NovelToon NovelToon
Membuang Tunangan Sampah, Ku Nikahi Pamannya

Membuang Tunangan Sampah, Ku Nikahi Pamannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Pernikahan Kilat / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeju Oranye

Di khianati tunangan sampah, eh malah dapat pamannya yang tampan perkasa!

Cerita berawal dari Mayra andini kusumo yang mengetahui jika calon suaminya Arman, berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri.

Di hari pernikahannya mayra mengajak Dev-- paman dari Arman untuk menikah dengan nya, yang kebetulan menjadi tamu di pernikahan keponakannya. Dan mayra juga membongkar perselingkuhan arman dan Zakia yang di lakukan di belakangnya selama ini.


Cerita tidak sampai di situ, setelah menikah dengan Dev, Mayra jadi tahu sisi lain dari pria dingin itu.

Dapatkan mayra meluluhkan hati Dev yang sekeras batu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Firasat buruk

Mayra andini Kusumo menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi. Wajahnya pucat, kantung mata menghitam, memperlihatkan bukti nyata bahwa tidurnya selama beberapa malam terakhir tidak ini pernah nyenyak. Tangannya gemetar saat meraih lipstik nude di atas wastafel. Sudah lima menit dia berdiri di sini, mencoba meyakinkan diri bahwa semuanya baik-baik saja.

Tapi semuanya tidak baik-baik saja.

Firasat buruk itu datang seperti awan mendung yang perlahan menutupi langit cerah. Dimulai dari hal-hal kecil yang mungkin terlihat sepele bagi orang lain, tapi tidak bagi Mayra. Arman--tunangannya, pria yang seharusnya menikah dengannya seminggu lagi--berubah. Atau mungkin, Mayra baru menyadari sisi lain dari pria yang sudah dia pacari selama tiga tahun itu.

"Mayra! Kau sudah siap?" suara ibu tirinya, Siska, mengalun dari lantai bawah dengan nada tidak sabar yang khas.

"Sebentar, Mama!" jawab Mayra sambil bergegas mengoleskan lipstik. Tangannya masih gemetar.

Hari ini mereka akan bertemu dengan keluarga Arman untuk membahas detail terakhir pernikahan. Seharusnya Mayra excited, bahagia, tidak sabar. Tapi yang dia rasakan justru kegelisahan yang menggigit perutnya seperti ulat bulu.

Mayra turun ke ruang makan dengan dress cream sederhana dan heels nude setinggi lima sentimeter. Ayahnya, Bambang Kusumo, sudah duduk di ujung meja sambil membaca koran. Pria berusia lima puluh tahun itu tersenyum lebar saat melihat putrinya.

"Cantik sekali anak Papa hari ini," puji Bambang dengan tulus.

Mayra tersenyum tipis. Ayahnya selalu seperti itu--hangat, penyayang, tulus. Sayangnya, kehangatan itu tidak berlaku untuk seluruh anggota keluarga.

"Ah, biasa saja kok, Pa," jawab Mayra sambil duduk di kursi seberang ayahnya.

"Biasa saja? Kamu mau menikah dengan anak keluarga Prasetyo, Mayra. Harus tampil sempurna dong!" Siska muncul dari dapur dengan nampan berisi kopi untuk Bambang. Wanita berusia empat puluh lima tahun itu mengenakan dress merah marun yang terlalu ketat untuk ukurannya, makeup menor, dan parfum yang menyengat.

Mayra hanya mengangguk kecil. Tidak ada gunanya berdebat dengan ibu tirinya. Sejak ibunya meninggal sepuluh tahun lalu karena kanker, ayahnya menikah lagi dengan Siska--seorang janda dengan satu anak perempuan, Zakia. Sejak saat itu, rumah yang dulunya hangat berubah jadi medan perang dingin.

"Mana Kak Zakia?" tanya Mayra sambil menuang jus jeruk ke gelasnya.

"Masih bersiap. Kau tahu kan kakakmu, selalu ingin tampil paling sempurna," jawab Siska dengan nada bangga yang kentara.

