Swipe kanan, lalu berharap. Begitu sederhana, tapi selalu berakhir rumit. Dari sekian banyak pertemuan di Tinder, aku belajar satu hal: cinta digital bisa terasa nyata, tapi tak selalu bertahan. Aku jatuh, aku percaya, aku terluka-berulang kali, seakan ini adalah pola yang tak pernah selesai.
Tulisan ini bukan sekadar kisah tentang aplikasi kencan, melainkan tentang perjalanan hatiku sendiri. Tentang bagaimana aku terus mencari seseorang yang benar-benar tinggal, di antara banyak yang hanya singgah. Dan tentang keberanian untuk tetap membuka hati, meski patah hati selalu menunggu di ujung swipe.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apung Cegak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
case hape
Hari ini Moses akan pulang. Jam sembilan malam. Waktu yang terdengar sederhana, tapi sejak pagi sudah terasa seperti garis akhir yang terus mendekat. Kami checkout hotel lebih cepat dari yang kukira. Tidak ada adegan perpisahan yang dramatis—hanya koper ditarik, kunci dikembalikan, dan tatapan singkat yang sama-sama tidak berani terlalu lama.
Setelah itu, kami melanjutkan menunggu di rumahku.
Rumah terasa berbeda ketika dia ada di sana. Bukan karena ramai, tapi karena ada sesuatu yang harus kutata ulang di dalam diriku sendiri. Aku sadar, aku ingin semuanya berjalan normal, seolah hari ini hanyalah hari biasa. Padahal tidak. Hari ini adalah hari di mana jarak akan kembali diberi nama.
Aku masuk ke dapur dan membuka lemari. Tidak banyak pilihan. Aku memilih sarden kaleng—makanan paling sederhana yang kupunya. Aku takut dia lapar. Takut dia menahan diri hanya karena sungkan. Ketakutan-ketakutan kecil itu muncul begitu saja, refleks, seperti sudah lama tinggal di tubuhku. Aku memasaknya pelan-pelan, memastikan rasanya cukup, memastikan tidak terlalu asin. Seolah dengan begitu, aku bisa memastikan dia baik-baik saja.
Kami makan di kamar. Aku, Moses, dan Cici. Bertiga, tapi rasanya masing-masing membawa dunia sendiri. Aku duduk di tempat tidur, Cici bersandar di sisi lain, sementara Moses memilih berbaring di lantai. Entah kenapa dia selalu begitu—memilih ruang yang tidak merepotkan siapa pun. Aku memberinya bantal, meletakkannya di dekat kepalanya. Dia tersenyum kecil, lalu memejamkan mata.
Hanya sebentar, dan dia tertidur.
Aku menatapnya dari atas ranjang. Napasnya teratur. Wajahnya terlihat lebih lelah daripada yang dia akui. Di saat seperti itu, aku selalu kalah. Semua pertanyaan besar tentang cinta dan pelarian mendadak mengecil, tergantikan oleh satu dorongan sederhana: ingin menjaga.
Aku melirik ponselnya yang tergeletak di dekat tangan. Cashing-nya sudah rusak, tinggal pinggirannya saja, seperti sesuatu yang ditahan agar tidak benar-benar jatuh. Tanpa berpikir terlalu lama, aku mengambil dompetku. Aku keluar sebentar, membeli dua casing ponsel. Entah kenapa dua—mungkin karena aku ingin memberinya pilihan. Atau mungkin karena aku ingin meninggalkan sesuatu yang bisa dia pegang setelah aku tak lagi ada di dekatnya.
Saat kembali, dia masih tidur.
Aku meletakkan kantong kecil itu di samping tasnya, pelan, agar tidak membangunkannya. Lalu aku duduk lagi, memandangi pemandangan yang sederhana tapi berat: seseorang yang pernah begitu dekat denganku, kini hanya singgah sebentar sebelum kembali ke hidupnya sendiri.
Di situlah pikiranku berhenti.
Aku teringat bagaimana selama ini Moses selalu peduli pada hal-hal kecil tentangku. Cara dia ingat aku tidak suka kopi terlalu pahit. Cara dia menutup jendela ketika hujan karena tahu aku mudah kedinginan. Hal-hal kecil yang tidak pernah diminta, tapi selalu ada. Dan baru sekarang aku sadar—aku jarang membalasnya dengan cara yang sama.
Bukan karena aku tidak peduli. Tapi karena aku selalu mengira kehadiranku sudah cukup.
Ternyata tidak.
Aku menunduk, menahan rasa yang tiba-tiba menyesak. Membelikan casing ponsel bukanlah hal besar. Tapi bagiku, itu seperti pengakuan terlambat: bahwa aku juga bisa peduli, bahwa aku juga ingin menjaga, meski mungkin waktunya sudah tidak tepat.
Jam terus berjalan. Jam sembilan malam semakin dekat.
Aku tidak membangunkannya. Aku membiarkan dia tidur sebentar lagi, seolah ingin menunda perpisahan beberapa menit lebih lama. Aku tahu, setelah dia bangun, setelah koper diangkat, setelah pintu tertutup—tidak akan ada lagi alasan untuk pura-pura.
Aku menatap lantai, bantal di bawah kepalanya, kantong kecil di samping tasnya, dan aku berpikir: mungkin cinta memang tidak selalu datang dengan rencana. Kadang ia datang terlambat, atau datang saat kita belum selesai dengan diri sendiri.