Ia dikenal sebagai dosen yang tenang, rasional, dan tak pernah melanggar batas.
Sampai suatu hari, satu tatapan membuat seluruh prinsipnya runtuh.
Di ruang kelas yang seharusnya netral, hasrat tumbuh diam-diam tak pernah diucapkan, tapi terasa menyesakkan. Setiap pertemuan menjadi ujian antara etika dan keinginan, antara nalar dan sisi manusia yang paling rapuh.
Ini bukan kisah cinta.
Ini adalah cerita tentang batas yang perlahan retak dan harga mahal yang harus dibayar ketika hasrat tak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Murka Sang Penguasa Yayasan
Pagi itu, Universitas Nasional tidak seperti biasanya. Suasana yang biasanya riuh dengan canda tawa mahasiswa di koridor berubah menjadi senyap dan mencekam. Di depan gerbang utama, lima mobil sedan hitam mewah terparkir rapi, dikawal oleh beberapa motor besar petugas keamanan berseragam taktis. Semua orang tahu, jika iring-iringan itu muncul, artinya pemilik otoritas tertinggi sedang menginjakkan kaki di sana.
Jordan Abraham tidak datang sebagai dosen pengganti hari ini. Ia tidak mengenakan kemeja santai yang lengannya digulung. Ia datang dengan setelan jas tiga lapis berwarna charcoal dari bahan sutra Italia yang paling mahal, rambutnya tertata rapi ke belakang, dan kacamata hitam yang menyembunyikan mata elangnya yang sedang dipenuhi haus akan pembalasan.
Di sampingnya, berjalan dengan langkah tertatih namun tetap terlihat anggun, adalah Airin. Gadis itu mengenakan dress panjang berwarna putih tulang yang menutupi lebam di lengannya, namun luka di sudut bibirnya dan memar di pipinya tidak bisa disembunyikan. Jordan sengaja membiarkan dunia melihat luka itu, agar mereka tahu seberapa besar dosa yang telah mereka perbuat.
"Tuan Abraham, selamat datang," sapa Rektor universitas dengan suara gemetar, membungkuk sedalam mungkin di lobi utama.
Jordan tidak berhenti untuk berjabat tangan. Ia terus berjalan masuk, dengan tangan kanan yang merangkul pinggang Airin dengan sangat protektif, seolah-olah jika ada satu debu saja yang menyentuh gadis itu, gedung ini akan ia ratakan dengan tanah.
"Kumpulkan seluruh mahasiswa tingkat tiga Fakultas Ekonomi di aula utama. Sekarang. Jangan ada yang tertinggal, termasuk mereka yang sedang sakit sekalipun," perintah Jordan. Suaranya tidak keras, namun getarannya membuat kaca-kaca di lobi seolah ikut bergetar.
Sepuluh menit kemudian, aula utama sudah penuh sesak. Di barisan depan, duduk Dion, Kriss, dan Thea. Wajah mereka pucat pasi. Dion terus menatap lantai, menyadari bahwa foto yang ia sebarkan telah memicu badai yang tidak bisa ia hentikan. Di samping mereka, beberapa mahasiswa yang kemarin menyeret Airin ke gudang olahraga mulai berkeringat dingin.
Pintu aula terbuka lebar. Jordan melangkah masuk ke atas podium, menuntun Airin untuk duduk di kursi tunggal yang diletakkan tepat di tengah panggung agar semua orang bisa melihatnya. Jordan berdiri di depan mikrofon, menatap ribuan mahasiswa di hadapannya dengan pandangan yang lebih dingin dari es kutub.
"Saya berdiri di sini bukan sebagai dosen kalian," buka Jordan. Suaranya menggema lewat sound system besar, menusuk hingga ke tulang belakang setiap orang yang mendengar. "Saya berdiri di sini sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Abraham yang mendanai tujuh puluh persen operasional universitas ini."
Hening. Benar-benar hening. Bahkan suara napas pun seolah takut untuk terdengar.
"Kemarin, saya melihat sebuah foto yang tersebar luas. Foto yang diambil oleh seorang pengkhianat yang menyebut dirinya 'sahabat'," mata Jordan berkilat saat menatap lurus ke arah Dion. Dion langsung tersedak ludahnya sendiri, wajahnya seputih kapas. "Dan setelah foto itu tersebar, saya melihat tindakan yang lebih menjijikkan dari sekadar pengkhianatan. Saya melihat perilaku binatang."
