NovelToon NovelToon
COLD MAFIA, WILD FLAME

COLD MAFIA, WILD FLAME

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Damian Alveros adalah CEO berwajah dingin yang memimpin jaringan mafia berbahaya di balik kekuasaannya. Hidupnya terkontrol, tanpa emosi, tanpa celah.

Semua berubah ketika ia bertemu Lyra Arsetha—gadis bar-bar yang tak sengaja menyelamatkannya di negara asing dan tanpa sadar terseret ke dunia gelap yang seharusnya tak pernah ia sentuh.

Ia adalah badai yang tak bisa dikendalikan.
Ia adalah es yang tak bisa dicairkan.

Namun di tengah pengkhianatan, kejar-kejaran maut, dan perang mafia internasional, mereka menemukan satu kebenaran berbahaya:

Semakin mereka mencoba menjauh…
semakin takdir memaksa mereka bertahan bersama.

Ketika cinta lahir di medan perang, hanya ada dua pilihan—
hidup berdampingan… atau hancur bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Suasana ruangan terasa lebih sempit sejak kedatangan tiga pria itu.

Lyra berdiri dengan kedua tangan terlipat, menatap mereka satu per satu tanpa rasa gentar. Sementara di sisi lain, Kael, Lucian, dan Aidan jelas menilai dirinya seperti ancaman yang belum diputuskan nasibnya.

Damian duduk kembali di sofa, wajahnya pucat namun matanya kembali tajam. Ia bukan lagi pria terluka di gang semalam. Ia kembali menjadi pusat kendali ruangan.

“Kita pindah lokasi dalam tiga puluh menit,” ucap Damian tenang.

Aidan langsung mengangguk. “Sudah ada kendaraan.”

Lucian bersandar santai di dinding. “Jaringan kamera area ini sudah ditetas. Tapi cuma sementara.”

Kael menatap Lyra. “Dia ikut?”

Pertanyaan itu membuat ruangan hening.

Damian menjawab tanpa ragu. “Ya.”

Lyra menoleh cepat. “Eh, tunggu. Siapa bilang aku ikut?”

Tatapan Damian beralih padanya. “Kau sudah terlibat.”

Lyra mendengus. “Aku nolong orang. Bukan daftar kerja.”

Aidan menyilangkan tangan. “Kau terlalu santai untuk seseorang yang sedang diburu.”

Lyra menatap balik, sama tajamnya. “Kau terlalu dingin untuk orang yang masih bernapas.”

Lucian menahan tawa. “Aku benar-benar suka dia.”

Namun sebelum konflik bisa memanas, ponsel Lyra berdering nyaring.

Nama yang muncul membuatnya menghela napas panjang.

“Sierra.”

Ia menjauh sedikit sebelum menjawab.

“Lyra! Kamu di mana?!” suara panik langsung menyerbu dari seberang.

“Aku disini.”

“Itu bukan jawaban!” sahut suara lain yang lebih ceria namun tegang. “Kamu hilang semalaman. Ga ngasih kabar sama sekali!”

Itu Raina.

Lyra menutup satu telinga, menjauh dari Damian dan yang lain. “Aku baik-baik aja. Ada masalah kecil.”

“Masalah kecil?!” Sierra hampir berteriak. “Polisi tanya-tanya di hostel! Ada keributan di Chinatown semalam!”

Lyra melirik Damian tanpa sadar. Pria itu memperhatikannya, tapi tidak berkata apa-apa.

“Aku aman,” kata Lyra pelan. “Aku cuma… ketemu orang.”

Hening beberapa detik.

Suara ketiga masuk, tenang dan rendah.

“Orang berbahaya?”

Zaya.

Lyra tersenyum kecil. “Iya.”

“Kami akan datang,” kata Zaya singkat.

“Jangan—”

Telepon sudah ditutup.

Lyra memandang layar ponsel, lalu menghela napas panjang. “Teman-temanku keras kepala.”

Lucian menyeringai. “Sepertinya cocok denganmu.”

Damian berdiri perlahan. “Mereka tidak boleh datang ke sini.”

Lyra menatapnya tajam. “Mereka bukan anak buahmu.”

“Justru itu masalahnya,” jawab Damian dingin.

Belum sempat perdebatan berlanjut—

Tok. Tok. Tok.

Semua orang langsung siaga.

Kael bergerak ke pintu. Aidan mengambil posisi di sisi jendela. Lucian menghentikan semua suara di perangkatnya.

Lyra menatap Damian. “Itu mereka.”

Kael membuka pintu perlahan.

