NovelToon NovelToon
Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Obsesi / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:33.6k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.

Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.

"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.

"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.

Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.

Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.

Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.

Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.

Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 - Garis yang Tidak Lagi Bisa Dilangkahi

Aluna tahu dia sudah kehabisan ruang aman ketika tidak ada lagi yang menanyakan kabarnya. Bukan karena orang-orang jahat. Tapi karena mereka tidak peduli.

Dia duduk di dalam mobil sewaan kecil di pinggir jalan kampus, mesin mati, AC mati. Keringat menempel di tengkuknya. Ponsel di tangan, layar terbuka pada satu folder.

Bukti.

Email. Tangkapan layar. Potongan percakapan yang bisa dibaca dengan banyak tafsir.

"Kalau aku jatuh sendirian, itu bodoh." Gumamnya. "Kalau semua jatuh bareng, itu baru yang namanya adil."

Dia menekan kirim.

Raka sedang berada di ruang diskusi fakultas ketika notifikasi masuk bertubi-tubi.

"Rak, kamu lihat grup fakultas?" Tanya seseorang dengan suara tegang.

Raka mengangkat kepala. "Kenapa?"

Seseorang memutar layar ponsel ke arahnya.

Judul email itu membuat napasnya tertahan.

SUBJEK : Klarifikasi Hubungan Tidak Profesional dalam Program Riset

Nama Nadira.

Nama Dr. Arvin.

Nama Raka terselip, sebagai saksi diam.

"Apa ini?" Suara Raka parau.

"Katanya laporan anonim." Jawab temannya. "Tapi isinya... spesifik."

Raka membaca cepat. Terlalu cepat. Kepalanya berdengung. Ini bukan gosip lagi. Ini tuduhan resmi. Dan dia tahu persis siapa pengirimnya.

Nadira sedang berada di ruang baca ketika ponselnya bergetar tanpa henti.

Salsa menelepon. Nada panik.

"Dir, kamu udah lihat email fakultas?"

"Belum." Jawab Nadira tenang. Terlalu tenang.

"Jangan panik dulu, tapi..."

"Salsa." Potong Nadira pelan. "Aku bakal baca sendiri."

Dia membuka email itu. Membaca satu kali. Dua kali. Tangannya dingin. Bukan karena takut. Karena marah yang sangat tenang.

Dia mengunci layar ponsel. Menarik napas panjang.

"Oke." Gumamnya. "Kita sampai sini."

Dr. Arvin menerima panggilan resmi satu jam kemudian.

"Pak Arvin, kami perlu klarifikasi secepatnya."

"Saya siap." Jawabnya singkat.

Dia tidak menghubungi Nadira lebih dulu. Bukan karena tidak peduli, tapi karena ia tahu, keputusan yang diambil sekarang akan menentukan segalanya.

Raka berdiri di depan pintu ruang dekanat sore itu, napasnya tidak teratur. Dia bisa diam. Dia bisa membiarkan sistem bekerja. Dan Nadira akan terseret.

Dia mengeluarkan ponsel. Menghubungi satu nomor yang sudah lama tidak dia simpan sebagai prioritas.

"Aluna." Katanya begitu panggilan tersambung. "Hentikan."

Aluna tertawa kecil dari seberang. "Kamu cepat juga."

"Kamu sudah kelewatan."

"Semua orang bilang gitu ke orang yang kalah." Ucap Aluna dingin.

"Kamu nyeret Nadira ke laporan resmi!”

"Aku meluruskan." Sahut Aluna. "Biar semua adil."

"Ini bukan keadilan. Ini dendam."

Aluna terdiam sejenak. Lalu berkata pelan, "Dan kamu baru peduli sekarang?"

Raka menutup mata. "Aku akan bicara ke fakultas." Katanya akhirnya. "Aku akan buka semuanya."

Aluna tertawa. Kali ini tidak pengaruh.

"Berani kamu."

"Aku berani." Jawab Raka. "Karena kali ini aku pilih yang benar. Bukan yang nyaman."

Panggilan terputus.

Rapat klarifikasi berjalan dingin. Nadira duduk tegak. Dr. Arvin di seberangnya. Jarak profesional terjaga dengan rapi.

"Apakah ada hubungan di luar konteks akademik?" Tanya salah satu dosen.

"Tidak." Jawab Arvin tegas.

'Apakah Saudari Nadira menerima perlakuan istimewa?"

Nadira mengangkat wajah. "Tidak. Semua tugas, jadwal, dan evaluasi terdokumentasi."

Dia menggeser laptop. Menampilkan arsip lengkap. Tidak defensif. Tidak emosional. Hanya fakta.

Raka masuk di tengah rapat, napasnya masih berat. "Saya minta izin bicara." Katanya.

