"Apakah kamu pernah merindukan seseorang yang bahkan wajahnya saja tidak pernah kamu lihat?"
Alexian hanyalah seorang perantau yang terjebak dalam rutinitas membosankan sebagai resepsionis Love Hotel di Tokyo. Baginya, cinta sudah lama mati sejak pengkhianatan di masa lalu membuatnya menjadi pria yang tumpul rasa.
Namun, sebuah mimpi aneh mengubah segalanya. Seorang wanita, jembatan taman, dan guguran sakura yang terasa begitu nyata.
Mona menyebutnya Yume no Kakehashi.
Jembatan Impian yang Mengambang. Sebuah mitos Jepang tentang dua jiwa yang saling mencari. Alexian menemukan seutas pita berwarna jingga di pagar jembatan itu. Kini, Alexian harus memilih tetap hidup dalam realitasnya yang aman namun sepi, atau mengejar bayangan senja di mata seorang wanita yang mungkin hanya ada dalam mimpinya.
Apakah Alexian bakal bertemu dengan wanita itu atau semua hanya kebetulan dalam mimpi?
Apa arti dari pita yang ia dapat di celah pagar jembatan itu?
Simak kelanjutannya ya! :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rexxy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Antara ingatan dan Kenyataan
Mimpi itu ternyata tidak benar-benar pergi. Ia mengendap di sudut mataku seperti debu yang sulit dibersihkan.
Aku terbangun dengan perasaan ganjil, seolah separuh jiwaku masih tertinggal di jembatan merah itu, sementara ragaku dipaksa kembali ke kenyataan; sebuah apartemen sempit di pinggiran Tokyo yang pengap.
Hari ini adalah hari liburku. Seharusnya aku tenang karena tidak perlu menghadapi bau alkohol di hotel, namun dadaku justru terasa sesak.
Ada rasa rindu yang asing pada seseorang yang bahkan wajahnya pun tidak sanggup kuingat lagi.
Aku terus merenungi mimpi itu. Atmosfer dan suasananya terasa begitu nyata hingga sanggup kurasakan setiap embusan anginnya, meski aku tahu ragaku hanya terbaring di atas kasur tipis.
Entah mengapa, setiap kali mencoba memungut serpihan memori itu, mataku mendadak berkaca-kaca.
"Siapa dia? Dan kenapa aku menangis hanya karena mengingatnya?" gumamku, menatap kosong cahaya pagi yang merayap di celah jendela.
Mataku beralih pada syal putih di atas meja. Pemberian Ibu yang semalam terasa begitu hangat. Warna putihnya yang mulai menguning entah kenapa mengingatkanku pada pucatnya kelopak sakura di mimpiku.
Mona menyebutnya Yume no Ukihashi, jembatan impian. Logikaku ingin menertawakannya sebagai takhayul, tapi bagaimana caraku menyangkal rasa hangat yang masih tertinggal di telapak tanganku setelah menyentuh pagar jembatan dalam tidurku tadi malam?
Tokyo selalu berisik, tapi pagi ini, suara kereta yang melintas di balik jendela terdengar seperti gemericik air sungai di telingaku.
Aku termenung lama di tepi ranjang. Biasanya, hari libur adalah waktu sakral untuk tidur seharian, memulihkan raga yang remuk setelah melayani tamu-tamu hotel.
Kali ini berbeda. Ada sesuatu yang seolah memanggilku untuk melangkah keluar. Sesuatu yang tersembunyi di balik tikungan jalan yang belum pernah aku jalani sebelumnya.
Aku bangkit dengan sisa tenaga, membasuh muka di wastafel kecil yang airnya sedingin es yang seketika membekukan wajahku.
Di cermin, aku melihat pantulan pria dengan mata lelah, namun menyimpan binar penasaran yang tak mampu kusembunyikan.
Tanpa banyak berpikir, aku meraih overcoat hitamku dan melilitkan syal putih pemberian ibu erat-erat di leher.
Rasanya seperti sedang memakai pelindung sebelum terjun ke medan perang yang aku sendiri tidak tahu di mana lokasinya.
Aku melangkah keluar dari kamar apartemenku. Udara musim semi Tokyo menyambutku dengan embusan angin yang membawa aroma samar bunga yang mekar. Kakiku membawaku menuju stasiun, membaur dengan lautan manusia yang bergerak seperti mesin.
Di dalam gerbong kereta, aku hanya berdiri bersandar pada pintu kaca, menatap gedung-gedung yang melesat cepat di luar sana. Pikiranku kosong, hingga tiba-tiba sebuah pengumuman stasiun terdengar.
Aku tidak pernah turun di sana sebelumnya, namun entah mengapa, tanganku bergerak sendiri memencet tombol pintu. Aku turun seolah-olah ada seseorang yang membisikkan namaku di peron itu.
Saat kakiku menapak di lantai stasiun yang lebih sepi dari biasanya, bulu kudukku meremang. Aku berjalan keluar menuju area taman yang tidak jauh dari sana.
Setiap langkah terasa begitu berat sekaligus ringan. Aku berbelok di sebuah tikungan jalan kecil yang dipenuhi pohon sakura, dan seketika duniaku seolah berhenti berputar.
