia jatuh ke tanah. Aku segera membantunya berdiri dan menghadapi mereka dengan penuh keberanian.

“Jangan menyakitinya! Semua masalah adalah dengan keluargaku dan Rafi, bukan dengan dia!” seruku dengan suara yang keras.

Anak laki-laki itu tertawa sinis dan mulai mendekat padaku. “Baiklah, kalau begitu kita hanya akan mengambil kamu saja. Mereka pasti akan khawatir kalau kamu hilang!”

Saat mereka mau meraih tanganku, suara keras terdengar dari ujung gang. “Jangan menyentuh dia!”

Kita semua menoleh dan melihat seorang pemuda tampan dengan rambut hitam rapi dan tubuh yang atletis berdiri di sana.

Matanya yang tajam dan wajahnya yang serius sangat mirip dengan seseorang yang aku kenal. Aku merasa seperti tidak percaya dengan apa yang kudengar dan lihat.

“Rafi?” bisikku dengan suara penuh keheranan dan emosi.

Rafi mendekat dengan langkah yang mantap dan berdiri di depan ku, menghalangi aku dari mereka. “Aku sudah bilang kan jangan menyakitinya. Kalau kalian punya masalah dengan keluargaku, datanglah padaku saja. Jangan pernah menyentuh orang-orang yang aku cintai!”

Anak laki-laki itu melihat Rafi dengan wajah yang penuh dengan kagum dan sedikit takut. “Kau adalah Rafi? Putra Bara Pratama?”

“Betul sekali,” jawab Rafi dengan suara yang tegas. “Sekarang pergilah dari sini sebelum aku melakukan sesuatu yang tidak akan kamu suka.”

Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka segera berlari meninggalkan gang itu dengan cepat. Rafi kemudian berbalik dan melihatku dengan mata yang penuh dengan emosi. Dia mengulurkan tangannya dan membaca wajahku dengan cermat.

“Kamu baik-baik saja kan, Caca?” tanyanya dengan suara yang lembut—suara yang aku kenal sangat baik.

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Air mata mulai mengalir deras di pipiku dan aku langsung memeluknya erat-erat.

Rafi membungkus tangannya di sekitar tubuhku dan memelukku kembali dengan sangat erat, seolah-olah takut aku akan hilang lagi.

“Kenapa kamu ada di sini?” tanyaku dengan suara yang masih bergetar karena menangis.

“Aku sudah mencari kamu selama bertahun-tahun,” jawabnya dengan suara penuh rasa rindu. “Ayah berhasil mengatasi semua masalah dengan kelompok mafia lain dan sekarang kita bisa hidup dengan lebih tenang. Aku tidak bisa tinggal diam lagi tanpa tahu kabarmu, jadi aku mencari kamu sampai akhirnya menemukanmu di sini.”

Maya yang masih berdiri di belakang ku mulai bersuara dengan suara yang penuh keheranan. “Caca, siapa dia sebenarnya?”

Aku segera melepaskan pelukan dan memperkenalkan Rafi pada Maya. “Ini Rafi, teman terbaikku dari kampung yang aku selalu ceritakan padamu.”

Rafi memberikan senyum ramah pada Maya dan mengucapkan maaf karena membuatnya ketakutan.

Maya hanya mengangguk dengan ter hanya mengangguk dengan terkejut dan kemudian berkata bahwa dia akan pulang dulu agar kita bisa berbincang dengan tenang.

Setelah Maya pergi, Rafi menarik tanganku dan membawa aku ke taman kecil dekat sekolah. Kita duduk di bangku yang kosong dan mulai bercerita tentang apa yang telah terjadi selama lima tahun yang lalu.

“Ayah bilang kita sekarang sudah aman,” ujar Rafi dengan suara penuh harapan. “Keluarga kita sudah keluar dari bisnis yang tidak baik dan sekarang menjalankan bisnis yang benar-benar hukum dan bermanfaat bagi masyarakat. Kamu tidak perlu lagi takut dengan bahaya apa pun.”

Aku melihat wajahnya yang sudah berubah menjadi lebih dewasa dan kuat, tapi masih ada kesan anak laki-laki yang dulu aku kenal di dalamnya. Aku mengambil gelang bintang di tanganku dan menunjukkan padanya.

“Aku selalu memakainya setiap hari,” kataku dengan suara lembut. “Aku selalu berharap bisa bertemu denganmu lagi.”

Rafi tersenyum dan menunjukkan gelang kecil yang pernah aku berikan padanya yang sekarang dipakainya di tangan kirinya. “Aku juga selalu memakainya. Aku tidak pernah melupakan janji kita untuk selalu menjadi teman.”

Kita berbicara lama hingga malam menjelang. Rafi memberitahu aku bahwa dia sekarang sekolah di SMA terbaik di kota dan tinggal di rumah besar yang dibeli ayahnya di daerah yang aman.

Dia juga mengatakan bahwa Mama Lila selalu menanyakan kabarku dan sangat merindukan aku.

“Kamu mau kembali ke kampung untuk bertemu dengan Mama Lila dan Ayahku tidak?” tanyanya dengan mata penuh harapan. “Mereka pasti akan sangat senang melihatmu lagi.”

“Aku mau sekali!” jawabku dengan senyum lebar. “Aku juga sangat merindukan mereka berdua.”

Saat kita siap untuk pulang, Rafi mengantar aku ke rumah. Mama sangat terkejut ketika melihat Rafi berdiri di depan pintu rumah.

Namun setelah Rafi menjelaskan semua yang telah terjadi dan memberikan jaminan bahwa sekarang sudah aman, Mama akhirnya mengangguk dan mengizinkan aku untuk bertemu dengannya lagi.

“Terima kasih sudah datang untuk menyelamatkan aku hari ini,” ujar aku pada Rafi saat dia mau pergi.

“Aku akan selalu melindungimu, Caca,” jawabnya dengan suara tegas. “Janji kita dulu masih berlaku sampai sekarang. Aku akan selalu ada untukmu.”

Aku tersenyum dan meniup ciuman padanya. Saat melihat Rafi pergi meninggalkan rumah, aku merasa seperti semua beban yang telah aku pikul selama lima tahun terakhir tiba-tiba hilang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!