NovelToon NovelToon
Dasima, Cinta Abadi Dua Alam

Dasima, Cinta Abadi Dua Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Romantis / Cinta Terlarang / Romansa / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Ferdy Wicaksono, fotografer muda yang hidup pas-pasan di Jakarta, tak pernah menyangka darah yang mengalir di tubuhnya akan membangunkan cinta yang tertidur selama lima ratus tahun. Dasima, jin wanita cantik dengan aroma bunga yang tak pernah pudar, jatuh cinta padanya karena Ferdy adalah reinkarnasi pria yang dulu ia cintai—dan kehilangan karena pengkhianatan. Di antara mimpi aneh, perlindungan tak kasatmata, dan kehadiran wanita misterius yang membawa darah masa lalu, Ferdy terjebak dalam cinta lintas dunia yang tak pernah benar-benar selesai. Kali ini, akankah Dasima mencintai… atau kembali kehilangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kereta Mutiara Timur

Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Pukul 07.15

Udara pagi di stasiun tua itu sudah dipenuhi oleh hiruk-pikuk penumpang, teriakan pedagang asongan, dan bunyi deru kereta yang bersiap berangkat.

Ferdy, dengan tas ransel besar dan sebuah tas kamera kecil di pundaknya, berjalan menuju peron kereta Mutiara Timur jurusan Banyuwangi. Dia sengaja memilih kereta ekonomi AC, bukan pesawat.

Ia ingin menikmati perjalanan darat yang panjang, melihat lanskap berubah, dan terutama… menghabiskan waktu dengan kesendirian yang ditemani Dasima.

Tiket di tangannya menunjukkan kursi 17A, dekat jendela. Setelah menaiki gerbong, ia menemukan tempat duduknya. Di seberangnya, kursi 17B dan 17C sudah diduduki seorang wanita paruh baya dan seorang anak kecil. Namun, kursi 17D yang berseberangan langsung dengan Ferdy masih kosong. Ia meletakkan tasnya, duduk, dan memandang keluar jendela ke keramaian peron.

Kereta akhirnya meluncur perlahan meninggalkan Jakarta. Pemandangan perkotaan yang padat perlahan berubah menjadi persawahan dan perkampungan.

Ferdy mengeluarkan earphone, tapi tidak memakainya. Ia hanya duduk diam, merasakan getaran kereta, menikmati keheningan di tengah keramaian penumpang.

“Permisi, ini kursi 17D?” Suara perempuan yang lembut tapi jelas menyadarkannya.

Ferdy menoleh. Seorang wanita berusia mungkin pertengahan tiga puluhan berdiri di samping kursi kosong dihadapannya.

Dia memiliki penampilan yang unik: rambut hitam lurus sebahu, kulit pucat, mata berwarna coklat tua yang terlihat sangat jernih dan… dalam.

Dia mengenakan tunik linen panjang warna krem dan celana panjang linen lebar warna sama, dengan syal tenun etnik dililitkan di leher. Di tangannya ada tas kain besar bermotif batik.

Dia terlihat seperti seniman atau traveler spiritual, bukan seperti penumpang kereta ekonomi biasa.

“Iya, betul,” jawab Ferdy, memberi ruang agar wanita itu bisa duduk.

“Terima kasih,” ucap wanita itu sambil duduk dengan anggun. Dia menyimpan tasnya di pangkuan, lalu menatap Ferdy sejenak. Bukan tatapan iseng, tetapi sebuah pengamatan yang tenang dan penuh perhatian. Ferdy merasa agak tidak nyaman, dan memalingkan muka ke jendela.

Kereta terus melaju. Ibu dan anak di samping wanita itu sudah tertidur. Suara deru roda di rel dan gemeretak gerbong menjadi latar yang konstan.

---

Ferdy sedang membaca buku fotografi yang ia bawa, ketika tiba-tiba ia merasakan kehadiran yang sangat jelas di sebelahnya—bukan wanita itu, tetapi Dasima. Dia seakan duduk di kursi kosong di sampingnya (kursi 17C memang kosong setelah ibu dan anak turun di stasiun sebelumnya). Wangi melati samar menguar, menenangkan.

“Pemandangannya indah,” sebuah “suara” perasaan muncul di hatinya. Dasima sedang menikmati pemandangan sawah hijau yang terbentang di luar jendela.

“Iya,” jawab Ferdy dalam hati, sambil tersenyum kecil.

“Nggak seperti Jakarta ya?”

Tiba-tiba, wanita di seberangnya, yang selama ini tampak sedang merajut sesuatu dari benang warna-warni, mengangkat kepalanya.

Matanya yang jernih itu terpaku pada ruang kosong di sebelah Ferdy—tepat di mana Ferdy merasakan kehadiran Dasima.

