"Bara, sebaiknya kamu ceraikan saja Aira. Kita bukan orang kaya, dari mana uang sebanyak itu untuk membiayai pengobatannya? " bujuk Norma.
"Bu, uang bisa di usahakan. Bara tak mungkin meninggalkan Aira begitu saja. Aira anak yatim Bu, Bara sudah janji pada kepala panti akan menjaganya."
Bara memohon dengan mata memelas.
Dari dalam kamar, Aira tertunduk mendengar keributan suami dan ibu mertuanya.
Ia menghela nafas dalam. Antara pasrah dan juga berharap.
Aira menatap lekat kertas hasil diagnosa dokter yang masih ada di tangannya. Bulir air mata, menetes satu-satu membasahi kertas itu.
"Apa aku bercerai saja ya dari Mas Bara?" gumam Aira lirih.
Mungkinkah kehidupan rumah tangga yang baru hitungan hari itu mampu bertahan dari ujian itu?
Ikuti kisahnya dalam "WANITA AMNESIA ITU ISTRIKU"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DIAGNOSA
"Hhh... hhh.. hhh.. "
Suara desahan Aira yang hampir tak terdengar membangunkan Bara. Ia berdiri dari tikar tipis tempat ia merebahkan tubuh.
Wajah Aira pucat, keningnya penuh keringat.
Bara meletakkan punggung tangannya pada kening istrinya.
"Ya Allah panas sekali, " gumam Bara lirih.
Ia buru-buru menekan tombol khusus untuk memanggil perawat.
TIIIIIT.. TIIIIIT
Bara menatap jam di dinding kamar rawat inap itu, jam dua dini hari. Tak ada perawat yang menghampiri. Mungkin mereka juga tertidur.
CEKLEK
Bara keluar perlahan khawatir membangunkan pasien lain.
"Suster.. Suster.. " panggilnya setengah berbisik.
"Eh... iya Pak? " sahutan dari nurse station.
"Istri Saya demam tinggi."
"Oh iya, Pak. Tunggu di kamar, sebentar kami ke sana."
Bara bergegas kembali ke kamar.
Tak lama dua perawat datang membawa beberapa peralatan dan suntikan berisi obat penurun panas.
Suara termometer yang selesai mengukur terdengar nyaring mengisi keheningan malam itu.
"40° , Saya suntik obat penurun panasnya ya Pak. "
Bara mengangguk.
Ia makin cemas karena Aira belum sadar sejak tadi tau-tau sudah demam.
Perawat keluar dari kamar inap mereka.
Bara mengeringkan keringat dengan tisu. Terasa hancur hatinya melihat kondisi Aira yang belum sempat merasakan kebahagiaan malam pengantin.
Bara menarik kursi merebahkan kepalanya di atas brankar samping lengan Aira. Memegang tangan yang jari telunjuknya tersemat di sebuah alat.
"Aira.. sembuh lah, aku rindu, " bisik Bara.
Terbayang pertemuannya pertama kali dengan Aira.
Gadis yang tengah mengajar anak-anak di pekarangan panti itu berhasil memikat hatinya saat pandangan pertama.
Senyum tulus dan kepolosan tergambar di wajah yang manis itu sambil sesekali mengeja anak-anak membaca.
"Mas Bara, sudah sampai? " tanya Siska, kepala Panti.
"Oh iya, Bu baru saja."
Kepalanya mengangguk pelan sambil menahan malu karena kedapatan mengamati Aira.
"Itu Aira, anak panti yang bertahan di sini membantu saya mengajar anak-anak. Tak banyak yang mau mengabdi, anak-anak yang sudah masuk usia matang kebanyakan memilih keluar panti, hidup mandiri mencari pekerjaan. Berbeda dengan Aira, dia menawarkan diri bertahan dengan upah seikhlasnya dari kami."
Bara mengangguk merasa terkesan mendengar kisah Aira.
"Nanti saya kenalkan setelah dia selesai mengajar, " ujar Siska tanpa di minta.
"Oh, iya bu terima kasih, " sahut Bara.
