Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.
Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.
"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.
"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.
Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.
Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.
Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.
Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.
Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 - Garis yang Tidak Lagi Bisa Dilangkahi
Aluna tahu dia sudah kehabisan ruang aman ketika tidak ada lagi yang menanyakan kabarnya. Bukan karena orang-orang jahat. Tapi karena mereka tidak peduli.
Dia duduk di dalam mobil sewaan kecil di pinggir jalan kampus, mesin mati, AC mati. Keringat menempel di tengkuknya. Ponsel di tangan, layar terbuka pada satu folder.
Bukti.
Email. Tangkapan layar. Potongan percakapan yang bisa dibaca dengan banyak tafsir.
"Kalau aku jatuh sendirian, itu bodoh." Gumamnya. "Kalau semua jatuh bareng, itu baru yang namanya adil."
Dia menekan kirim.
Raka sedang berada di ruang diskusi fakultas ketika notifikasi masuk bertubi-tubi.
"Rak, kamu lihat grup fakultas?" Tanya seseorang dengan suara tegang.
Raka mengangkat kepala. "Kenapa?"
Seseorang memutar layar ponsel ke arahnya.
Judul email itu membuat napasnya tertahan.
SUBJEK : Klarifikasi Hubungan Tidak Profesional dalam Program Riset
Nama Nadira.
Nama Dr. Arvin.
Nama Raka terselip, sebagai saksi diam.
"Apa ini?" Suara Raka parau.
"Katanya laporan anonim." Jawab temannya. "Tapi isinya... spesifik."
Raka membaca cepat. Terlalu cepat. Kepalanya berdengung. Ini bukan gosip lagi. Ini tuduhan resmi. Dan dia tahu persis siapa pengirimnya.
Nadira sedang berada di ruang baca ketika ponselnya bergetar tanpa henti.
Salsa menelepon. Nada panik.
"Dir, kamu udah lihat email fakultas?"
"Belum." Jawab Nadira tenang. Terlalu tenang.
"Jangan panik dulu, tapi..."
"Salsa." Potong Nadira pelan. "Aku bakal baca sendiri."
Dia membuka email itu. Membaca satu kali. Dua kali. Tangannya dingin. Bukan karena takut. Karena marah yang sangat tenang.
Dia mengunci layar ponsel. Menarik napas panjang.
"Oke." Gumamnya. "Kita sampai sini."
Dr. Arvin menerima panggilan resmi satu jam kemudian.
"Pak Arvin, kami perlu klarifikasi secepatnya."
"Saya siap." Jawabnya singkat.
Dia tidak menghubungi Nadira lebih dulu. Bukan karena tidak peduli, tapi karena ia tahu, keputusan yang diambil sekarang akan menentukan segalanya.
Raka berdiri di depan pintu ruang dekanat sore itu, napasnya tidak teratur. Dia bisa diam. Dia bisa membiarkan sistem bekerja. Dan Nadira akan terseret.
Dia mengeluarkan ponsel. Menghubungi satu nomor yang sudah lama tidak dia simpan sebagai prioritas.
"Aluna." Katanya begitu panggilan tersambung. "Hentikan."
Aluna tertawa kecil dari seberang. "Kamu cepat juga."
"Kamu sudah kelewatan."
"Semua orang bilang gitu ke orang yang kalah." Ucap Aluna dingin.
"Kamu nyeret Nadira ke laporan resmi!”
"Aku meluruskan." Sahut Aluna. "Biar semua adil."
"Ini bukan keadilan. Ini dendam."
Aluna terdiam sejenak. Lalu berkata pelan, "Dan kamu baru peduli sekarang?"
Raka menutup mata. "Aku akan bicara ke fakultas." Katanya akhirnya. "Aku akan buka semuanya."
Aluna tertawa. Kali ini tidak pengaruh.
"Berani kamu."
"Aku berani." Jawab Raka. "Karena kali ini aku pilih yang benar. Bukan yang nyaman."
Panggilan terputus.
Rapat klarifikasi berjalan dingin. Nadira duduk tegak. Dr. Arvin di seberangnya. Jarak profesional terjaga dengan rapi.
"Apakah ada hubungan di luar konteks akademik?" Tanya salah satu dosen.
"Tidak." Jawab Arvin tegas.
'Apakah Saudari Nadira menerima perlakuan istimewa?"
