NovelToon NovelToon
MAHAR KEBEBASAN

MAHAR KEBEBASAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Nikahmuda / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Keyla Atmadja (18 tahun) baru saja memimpikan indahnya bangku perkuliahan sebelum dunianya runtuh dalam semalam. Ayahnya, Alan Atmadja, berada di ambang kehancuran total; kebangkrutan membayangi dan ancaman penjara sudah di depan mata. Namun, sebuah "tali penyelamat" datang dari sosok yang tak terduga: Dipta Mahendra 35 tahun), seorang konglomerat dingin dan predator bisnis yang disegani.
Pertemuan singkat yang dianggap Keyla sebagai kebetulan di sebuah kafe, ternyata adalah awal dari rencana matang Dipta. Terpesona oleh kemurnian dan kecantikan alami Keyla, Dipta menawarkan sebuah kesepakatan gelap kepada Alan: seluruh hutang keluarga Atmadja akan lunas, dan modal bisnis akan mengalir tanpa batas, asalkan Keyla diserahkan menjadi tunangannya.
Terjepit di antara rasa bakti kepada orang tua dan keinginannya untuk merdeka, Keyla terpaksa menerima cincin berlian yang terasa seperti borgol di jemarinya. Di pesta pertunangan yang megah namun penuh ketegangan, Keyla harus berhadapan dengan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. MEMBERIKAN AHLI WARIS

Sesampainya di penthouse, suasana terasa lebih menyesakkan daripada sebelumnya. Status "suami istri" yang kini melekat secara hukum justru menciptakan tembok raksasa yang transparan di antara mereka. Keyla berjalan masuk tanpa alas kaki, gaun pengantin yang kusut itu menyeret lantai marmer, sementara Dipta mengikuti di belakang dengan tatapan yang tak pernah lepas darinya.

​Sepanjang sore hingga malam, Dipta mencoba mencairkan suasana. Ia meminta pelayan menyiapkan makan malam mewah, ia menuangkan wine terbaik, bahkan ia mencoba membelai rambut Keyla sambil duduk di sofa ruang tengah. Namun, Keyla bagaikan patung lilin. Ia hanya menatap lurus ke jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu Jakarta, tanpa sepatah kata pun, tanpa satu kedipan mata pun untuk Dipta.

​"Keyla, bicaralah. Aku sudah memberikan apa yang ayahmu mau. Aku sudah menjadikanmu wanita paling berkuasa di gedung ini," ujar Dipta, suaranya mulai terdengar frustrasi oleh keheningan istrinya.

​Hening.

​"Kau mau perhiasan? Apartemen baru di Paris? Sebutkan saja. Semuanya bisa kau dapatkan hanya dengan satu jentikan jariku," lanjut Dipta lagi, mencoba menyentuh jemari Keyla.

​Akhirnya, Keyla menoleh. Matanya yang sembab dan kosong perlahan mulai menunjukkan kilatan kehidupan, namun itu bukan cinta, melainkan sebuah tuntutan yang dingin.

​"Aku ingin kuliah," ucap Keyla tegas. Suaranya serak namun tidak bergetar.

​Dipta tertegun sejenak, lalu tawa kecil yang merendahkan keluar dari bibirnya. "Kuliah? Untuk apa? Menjadi Nyonya Mahendra jauh lebih menyenangkan daripada duduk di ruang kelas yang membosankan, Key. Apapun yang ingin kau capai dalam hidup—kekuasaan, pengakuan, harta—kau sudah memilikinya sekarang hanya dengan menyandang namaku."

​"Aku ingin melanjutkan pendidikanku, Dipta. Aku ingin kuliah di Universitas Internasional," Keyla tidak bergeming. Ia mengabaikan tawaran kemewahan itu seolah itu hanyalah sampah.

​Dipta menggeleng, menyesap wiskinya. "Tidak. Aku ingin kau di sini. Aku ingin kau belajar bagaimana mengurus rumah ini, bagaimana menungguku pulang, dan bagaimana melayaniku sebagai istri yang baik. Kau tidak perlu gelar akademis untuk itu."

