Kiara Selia tidak pernah percaya hal-hal berbau mistis. Hidupnya sederhana: sekolah, pulang, main game online di ponsel, lalu mengeluh soal hidup seperti remaja normal lainnya.
Sampai suatu sore di sebuah taman kota.
Saat sedang fokus menyelesaikan match game online, Kiara terganggu oleh seorang pemuda yang mondar-mandir tak jelas di depannya. Gerakannya gelisah, ekspresinya kosong, seperti orang yang kehilangan arah. Karena kesal dan tanpa berpikir panjang, Kiara menegurnya.
Dan sejak saat itu, hidupnya tidak pernah kembali normal.
Pemuda itu bukan manusia.
Sejak teguran itu, Kiara mendadak bisa melihat makhluk yang seharusnya tak terlihat, termasuk si pemuda bermata biru langit yang kini menatapnya dengan ekspresi terkejut… sekaligus penuh harapan.
Menyadari bahwa Kiara adalah satu-satunya orang yang bisa melihat dan mendengarnya, sosok hantu itu mulai mengikuti Kiara ke mana pun ia pergi. Dengan cara yang tidak selalu halus, sering mengagetkan, dan kadang memalukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queena lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Jiwa yang Terpilih
Sesuai kesepakatan sebelumnya, Kiara hanya diperbolehkan menunggu di luar.
Ia berdiri di serambi rumah kayu itu, langkahnya terhenti tepat sebelum ambang pintu. Aroma dupa dan tanah basah bercampur jadi satu, menusuk hidung dan membuat kepalanya sedikit pening. Dari dalam rumah terdengar suara lantai kayu berderit pelan ketika Pak Arman dan om Hardi mendorong kursi roda Bima masuk.
“Kiara, tunggu di sini saja,” kata Pak Arman tanpa menoleh, suaranya terdengar tegang namun tetap berusaha tenang.
Kiara mengangguk kecil. Tidak ada bantahan. Sejak awal ia tahu batasnya di mana.
Pintu kayu itu tertutup perlahan.
Krek.
Suara itu terdengar jauh lebih keras di telinga Kiara daripada seharusnya.
Sekarang, di luar hanya tersisa tiga orang. Atau dua manusia dan satu makhluk yang keberadaannya hanya bisa Kiara lihat.
Kiara berdiri bersandar pada tiang kayu serambi. Sky berdiri beberapa langkah darinya, tatapannya mengarah ke pintu tertutup, wajahnya kaku seperti sedang menahan sesuatu. Sementara Aditya duduk di bangku kayu panjang, menyilangkan tangan, menatap halaman yang diselimuti kabut tipis.
Hening.
Bukan hening yang nyaman, melainkan hening yang membuat pikiran berisik sendiri.
Waktu terasa berjalan lambat. Terlalu lambat.
Angin malam berembus, membuat dedaunan di sekitar berdesir pelan. Kiara merapatkan jaketnya, meski dingin yang ia rasakan bukan sepenuhnya berasal dari udara.
Beberapa menit berlalu.
Atau mungkin lebih lama.
Sky akhirnya memecah keheningan.
“Aku mau lihat ke dalam,” katanya tiba-tiba.
Nada suaranya datar, tapi ada kegelisahan yang tidak bisa ia sembunyikan.
Kiara menoleh, lalu mengangguk kecil. “Iya.”
Tidak ada larangan. Tidak ada pertanyaan.
Sky melangkah mendekati pintu, tubuhnya perlahan memudar saat menembus kayu tua itu tanpa suara. Kiara menatap pintu tersebut beberapa detik lebih lama, sebelum akhirnya menghela napas panjang.
Kini hanya tinggal ia dan Aditya.
Aditya menggeser posisinya, lalu menoleh ke arah Kiara. Sejak di mobil tadi, perasaan ganjil itu terus mengganggunya. Dan sekarang, setelah melihat Kiara kembali melakukan hal itu, rasa itu justru semakin jelas.
“Kiara,” panggil Aditya pelan.
Kiara menoleh. “Hm?”
Aditya ragu sejenak, lalu berkata, “Sebenarnya… Kamu kenapa?”
Kiara mengernyit samar. “Kenapa apa?”
“Kamu,” lanjut Aditya, menatapnya lekat. “Sejak aku datang beberapa hari lalu. Sejak tinggal di rumahmu.”
Kiara menegang tanpa sadar.
“Aku sering lihat kamu… Bergumam sendiri,” ujar Aditya jujur. “Awalnya kupikir itu kebiasaan baru. Atau mungkin kamu lagi banyak pikiran.”
Ia berhenti sejenak, menghela napas. “Tapi makin aku perhatikan, kamu bukan cuma asal ngomel. Kamu seperti… Ngobrol.”
Kalimat itu jatuh tepat sasaran.
Dada Kiara terasa mengencang. Jari-jarinya mencengkeram ujung jaket.
“Ngobrol?” Kiara mengulang pelan, berusaha terdengar biasa.
“Iya,” Aditya mengangguk. “Seperti ada lawan bicara. Tapi setiap kali aku tanya, kamu selalu bilang tidak apa-apa.”
Ia tersenyum kecil, tapi sorot matanya serius. “Aku cuma mau tahu… kamu baik-baik saja, kan?”
Kiara menunduk.
Di kepalanya, kata-kata berdesakan, berebut ingin keluar.
