Puluhan tahun silam dunia persilatan mengalami kedamaian, Sembilan Master Naga berhasil membuat dunia menjadi lebih aman, para pendekar golongan hitam tidak ada yang membuat onar baik di dunia persilatan maupun di kerajaan yang di tinggali rakyat biasa. Namun semua itu kini tidak ada lagi, kini dunia persilatan mengalami kekacauan setelah sebuah partai golongan hitam muncul dan merajalela.
Wang Long yang hidup di sebuah desa bersama keluarganya juga mendapat perlakuan buruk dari anggota partai golongan hitam tersebut.
Semua keluarga dan orang-orang di desa Wang Long di bantai secara sadis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Undangan Berdarah dari Kuil Serigala Utara
Malam baru saja memasuki pertengahan, menyisakan kesunyian yang mencekam di desa utara yang gersang. Namun, kedamaian sesaat itu hancur berkeping-keping ketika sebuah jeritan melengking membelah udara dingin, bergema di antara dinding-dinding kayu yang rapuh.
“Tolong! Tolooong!!”
Suara seorang pria tua terdengar serak dan putus-putus, seolah nafasnya sedang diburu oleh maut.
Wang Long yang sedang duduk bersila dalam meditasi sedalam samudra, membuka matanya dalam sekejap. Kilatan cahaya keemasan muncul sesaat di pupil matanya. Di sudut lain, Sin Yin sudah berdiri lebih dulu dengan tangan kanan yang sudah melekat erat pada hulu pedang tipisnya.
“Itu dari arah rumah utara!” seru Sin Yin, tubuhnya sudah condong ke depan, siap melesat.
Suasana desa seketika berubah menjadi hiruk-pikuk yang mengerikan. Pintu-pintu rumah berderit terbuka kasar. Obor-obor dinyalakan, menciptakan bayangan-bayangan jingga yang gelisah di atas tanah berdebu. Penduduk desa berlarian keluar dengan wajah penuh teror.
Wang Long, Sin Yin, Wahuwa Mei Lin, Shen Lie Cen, dan Yue Liang Shu melesat hampir bersamaan. Gerakan mereka bagaikan bayangan yang membelah kegelapan, melompati pagar dan gundukan pasir menuju sumber suara.
Namun, langkah mereka terhenti oleh pemandangan yang menyayat hati. Mereka terlambat.
Seorang pria tua terjatuh di tanah yang dingin, wajahnya pucat pasi tertimpa cahaya obor, tubuhnya gemetar hebat seolah tulang-tulangnya telah berubah menjadi es.
“Mereka… mereka datang seperti bayangan…” rintih pria itu dengan bibir membiru.
Wang Long segera berlutut di sampingnya, meletakkan tangan di pundak pria itu untuk menyalurkan sedikit kehangatan tenaga dalam. “Siapa yang datang, Paman? Tenangkan dirimu.”
“Orang-orang berjubah hitam… topeng serigala…” jawab sang paman dengan suara bergetar.
Sin Yin menggertakkan gigi, mengepalkan tangan kirinya hingga buku jarinya memutih. Mata indahnya berkilat penuh amarah. “Kuil Dewa.”
Pria tua itu mulai menangis, air matanya membasahi debu di pipinya. “Mereka menculik cucuku… anak kecil itu… dia lahir saat purnama… mereka bilang dia yang mereka cari…”
Wahuwa tersentak, matanya membelalak kaget. “Lahir saat purnama?”
“Bukan hanya dia!” teriak seorang wanita dari barisan warga yang baru tiba, suaranya melengking penuh keputusasaan. “Tujuh gadis… gadis-gadis belia umur lima belas tahun juga dibawa paksa!”
Tangis histeris seketika pecah di antara warga. Tujuh keluarga jatuh berlutut di tanah, meratapi kehilangan yang mendadak dan brutal. Angin malam yang berhembus kencang membawa aroma pasir dan kepedihan, terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.
Tiba-tiba—
SREET!
Sebuah benda logam membelah angin dengan suara mendesing yang tipis. Pisau terbang itu melesat dari kegelapan pekat di luar jangkauan obor dan menancap keras di dinding batu balai desa hingga menimbulkan percikan api.
Semua orang tersentak mundur. Shen Lie Cen sudah mencabut pedang naga phoenix-nya dalam satu gerakan halus, matanya menyapu kegelapan di balik bukit pasir, namun ia tidak menemukan bayangan musuh sedikit pun. Sang pelempar telah menghilang bagaikan hantu.