Ia tak sadar tawaran itu hanya pancingan, dan ternyata Bara benar-benar terjerat. Siska tertawa kecil.
Mereka berdua kemudian berbincang di ruang kerja Siska.
"Aira, kalau sudah selesai, temui Bu Siska di ruangan beliau ya. "
"Nggih Bu Darmi. "
Aira merapikan barang setelah mengajar, lalu bergegas ke ruangan Siska. Anak-anak sudah kembali ke kamar mereka masing-masing bersiap untuk makan siang.
TOKTOKTOK
CEKLEK
"Assalamu'alaikum, Bu Siska panggil Saya? " tanya Aira.
"Iya Aira, masuk sini. Mas Bara dari kantor pemkot mau kenalan. "
Tubuh Aira membeku beberapa detik, matanya tak berani menatap laki-laki yang sedang duduk berhadapan dengan Siska.
"Perkenalkan, Saya Bara, " ujar laki-laki itu menyodorkan tangannya.
"Aira, " panggil Siska.
Aira tersadar, kepala menunduk menyembunyikan rasa malu, tangan terulur menyambut tangan dan bersalaman.
"Aira, " sahutnya.
Siska menyuruh Aira duduk di sampingnya. Percakapan mengalir ringan seputar sejak kapan Aira tinggal di panti, tugasnya dan apa saja keahliannya.
Begitu juga dengan cerita singkat tentang kehidupan Bara. Lulusan sekolah mana, bekerja di bagian apa, seolah sedang membicarakan Curriculum Vitae-nya.
Obrolan berlanjut dengan tukar kontak whatsapp. Siska bersyukur ada orang yang mau mengenal Aira lebih banyak. Bagaimana pun juga, anak panti mengharapkan kehidupan normal layaknya anak-anak yang lainnya.
Punya keluarga, membangun rumah tangga, bekerja dan yang lainnya.
Hingga komunikasi itu terus berlanjut. Dimulai dari perhatian kecil, bertanya kabar dan sudah makan apa belum. Berlanjut dengan jalan-jalan sore saat weekend, sampai akhirnya lamaran Bara tepat setahun sejak awal mereka bertemu.
Norma, Ibu Bara awalnya menolak Aira. Namun, melihat Bara yang begitu cinta mati Norma akhirnya tak berkutik. Dia sendiri hidup bergantung dari gaji anak sulungnya itu, sejak menjadi janda cerai mati. Ia cukup tahu diri untuk tidak terlalu mengatur.
Ia hanya berharap, menantunya yang penurut itu akan membantunya mengurus pekerjaan rumah sambil juga bekerja sampingan.
TOKTOKTOK
CEKLEK
Suara pintu yang dibuka oleh petugas pengantar sarapan membangunkan Bara. Entah kapan ia tertidur.
Perlahan mata Aira mengerjap. Bara spontan berdiri.
"Aira, ini mas Bara, " bisiknya di telinga Aira.
Punggung tangan Bara meraba suhu di kening Aira. "Alhamdulillah demamnya turun."
"Sayang, kamu sudah sadar? " tanyanya.
Mata Aira mengerjap, pelan. Membuka penuh dan melirik ke arah Bara berdiri.
"Mas, " panggilnya serak.
"Iya, Sayang. Mas di sini. Kamu haus? "
Aira mengangguk, bibirnya kering.
Bara mengambil air mineral dan meletakkan sedotan di bibir Aira. Sedotan bergerak, air naik hingga ke tenggorokan.
"Apa yang kamu rasa sekarang Aira? "
"Kepalaku... sakit mas. "
"Sabar ya, hari ini kita periksa semua. Kamu harus bertahan. "
Kepala Aira mengangguk.
Tubuhnya lemas, ia benar-benar tak bisa bergerak.
Bara shalat subuh beralas tikar yang di kirim puspa semalam, bersama kebutuhan lainnya.
Mengisi perutnya dengan roti sekedar terisi sejak semalam.
Ia membantu Aira makan perlahan. Sesuap demi sesuap. Sesekali Aira terdiam, bibir berdzikir, menutup mata menahan sakit yang menyerang kepalanya.