​"Kalau begitu, Anda hanya memiliki raga yang mati," balas Keyla dengan nada yang begitu datar hingga membuat bulu kuduk Dipta berdiri. "Jika Anda melarangku sekolah, aku akan memastikan setiap detik yang Anda habiskan bersamaku adalah neraka. Aku tidak akan makan, aku tidak akan bicara, dan aku tidak akan pernah memberikan apa pun yang Anda inginkan dariku lagi."

​Dipta meletakkan gelasnya dengan dentuman keras ke meja. Matanya menyipit, menatap istrinya yang kecil namun keras kepala itu. "Kau mengancamku?"

​"Aku menawarkan negosiasi," sahut Keyla. "Anda pengusaha, bukan? Ini adalah transaksi baru. Biarkan aku mengambil jurusan Hubungan Internasional. Biayai semuanya sampai tuntas. Dan sebagai gantinya... aku akan berhenti mencoba membunuh diriku sendiri."

​Dipta terdiam cukup lama. Hubungan Internasional—jurusan yang akan membuat Keyla berinteraksi dengan banyak orang, memperluas jaringannya, dan mungkin membuatnya ingin terbang lebih jauh darinya. Namun, melihat tekad di mata Keyla, Dipta tahu bahwa jika ia menolak, ia benar-benar hanya akan memiliki "mayat" di tempat tidurnya.

​"Hubungan Internasional?" Dipta berdiri, berjalan mendekati Keyla dan mencengkeram dagunya dengan lembut namun posesif. "Kau ingin belajar cara berdiplomasi denganku, hmm?"

​"Aku ingin punya sesuatu yang tidak bisa Anda beli dengan uang Anda, Dipta. Otakku," jawab Keyla tajam.

​Dipta menatap bibir Keyla yang masih sedikit bengkak akibat perlakuannya semalam. "Baik. Universitas Internasional di Jakarta. Aku yang pilih kampusnya, aku yang tentukan sistem pengamanannya, dan aku yang menanggung seluruh biayanya. Kau akan pergi dengan pengawalan Bayu setiap hari."

​Keyla menarik napas lega yang sangat tipis. "Setuju."

​"Tapi ingat, Keyla," Dipta berbisik tepat di telinganya, memberikan sensasi dingin yang akrab. "Kau boleh belajar tentang dunia luar sepuasmu. Tapi setiap sore, saat mobil menjemputmu, kau kembali menjadi milikku. Jangan pernah terlambat pulang, karena setiap menit keterlambatanmu akan kubayar dengan 'hukuman' yang jauh lebih berat dari malam itu."

​Keyla memejamkan mata, menerima syarat yang terasa seperti rantai baru. Namun di dalam hatinya, ia sudah berjanji: pendidikan ini adalah tiketnya untuk suatu saat nanti bisa berdiri sejajar atau bahkan menghancurkan pria yang kini mendekapnya dengan obsesi yang mengerikan.

**

Setelah kesepakatan tentang kuliah tercapai, suasana di ruang tengah masih terasa tegang. Dipta menatap tubuh Keyla yang tampak semakin ringkih di balik gaun putihnya. Wajahnya pucat, dan bibirnya mulai pecah-pecah karena dehidrasi. Sejak keributan pagi tadi hingga prosesi paksa di gereja, Keyla memang tidak menyentuh makanan setetes pun.

Dipta menghela napas, mencoba meredam sisi kasarnya. Ia mengambil piring berisi risotto jamur yang masih hangat dari meja makan dan duduk di samping Keyla.

"Makan ini," perintah Dipta pelan, menyodorkan sesendok makanan ke depan bibir Keyla.

Keyla memalingkan wajah, matanya kembali menatap kosong ke arah jendela. "Aku tidak lapar."

"Jangan memancing amarahku lagi, Keyla. Kau baru saja mendapatkan izin kuliahmu. Jangan sampai aku membatalkannya karena kau pingsan sebelum sempat mendaftar," ujar Dipta dengan nada memperingatkan. Ia memaksa sendok itu menyentuh bibir Keyla. "Buka mulutmu. Sekarang."