Pada gagang pisau hitam itu, terikat selembar daun lontar yang kusam. Sin Yin melangkah maju dengan waspada, mencabut pisau itu dengan gerakan cepat, lalu menyerahkannya pada Wang Long.
Wang Long membuka gulungan lontar tersebut. Matanya menyipit saat membaca tulisan merah yang tampak seperti ditulis dengan darah. Ia membacanya dengan suara pelan namun jelas, memberikan gema yang berat di tengah tangisan warga:
> “Jika Bocah Naga ingin menyelamatkan anak-anak itu,
> datang sendiri ke Kuil Serigala Utara.
> Jika membawa pasukan, nyawa anak-anak jadi taruhannya.
> Jangan datang lebih dari dua orang.”
>
Sunyi seketika menguasai tempat itu, hanya suara api obor yang berderak.
Wahuwa menggertakkan gigi, aura merah hatinya sedikit terpancar karena emosi. “Licik! Mereka tahu kita tidak akan membiarkan anak-anak itu mati.”
Shen Lie Cen menatap Wang Long dengan tatapan serius, menyarungkan kembali pedangnya perlahan. “Mereka memancingmu, Wang Long. Ini adalah jebakan terbuka yang disiapkan khusus untukmu.”
Sin Yin maju satu langkah, berdiri tepat di samping Wang Long dengan sikap menantang. “Aku ikut.”
Wang Long menoleh perlahan, menatap mata Sin Yin yang teguh. “Tidak, Sin Yin. Ini terlalu berbahaya.”
“Aku ikut,” ulang Sin Yin, kali ini suaranya lebih keras dan tak terbantahkan. Ia menatap lurus ke dalam mata Wang Long. “Apa pun taruhannya.”
“Itu jebakan, Sin Yin. Mereka menungguku di sana.”
“Aku tahu.”
“Nyawa anak-anak itu taruhannya jika kita salah langkah.”
“Dan itu alasan aku tidak akan membiarkanmu pergi sendiri!” tegas Sin Yin. Matanya sedikit bergetar—bukan karena takut pada maut, tapi karena tekad untuk melindungi pria di depannya.
Wahuwa menatap kakaknya dengan cemas, tangannya meremas ujung gaun merahnya. “Kakak…”
Wang Long terdiam sesaat, menimbang risiko di dalam kepalanya. Akhirnya, ia menarik napas panjang dan berkata dengan nada otoritas yang tidak bisa diganggu gugat:
“Wahuwa Mei Lin dan Shen Lie Cen bersama Yue Liang Shu tetap tinggal di desa ini.”
Wahuwa tersentak kaget. “Kakak? Kau ingin kami tinggal?”
“Tugas kalian menjaga warga. Jangan sampai ada pembantaian lagi di sini sementara kami pergi. Kuil Dewa bisa saja melakukan serangan pengalihan,” jelas Wang Long.
Shen Lie Cen mengangguk pelan, ia mengerti strategi dasar ini. “Itu masuk akal. Seseorang harus tetap di sini untuk menjadi benteng desa.”
“Tapi—” Wahuwa ingin membantah, bibirnya gemetar.
Wang Long melangkah maju, memegang bahu adiknya dengan lembut namun mantap. “Adikku… desa ini lebih membutuhkan kekuatanmu dan Shen Lie saat ini. Percayalah padaku.”
Air mata tipis mulai menggenang di mata Wahuwa. Rasa takut kehilangan kakaknya lagi setelah sepuluh tahun berpisah hampir membuatnya tak berdaya. Ia maju dan memeluk kakaknya erat-erat, menyembunyikan wajahnya di dada Wang Long.
“Kakak harus hati-hati… kumohon jangan tinggalkan aku lagi…” bisiknya lirih.
“Tidak usah cemas,” jawab Wang Long lembut, mengelus rambut adiknya. “Aku akan kembali. Naga tidak akan jatuh di sarang serigala.”
Wahuwa melepaskan pelukannya, menatap Sin Yin dengan tatapan memohon, lalu kembali pada kakaknya. “Jaga Kak Sin Yin. Bawa dia kembali dengan selamat juga.”
Wang Long tersenyum tipis, sebuah senyum yang menenangkan. “Aku tahu. Aku akan menjaganya dengan nyawaku.”