Mayra menahan diri untuk tidak memutar bola mata. Zakia memang selalu seperti itu--ingin jadi pusat perhatian, ingin terlihat paling cantik, paling sukses, paling segalanya. Dan entah kenapa, Zakia juga selalu iri dengan apa pun yang Mayra miliki.

Sepuluh menit kemudian, si empunya nama yang sedang dibicarakan itu turun dengan gaun pink pastel yang memamerkan lekuk tubuhnya, rambut panjang terurai sempurna, dan makeup flawless ala beauty influencer--yang memang pekerjaannya. Wanita dua puluh tujuh tahun itu tersenyum manis pada Mayra.

"Adikku tersayang, kamu cantik sekali hari ini," puji Zakia sambil mencium pipi Mayra, sebuah gesture yang terasa sangat palsu.

"Terima kasih, Kak. Kakak juga cantik," balas Mayra datar.

Mereka berangkat dengan mobil BMW hitam milik ayahnya. Sepanjang perjalanan ke rumah keluarga Prasetyo di kawasan elite Pondok Indah, Mayra menatap keluar jendela dengan pikiran berkecamuk.

Arman sudah aneh sejak sebulan terakhir.

Pria berusia dua puluh delapan tahun itu sering membatalkan janji makan malam dengan alasan lembur atau meeting mendadak. Saat mereka bertemu, Arman lebih sibuk dengan ponselnya daripada berbicara dengan Mayra. Kalau pun bicara, jawabannya singkat, kaku, seolah dia ada di tempat lain secara mental.

Yang paling mengganjal adalah tadi malam.

Mereka berencana makan malam bersama di restoran Italia favorit Mayra. Tapi setengah jam sebelum jemput, Arman tiba-tiba mengirim pesan:

("Sayang, maaf aku harus cancel malam ini. Ada klien penting yang harus aku temui. Lain kali ya. Love you.")

Mayra membalas dengan emoji hati, meskipun hatinya sendiri sesak.

Lalu, satu jam kemudian, saat Mayra scroll Instagram tanpa tujuan, dia melihat Instagram Story dari salah satu temannya yang kebetulan makan di restoran yang sama. Di background video boomerang cappuccino temannya itu, Mayra melihat seseorang yang sangat familiar.

Arman. Dia tampak sedang duduk di meja pojok dengan seorang wanita.

Mayra memperbesar video itu berkali-kali. Jantungnya berdegup kencang. Siapa wanita itu? Dari belakang, rambutnya panjang terurai, tubuhnya langsing, mengenakan dress yang terlihat mahal.

Mayra mencoba meyakinkan diri bahwa itu mungkin benar-benar klien. Tapi kenapa Arman harus berbohong? Kenapa tidak bilang saja dia meeting dengan klien wanita?

Dan yang lebih aneh, kenapa dadanya sesak seperti ini?

"Mayra, kita sudah sampai." Suara ayahnya membuyarkan lamunannya.

Mayra mengerjap, sadar mereka sudah parkir di halaman luas rumah mewah bergaya Eropa klasik milik keluarga Prasetyo. Rumah dengan taman depan yang hijau sempurna, air mancur di tengah, dan dua mobil mewah terparkir rapi di garasi.

Keluarga Prasetyo memang tajir. Mereka punya bisnis properti yang tersebar di beberapa kota besar. Arman sendiri bekerja di perusahaan keluarganya sebagai direktur marketing--posisi yang diberikan, bukan diperjuangkan.

Pelayan membukakan pintu untuk mereka. Di ruang tamu yang luas dengan sofa beludru krem dan lampu kristal mewah, keluarga Prasetyo sudah menunggu.

Bapak Hendra Prasetyo--ayah Arman, berdiri untuk menyambut. Pria gempal dengan rambut setengah beruban itu tersenyum lebar.

"Selamat datang, keluarga Kusumo! Silakan duduk, silakan," sambut Pak Hendra ramah.

Ibu Arman, Nyonya Puspita, seorang wanita anggun dengan rambut bob dan perhiasan berlian di mana-mana, tersenyum sopan sambil mengangguk. Di sebelahnya duduk Arman, mengenakan kemeja putih dengan celana kain hitam, tampan seperti biasa dengan senyum menawan yang dulu membuat Mayra jatuh cinta.

