NovelToon NovelToon
Aluna Milik Arsen

Aluna Milik Arsen

Status: tamat
Genre:Obsesi / CEO / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora_Minji

Satu tabrakan mengubah segalanya.

Aluna Prasetya tidak pernah membayangkan kecelakaan kecil akan menjebaknya dalam kontrak 6 bulan dengan Arsen Mahendra, pengusaha kaya raya yang dingin, berkuasa, dan obsesif.
Aturan ketat. Kontrol total. Kepemilikan mutlak.
"Kamu milikku, Aluna. Hanya milikku."

Arsen bukan sekadar menginginkannya sebagai asisten. Ia menuntut kepemilikan penuh jiwa, raga, dan hati. Sentuhan possesifnya membakar, obsesinya mencekik, namun Aluna terjerat terlalu dalam untuk kabur.

Ketika masa lalu kelam Arsen terungkap dan ancaman datang menghampiri, Aluna menyadari satu hal, melarikan diri dari Arsen Mahendra adalah mustahil.

Tapi apakah ia masih ingin melarikan diri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Minji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 31: Hidup Bersama

Sebulan setelah percakapan di meja makan itu, kehidupan Aluna dan Arsen menemukan ritmenya sendiri.

Ritme yang terasa normal di permukaan.

Ritme yang semakin ketat di baliknya.

Dimulai dari hal kecil yang Aluna hampir tidak sadari.

Senin pagi, Arsen meletakkan sebuah kotak kecil di depan Aluna saat sarapan.

"Apa ini?" tanya Aluna sambil mengangkat kotak itu.

"Ponsel baru," jawab Arsen santai, menuangkan kopi untuk dirinya sendiri. "Layar ponsel lamamu sudah retak di pojok kanan bawah. Aku ganti."

Aluna membuka kotak itu. Ponsel terbaru, model yang sama dengan miliknya, warna yang sama pula.

"Kamu tidak perlu melakukan ini," ucap Aluna. "Retaknya kecil, masih bisa dipakai."

"Sudah aku ganti," ulang Arsen dengan nada yang menutup diskusi. "Nomor dan aplikasinya sudah dipindahkan. Tidak ada yang berubah."

Aluna menyalakan ponsel baru itu.

Memang tidak ada yang berubah. Kontak masih ada. Aplikasi masih ada. Chat masih ada.

Ia tidak bertanya mengapa Arsen sudah tahu semua password dan akun nya untuk bisa memindahkan segalanya.

Ia tidak bertanya, karena di dalam dirinya ia sudah tahu jawabannya.

Dan ia memilih tidak membuka pintu itu pagi itu.

Kamis sore, Aluna hendak pergi ke minimarket dekat kompleks, berjalan kaki seperti yang kadang ia lakukan untuk mencari udara.

Ia sudah di depan pintu ketika Arsen muncul dari ruang kerja.

"Mau ke mana?"

"Minimarket. Mau beli camilan."

Arsen menatapnya sebentar, lalu mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu.

"Pak Dani akan antar."

"Arsen, jaraknya lima menit jalan kaki."

"Aku tahu."

"Aku tidak perlu diantar ke minimarket."

"Pak Dani sudah aku hubungi."

Aluna menatap Arsen. Arsen menatap balik dengan ekspresi yang tidak bisa diperdebatkan.

Aluna menghela napas dan menunggu Pak Dani.

Lima menit perjalanan yang harusnya jadi udara segar, berubah menjadi perjalanan di dalam mobil dengan kaca gelap.

Jumat malam, Aluna menemukan sesuatu yang tidak ia cari.

Ia sedang mengambil cardigan dari laci lemari Arsen yang sesekali ia pakai karena nyaman, ketika tangannya menyentuh sesuatu yang terasa tidak biasa di balik tumpukan pakaian.

Sebuah perangkat kecil. Pipih. Sebesar koin besar.

Aluna mengambilnya, membaliknya di antara jemarinya.

Ia tidak perlu lama untuk mengenalinya.

Tracking device.

Ia berdiri diam di depan lemari itu untuk waktu yang terasa sangat panjang.

Lalu ia meletakkan perangkat itu kembali di tempat yang sama, menutup laci dengan pelan, mengambil cardigan nya, dan keluar dari kamar seolah tidak ada yang terjadi.

Tetapi tangannya gemetar saat menutup pintu lemari.

Malam itu Aluna duduk di tempat tidur menunggu Arsen selesai mandi, pikirannya berputar menghitung.

Ponsel baru yang datang sudah terpasang akses penuh tanpa ia diminta membuka kunci sendiri, artinya Arsen sudah punya aksesnya sejak awal.