Sin Yin terdiam mendengar ucapan itu. Ia membuang muka sesaat, namun rona merah tipis muncul di pipinya di balik ketegangan yang menyelimuti.
Shen Lie Cen melangkah mendekat, menepuk pundak Wang Long. “Bocah Naga.”
Wang Long menoleh. “Ya, Shen Lie?”
“Jangan biarkan mereka mengambil Pedang Naga Sembilan Langit. Itu adalah kunci keseimbangan,” ucap Shen Lie Cen dengan nada peringatan.
Wang Long menyentuh kotak hitam yang terikat kuat di punggungnya. “Pusaka ini adalah pusaka hidup, Shen Lie. Jika bukan tuannya yang memanggil, tidak ada tenaga dalam di dunia ini yang mampu membuka kotak ini.”
Shen Lie Cen menyeringai tipis, sedikit lega. “Baguslah. Kalau bisa, habisi saja mereka semua. Orang-orang yang gemar membantai warga tak bersalah tidak pantas mendapatkan pengampunan.”
Wang Long menatap ke arah utara yang gelap gulita, di mana bayangan pegunungan tampak seperti taring raksasa. “Jika aku bisa… aku akan mengajak mereka bertobat terlebih dahulu.”
Shen Lie Cen mendengus, menggelengkan kepala. “Kau terlalu naif, Bocah Naga. Di Utara, kebaikan seringkali dibalas dengan belati.”
“Itu jalanku,” jawab Wang Long tenang, auranya terasa agung. “Membunuh adalah pilihan terakhir yang akan kuambil.”
Sin Yin menatap profil wajah Wang Long dari samping, mencari keraguan di sana. “Dan jika mereka tetap tidak mau bertobat? Jika mereka tetap menghunus pedang pada anak-anak itu?”
Wang Long tidak langsung menjawab. Ia menatap langit malam yang mulai memudar. “Kalau begitu… aku akan menghentikan mereka selamanya.”
Angin berdesir keras, menerbangkan debu-debu gurun di sekitar mereka.
Langit di ufuk timur mulai memerah, menyapu kegelapan dengan warna jingga dan ungu ketika Wang Long dan Sin Yin berdiri di batas desa.
Persiapan mereka singkat namun padat. Wang Long dengan kotak hitamnya, dan Sin Yin dengan pedang tipisnya yang tersampir di pinggang.
Wahuwa, Shen Lie Cen, dan Yue Liang Shu melepas mereka dengan berat hati. Wajah-wajah mereka tampak tegang di bawah cahaya fajar yang pucat.
“Jangan gegabah. Mereka ahli dalam taktik bawah tanah,” ucap Yue Liang Shu mengingatkan.
Shen Lie Cen menyilangkan tangan di depan dadanya.
“Kalau kau sampai mati di sana, aku akan sangat repot menjelaskan pada adikmu kenapa kakaknya yang hebat bisa kalah oleh serigala.”
Wang Long hanya tersenyum tipis menanggapi gurauan kasar namun penuh perhatian itu.
Wahuwa memanggil pelan dengan suara yang bergetar, “Kakak…”
Wang Long menoleh untuk terakhir kalinya.
“Jangan kembali sebagai pahlawan yang terluka. Kembalilah sebagai Kakakku. Utuh dan hidup,” pinta Wahuwa dengan mata yang kembali basah.
Wang Long mengangguk pelan, memberikan janji bisu. “Aku janji, Wahuwa.”
Sin Yin melirik Wahuwa, lalu menatap hamparan padang pasir di depan mereka. “Aku akan membawanya pulang, Wahuwa. Kau bisa memegang kataku.”
“Bukan,” sahut Wahuwa cepat dengan nada tegas. “Kalian harus pulang bersama. Jangan ada yang tertinggal.”
Sin Yin terdiam sesaat, tersentuh oleh ketulusan adik Wang Long. Ia lalu mengangguk mantap.
Matahari terbit perlahan, menyinari dua sosok yang mulai berjalan menjauh meninggalkan desa.
Bayangan mereka memanjang di atas pasir, menuju ke arah utara—menuju Kuil Serigala Utara yang misterius.
Mereka berjalan lurus menuju perangkap yang sudah menganga.
Di balik bukit pasir yang jauh, sepasang mata bertopeng serigala yang berkilat kuning memperhatikan setiap langkah mereka… sambil menyeringai dingin di balik topeng kayu yang menyeramkan.
Bersambung...