Mata Bara berkaca-kaca, 'Ya Allah seandainya bisa, bagilah rasa sakit itu padaku, ' batinnya.
Tak lama..dokter visit lebih pagi. Dokter yang memeriksa Aira kemarin malam.
Prosedur pemeriksaan berlangsung lebih awal, mumpung belum banyak pasien lain yang datang kata dokter.
Brankar Aira di dorong ke ruangan khusus. Hanya ia, perawat dan dokter, tapi Bara masih bisa melihat dari kaca bening di pintu.
Alat masuk ke tubuh Aira, mengambil sample. CT Scan, ambil darah. Bara hanya mampu melihat dari kejauhan ekspresi kesakitan yang dirasakan istrinya.
Ia akhirnya duduk lunglai di kursi tunggu. Pikiran dan hatinya ikut lelah, padahal ini baru pemeriksaan awal. Belum proses pengobatan yang entah akan seperti apa. Ia hanya berharap ini bukan sakit yang mengkhawatirkan.
***
"Bu, Puspa di minta Mas Bara ke rumah sakit. Mas Bara mau urus sesuatu ke kantor dan Bank, " ujar Puspa menghampiri Norma di dapur.
Norma meletakkan pisau di atas telenan, ekspresi heran, cemas, kesal... jadi satu.
Puspa takut, ekspresi itu terlihat seperti gunung merapi yang siap meletus.
"Ambilkan handphone Ibu di kamar, " titahnya.
Puspa buru-buru, berjalan cepat menjalankan perintah.
Ponsel sudah ditangan, jari gesit menekan layar mencari kontak Bara, putranya.
"Assalamu'alaikum, Bara. "
"Wa'alaikumsalam, iya Bu," jawab Bara di seberang. Nada tegang, sedih-- menahan luka.
"Bagaimana kata dokter?"
"Hhhh.. Aira baru selesai pemeriksaan awal, Bu. Hasilnya baru besok keluar, Bara butuh pegangan uang Bu. Uang hajatan apa masih ada, Bu?"
"Cuma dapat lima juta, Bara. Ibu sudah bayar MUA, dekor, fotografer, sangu buat bulek mu, tinggal sejuta. Buat pegangan ibu di rumah."
"Ya sudah, Bu. Yang disini Bara yang urus."
"Kata Puspa, kamu mau ke Bank? urus apa? "
"Emmm.. itu...Bara rencana mau..'Sekolahkan' SK Bu. Ajukan pinjaman di bank, "
"Pinjaman? kamu mau hutang? Bukannya kamu anti hutang ke bank?"
"Mau bagaimana lagi Bu, mendesak. Pasti butuh dana besar untuk biaya pengobatan Aira."
"Ibu nggak setuju, Bara. Berapa juta lagi gajimu dipotong buat bayar hutang?"
"Bu, nggak mungkin sakitnya Aira dibiarkan saja kan? "
"Istrimu itu menantu nggak berguna, malah jadi beban. "
"Bu, jangan bicara begitu. Aira sudah tanggung jawab Bara. Bara pastikan potongannya nggak besar. Bara usahakan Bu."
"Terserah kamu lah, pokoknya Ibu nggak mau tahu. Keperluan dapur dan kuliah adik mu jangan diganggu gugat."
KLIK
Norma memutus telpon begitu saja.
"Ya sudah, bersiap sana. Nanti ibu yang selesaikan jemurannya."
Puspa mengangguk, berlalu meninggalkan Norma yang masih menggerutu di dapur.
***
TUT-TUT-TUT
Bara menghela nafas, tak menyangka reaksi Ibunya sekeras itu.
"Pak Bara, " panggil dokter.
"Iya dokter, Bagaimana?"
"Diagnosa awal, kemungkinan istri Bapak menderita infeksi Otak. Di lihat dari gejala dan hasil CT Scan. Besok kita pastikan lagi dari hasil sample cairan dan ambil darah."
"Innalillahi.. Ya Allah.. Infeksi Otak, dok? "
Dokter di hadapannya mengangguk kecil, menepuk pundaknya dan berlalu meninggalkan Bara dengan keterkejutannya.