"Jeny? Siapa Jeny? " tanya Gilang dengan kening berkerut.
"Itu, si Karateka cantik kampus kita. Yakin nggak tahu? Atau pura-pura nggak tahu?"
Alis Gilang terangkat sebelah, mencoba menerka perempuan mana yang di maksud Aris, sahabatnya.
"Kamu lagi ngejar dia kan? Jangan mengelak, ada saksi mata yang lihat kamu jalan bareng dia kemarin siang di gang belakang kampus, " ejek Aris lagi terkekeh.
"Oh, cewek itu namanya Jeny? Siapa yang ngejar dia? Kenal juga nggak, " sungut Gilang.
Gilang Putra Candra, mahasiswa semester 4 andalan Universitas Gama dalam setiap lomba karya tulis nasional tak sengaja bertemu dengan Jeny Mau Riska Atlit Karate-Do sabuk hitam yang juga mahasiswi semester 4 Universitas Gama di gang belakang kampus.
Pertemuan tak sengaja itu, perlahan menjadi rumor di kalangan mahasiswa angkatan mereka.
Akankah rumor itu menjadi awal rahasia mereka?
Ikuti kisah mereka dalam RAHASIA DUA BINTANG KAMPUS
Kisah ini hanya fiktif. Kesamaan nama, lokasi hanya kebetulan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Palak
"Lang, nanti siang jangan lupa jadwal ketemuan sama Pak Herman, " ujar Mona.
"Ketemuan apa lagi? Bukannya kemarin sudah di bahas, tinggal eksekusi aja? " tanya Gilang kesal.
"Pak Herman kemarin malam chat, minta ketemu lagi mau kasih arahan tambahan. Nanti samperin di kelasku ya. Kita pergi bareng ke sana, " rayu Mona.
"Kamu ajalah, nanti chat hasil ketemuannya ke aku. Oke!! "
Gilang berlalu dengan langkah cepat meninggalkan Mona yang masih mencerna jawabannya.
"Ish, Gilang nanti aku jawab apa kalau di tanya pak Herman? " tanya Mona setengah berteriak.
Gilang malah berlari tak menjawab pertanyaan Mona yang terpaku di lorong gedung kampus.
Gilang melangkah mantap masuk ke dalam. kelasnya dan duduk di kursi paling belakang.
Sambil terengah ia merogoh saku mengambil ponselnya.
[ Ris, siang ni temenin aku ke arcade yok. Lagi nggak mood nih. ]
[ Ogah, aku janji sama prily bawa dia ke kafe maksi bareng]
"Ah, repot kalau sudah punya cewek. Jadi nggak punya waktu buat temen sendiri, " gerutu Gilang.
Dosen mata kuliah metode penelitian dasar masuk ke ruang kelas. Gilang menegakkan punggung bersiap mengikuti kuliah pagi itu.
***
"Aku dengar Jeny itu anak di luar nikah, Mas. Kamu pernah dengar nggak kabarnya dari geng yang lain? " tanya Rika sambil memakai maskara di bulu mata kanannya.
"Oh ya? Belum pernah dengar. Hoax kali tuh jangan langsung telan kabarnya Rik. Kalau dia dengar bakal habis Kamu nanti."
"Ya elah cuma karateka, apanya sih yang di takutin. Mereka kan juga nggak boleh sembarangan pakai ilmu bela dirinya buat tindas orang."
"Ya, dia nggak pake buat tindas kamu, tapi membela diri. Apalagi kalau betul itu fitnah. Udah ah, nggak usah bahas dia. Aku nggak mau punya musuh, " sahut Nimas meratakan liptint di bibirnya.
CEKLEK
Jeny keluar dari salah satu bilik, sambil menenteng tas besarnya.
Nimas dan Rika sontak terpaku saat melihat Jenny berada di belakang mereka dari pantulan cermin.
"Eh, Jen. Aku sudah selesai. Duluan ya, " ujar Rika sambil beberes perkakas make upnya dan berlalu.
Ia mendadak ciut nyali melihat tatapan tajam dan raut dingin dari wajah Jeny.
Nimas menatap tegang ekspresi itu dan berbalik menyusul Rika yang setengah berlari keluar dari toilet.
Jeny menghela nafas. Kabar ia anak di luar nikah sudah santer menyebar sepekan terakhir ini. Entah dari mana awal berita itu menyebar.
Ibu Jeny memang bekerja jadi TKW di Cina sejak ia SMP, tapi itu bukan karena ia lahir dari hasil luar nikah. Kabar ayahnya yang menghilang saat bekerja di tambang tak pernah terungkap sejak ia masih SD kelas 6 sampai hari ini.
Kebanyakan orang mengira, perempuan beranak yang kerja jadi TKW pasti perempuan yang hamil diluar nikah. Nyatanya tak semua stigma itu benar.
Jeny memeriksa ponselnya. Ada pesan masuk dari sang Mama.
[Jeny sayang, mama sudah kirim bulanan. Jangan lupa mampir ATM kasih ke Nenek ya seperti biasa. Sisanya untuk bayar kuliah mu. Mama di sini sehat, semoga kamu dan Nenek juga sehat. Nanti Mama kabari lagi ya. Mama kerja dulu. Jangan lupa berhemat ya, Nak]
[Terima kasih Mama sayang, kami sehat Ma. Jangan khawatir. Mama sehat-sehat disana ya]
Setelah membalas pesan dari mamanya, Jenny berjalan menuju kelasnya.
Waktu berlalu tak terasa. Matahari kian meninggi, memancar panas terik yang menciptakan peluh di setiap tubuh yang menerpa sinarnya.