Pak Dani yang selalu ada bahkan untuk perjalanan paling pendek sekalipun, artinya setiap pergerakannya tercatat.

Tracking device di laci, artinya bahkan saat Pak Dani tidak ada pun, ada cara lain untuk tahu di mana ia berada.

Ini bukan kebetulan. Ini bukan perhatian berlebih yang tidak disadari.

Ini sistem.

Arsen membangun sistem di sekeliling Aluna, pelan dan rapi, sampai Aluna hampir tidak menyadari kapan dinding itu mulai berdiri.

Pintu kamar mandi terbuka, dan Arsen keluar dengan handuk di bahu, melihat Aluna duduk di tempat tidur dengan ekspresi yang ia langsung baca.

"Ada apa?" tanyanya.

"Duduk dulu," ucap Aluna.

Arsen duduk di sisi tempat tidur, menatap Aluna dengan waspada yang ia sembunyikan rapi.

"Di laci lemarimu," mulai Aluna dengan suara yang tenang, "ada tracking device."

Hening.

Arsen tidak menyangkal.

"Iya," ucapnya.

"Untuk siapa?"

Jeda sebentar.

"Untuk mobilmu," jawab Arsen. "Untuk keamanan."

"Arsen."

"Aluna."

"Untuk siapa?" ulang Aluna dengan nada yang lebih jelas.

Arsen menatap lantai sebentar. Lalu menatap Aluna.

"Untuk tasmu," ucapnya akhirnya. "Aku pasang di dalam tasmu tiga minggu lalu."

Aluna menarik napas panjang, perlahan.

"Tas yang mana?"

"Tas kulit cokelat yang selalu kamu pakai."

Aluna menutup matanya sebentar. Tas itu ia pakai setiap kali keluar. Termasuk saat pertemuan dengan Rara di kafe Elora.

Arsen tahu ia pergi ke mana saat itu.

Arsen tahu sejak awal.

"Kamu tahu aku menemui Rara," ucap Aluna. Bukan pertanyaan.

"Iya."

"Dan kamu diam saja."

"Iya."

"Mengapa?"

Arsen menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca, lalu menjawab dengan jujur.

"Karena aku ingin tahu apakah kamu akan memberitahuku sendiri. Atau menyembunyikannya."

"Dan karena aku tidak langsung memberitahumu," lanjut Aluna dengan suara yang mulai terasa berat, "kamu memutuskan sistem ini perlu diperketat."

Arsen tidak menjawab.

Tetapi diam nya sudah menjadi jawaban.

Aluna bangkit dari tempat tidur, berjalan ke jendela, menatap kota di luar yang tidak tahu apa-apa.

"Arsen," ucapnya dengan punggung masih menghadap pria itu, "kita sudah bicara tentang batas."

"Aku tidak pernah mencegahmu melakukan apa pun," balas Arsen dengan nada yang sedikit defensif. "Kamu tetap bisa pergi. Kamu tetap bebas."

"Tapi kamu selalu tahu di mana aku berada."

"Untuk keamananmu."

"Untuk kendalimu," koreksi Aluna pelan.

Keheningan yang jatuh sesudah itu terasa berat.

Aluna berbalik menatap Arsen yang duduk di sisi tempat tidur, pundaknya sedikit tegang, tangannya menggenggam tepi kasur.

Ia tampak seperti pria yang tahu ia salah tetapi tidak tahu cara berhenti.

Dan itu, entah mengapa, lebih menyakitkan dari pria yang tidak tahu sama sekali.

"Aku tidak akan berpura-pura ini tidak terjadi," ucap Aluna. "Dan aku tidak akan berpura-pura ini baik-baik saja."

"Aku melakukannya karena aku takut," ucap Arsen dengan suara yang lebih rendah. "Setiap kali kamu keluar dari pintu itu tanpa aku, ada sesuatu di dalam diriku yang tidak bisa diam."

"Aku tahu," jawab Aluna. "Aku tahu kamu takut. Tapi Arsen, ketakutanmu tidak bisa menjadi penjaraku."

Arsen menatapnya.

"Lepaskan tracking device dari tasku," ucap Aluna dengan jelas. "Besok."

"Aluna..."

"Besok," ulangnya tanpa bergerak. "Dan akses ke ponselku, aku mau tahu persis apa yang bisa kamu lihat dan apa yang tidak."

Arsen terdiam lama.

Pertarungan yang terjadi di dalam dirinya hampir terlihat di permukaan, di cara rahangnya mengeras dan mengendur bergantian.

"Baik," ucapnya akhirnya. "Tracking device akan aku lepas besok."