Wanita itu tidak terlihat ketakutan, hanya… tertarik. Alisnya berkerut sedikit, seolah berusaha memfokuskan penglihatan pada sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.

Ferdy merasa jantungnya berdebar. Apakah dia bisa melihat?

Wanita itu kemudian memalingkan pandangannya ke Ferdy, dan kali ini, tatapannya penuh dengan pertanyaan dan pengakuan. Dia tersenyum kecil, ramah.

“Perjalanan yang panjang, ya?” ujarnya, memulai percakapan.

“Iya,” jawab Ferdy singkat, berusaha normal.

“Tapi menyenangkan. Bisa melihat Indonesia perlahan-lahan,” lanjut wanita itu. “Nama saya Saras. Saya turun di Banyuwangi.”

“Ferdy.”

“Senang bertemu, Ferdy.” Saras kemudian diam sebentar, matanya kembali melirik ke kursi kosong di samping Ferdy, lalu kembali padanya.

“Kamu… tidak sendirian dalam perjalanan ini, ya?”

Pertanyaan itu langsung membuat Ferdy tegang. “Maksudnya?”

Saras tersenyum lebih lebar, tapi matanya penuh pemahaman. “Maaf jika saya terlalu lancang. Saya hanya… punya kepekaan tertentu. Dan saya merasakan ada… energi lain yang menemani kamu. Energi yang sangat tua. Dan sangat… penuh cinta.”

Ferdy terdiam, mulutnya agak terbuka. Ini pertama kalinya ada orang yang secara langsung menyadari kehadiran Dasima.

Melihat ekspresi Ferdy, Saras melanjutkan dengan suara lebih pelan, hampir berbisik.

“Jangan khawatir. Saya tidak berniat jahat. Saya hanya penasaran. Energi itu… perempuan, ya? Dia… melindungimu.”

Ferdy mengangguk perlahan, tidak bisa berbohong di depan mata yang begitu jujur dan melihat.

“Iya. Tapi… saya tidak bisa melihatnya dengan jelas. Hanya merasakan.”

“Itu wajar. Energinya sangat kuat, tapi juga sangat halus. Seperti… dia sengaja menyembunyikan wujud penuhnya. Mungkin untuk menghemat energi, atau… melindungimu dari sesuatu.”

Saras memandang ke arah kursi kosong itu lagi, kali ini dengan ekspresi hormat.

“Dia cantik. Samar-samar saya melihat siluet rambut panjang dan kain biru.”

Ferdy terkesiap. Deskripsi itu cocok. “Kamu… bisa melihatnya?”

“Hanya samar. Seperti bayangan di balik kaca berkabut. Dia terlalu… tua dan kuat untuk dilihat secara jelas oleh kemampuan terbatas saya. Butuh energi yang besar.” Saras menghela napas.

“Dan ada sesuatu yang lain tentang kamu, Ferdy.”

“Apa?”

“Aura kamu… tidak biasa. Ada bekas… bekas kebangsawanan. Ksatria. Bukan dari kehidupan sekarang, tapi dari kehidupan sebelumnya. Itu yang mungkin membuat energi perempuan itu begitu terikat padamu.”

Kata-kata itu seperti pukulan telak. Ferdy menatap Saras, takjub dan sedikit takut. Wanita ini, dalam perjalanan kereta yang biasa, telah menyentuh inti dari kebingungannya selama ini.

“Kamu… bisa merasakan itu juga?” tanyanya, suara bergetar.

“Aura itu seperti cap jari jiwa. Meski tubuh berganti, bekasnya masih tersisa, terutama jika kehidupan sebelumnya penuh dengan intensitas emosi atau peristiwa besar.”

Saras mencondongkan badan sedikit. “Kamu sedang mencari jawaban, ya? Tentang dirimu? Tentang dia?”

Ferdy mengangguk, tidak bisa menyangkal.

“Saya… berencana ke Bali setelah ini. Untuk… mencoba memahami.”

“Bali adalah tempat yang baik. Energi spiritual di sana kuat. Tapi hati-hati. Membuka pintu ke masa lalu bisa membawa gelombang yang tak terduga.”

Saras kemudian mengeluarkan secarik kertas dan sebuah pena dari tasnya.

“Saya tinggal di sebuah desa dekat Alas Purwo, Banyuwangi. Saya seorang pembuat tenun dan… sedikit membantu orang yang punya pengalaman seperti kita. Jika kamu butuh teman bicara, atau bantuan untuk… menyeimbangkan energi saat pencarianmu di Bali, kamu bisa menghubungi saya.”

Dia menuliskan nomor telepon dan alamat sederhana, lalu menyodorkannya pada Ferdy.