Dengan terpaksa dan rasa mual yang tertahan, Keyla membuka mulutnya. Dipta menyuapinya dengan telaten, seolah-olah Keyla adalah boneka porselen yang sangat rapuh namun sangat berharga.

"Anak pintar," gumam Dipta saat melihat Keyla menelan makanannya. "Kau harus sehat. Aku butuh tenagamu untuk malam ini, dan malam-malam seterusnya."

Saat suapan ketiga masuk, sebuah pikiran tiba-tiba melintas di benak Keyla, membuat tubuhnya mendadak kaku. Ia teringat kejadian liar di dalam mobil dan di kamar semalam—kejadian di mana Dipta melakukannya tanpa pengaman sedikit pun.

Keyla meletakkan tangannya di perutnya yang masih rata, matanya membelalak ketakutan. "Dipta... obat. Aku butuh obat pencegah kehamilan. Sekarang."

Gerakan tangan Dipta terhenti di udara. Matanya yang tadi melembut seketika berubah menjadi gelap, lebih gelap dari malam di luar sana. "Apa yang kau katakan?"

"Aku takut hamil! Aku tidak mau mengandung anakmu!" teriak Keyla, suaranya naik satu oktav karena panik. "Aku baru saja akan mulai kuliah! Aku tidak mau terikat lebih jauh lagi denganmu melalui seorang anak! Belikan aku obat itu sekarang, atau minta Bayu ke apotek!"

Prak!

Dipta membanting piring porselen itu ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Sisa makanan berceceran, namun ia tidak peduli. Ia berdiri, menjulang di depan Keyla dengan aura yang sangat mengancam.

"Kau... takut hamil anakku?" tanya Dipta dengan suara rendah yang bergetar karena amarah yang meledak. "Kau merasa terhina jika darah daging Mahendra ada di rahimmu?"

"Iya! Aku membencimu, Dipta! Memiliki anak darimu adalah kutukan bagiku!" seru Keyla sambil mencoba berdiri untuk menjauh.

Dipta merasa harga dirinya diinjak-injak. Bagi pria sepertinya, memiliki keturunan adalah simbol kekuasaan, dan penolakan Keyla adalah penghinaan terbesar yang pernah ia terima.

"Kau pikir kau punya pilihan?" Dipta mencengkeram rahang Keyla dengan sangat kuat, memaksa gadis itu menatap matanya yang menyala. "Kau adalah istriku. Tugas utamamu bukan hanya kuliah atau menungguku pulang, tapi memberikan ahli waris untuk Mahendra Group!"

"Aku bukan mesin pencetak anak!" jerit Keyla.

"Di mataku, kau adalah milikku sepenuhnya!" bentak Dipta. Ia menyambar lengan Keyla dan menyeretnya dengan kasar menuju kamar utama.

"Lepaskan! Dipta, sakit! Tolong!" Keyla meronta, kakinya terseret di atas lantai, namun kekuatan Dipta tidak tertandingi.

Dipta menghempaskan Keyla ke atas ranjang dengan sangat keras hingga gadis itu terpantul. Ia mulai membuka kancing kemejanya dengan gerakan kalap, matanya tidak lepas dari Keyla yang meringkuk ketakutan.

"Tadi kau bilang ingin kuliah, kan? Aku memberimu izin. Tapi sekarang, aku akan memastikan kau tidak punya alasan untuk menolak takdirmu sebagai seorang ibu," ujar Dipta sambil merangkak naik ke atas ranjang, menindih Keyla yang terisak.

"Jangan... aku mohon... jangan sekarang..."

"Sudah terlambat untuk memohon, Keyla," bisik Dipta parau di depan bibir Keyla. "Jika kau sangat takut hamil, maka aku akan melakukannya berkali-kali sampai ketakutanmu itu menjadi kenyataan. Aku akan menanamkan benihku di sana, sampai kau tidak bisa lagi membayangkan hidup tanpa membawa namaku dan anakku."

***

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!