Tapi hari ini, senyum itu tidak membuat jantung Mayra berdebar. Yang dia rasakan justru... hampa.

"Mayra sayang, kemarilah," Arman berdiri dan mengulurkan tangan.

Mayra berjalan menghampiri dan membiarkan Arman mencium tangannya, gesture romantis yang biasa dia lakukan di depan keluarga. Tapi entah kenapa, hari ini sentuhan itu terasa asing.

Mereka duduk bersebelahan di sofa panjang. Tangan Arman meraih tangan Mayra, menggenggamnya dengan lembut. Mayra memaksakan senyum.

"Jadi," Pak Hendra memulai dengan suara lantang, "tinggal seminggu lagi anak-anak kita menikah! Semua sudah siap kan?"

"Puji Tuhan sudah, Pak," jawab Bambang dengan tersenyum lebar. "Gedung sudah booked, katering sudah fix, undangan sudah disebar."

"Gaun pengantinnya bagaimana, Mayra?" tanya Nyonya Puspita dengan nada yang berusaha ramah tapi tetap terdengar menilai.

"Sudah jadi, Bu. Dari desainer Liana Kosasih," jawab Mayra sopan.

"Oh, bagus! Desainer yang mahal itu kan?" Nyonya Puspita menaikkan alisnya, seolah mengukur seberapa layak Mayra untuk anaknya.

Mayra hanya tersenyum. Dia tahu Nyonya Puspita tidak pernah benar-benar menyukainya. Bagi wanita itu, Mayra hanyalah anak orang kaya baru, bukan dari keluarga konglomerat turun-temurun seperti mereka.

Saat orang tua mereka sibuk membicarakan detail pernikahan--dari daftar tamu VVIP, susunan acara, hingga honeymoon ke Edinburgh--Mayra merasakan ponsel Arman bergetar berkali-kali di sakunya.

Arman mengecek ponselnya dengan cepat, lalu ekspresinya berubah. Ada kilatan sesuatu di matanya--panik? Bersalah?

"Permisi sebentar," Arman berdiri tiba-tiba. "Aku harus terima telepon penting."

Dia berjalan cepat ke taman belakang sambil menempelkan ponsel di telinga.

Mayra menatap punggung tunangannya dengan perasaan tidak enak. Firasat buruk itu kembali mencengkeram dadanya, lebih kuat dari sebelumnya.

"May, kamu tidak apa-apa?" Zakia tiba-tiba berbisik di sebelahnya dengan nada yang terdengar perhatian tapi tatapannya dingin. "Wajahmu pucat."

"Aku baik-baik saja, Kak," jawab Mayra pelan.

Tapi dia tidak baik-baik saja.

Saat Arman kembali sepuluh menit kemudian dengan senyum yang terlalu dipaksakan, saat dia meraih tangan Mayra lagi dengan genggaman yang terasa hambar, saat dia berbisik "Maaf sayang, kantor" dengan mata yang tidak fokus--Mayra tahu.

Ada sesuatu yang sangat, sangat salah.

Dan firasat buruk yang sudah menghantuinya selama sebulan terakhir, kini berubah jadi kepastian yang menakutkan.

Seminggu lagi dia akan menikah dengan pria ini.

Tapi apakah dia benar-benar mengenal Arman?

Atau selama ini dia hanya mencintai ilusi?

Mayra menatap cincin berlian di jari manisnya, cincin pertunangan yang dulu membuat dia menangis bahagia saat Arman melamarnya setahun lalu di tepi pantai saat sunset.

Kini, cincin itu terasa berat.

Seperti belenggu yang perlahan mencekik.

****

Bersambung...

1
arniya
mampir kak
Siti Maryati
enak alur ceritanya
Siti Maryati
👏👏👏👏
Ryn
lanjut thourr
Siti Maryati
aku juga siap .....
menunggu mu update lagi
Siti Maryati
Doble triple ya up nya
olyv
lanjut....
Siti Maryati
seru
Siti Maryati
ditunggu up nya ya
astr.id_est 🌻
😄😄 wahh karya baru lagi thor semangat terus ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!