Jeny baru saja selesai dari jam terakhir.
BRUG
Tas besar latihannya menimpa aspal.
HUP!!
Sekali lompat, kedua kakinya menjejak aspal.
Ia bergeser ke jembatan kecil sambil duduk disana setelah mengambil tasnya.
Tali sepatunya terlepas, ia membungkuk sedikit dan mengikat simpul tali.
Jeny terbiasa lewat belakang gedung kampus menghindari tatapan cemooh teman-teman kampusnya sejak rumor itu mencuat.
Selain itu, hanya gang itu jalan tercepat ia sampai ke tempat berlatih.
Ia bukannya tak bisa melawan atau membela diri, hanya lelah dan malas menanggapi. Ia tak ingin memperbesar masalah karena harus menjaga beasiswanya. Klarifikasi dengan pihak manajemen sudah cukup. Yang lain tak penting.
Terdengar tawa canda dari segerombolan mahasiswa angkatan lawas tengah mengobrol di warung kecil ujung gang.
BRUGG
Sebuah tas ransel laki-laki, tergeletak di jalan.
HUP
Tubuh seorang mahasiswa baru saja mendarat aman di aspal, sama seperti yang ia lakukan sebelumnya. Mahasiswa itu melenggang di gang setelah mengambil tasnya.
Beberapa mahasiswa senior melihat mahasiwa itu melintas.
"Dek, bagi uangmu dulu. Bayarin rokok kakak, " ujar salah satu mahasiswa yang wajahnya sudah seperti Bapak-bapak paruh baya.
"Iya dek, selembar seratus ribu aja cukup. Kamu kayaknya anak berduit, " timpal senior bertubuh kurus.
Jeny kenal mereka keduanya, bahkan lebih tepatnya sungkan karena Jeny pernah mengalami pemalakan serupa, tapi berhasil melawan.
"Aduh, maaf kak. Saya nggak pegang cash. Adanya Qris aja nih, " sahut mahasiswa itu sambil memperlihatkan layar ponselnya.
Jeny berdiri, ia tak suka kalau ada yang melayani pemalakan itu. Akan ada korban yang lain kalau sekali saja ada yang merespon permintaan mereka.
"Yah dek, di sini nggak terima Qris. Bon aja deh, besok kamu bayarin ya."
Mahasiswa tambun itu menyenggol lengan mahasiswa kurus memperingatkannta setelah melihat Jeny berjalan mendekat.
"Oh nggak jadi, dek. Nanti kita bayar sendiri. Kamu lewat aja."
Mahasiswa itu tertegun.
"Permisi."
Suara perempuan mendekat ke telinganya. Ia spontan mengubah posisi tubuhnya yang menghalang jalan di gang sempit itu.
Perempuan itu berlalu melewati dua mahasiwa senior tanpa menoleh.
"Halo Jeny, baru pulang ya?" sapa mereka.
Jeny berhenti dan menoleh ke arah mereka menatap dingin.
"Kalau nggak punya uang, jangan sibuk nongkrong. Cari kerja sambilan."
"He.. Iya Jen, " sahut mahasiswa kurus itu menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Si tambun hanya duduk sambil menyeruput es tehnya tak berani menyapa.
Jeny berlalu santai.
Mahasiswa yang masih tertegun itu menatap heran pada kedua mahasiswa senior yang meminta uangnya tadi. Mereka nampak takut pada perempuan di hadapannya.
Mahasiswa itu memasukkan ponselnya ke saku dan memperbaiki kacamatanya menunjukkan gestur terkesan. Berjalan di belakang perempuan itu setelah mengangguk kecil pada mahasiswa senior kurus tadi.
Mahasiswa itu berjalan menyusuri gang di belakang perempuan bercelana putih. Ia memperhatikan dari belakang tubuh tegap wanita yang berkuncir kuda itu. Tas besar berwarna hitam terselempang aman di bahunya menunjukkan begitu kuat pundak perempuan itu.
Ia ingin menyapa, tapi ragu-ragu sampai akhirnya perempuan itu berbelok ke dalam sebuah bangunan ruko kecil tanpa nama.
Ponselnya berdering nyaring di tengah gang yang sepi.
"Assalamu'alaikum, " sapanya.
"Gilang, kamu kemana? di cariin pak Herman nih, " tanya seorang perempuan yang tak lain adalah Mona.
"Assalamu'alaikum, " sapanya lagi.
"Iya, wa'alaikumsalam. Susul ke sini gih."
"Nggak ah, Mon aku lagi mumet nih. Bilang aja aku nggak enak badan ya. Aku mau pulang, " elaknya.
"Dasar kamu ih, Ya udah."
TUT-TUT-TUT
Gilang bernafas lega.
Ia sempat menoleh ke arah gedung tempat perempuan tadi masuk, tapi akhirnya melanjutkan perjalanannya menjalankan misi ke Arcade.
Tak jauh, seorang pria tersenyum melihat kejadian dari kedua mahasiswa itu dan sempat mengambil foto mereka berjalan berdua berurutan.
"Akhirnya pecah telor si Gilang dari gosip, bakal rame nih."
Ia menekan tombol kirim ke grup whatsapp kelasnya.
Seketika komentar Grup Whatsapp ramai dengan kiriman foto itu.
'Eh Gilang bareng si Jeny ngapain tuh? 😱'
'Mereka nggak lagi pacaran kan? 😢'
'Erwin dari mana Kamu dapat fotonya? 🤨'
Erwin terkekeh dan berjalan masuk kembali ke toserba kecil di dalam gang itu.