"Tidak mungkin..." bisikku lirih.
Pemandangan di depanku pagar kayu merah itu, lengkungan jembatannya, hingga posisi dahan sakura yang menjuntai ke sungai semuanya identik dengan mimpiku semalam. Ini bukan sekadar mirip. Ini adalah tempat itu. Tempat di mana aku menangis tanpa alasan dalam tidurku.
Sungai kecil jernih yang mengalir di bawah sana, serta bunga sakura yang kelopaknya menari-nari jatuh ke permukaan air... semuanya sama persis seperti dalam mimpi itu.
"Ternyata apa yang Mona katakan itu benar. Yume no Ukihashi bukan sekadar mitos," bisikku dalam hati.
Aku sampai mencubit dan menampar ringan pipiku sendiri, memastikan apakah ini masih bagian dari bunga tidur atau sekadar ilusi yang diciptakan otakku yang lelah.
"Aw... sakit!" Aku meringis, tapi sedetik kemudian tawa kecil lolos dari bibirku.
"Hah...Lah....ini nyata!"
Di tengah euforia itu, Hape di saku overcoat-ku bergetar hebat. Aku melihat layarnya.
"Ken?"
Aku segera menggeser tombol hijau, tak sabar ingin menumpahkan segala keajaiban ini padanya.
"Ken! Kau gak mitos mitos Yume no ukihashi yang diceritain Mona?".
"Iya, kenapa rupanya? Kau sudah menemukannya?" suara Ken terdengar heran di seberang sana.
"Haha!, benar. Aku disini ditempat yang sama seperti mimpiku kemarin". teriakku, hampir tak peduli pada beberapa orang yang lewat dan menatapku heran.
"Wih...Beneran?"suara Ken ikut meninggi, penuh semangat.
"Kalau begitu Shareloc sekarang juga. Akan kukabari Mona dan pergi menemuimu kesana ".
"Oke!" jawabku mantap.
Sambil menunggu mereka, aku menyempatkan diri mengambil beberapa foto. Aku berdiri di titik yang persis sama dengan posisiku di dalam mimpi, mencoba merekam bukti bahwa tempat ini benar-benar ada.
Aku pun melangkah perlahan di atas lantai kayu jembatan merah itu, mencoba mencocokkan setiap jengkalnya dengan mimpiku. Rasanya seperti menyatukan kepingan puzzle yang hilang.
Aku berdiri tepat di tengah jembatan, lalu menutup mata. Aku ingin merasakan hangatnya sinar matahari senja dan lembutnya angin yang menyapu kelopak sakura yang jatuh. Duniaku seketika menjadi gelap, hanya ada suara aliran sungai dan desau angin.
"Selamat Datang Alexian". suara wanita terdengar di dekatku.
Jantungku berdegup sangat kencang, seakan ingin melompat keluar dari tempatnya. Darahku terasa berdesir dingin.
Bagaimana mungkin?
Tidak ada orang di dekatku. Dan yang paling membuatku membeku adalah...
bagaimana suara itu bisa tahu namaku?.
Aku baru saja hendak memutar tubuh, mencari dari mana sumber suara misterius itu berasal, ketika sebuah teriakan membuyarkan segalanya.
"Hei, Lex! Di situ rupanya kau!"
Aku tersentak, hampir saja menjatuhkan ponselku ke sungai. Aku menoleh dan melihat Ken serta Mona berjalan ke arahku dari ujung jalan taman.
"Bilang dong kalo Tempatnya sejauh ini!!. Aduh... kakiku rasanya mau patah," ucap Ken terengah-engah, mencoba bercanda seperti biasanya.
Aku masih berdiri terpaku di tengah jembatan, mencoba menenangkan debar jantungku yang masih liar.
"Hahaha... aku pun tidak sadar mengapa aku bisa sampai di sini. Rasanya seperti ada sesuatu yang menuntunku," jawabku pelan
mataku sesekali masih melirik ke sekeliling, mencari sosok yang berbisik tadi.
Mona melangkah maju, ia menatap pagar merah jembatan dengan tatapan kagum.
"Jadi ini tempatnya, Lex? Jembatan di mana wanita itu berdiri dalam mimpimu?"
"Iya," jawabku mantap sambil menatap lurus ke arah dahan sakura yang menjuntai.
"Semuanya... benar-benar sama persis."
Aku terdiam sejenak, membiarkan angin senja meniup syal putih di leherku. Di satu sisi aku lega karena teman-temanku sudah sampai, tapi di sisi lain, bisikan tadi masih terngiang jelas.
Siapa sebenarnya yang baru saja mengucapkan selamat datang?
Aku menatap Mona dan Ken yang sedang sibuk mengagumi pemandangan, tapi pikiranku tetap tertinggal pada bisikan tadi.
Jika tempat ini nyata, maka suara itu juga nyata. Dan jika dia sudah mengucapkan selamat datang, berarti pencarianku... baru saja dimulai.
Pantengin terus ya kak... heheh🙏😍
2. Check-out : Meninggalkan (hotel/ bandara) setelah membayar dan mengembalikan kunci.