"Dan ponsel?"

Jeda lebih panjang.

"Aku punya akses ke lokasi dan log panggilan," akui Arsen. "Tidak lebih dari itu."

Aluna menatapnya.

"Log panggilan dilepas juga."

"Lokasi bisa aku pertahankan?" tanya Arsen, dan ada sesuatu dalam cara ia bertanya, seperti pria yang sedang menawar di batas paling akhir yang ia punya.

Aluna menatapnya lama.

"Mutual," ucap Aluna akhirnya. "Aku bisa lihat lokasi kamu juga. Dua arah. Bukan satu arah."

Arsen terdiam.

Ini bukan yang ia inginkan. Ini bukan sistem yang ia rancang.

Tetapi ini adalah Aluna yang berdiri di depannya dengan kaki yang kokoh, menawarkan sesuatu yang masih bisa ia pegang, asalkan ia mau berbagi genggaman itu.

"Baik," ucapnya akhirnya.

Aluna mengangguk pelan, lalu kembali ke tempat tidur dan berbaring membelakangi Arsen.

Tidak ada kata-kata tambahan.

Tidak ada pelukan malam ini.

Hanya dua orang yang berbaring di kasur yang sama, masing-masing bergulat dengan versi mereka sendiri dari malam yang sama.

Arsen berbaring menatap langit-langit, mendengar napas Aluna yang pelan di sampingnya.

Ia melepaskan tracking device.

Ia melepaskan log panggilan.

Ia memberikan akses lokasi dua arah.

Untuk standar siapa pun, ini sudah merupakan konsesi besar. Ini sudah merupakan kemunduran yang tidak pernah ia lakukan untuk siapa pun.

Tetapi ia tahu, di tempat yang dalam dan jujur di dalam dirinya sendiri, bahwa ia masih memegang lebih dari yang ia akui.

Bahwa sistem yang sudah ia bangun di sekeliling Aluna tidak sepenuhnya runtuh malam ini.

Bahwa besok, atau lusa, atau minggu depan, ketakutan itu akan kembali mengetuk dan ia tidak yakin apakah ia cukup kuat untuk tidak membukakan pintu.

Kamu bahkan tidak sadar, kan?* kata suara Rara di kepalanya. *Bahwa dengan mengontrol Luna, kamu menghancurkan bagian dari dirinya sedikit demi sedikit.

Arsen menutup mata.

*Apakah aku menghancurkannya?*

Di sampingnya, Aluna bergerak sedikit dalam tidurnya, tanpa sadar menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat ke sisi Arsen.

Bukan pelukan. Hanya kedekatan tubuh yang terjadi tanpa kesadaran.

Arsen membuka mata, menatap langit-langit lagi.

Ia mencintai wanita ini dengan cara yang ia tidak punya kata-kata untuk mendeskripsikannya. Dengan cara yang menggerakkan semua sistem di dalam dirinya untuk bergerak dalam satu arah saja, yaitu melindungi, mempertahankan, memastikan Aluna tidak pernah pergi.

Tetapi mungkin melindungi dan mengurung adalah dua kata yang sudah terlalu lama ia anggap sama.

Mungkin.

Ia belum yakin.

Dan ketidakyakinan itu, untuk pria seperti Arsen Mahendra, adalah sesuatu yang terasa lebih menakutkan dari apa pun yang pernah ia hadapi.

Pagi berikutnya, tanpa diucapkan sebagai janji besar atau momen dramatis, Arsen duduk di sebelah Aluna di meja makan, mengeluarkan ponselnya, dan membuka pengaturan akses bersama.

Ia memutar layar menghadap Aluna.

"Tunjukkan padaku cara mengatur yang mutual itu," ucapnya dengan nada datar, seolah ini hanya hal teknis biasa.

Aluna menatap layar itu, lalu menatap Arsen sebentar.

Lalu tanpa komentar lebih, ia mengambil ponsel itu dan mulai mengatur.

Dua arah. Sama rata.

Arsen bisa melihat lokasi Aluna.

Aluna bisa melihat lokasi Arsen.

Selesai dalam tiga menit.

Arsen mengambil ponselnya kembali, meletakkannya di meja, dan kembali sarapan seolah tidak ada yang terjadi.

Tetapi saat Aluna meletakkan sepotong roti di piring Arsen tanpa diminta, dan Arsen tidak berkomentar apa pun tetapi memakannya, ada sesuatu di antara mereka yang bergeser.

Sangat kecil.

Hampir tidak terasa.

Tetapi berbeda dari kemarin.

Dan barangkali, untuk hari ini, itu sudah cukup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!