Eva sangat membenci ibunya yang terus-menerus membuat masalah, sementara ia harus bekerja keras seorang diri demi bertahan hidup.
Untuk meredakan stres, Eva gemar menari. Ia bekerja sebagai cleaning-service di sebuah perusahaan balet dan kerap mencuri waktu untuk menari sendirian saat gedung sudah kosong.
Hingga suatu malam, pemilik gedung yang tampan itu memergokinya, mengira Eva adalah penari balet sungguhan, dan Eva memilih tidak meluruskan kesalahpahaman itu. Pekerjaan ini terlalu penting untuk dipertaruhkan.
Farris Delaney.
Hampir semua perempuan di perusahaan itu tergila-gila padanya. Banyak yang berharap bisa menjadi kekasihnya. Eva berbeda. Ia hanya ingin rahasianya aman dan sebisa mungkin menjauh darinya.
Masalahnya, dosa-dosa ibunya kembali menyeretnya ke masalah yang lebih dalam. Dan perlahan Eva menyadari, Farris memiliki kuasa untuk mengubah hidupnya, bahkan menyelamatkannya dari kematian. Tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa.
୨ৎ MARUNDA SEASON IV ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
I Need You
Dia menari dengan begitu agresif dan penuh gairah sampai membuatku terhipnotis.
Di tengah ruangan, dia lompat ke udara sebelum jatuh terhuyung ke lantai.
Aku langsung berdiri dari kursi, berpikir kalau dia cedera, tapi dia mencengkeram lantai, seakan itu menahan dia sebelum bangkit dalam satu gerakan halus yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
Dengan bibir sedikit terbuka, aku lihat Eva menunjukkan begitu banyak emosi, sampai aku benar-benar terpaku dan enggak bisa ngomong.
Pompeii dari Bastille mulai diputar dan dia terus menari.
Aku duduk lagi, mataku enggak lepas dari dia sedetik pun saat satu lagu mengalir ke lagu berikutnya.
Aku sudah lihat pertunjukan yang menginspirasi dan para penari terbaik di panggung, tapi enggak ada yang sebanding sama dia.
Aku enggak tahu berapa lama waktu berlalu sampai dia berhenti di tengah ruangan, benar-benar kehabisan napas.
Dia angkat kepala, matanya langsung mengunci ke mataku.
Walau aku hampir enggak tahu apa-apa soal dia, aku selalu menginginkan wanita ini.
Eva jalan ke arahku, dan aku hampir berdiri, tapi dia taruh tangan di bahuku dan aku tetap duduk.
Matanya turun ke mulutku, dan intensitas di antara kami meningkat, berbahaya.
Saat aku pegang pinggulnya, dia naik ke pangkuanku dan langsung menempelkan bibirnya ke bibir aku.
Astaga.
Emosi yang dia bangkitkan dalam diriku jadi hampir enggak tertahankan.
Tanganku menyusuri tubuhnya yang berkeringat, selagi aku mengambil alih ciumannya. Lidahku mengusap lidahnya, mengikuti irama musik, dan saat dia meraih ritsleting celanaku, aku mengangkat dia dan tarik celana pendek serta celana dalamnya turun melalui kakinya.
Aku hampir enggak sempat melihat Miss V nya, sebelum dia sudah naik lagi ke atas aku dan buru-buru membebaskan batang aku.
Mulut kami bertemu keras, aku enggak punya kendali atas tubuhku saat merasakan panas dinding rahimnya menekan kepala batang aku. Aku mencengkeram pinggulnya kuat-kuat dan mendorong keras ke dalam kubangan basahnya.
"Oh My God!" Dia terisak di mulutku, saat aku baru setengah masuk ke dalam rahimnya.
Pinggul Eva bergoyang dan berputar, sementara nada putus asa keluar dari dirinya, membuatku sadar, dia butuh momen ini ... sama sepertiku.
Aku mundur sedikit sebelum mendorong lebih dalam lagi, sampai aku tertanam sedalam mungkin.
