Swipe kanan, lalu berharap. Begitu sederhana, tapi selalu berakhir rumit. Dari sekian banyak pertemuan di Tinder, aku belajar satu hal: cinta digital bisa terasa nyata, tapi tak selalu bertahan. Aku jatuh, aku percaya, aku terluka-berulang kali, seakan ini adalah pola yang tak pernah selesai.
Tulisan ini bukan sekadar kisah tentang aplikasi kencan, melainkan tentang perjalanan hatiku sendiri. Tentang bagaimana aku terus mencari seseorang yang benar-benar tinggal, di antara banyak yang hanya singgah. Dan tentang keberanian untuk tetap membuka hati, meski patah hati selalu menunggu di ujung swipe.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apung Cegak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sate
“Baby, let’s go outside. I want walking… I’m tired in the plane six hours.”
Dia mengatakan itu dengan suara lelah, tapi masih ada senyum kecil di wajahnya. Aku yang sejak tadi duduk di kursi ruang tamu hanya mengangguk pelan. Badanku sebenarnya juga lelah, tapi entah kenapa aku selalu sulit menolak permintaannya.
Aku berdiri perlahan, mengangkat tubuhku dari kursi. Moses mengulurkan tangannya. Aku menggenggamnya, dan kami berjalan keluar dari halaman rumahku.
Udara malam itu terasa hangat. Lampu jalan menyala temaram, dan suara motor sesekali lewat di depan gang. Kami berjalan pelan, tidak banyak bicara. Tangannya masih menggenggam tanganku seperti takut aku menghilang jika dilepaskan.
“Are you hungry?” tanyaku.
Dia mengangkat bahu sedikit. “Maybe.”
Aku tertawa kecil.
“Kamu mau makan sate?” tanyaku.
Dia menoleh kepadaku dengan wajah bingung.
“Sate?”
Sepertinya dia belum pernah mendengarnya.
Aku mengangguk. “Yes. Indonesian food. Meat… with stick.”
“Oh… okay,” katanya sambil tersenyum penasaran.
Kami berjalan beberapa meter sampai ke warung sate di pinggir jalan. Asap dari arang naik ke udara, dan bau daging yang dipanggang langsung memenuhi hidungku. Bau itu selalu membuatku lapar, bahkan ketika aku sebenarnya tidak terlalu ingin makan.
Kami duduk di bangku kayu kecil, berdua.
Penjual sate mulai menusuk daging di tusukan bambu, lalu meletakkannya di atas bara api. Suara daging yang menyentuh panas terdengar seperti desisan kecil.
Moses memperhatikan semuanya dengan serius, seperti anak kecil yang melihat sesuatu untuk pertama kali.
Matanya mengikuti setiap gerakan si penjual.
“Why he… fan the fire?” tanyanya sambil menunjuk kipas bambu yang digunakan untuk mengipasi arang.
“Supaya apinya besar,” jawabku. “So the meat cook faster.”
Dia mengangguk pelan.
Matanya kemudian kembali kepadaku. Entah kenapa sejak tadi dia sering sekali melirikku. Bukan seperti biasanya. Tatapannya terasa lebih lama, lebih dalam, seolah ingin mengingat wajahku.
Aku pura-pura tidak menyadarinya.
Sate kami akhirnya datang.
Sepiring kecil penuh tusukan daging, dengan saus kacang yang kental dan sedikit irisan bawang merah di atasnya.
“This is sate,” kataku sambil memberinya satu tusuk.
Dia mengambilnya dengan hati-hati.
“You eat with hand?” tanyanya.
“Sometimes,” jawabku sambil tertawa.
Dia mencoba menggigit sedikit. Awalnya wajahnya ragu, tapi setelah beberapa detik matanya langsung melebar.
“Oh… this is good.”
Aku tertawa melihat reaksinya.
“I told you.”
Kami makan pelan. Tidak banyak bicara, hanya sesekali tertawa kecil ketika dia kesulitan memegang tusukan sate yang terlalu panas.
Angin malam bertiup pelan. Suara kendaraan lewat, orang-orang yang berjalan, dan suara kipas bambu yang terus mengipasi bara arang menciptakan suasana yang anehnya terasa tenang.
Seperti waktu sedang berhenti sebentar.
Setelah selesai makan, kami berjalan lagi.
Tangannya kembali menggenggam tanganku.
Langkah kami lambat, seperti tidak ada tujuan. Kami hanya menyusuri jalan kecil di dekat rumahku.
Aku tahu waktunya tidak lama lagi.
Bandara menunggu.
Pesawat menunggu.
Dan setelah itu, mungkin jarak akan kembali menjadi sesuatu yang menyakitkan.
Kami akhirnya kembali ke depan rumahku.
Moses mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi.
“I call Grab,” katanya.
Aku hanya mengangguk.
Kami berdiri di halaman rumah, menunggu mobil yang akan membawanya ke bandara. Tidak ada banyak kata yang keluar dari mulut kami.
Hanya keheningan.
Sesekali dia melihat layar ponselnya, memastikan mobilnya sudah dekat.
Beberapa menit kemudian, lampu mobil berhenti di depan rumah.
“It’s here,” katanya pelan.
Aku tidak tahu harus mengatakan apa.
Dia menatapku sebentar, lalu memelukku.
Pelukannya kuat, lebih lama dari biasanya.
Aku bisa merasakan napasnya di bahuku.
“Take care, baby,” bisiknya.
Aku mengangguk, meskipun dia tidak bisa melihat wajahku.
“Text me when you arrive,” kataku.
Dia tersenyum kecil.
“I will.”
Dia kemudian masuk ke mobil.
Pintu tertutup.
Mobil itu perlahan bergerak menjauh dari rumahku.
Aku tetap berdiri di halaman, melihat lampu belakang mobilnya sampai akhirnya menghilang di ujung jalan.
Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Seolah enam jam di pesawat tadi hanyalah awal dari perjalanan panjang yang lain.
Perjalanan yang mungkin akan membawa kami ke arah yang berbeda.