Jordan terdiam sejenak, ia berjalan mendekati Airin, mengusap lembut pipi Airin yang memar di depan semua mata yang memandang. Airin menunduk, air matanya mulai jatuh lagi, teringat betapa sakitnya ia didorong dan dicaci kemarin.
"Siapa yang menyeret Airin ke gudang olahraga kemarin?" tanya Jordan tenang. "Silakan berdiri sendiri, atau saya akan meminta tim IT saya melacak seluruh rekaman CCTV dan saya pastikan keluarga kalian tidak akan pernah punya masa depan di negeri ini."
Empat orang mahasiswi dan dua mahasiswa perlahan berdiri dengan kaki yang bergetar hebat. Salah satu dari mereka menangis tersedu-sedu.
"Kalian merasa hebat karena menindas satu gadis yang kalian anggap lemah?" Jordan tersenyum miring, namun senyum itu lebih menakutkan daripada amarah. "Airin Rodriguez bukan hanya mahasiswi berprestasi. Dia adalah wanita saya. Dia adalah calon pendamping hidup saya. Menghinanya berarti menghina saya. Melukainya berarti menyatakan perang terhadap keluarga Abraham dan keluarga Rodriguez."
Mendengar nama 'Rodriguez', seisi aula langsung riuh dengan bisikan panik. Mereka baru menyadari bahwa Airin yang selama ini mereka anggap 'simpanan' ternyata adalah putri mahkota dari salah satu dinasti bisnis terbesar di Indonesia.
"Diam!" bentak Jordan, dan aula kembali senyap seketika.
"Untuk kalian yang berdiri," Jordan menunjuk ke arah kelompok pembully. "Hari ini kalian dikeluarkan secara tidak hormat. Seluruh nilai kalian akan dibekalkan dan nama kalian akan masuk ke dalam daftar hitam seluruh universitas di bawah naungan asosiasi kami. Dan untukmu, Dion Pratama..."
Jordan berjalan turun dari podium, melangkah perlahan menuju tempat duduk Dion. Ia berdiri tepat di depan Dion yang kini sudah menangis ketakutan.
"Kamu adalah alasan mengapa semua ini terjadi. Kamu mengkhianati kepercayaan sahabatmu demi rasa ingin tahu yang sampah," Jordan merampas ponsel dari tangan Dion dan menghancurkannya dengan sekali injakan pantofel mahalnya. "Ayahmu bekerja di anak perusahaan Abraham Corp, bukan? Sampaikan padanya, hari ini dia kehilangan pekerjaannya karena punya anak yang tidak tahu cara menghargai privasi orang lain."
"Pak... tolong, Pak... jangan Ayah saya..." mohon Dion sambil bersujud di kaki Jordan.
Jordan menendang kaki Dion dengan kasar agar menjauh. "Jangan panggil aku Pak. Kamu tidak pantas menjadi mahasiswaku. Pergi dari sini sebelum aku kehilangan kesabaran dan melakukan hal yang lebih buruk."
Jordan kembali ke atas panggung, ia berlutut di depan Airin, mengabaikan ribuan pasang mata yang menonton aksi narsis dan posesifnya. Ia mengambil tangan Airin, menciumnya berkali-kali dengan sangat lembut, seolah ingin menghapus setiap jejak rasa sakit yang ada di sana.
"Jangan menangis lagi, sayang. Dunia sudah tahu siapa kamu, dan mereka sudah tahu siapa aku bagi kamu. Tidak akan ada lagi yang berani menyentuhmu," bisik Jordan dengan nada yang sangat manis, kontras dengan suaranya yang mengerikan tadi.
Airin menatap Jordan, di tengah rasa malunya yang luar biasa karena menjadi pusat perhatian, ia melihat ketulusan yang murni di mata pria itu. Ia sadar, meski Jordan sangat posesif dan otoriter, pria inilah yang akan selalu berdiri di garis terdepan saat seluruh dunia mencoba menjatuhkannya.
Jordan bangkit, menggandeng tangan Airin dan menuntunnya keluar dari aula dengan langkah penuh kemenangan. Mulai hari ini, tidak ada lagi Airin si mahasiswi pendiam. Yang ada hanyalah Airin, wanita milik sang penguasa yang tak tersentuh.