Di suatu titik, kami berhenti berciuman, napas kami menghangatkan ruang di antara kami.
Mata abu-abunya yang indah fokus ke mataku, lalu dia mulai bergerak di pangkuanku mengikuti irama You Say dari Lauren Allred.
Lagu itu enggak terlalu terkenal, dan menyadari kalau lagu itu ada di playlist Eva, membuatku makin penasaran sama dia.
Aku benar-benar terpikat sama wanita ini, ketika dia mengangkangiku, dan saat pinggulnya berputar makin cepat, gejolak di antara kami pun meningkat.
Ketika wajahnya menegang dan jari-jarinya mencengkeram bahuku, emosi paling aneh yang pernah aku rasakan langsung menyerbu hati aku.
Aku lihat Eva mencapai klimaks, benar-benar terhipnotis oleh erangan lembut yang jatuh dari sudut bibirnya.
Kita tetap saling menatap, tapi begitu aku mulai menarik diri, Eva langsung lepas dari aku.
Dia ambil celana dalam dan pendeknya, lalu aku bilang, "Jangan kabur."
"Aku harus pergi."
Aku masukkan kembali batang aku ke dalam celana, berdiri, dan mencekal lengannya sebelum dia bisa lari keluar dari studio.
Mata Eva mengunci ke wajahku. "Aku enggak kabur. Aku benaran harus pergi."
"Kamu terus mau ke mana?"
Dia mengeluarkan napas dan mengaku, "Kerja."
Dahiku langsung berkerut waktu aku bertanya, "Kerja apa?"
Di dunia aku, enggak ada pekerjaan baik yang terjadi di malam hari.
Tanpa jawab, dia melepas lengannya dari pegangan aku dan jalan ke sisi lain ruangan buat ambil HPnya. Musik berhenti, dan saat dia menuju pintu, dia bertanya, "Kita masih jadi kencan hari Minggu?"
Aku mengangguk sambil menutup jarak di antara kita. "Jelas."
Eva enggak menjauh, malah tersenyum. "Makasih udah ngajak aku menari malam ini. Aku butuh itu."
Senyum melebar di wajahku saat aku condong buat mencium bibirnya, lalu berbisik di dekat telinganya, "Aku juga."
Begitu aku menjauh, dia keluar dari studio.
Aku butuh waktu sebentar buat memasukkan lagi kemeja ke dalam celana, sebelum tarik ritsleting.
Aki ambil HP dari saku, aku hidupkan dan keluar dari ruangan.
Lihat ada satu panggilan tak terjawab dari Cavell, aku langsung menelepon balik.
Begitu dia angkat.
...📞...
^^^"Kenapa lama banget kamu nelepon balik?"^^^
"Aku lagi ngeseks."
Aku tersenyum lebar.
Dia bahkan enggak menanggapi apa yang baru aku bilang dan cuma menyuruh,
^^^ "Ada rapat di klub aku besok jam sembilan pagi!"^^^
"Aku bakal datang."
Begitu teleponnya selesai, pikiranku langsung penuh sama Eva dan apa yang terjadi di antara kita malam ini.
Insting pertamaku adalah pulang, biar bisa mencari setiap info kecil yang bisa aku temukan tentang dia, tapi ada sesuatu yang menahanku buat melakukan itu.
Aku enggak mau menyerobot privasinya.
Untuk pertama kalinya, aku benar-benar ingin meluangkan waktu buat kenal sama seorang cewek. Aku ingin dia yang cerita dan menunjukkan sendiri siapa dia.
Keluar dari gedung, aku jalan ke tempat mobil. Waktu aku buka pintunya, sesuatu yang sebelumnya enggak aku pikirkan muncul di kepala.
Kalau semuanya jadi serius ... antara aku dan Eva, bagaimana caranya aku bilang ke dia, kalau aku bagian dari Marunda?
JD penasaran Endingnya