Lanjutan novel kultivator pengembara
Jian Feng berakhir mati dan di buang ke pusaran reinkarnasi dan masuk ke tubuh seorang pemuda sampah yang di anggap cacat karena memiliki Dantian yang tersumbat.
Dengan pengetahuannya Jian Feng akan kembali merangkak untuk balas dendam dan menjadi yang terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Bertemu lagi
Malam itu, Manor Qing diselimuti oleh kesunyian yang elegan. Jian Feng duduk bersila di tengah ruang meditasi yang telah disiapkan khusus oleh Qing Laoyue.
Ruangan itu dikelilingi oleh formasi batu giok yang mampu menyerap energi bulan, menciptakan suasana yang sangat jernih.
Namun, alih-alih menyerap energi tersebut, Jian Feng memilih untuk menyelam jauh ke dalam lubuk kesadarannya sendiri.
Ini adalah saatnya. Integrasi mereka belum sepenuhnya tuntas, dan Jian Feng bisa merasakan sisa-sisa emosi yang bergejolak di sudut batinnya. Ia harus meluruskan naskah ini dengan pemilik asli tubuh tersebut.
Jian Feng memejamkan mata, dan seketika dunianya berubah menjadi hamparan air hitam yang tenang di bawah langit tanpa bintang.
Di sana, di tengah-tengah kehampaan itu, duduk seorang pemuda kurus yang mengenakan pakaian lusuh penuh noda darah. Itulah Xiao Feng yang asli.
Sosok itu tampak jauh lebih baik dibandingkan saat pertama kali Jian Feng menemukannya, namun matanya masih menyimpan bayang-bayang ketakutan yang mendalam.
Jian Feng berjalan mendekat, langkah kakinya menciptakan riak di atas permukaan air batin tersebut. "Sudah lama aku tidak mengunjungimu di sini, bocah."
Xiao Feng mendongak. Ia melihat Jian Feng—sosok yang menggunakan wajahnya, namun memiliki aura seorang kaisar yang tak terkalahkan. "Kau... kau sudah menjadi sangat kuat. Aku bisa merasakannya. Setiap kali kau menebas musuh, aku merasakannya. Setiap kali kau dihina dan kau membalasnya, aku juga merasakannya."
Jian Feng berdiri tepat di hadapannya, menatap pemuda itu dengan pandangan yang menusuk. "Aku datang untuk bertanya satu hal padamu sebelum turnamen ini dimulai. Selama ini kau hidup dalam penghinaan. Kau dipukuli oleh kakakmu, diabaikan oleh ayahmu, dan diperlakukan lebih rendah dari pelayan oleh keluargamu sendiri."
Suara Jian Feng memberat, bergema di seluruh ruang jiwa. "Katakan padaku, Xiao Feng. Di dalam hatimu yang paling dalam, apakah kau benar-benar ingin aku menghancurkan mereka? Apakah kau ingin melihat Keluarga Xiao rata dengan tanah sebagai balasan atas setiap tetes air mata dan darah yang kau keluarkan?"
Xiao Feng terdiam. Tubuhnya gemetar hebat. Memori-memori menyakitkan mulai berputar di sekitar mereka seperti potongan film: saat ia dipaksa tidur di kandang kuda, saat Xiao Liang mematahkan lengannya hanya karena tertawa, dan saat Xiao Zhen menatapnya dengan pandangan jijik seolah ia adalah aib yang harus disingkirkan.
"Aku... aku membenci mereka," bisik Xiao Feng, suaranya parau. "Aku ingin mereka merasakan rasa sakit yang kurasakan. Aku ingin mereka berlutut dan memohon ampun padaku!"
Ia mengepalkan tangannya yang transparan ke permukaan air. "Tapi... setiap kali aku memikirkan tentang kehancuran total, aku teringat ibuku. Dia meninggal demi melindungiku dari kemarahan Ayah. Dia ingin aku hidup, bukan menjadi monster pembunuh."
Jian Feng mendengus dingin. "Ibumu sudah tidak ada, dan kasih sayangnya tidak menyelamatkanmu dari penderitaan selama belasan tahun ini. Dunia ini tidak mengenal belas kasihan, bocah. Jika kau tidak menghancurkan mereka, mereka akan terus menjadi rantai yang menahan langkahmu."
Jian Feng berjongkok, menyamakan tingginya dengan Xiao Feng. "Dengarkan aku. Aku bukan orang baik. Aku adalah pemburu yang sedang melacak jejak jiwaku sendiri. Jika keluarga ini menghalangiku, aku akan memusnahkan mereka. Tapi karena ini adalah tubuhmu, aku memberimu hak untuk memilih nasib mereka."
Xiao Feng menatap mata Jian Feng yang berkilat emas. Ia melihat kekuatan yang selama ini ia impikan. Perlahan, ketakutan di matanya memudar, digantikan oleh bara api yang dingin.
"Baiklah," ucap Xiao Feng, suaranya kini terdengar lebih mantap. "Aku tidak ingin kau membunuh mereka dengan cepat. Itu terlalu mudah bagi mereka. Aku ingin kau membuat mereka melihatku—melihat raga ini—berada di puncak yang tidak akan pernah bisa mereka capai. Aku ingin kau merebut semua martabat yang mereka banggakan, lalu membuang mereka ke dalam debu yang dulu mereka berikan padaku."
Xiao Feng berdiri, menatap Jian Feng dengan penuh tekad. "Jadikan mereka batu loncatanmu. Gunakan mereka, peras sumber daya mereka, dan saat mereka merasa paling bangga memilikiku sebagai 'jenius' keluarga... jatuhkan mereka ke lubang keputusasaan yang paling dalam. Biarkan mereka hidup dalam penyesalan bahwa mereka pernah meremehkan 'si sampah' ini."
Jian Feng menyeringai di balik bayangan jiwanya. "Keputusan yang cerdas. Balas dendam terbaik memang bukan kematian, melainkan kehinaan yang abadi."
Xiao Feng perlahan mendekat dan meletakkan tangannya di dada Jian Feng. "Ambillah sisa ingatanku yang paling gelap. Gunakan itu sebagai bahan bakar untuk amarahmu di turnamen nanti. Mulai sekarang, tidak ada lagi keraguan. Aku adalah kau, dan kau adalah aku."
Cahaya menyilaukan meledak di dalam ruang batin tersebut. Sisa-sisa hambatan emosional Xiao Feng kini melebur sepenuhnya ke dalam jiwa Jian Feng.
Di dunia nyata, Jian Feng membuka matanya. Sebuah tekanan energi yang luar biasa meledak dari tubuhnya, menghancurkan beberapa batu giok meditasi di sekelilingnya. Air mata tunggal mengalir di pipinya—bukan air mata kesedihan, melainkan pelepasan beban masa lalu milik Xiao Feng.
Jian Feng menyeka air mata itu dengan kasar. Wajahnya yang malas kini berganti dengan ketajaman yang mengerikan.
"Turnamen akan dimulai besok," gumam Jian Feng sambil menatap tangannya yang dialiri petir emas. "Keluarga Xiao... bersiaplah. Kalian pikir kalian mendapatkan seorang jenius yang akan mengangkat nama kalian? Salah. Kalian baru saja mengundang iblis yang akan menghapus sejarah kalian."
thor lu kaya Jiang Feng