Tiga wanita berdiri di luar.

Yang pertama melangkah masuk tanpa menunggu izin—mata tajam, aura tegas, rambut diikat rapi.

Sierra Vashti.

“Kamu bikin masalah lagi,” katanya langsung pada Lyra.

Di belakangnya, gadis ceria dengan ekspresi khawatir melambai kecil.

Raina Solvya.

Dan yang terakhir masuk tanpa suara, tatapan tenang mengamati semua orang di ruangan.

Zaya Maresh.

Hening jatuh lagi—kali ini lebih berat.

Dua dunia bertemu dalam satu ruangan kecil.

Sierra memandang Damian tanpa ragu. “Kamu yang menyeret dia ke masalah?”

Aidan langsung maju selangkah. “Jaga sikapmu.”

Sierra tidak mundur sedikit pun. “Kalau dia kenapa-kenapa, aku tidak peduli siapa kalian.”

Lyra mengusap wajahnya. “Oke, semua orang santai dulu, bisa nggak?”

Raina berbisik pada Lyra, “Mereka kelihatan seperti bos final game.”

Lucian tertawa kecil. “Aku suka yang ini juga.”

Zaya melangkah satu langkah ke depan, menatap Damian langsung. Tatapan mereka bertemu—tenang, mengukur, tanpa rasa takut.

“Kami tidak akan pergi tanpa dia,” ucap Zaya pelan.

Damian tidak berkedip. “Kalian tidak punya pilihan.”

Lyra berdiri di antara mereka.

“Cukup.”

Semua mata tertuju padanya.

Ia menatap Damian dulu. Lalu teman-temannya. Lalu lingkaran pria di belakangnya.

“Aku yang pilih jalanku sendiri.”

Hening.

Untuk pertama kalinya sejak pagi, Damian tidak langsung menjawab. Tatapannya pada Lyra berbeda—bukan dingin, bukan memerintah.

Menghormati.

Namun suara sirene mendadak terdengar lebih dekat dari sebelumnya.

Lucian melihat layar kecil di tangannya. “Kita kedatangan tamu.”

Aidan langsung bersiap. “Mereka menemukan lokasi kita.”

Kael membuka jaketnya. “Waktu habis.”

Lyra menatap teman-temannya. “Kalian siap lari?”

Sierra tersenyum tipis. “Sejak kamu lahir.”

Raina menelan ludah. “Aku siap… sambil takut.”

Zaya hanya mengangguk.

Damian melihat semua itu dalam diam.

Lalu berkata singkat—

“Kalian ikut denganku.”

Dan untuk pertama kalinya, bukan hanya satu gadis yang masuk ke dunia Damian Alveros…

Tapi seluruh dunianya mulai bertabrakan dengan dunia Lyra Arsetha.

Permainan berubah level.

Sirene itu bukan lagi suara jauh.

Ia mendekat. Mengiris udara. Menghapus jeda di antara napas mereka.

Lucian menatap layar kecil di pergelangan tangannya. Garis-garis merah berkedip cepat. “Tiga kendaraan. Satu tim bersenjata. Mereka bukan polisi biasa.”

Aidan sudah menarik sarung tangan hitam dari saku jaketnya. “Rute keluar?”

Kael menunjuk jendela belakang. “Tangga darurat. Dua lantai turun, lalu lorong servis.”

Lyra menoleh ke teman-temannya. “Tetap dekat. Jangan panik.”

Raina menelan ludah, menggenggam tasnya erat. “Aku panik dengan elegan.”

Sierra mendesah pendek. “Ikuti langkahku. Jangan berhenti.”

Zaya berdiri paling tenang. Matanya menyapu ruangan, memetakan setiap gerak. “Kita keluar berurutan. Tanpa suara.”

Damian melangkah paling depan. Meski tubuhnya belum pulih sepenuhnya, aura kendali masih melekat padanya. Ia membuka pintu belakang tanpa ragu.

Udara dingin lorong servis langsung menyergap.

Mereka bergerak cepat.

Langkah kaki teredam. Napas tertahan. Ketegangan menempel seperti kulit kedua.

Di tengah tangga darurat, suara keras terdengar dari lantai atas—pintu depan didobrak.

Raina refleks menutup mulutnya sendiri.

Lyra meraih tangannya sebentar. “Fokus.”

Di bawah, lorong servis gelap dan sempit. Bau logam dan debu memenuhi udara.

Lucian berbisik, “Lampu darurat akan menyala dalam sepuluh detik. Mereka mengunci listrik.”