Beberapa orang terkejut.

Raka berdiri. "Saya tahu laporan ini. Dan saya tahu siapa pengirimnya."

Ruangan hening.

"Saya tidak terlibat dalam riset ini." Lanjut Raka. "Tapi saya tahu persis konteks personal yang melatarbelakangi laporan ini."

Dia berhenti sejenak. Menelan ludah.

"Dan saya bersedia memberikan kesaksian bahwa laporan ini bermotif pribadi. Bukan etis. Bukan objektif."

Nadira menoleh. Tidak kaget. Hanya... menilai.

"Apa kamu sadar implikasinya?" Tanya dekan.

Raka mengangguk. "Saya siap menerima konsekuensi."

Itulah ujian integritas pertamanya. Dan dia memilih kehilangan lebih banyak, daripada kehilangan dirinya sendiri.

Aluna dipanggil malam itu. Wajahnya pucat. Tapi matanya masih keras.

"Kamu sadar laporan palsu bisa berujung sanksi berat?" Tanya pihak fakultas.

"Itu bukan palsu." alas Aluna cepat. "Itu interpretasi."

"Interpretasi tanpa bukti kuat." Sahut yang lain.

Nama Aluna resmi dicatat. Statusnya ditangguhkan sementara. Saat keluar ruangan, dia melihat Raka di lorong.

"Kamu puas?" Tanyanya getir.

Raka menggeleng. "Tidak. Tapi ini perlu."

Aluna tertawa, suaranya retak. "Kamu kehilangan aku."

Raka menatapnya lama. "Aku kehilangan diriku kalau aku terus membelamu."

Aluna tidak menjawab. Dia pergi. Dan untuk pertama kalinya, benar-benar sendirian.

Malam itu, Nadira duduk di bangku taman kampus baru. Dr. Arvin berdiri di depannya. "Kamu baik-baik saja?" Tanyanya.

Nadira mengangguk. "Capek. Tapi utuh."

Hening.

"Ada hal yang perlu kita bicarakan." Kata Arvin akhirnya.

Nadira menatap. "Saya juga."

Arvin menarik napas. "Apa pun yang terjadi hari ini, saya ingin kamu tahu... saya akan menjaga batas. Selalu."

Nadira menatapnya... Lama. "Itu yang membuat saya merasa aman." Katanya jujur.

Arvin tersenyum kecil. "Dan itu sebabnya... untuk sekarang, kita berhenti di sini."

Tidak ada pengakuan cinta. Tidak ada sentuhan. Hanya dua orang dewasa yang memilih waktu dan ruang dengan sadar.

"Kalau suatu hari..." Arvin berhenti.

"Kalau suatu hari." Sambung Nadira. "kita masih utuh sebagai diri sendiri... baru kita bicara lagi."

Arvin mengangguk. Itu bukan janji. Itu kesepakatan sunyi.

Raka duduk sendirian di tangga gedung lama. Namanya tercoret dari beberapa posisi. Reputasinya belum pulih. Tapi untuk pertama kalinya, dia tidak ingin lari.

Nadira melewatinya. Mereka saling pandang.

"Terima kasih." Kata Nadira singkat.

Raka mengangguk. "Maafku tetap."

"Aku tahu." Jawab Nadira. "Tapi aku tidak kembali."

Raka tersenyum pahit. "Aku tidak minta." Dan itu... jujur.

1
sukensri hardiati
nadira.....jangan keras kepala...semua orang sayang kamu...tp kamu nggak sayang dirimu sendiri
mimief
jujur itu mahal..
tapi kalau dengan konteks yg berbeda akan lebih banyak yg terluka..
mimief
walaupun terkesan kaku bahasa nya.
tapi sialnya ini lah yg terjadi di kehidupan realita
yg punya prinsip dan idealisme akan tersingkir kan.
korupsi dan kolusi yg terorganisir dan sialnya kita semua menormalisasikan dan ikut menikmati nya.
kalau mau jujur malah dibilangin nya aneh dan berlebihan.
sebenarnya salahnya dimana?
mimief
hmmm...
bales dendam yg epic adalah membuat diri sendiri nyaman dengan hidup kita.
bukan membalas dengan membuta tapi pada ending malah kekosongan yg kita terima
mimief
dan berhenti keras kepala untuk sesuatu yg dikira akan memberikan bahagia.ternyata hanya fatamorgana
💞DARRA💞💖
aq baca bab 1-2 udah sesek karna hampir sama dengan yg kujalani
Mamah Kaila
tahu ah dialognya terlalu membosankan, jadi hambar
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐚𝐝𝐢𝐫𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐨𝐛𝐬𝐞𝐬𝐢 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐝𝐢𝐚 𝐤𝐲𝐤 𝐩𝐠𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠𝟐 𝐤𝐥𝐨 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐩𝐝𝐡𝐥 𝐩𝐫𝐜𝐦....