Nadira mengangkat wajah. "Tidak. Semua tugas, jadwal, dan evaluasi terdokumentasi."
Dia menggeser laptop. Menampilkan arsip lengkap. Tidak defensif. Tidak emosional. Hanya fakta.
Raka masuk di tengah rapat, napasnya masih berat. "Saya minta izin bicara." Katanya.
Beberapa orang terkejut.
Raka berdiri. "Saya tahu laporan ini. Dan saya tahu siapa pengirimnya."
Ruangan hening.
"Saya tidak terlibat dalam riset ini." Lanjut Raka. "Tapi saya tahu persis konteks personal yang melatarbelakangi laporan ini."
Dia berhenti sejenak. Menelan ludah.
"Dan saya bersedia memberikan kesaksian bahwa laporan ini bermotif pribadi. Bukan etis. Bukan objektif."
Nadira menoleh. Tidak kaget. Hanya... menilai.
"Apa kamu sadar implikasinya?" Tanya dekan.
Raka mengangguk. "Saya siap menerima konsekuensi."
Itulah ujian integritas pertamanya. Dan dia memilih kehilangan lebih banyak, daripada kehilangan dirinya sendiri.
Aluna dipanggil malam itu. Wajahnya pucat. Tapi matanya masih keras.
"Kamu sadar laporan palsu bisa berujung sanksi berat?" Tanya pihak fakultas.
"Itu bukan palsu." alas Aluna cepat. "Itu interpretasi."
"Interpretasi tanpa bukti kuat." Sahut yang lain.
Nama Aluna resmi dicatat. Statusnya ditangguhkan sementara. Saat keluar ruangan, dia melihat Raka di lorong.
"Kamu puas?" Tanyanya getir.
Raka menggeleng. "Tidak. Tapi ini perlu."
Aluna tertawa, suaranya retak. "Kamu kehilangan aku."
Raka menatapnya lama. "Aku kehilangan diriku kalau aku terus membelamu."
Aluna tidak menjawab. Dia pergi. Dan untuk pertama kalinya, benar-benar sendirian.
Malam itu, Nadira duduk di bangku taman kampus baru. Dr. Arvin berdiri di depannya. "Kamu baik-baik saja?" Tanyanya.
Nadira mengangguk. "Capek. Tapi utuh."
Hening.
"Ada hal yang perlu kita bicarakan." Kata Arvin akhirnya.
Nadira menatap. "Saya juga."
Arvin menarik napas. "Apa pun yang terjadi hari ini, saya ingin kamu tahu... saya akan menjaga batas. Selalu."
Nadira menatapnya... Lama. "Itu yang membuat saya merasa aman." Katanya jujur.
Arvin tersenyum kecil. "Dan itu sebabnya... untuk sekarang, kita berhenti di sini."
Tidak ada pengakuan cinta. Tidak ada sentuhan. Hanya dua orang dewasa yang memilih waktu dan ruang dengan sadar.
"Kalau suatu hari..." Arvin berhenti.
"Kalau suatu hari." Sambung Nadira. "kita masih utuh sebagai diri sendiri... baru kita bicara lagi."
Arvin mengangguk. Itu bukan janji. Itu kesepakatan sunyi.
Raka duduk sendirian di tangga gedung lama. Namanya tercoret dari beberapa posisi. Reputasinya belum pulih. Tapi untuk pertama kalinya, dia tidak ingin lari.
Nadira melewatinya. Mereka saling pandang.
"Terima kasih." Kata Nadira singkat.
Raka mengangguk. "Maafku tetap."
"Aku tahu." Jawab Nadira. "Tapi aku tidak kembali."
Raka tersenyum pahit. "Aku tidak minta." Dan itu... jujur.
Perlu aku cium dulu supaya sadar kayanya.
maaf kak author, aku geregetan sama Nadira 🤭🙏🙏
lebih memain kan isi hati... memberikan sudut pandang berbeda d tiap perasaan pemeran nya...
kamu hanya menemukan sedikit dialog tapi dengan detail perasaan yg lengkap.... hingga.... kamu bahkan bisa merasakan bagaimana isi hati tokoh meski hnya diam... good job Thor.... 🤗
jd gimana nih Nadira yg pernah mati dn pertunangannya sm Raka,,juga si Aluna yg ngeselin🤣
Hanya berserah pada sang penciptalah yg membuat saya tetap waras 💪
Semangat Thor mohon dilanjut🙏👍