"Di dunia para penguasa, segalanya bisa dibeli—termasuk keturunan. Namun, apa jadinya jika rahim yang disewa justru membawa cinta yang tak terduga?"
Adrian Ardilwilaga adalah definisi sempurna dari kekuasaan dan kekayaan. Sebagai CEO Miliarder dari Ardilwilaga Group, ia memiliki segalanya, kecuali satu hal yang sangat dituntut oleh dinasti keluarganya: seorang pewaris. Pernikahannya dengan Maya Zieliński, wanita sosialita kelas atas yang anggun namun menyimpan rahasia kelam tentang kesehatannya, berada di ambang kehancuran karena tekanan sang mertua yang otoriter.
Demi menjaga status dan cinta Adrian, Maya merancang sebuah rencana nekat—sebuah kontrak rahim ilegal. Pilihan jatuh kepada Sasha Vukoja, seorang mahasiswi seni berbakat asal Polandia yang sedang terdesak kesulitan ekonomi. Sasha setuju untuk menjadi ibu pengganti, tanpa pernah menyangka bahwa ia akan jatuh hati pada sang pemberi kontrak.
Ketegangan memuncak saat Arthur, sang pangeran mahkota, lahir.Bagaimana kelanjutannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cahaya di Balik Badai
Di tengah kepungan intrik bisnis dan ancaman yang tak kunjung usai, Adrian mengambil keputusan drastis. Ia meninggalkan hiruk-pikuk Jakarta dan mematikan semua ponsel kantornya. Baginya, tembok-tembok kaca Ardilwilaga Group mulai terasa seperti penjara yang mencekik. Ia membawa Maya dan Arthur terbang menuju timur, memulai perjalanan panjang melintasi keindahan nusantara yang selama ini hanya mereka lihat dari balik jendela jet pribadi.
Perjalanan dimulai di Labuan Bajo. Di atas kapal pinisi mewah yang membelah laut Flores yang jernih, untuk pertama kalinya Adrian melihat Maya melepaskan gaun-gaun mahalnya. Maya tampil sederhana dengan pakaian santai dan rambut yang diikat asal, menggendong Arthur di dek kapal sambil menunjukkan matahari terbenam yang menyapu langit dengan warna jingga dan ungu.
"Lihat, Arthur... itu matahari," bisik Maya lembut. Wajahnya yang biasa kaku oleh ambisi, kini melunak. Senyumnya tulus saat melihat tangan mungil Arthur mencoba meraih bias cahaya di udara.
Adrian berdiri di belakang mereka, merangkul bahu Maya. Di momen itu, ia memilih untuk melupakan bahwa rahim di depan matanya itu pernah kosong. Ia memilih untuk mematikan memori tentang kontrak dan tangisan Sasha di Singapura. Di atas laut yang tenang ini, mereka bukan lagi sekadar rekan dalam sandiwara, melainkan sepasang orang tua yang ingin memberikan dunia pada anaknya.
Namun, masalah tetap mengikuti seperti bayangan. Saat mereka sedang menikmati makan malam di pinggir pantai privat, asisten pribadi Adrian tiba-tiba muncul—melanggar perintah untuk tidak diganggu. Ada kabar bahwa salah satu mitra bisnis mereka mulai goyah karena provokasi tim Reza dari jarak jauh.
"Mas, jangan dilihat," potong Maya tegas, sebelum Adrian sempat menyentuh tablet yang dibawa asistennya. Maya meraih tangan suaminya, menatapnya dengan intens. "Bisnis bisa dibangun kembali, tapi waktu Arthur tidak akan pernah terulang. Biarkan mereka mencoba meruntuhkan gedung kita, tapi jangan biarkan mereka meruntuhkan malam ini."
Adrian menatap istrinya, lalu beralih pada Arthur yang tertidur pulas di stroller. Ia mengangguk pelan, menyuruh asistennya pergi dengan lambaian tangan dingin. "Kamu benar, May. Malam ini hanya milik kita."
Perjalanan berlanjut ke dataran tinggi Ubud, Bali. Mereka menginap di sebuah resor yang dikelilingi sawah terasering dan hutan tropis yang hijau royo-royo. Di sini, ketegangan fisik Adrian mulai luruh. Ia sering menghabiskan pagi dengan berjalan kaki menyusuri pematang sawah sambil menggendong Arthur di pundaknya.
Ada satu momen yang mengharukan saat mereka mengunjungi sebuah pura tua. Seorang pendeta setempat memberikan berkat pada Arthur, memercikkan air suci dan menyematkan bunga kamboja di telinga kecil bayi itu. Maya mendadak menangis. Bukan tangis ketakutan, melainkan tangis haru yang sangat dalam. Ia menyadari bahwa meski jalannya memiliki noda, keberadaan Arthur adalah satu-satunya kebenaran yang ia miliki sekarang.
"Aku akan melakukan apa pun untuk menjaganya, Mas," bisik Maya di bawah pohon beringin besar. "Bahkan jika dunia harus tahu siapa aku sebenarnya, aku tidak peduli. Selama dia tetap aman."
Adrian memeluk Maya erat. Di balik rimbunnya hutan Ubud, ia merasakan kedekatan emosional yang aneh dengan istrinya. Mereka terikat bukan lagi oleh cinta pertama yang naif, melainkan oleh "dosa" bersama yang menjelma menjadi cinta tak bersyarat pada seorang anak.
Masalah kembali muncul dalam bentuk kecil—kendaraan mereka mogok di tengah jalanan terpencil menuju utara, atau badai tropis mendadak yang membatalkan rencana melihat lumba-lumba di Lovina. Namun, alih-alih meledak marah seperti biasanya, Adrian justru tertawa. Ia membantu supir mengganti ban sambil bercanda dengan penduduk lokal, sementara Maya duduk di emperan warung sambil menyuapi Arthur bubur bayi.
Kebahagiaan itu terasa begitu nyata, meski mereka tahu di luar sana, Reza Mahardika mungkin sedang merangkak kembali dari keterpurukannya di Polandia, dan Sasha mungkin sedang menatap langit yang sama dengan hati yang retak. Untuk beberapa minggu yang berharga ini, Indonesia yang indah memberikan mereka tempat persembunyian yang sempurna. Di antara hamparan pasir putih dan hijaunya hutan, Adrian dan Maya menemukan bahwa kekuatan terbesar mereka bukanlah harta, melainkan tekad untuk tetap menjadi "orang tua" bagi bayi yang kehadirannya adalah sebuah keajaiban yang dipaksakan.