Damian berhenti sejenak, menoleh ke belakang. Tatapannya singkat pada Lyra.

“Jika terpisah, tetap bergerak ke arah kendaraan.”

Lyra mengangguk. Tanpa bantahan.

Mereka berbelok tajam.

Dan lampu merah redup menyala tepat saat langkah kaki berat terdengar dari belakang tangga.

Kejaran dimulai.

Kael membuka pintu baja di ujung lorong. Udara luar menerobos masuk bersama suara kota yang riuh.

Parkiran belakang.

Satu mobil hitam menunggu dengan mesin menyala.

Aidan membuka pintu belakang. “Cepat.”

Sierra mendorong Raina masuk lebih dulu. Zaya mengikuti. Lyra hendak naik ketika suara tembakan memecah udara.

Peluru menghantam dinding beton, serpihannya beterbangan.

Damian menarik Lyra ke samping mobil, melindunginya dengan tubuhnya sendiri.

“Masuk,” ucapnya rendah.

Untuk sepersekian detik, waktu melambat.

Lyra menatap wajahnya yang tegang namun tenang. Ada sesuatu dalam cara pria itu bergerak—bukan hanya melindungi, tapi memastikan.

Ia masuk ke mobil.

Kael langsung menginjak pedal gas begitu semua pintu tertutup. Ban berdecit keras.

Mobil melesat keluar dari parkiran.

Suasana di dalam kendaraan penuh napas berat dan jantung yang belum mau tenang.

Raina menatap ke belakang melalui kaca. “Mereka masih ngikutin kita!”

Lucian yang duduk di kursi depan mengetik cepat di perangkatnya. “Tidak lama.”

Beberapa detik kemudian, lampu lalu lintas di persimpangan depan tiba-tiba mati total. Lalu barisan kendaraan lain berhenti mendadak, membentuk penghalang alami.

Aidan melirik Lucian. “Kau serius meretas lampu kota?”

Lucian tersenyum santai. “Hanya sedikit seni digital.”

Mobil berbelok tajam memasuki jalan yang lebih sempit.

Di kursi tengah, Sierra menatap Damian tanpa basa-basi. “Sekarang jelaskan. Kenapa dia diburu seperti penjahat?”

Lyra hendak menjawab, tapi Damian lebih dulu berbicara.

“Karena dia melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat.”

Zaya menatap lurus ke depan. “Dan itu karena dia menolongmu.”

Damian tidak menyangkal.

Hening kembali mengisi ruang.

Lyra menyandarkan kepala sebentar, mencoba menenangkan detak jantungnya. Dunia yang ia kenal seminggu lalu terasa seperti cerita orang lain.

Ia melirik keluar jendela.

Gedung-gedung berlalu cepat. Kota tetap hidup, seolah tidak ada yang berubah.

Padahal segalanya berubah.

Raina memecah sunyi dengan suara pelan. “Aku masih tidak percaya kita kabur ditembak orang.”

Sierra menepuk pundaknya ringan. “Kita masih selamat dan hidup. Itu suda cukup.”

Aidan menoleh ke belakang. “Lokasi aman sepuluh menit lagi.”

Damian menutup mata sejenak, menahan nyeri yang masih tersisa. Namun ketika membukanya kembali, tatapannya langsung jatuh pada Lyra.

“Keputusanmu barusan,” katanya pelan, “bukan keputusan mudah.”

Lyra menatap balik. “Aku tidak suka diatur.”

Sudut bibir Damian bergerak tipis. “Aku tahu.”

Lucian berdehem kecil. “Aku tidak ingin merusak momen, tapi kita belum aman sepenuhnya.”

Kael memperlambat mobil saat memasuki kawasan gudang tua. Gerbang besi besar terbuka perlahan seolah menunggu mereka.

Mobil masuk. Gerbang menutup di belakang.

Sunyi.

Akhirnya mereka berhenti.

Mesin dimatikan.

Untuk pertama kalinya sejak pelarian dimulai, tidak ada suara sirene, tidak ada langkah kaki, tidak ada ancaman langsung.

Hanya napas manusia yang selamat dari sesuatu yang lebih besar dari diri mereka.

Lyra membuka pintu mobil dan turun. Udara sore terasa lebih berat, namun juga lebih nyata.

Ia menoleh pada Damian.

“Sekarang,” katanya pelan, “kau berutang penjelasan.”

Damian berdiri di hadapannya. Di belakang mereka, dua kelompok yang dulu asing kini berbagi ruang yang sama.

Dan dunia mereka tidak akan pernah kembali seperti semula.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!