Ia ingin berkata bahwa sejak bertemu Sky, dunianya berubah.
Ia ingin menceritakan bagaimana tiba-tiba ia bisa melihat hal-hal yang seharusnya tidak ada.
Tentang Laras, sosok kuntilanak yang dulu menempel di tubuh Bima.
Tentang makhluk yang menyerupai Aditya di dapur pada hari pertama ia datang.
Tentang bayangan gelap yang mengintai Bima, yang berniat menghabisi nyawanya.
Ia ingin jujur.
Tapi ketakutan itu lebih besar.
Takut dicap berkhayal.
Takut dianggap stres.
Takut tidak dipercaya.
Kiara mengatupkan bibirnya, lalu menggeleng pelan. “Aku cuma… capek.”
Aditya mengamati wajahnya. “Kamu yakin?”
Kiara mengangguk lagi, kali ini lebih tegas. “Iya.”
Aditya terdiam. Ia tidak sepenuhnya percaya, tapi juga tahu Kiara bukan tipe yang mudah membuka diri.
“Kalau ada apa-apa,” katanya akhirnya, “kamu bisa cerita. Aku di sini.”
Kiara tersenyum tipis. “Makasih.”
Namun senyum itu tidak sampai ke matanya.
---
Sementara itu, di dalam rumah Mbah Kromo.
Pak Arman dan om Hardi mendorong kursi roda Bima masuk ke ruangan utama. Cahaya lampu minyak menyala temaram, menerangi dinding kayu yang dipenuhi jimat dan ukiran tua. Bau dupa semakin pekat.
Seorang pria tua duduk bersila di tengah ruangan.
Rambutnya putih seluruhnya, kulitnya keriput, namun sorot matanya tajam dan dalam. Ia mengenakan pakaian hitam sederhana dengan ikat kepala kain lurik.
“Mbah Kromo,” gumam om Hardi pelan.
Belum sempat keduanya menjelaskan maksud kedatangan mereka, pria tua itu mengangkat tangan, menghentikan mereka.
“ Aku tahu maksud kalian datang kemari. Dan kalian tidak punya banyak waktu,” ucap Mbah Kromo pelan, namun tegas. “Putra kalian hampir kehabisan sisa waktunya kalau tidak segera diselamatkan.”
Pak Arman membeku. “Maksud Mbah…?”
“Anak ini,” Mbah Kromo menatap Bima, “Setengah sukma-nya sudah dibawa pergi.”
Om Hardi menelan ludah. “Dibawa… siapa?”
“Genderuwo,” jawab Mbah Kromo tanpa ragu. “Makhluk itu ingin menghabisinya.”
Pak Arman terduduk lemas di kursi kayu. “Bagaimana bisa? Anak saya tidak pernah macam-macam, Mbah. Dia baik.”
“Dia memang tidak bersalah,” Mbah Kromo menggeleng. “Tidak ada kesalahan dari pihak manusia.”
“Lalu kenapa putra saya sampai begini?” suara Pak Arman bergetar.
“Ada makhluk astral perempuan,” jelas Mbah Kromo. “Dari bangsa kuntilanak. Ia menyukai anak kalian.”
Pak Arman dan om Hardi saling pandang, wajah mereka pucat.
“Dan genderuwo itu,” lanjut Mbah Kromo, “Menyukai makhluk perempuan itu. Bagi dia, keberadaan Bima adalah penghalang.”
Om Hardi mengepalkan tangan. “Lalu… apa yang bisa kami lakukan?”
“Satu-satunya cara,” jawab Mbah Kromo pelan, “Adalah menjemput kembali separuh sukma Bima yang dibawa ke alam ghaib.”
“Bagaimana caranya?” Pak Arman hampir berlutut.
“Seseorang harus masuk ke alam tersebut,” kata Mbah Kromo. “Melakukan ritual pelepasan sukma.”
Pak Arman terdiam, lalu bertanya dengan suara nyaris putus asa, “Berapa lama kami punya waktu?”
“Dua hari,” jawab Mbah Kromo. “Sebelum malam Selasa Legi.”
"Jika lewat waktu itu, maka Bima tidak akan pernah kembali utuh"
“Lakukan sekarang,” kata Pak Arman cepat. “Saya mohon, Mbah. Berapa pun biayanya.”
Mbah Kromo menggeleng pelan. “Saya tidak bisa.”
“Apa maksud Mbah?” om Hardi terkejut.
“Orang seperti saya,” lanjutnya, “Sudah terlalu kotor untuk masuk ke alam ghaib tanpa resiko. Bisa tersesat. Bisa tidak kembali.”
Pak Arman mengacak rambutnya frustasi. “Lalu kami harus cari siapa?”
Mbah Kromo tersenyum tipis. “Kalian tidak perlu mencari.”
Keduanya menatapnya bingung.
“Kalian sudah membawanya.”
Mbah Kromo mengangkat tangannya, menunjuk ke arah pintu tertutup.
“Gadis itu.”
Di salah satu sudut ruangan itu, Sky yang sejak tadi mendengar semuanya…membeku.
Untuk pertama kalinya, wajahnya kehilangan ekspresi apapun selain syok.
Karena ia tahu,
janji Kiara untuk tidak menjauh darinya....
Akan diuji lebih cepat....Daripada yang ia bayangkan.
Dan kali ini....
Raruhannya bukan hanya nyawa Bima...
Melainkan... Jiwa Kiara sendiri.