𝐤𝐫𝐧 𝐛𝐫𝐡𝐫𝐩 𝐩𝐝 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐤𝐞𝐜𝐞𝐰𝐚

𝟗𝟗 𝐤𝐞𝐛𝐚𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐝𝐢𝐥𝐮𝐩𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝟏𝐤𝐞𝐛𝐮𝐫𝐮𝐤𝐚𝐧, 𝐤𝐦𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐡𝐫𝐬 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐞 𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐫𝐧 𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐧𝐭𝐧𝐠 𝐧𝐚𝐝 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐦𝐮 𝐬𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐬𝐝𝐡 𝐜𝐤𝐮𝐩, 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐍𝐀 𝐀𝐏𝐀? 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐍𝐘𝐔𝐊𝐀𝐈𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐁𝐔𝐓𝐔𝐇 𝐈𝐓𝐔, 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐄𝐍𝐂𝐈 𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐏𝐄𝐑𝐂𝐀𝐘𝐀 𝐈𝐓𝐔.. 𝐭𝐡𝐚𝐭𝐬 𝐬𝐢𝐦𝐩𝐥𝐞 𝐧𝐚𝐝 𝐣𝐠𝐧 𝐝𝐢𝐩𝐥𝐢𝐧𝐭𝐢𝐫 😭😭🤪🤪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚𝐦𝐛𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐥𝐨 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐛 𝐚𝐝𝐚 𝐚𝐤𝐢𝐛𝐚𝐭 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐤𝐞𝐩𝐮𝐭𝐮𝐬𝐚𝐧 𝐚𝐝𝐚 𝐤𝐨𝐧𝐬𝐞𝐤𝐰𝐞𝐧𝐬𝐢....

𝐦𝐧𝐞𝐫𝐭𝐪𝐮 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐬𝐢𝐡.... 𝐠𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐞𝐫 𝐤𝐫𝐧 𝐚𝐪 𝐠𝐤 𝐤𝐮𝐥𝐢𝐚𝐡 😁😁😁

𝐣𝐝𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐚𝐫𝐢𝐤 𝐤𝐞𝐬𝐢𝐦𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐬𝐭𝐥𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐣𝐚 𝐡𝐞𝐡𝐞𝐡𝐞𝐠
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐞𝐡𝐦 𝐞𝐡𝐦 𝐞𝐡𝐦 𝐛𝐫𝐬 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐩𝐮𝐢𝐬𝐢 𝐤𝐫𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐜𝐚𝐤𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐭𝐨 𝐭𝐡𝐞 𝐩𝐨𝐢𝐧𝐭 𝐭𝐧𝐩 𝐞𝐦𝐛𝐞𝐥𝟐 𝐭𝐧𝐩 𝐛𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐬𝐢 𝐛𝐮𝐬𝐮𝐤 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐚𝐩𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐢𝐭𝐮😁😁😁 𝐨𝐯𝐞𝐫 𝐚𝐥𝐥 𝐛𝐠𝐬 𝐬𝐢𝐡 😘😘😘
Hari Saktiawan
cerita tak masuk akal
bakpao
/Good/
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐣𝐡𝐭 𝐩𝐝 𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐣𝐚𝐭𝐮𝐡 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐡, 𝐜𝐩𝐭 / 𝐥𝐦𝐛𝐭 𝐢𝐭𝐮 𝐩𝐚𝐬𝐭𝐢 😤😤😤
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝟐 𝐢𝐧𝐢 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐭𝐩 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐤𝐢𝐭, 𝐭𝐩 𝐲𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝐚𝐝𝐮𝐭 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐩𝐞𝐧𝐨𝐤𝐨𝐡𝐚𝐧 𝐚𝐦𝐛𝐮𝐫𝐚𝐝𝐮𝐥 𝐭𝐩 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐧𝐲𝐤 🤪🤪🤪😤😤😤
Muhammad Azri
certanya bertele tele muter2 d situ2 aja , gk jelas....
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐤 𝐝𝐢𝐭𝐚𝐧𝐠𝐠𝐞𝐩𝐢𝐧 𝐭𝐚𝐮 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐡𝐬 𝐈𝐧𝐠𝐠𝐫𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚 " 𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐮 𝐥𝐞𝐛𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐫𝐠𝐢 " 😡😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐚𝐫𝐮 𝐦𝐚𝐦𝐩𝐢𝐫 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫😊
Asyatun 1
keren thoor
Gristia Pramesti
bagus
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
Ana Akhwat
Ceritanya membingungkan dari awal sampai akhir yang bahas tentang mengalah, bertahan, tertekan, trauma dll, tidak ada akhir bahagia serasa hidup drama terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!