“Ini bukan tawaran bisnis. Hanya tawaran persahabatan dari sesama pejalan.”

Ferdy menerima kertas itu, perasaan campur aduk. “Terima kasih. Tapi… kenapa kamu mau membantu saya? Kita baru kenal.”

Saras tersenyum, matanya berbinar dengan kebaikan yang tulus. “Karena saya melihat cahaya dalam dirimu. Dan cahaya dalam energi yang mendampingimu. Dan di dunia yang semakin keras ini, cahaya-cahaya seperti itu perlu dijaga. Saya percaya pada takdir yang mempertemukan orang-orang tertentu untuk saling membantu.”

Perjalanan berlanjut. Mereka kemudian bercakap-cakap tentang hal-hal lain yang lebih ringan: tentang tenun Banyuwangi, tentang fotografi, tentang keindahan alam Indonesia.

Saras adalah pendengar yang baik dan pembicara yang menarik. Ferdy merasa nyaman, meski awalnya waspada.

Di sela-sela percakapan, Saras sesekali melirik ke arah Dasima dan tersenyum kecil, seolah mengakui kehadirannya. Dan Ferdy bisa merasakan, dari energi Dasima, sebuah rasa penasaran dan… penerimaan. Dasima tidak merasa terancam oleh Saras. Malah, ada rasa hormat.

---

Matahari mulai terbenam, menyapu langit dengan warna jingga dan ungu. Ferdy dan Saras sudah seperti kenalan lama. Saras bercerita tentang sedikit pengalamannya sebagai “indigo”, bagaimana ia belajar mengelola kepekaannya, dan bagaimana ia memilih untuk hidup sederhana di desa dekat alam untuk menjaga keseimbangan energi.

“Kamu berencana pulang ke keluarga dulu?” tanya Saras.

“Iya, beberapa hari di rumah. Lalu lanjut ke Bali.”

“Nikmati waktu dengan keluargamu. Mereka adalah jangkar-mu di dunia sekarang. Dan… sampaikan salam saya pada energi perempuan itu. Katakan padanya… dia sangat kuat, dan cintanya terasa begitu murni.”

Ferdy mengangguk, tersentuh. “Saya akan sampaikan.”

Kereta akhirnya sampai di Stasiun Ketapang, Banyuwangi. Mereka turun bersama. Udara malam Banyuwangi yang segar menyambut.

“Ini kita berpisah,” ucap Saras sambil mengangkat tasnya. “Ingat, Ferdy. Pencarian kebenaran itu penting, tapi jangan lupa untuk hidup di masa sekarang. Dia,” dia menunjuk ke arah kosong di samping Ferdy, “sudah memilih untuk menunggu dan melindungi versi kamu yang sekarang. Hargai itu.”

“Terima kasih, Saras. Untuk segalanya.”

“Sampai jumpa. Semoga kita bertemu lagi, dalam kondisi yang lebih cerah.”

Saras berjalan pergi, menghilang di antara kerumunan penjemput. Ferdy berdiri sejenak, memandangi kertas berisi kontaknya di tangan. Perjalanan kereta yang ia harapkan sunyi dan kontemplatif, justru memberikannya sebuah petunjuk tak terduga: seorang teman yang memahami dunianya yang baru mulai terbuka.

Dan Dasima, yang sekarang berdiri di sampingnya, mengirimkan gelombang perasaan yang jelas: rasa syukur dan kelegaan. Mungkin, setelah lima abad sendirian, akhirnya ada manusia lain yang bisa melihat dan mengakui keberadaannya—meski hanya samar—dan itu berarti dunia tidak lagi sepenuhnya terpisah.

Ferdy menarik napas dalam-dalam, mencium hawa kampung halamannya. Perjalanan pulang ini ternyata bukan hanya perjalanan fisik.

Ini adalah langkah pertama dalam petualangan yang lebih besar, dan takdir, melalui seorang wanita bernama Saras, telah memberikan sebuah kompas. Sekarang, tinggal bagaimana ia menggunakan kompas itu untuk menavigasi lautan masa lalu dan cinta yang menantinya di Bali.

1
Halwah 4g
Ooohhh Dasimaa..ada yg fisik juga modelan Kirana..beughhh..menang bnyak Ferdy yak harusnya 🤭..setiaaaa GK tuh ma Dasima y 😄
Bp. Juenk: wahaha masak setia Ama ghaib
total 1 replies
Marine
mantap sangat mendalami karya sebagai author yaa
Youarefractal
Wih bagus bgt, baru pertama loh aku baca sampai selesai 1 bab, aku suka setiap detail soal potografi-nya, seolah penulis memang potografer beneran
Bp. Juenk: thanks Kk support nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!