Season 2 dari Novel Sang Penakluk.
Hi Cesss, Novel Sang Penakluk kembali lagi ni. Semoga klean suka dengan alur ceritanya Cesss.
Jangan Lupa Like, Komen dan Supportnya Cesss. Karena setiap like, komen dan support dari kalian akan sangat berguna bagiku yang pemula ini.
Selamat Membaca...,,,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RantauL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13. Meningkatkan Kekuatan
Selain itu, dengan banyaknya energi dan sumber daya yang ada di dimensi milik Ray Zen ini, tidak ada penghalang bagi mereka untuk terus-menerus meningkatkan kekuatan.
Dengan semangat dan tekad yang sama, mereka semua mengikuti Berill, Kaliff, dan Nerion untuk memulai latihannya.
Han Yu, Tiger dan Trile yang memiliki kekuatan hampir sama berlatih dengan Berill.
Bear, Virdrax dan Navhara yang memiliki tubuh dan daya tahan yang kuat, berlatih dengan Kaliff.
Sementara Bai Hu, yang merupakan pengawal terkuat diantara mereka semua, berlatih bersama Nerion.
Hari itu, seluruh dimensi Ray Zen dipenuhi oleh geliat kehidupan.
Di berbagai sudut istana emas dan taman-taman luas di sekitarnya, latihan dimulai dengan penuh semangat.
Aura bentrok dengan aura, hukum kehidupan bersinggungan dengan hukum kematian, dan teriakan tekad bergema di udara yang bercahaya.
Para jenderal Ray Zen mulai menjalankan tugas mereka, membimbing dan menguji batas para pengawal dengan cara yang jauh melampaui standar latihan di dunia luar.
Dan di pusat dari semua itu—Ray Zen berdiri.
Tenang. Tegak. Tak tergoyahkan.
Ia mengamati semuanya dengan mata yang dalam, seolah bukan sekadar melihat latihan, tetapi juga membaca masa depan. Setiap gerakan, setiap pancaran aura, setiap reaksi kecil dari mereka yang berlatih, semuanya tercatat rapi dalam benaknya.
Namun, di tengah ketenangan itu, sebuah ingatan melintas. Ray Zen sedikit menyipitkan matanya. “Ada satu lagi,” gumamnya pelan.
Sosok Raja Gorilla Hitam.
Binatang buas ratusan ribu tahun yang pernah menggetarkan Hutan Larangan—makhluk dengan kekuatan brutal dan kehendak liar yang sebelumnya dikalahkan oleh Bear. Kini ia berada di dalam dimensi milik Ray Zen, terikat oleh rantai emas ciptaannya.
Tanpa perlu berkata apa pun, tubuh Ray Zen memudar, menyatu dengan cahaya. Dalam satu langkah yang melampaui ruang, ia telah berpindah.
Tempat itu sunyi.
Sebuah dataran luas dengan langit yang lebih gelap dibanding wilayah istana, seolah memang diciptakan khusus untuk menahan makhluk berbahaya. Di tengah dataran itu, Raja Gorilla Hitam duduk dengan tubuh besarnya, kedua lengannya terikat oleh rantai emas tebal yang memancarkan hukum pengekangan.
Mata merahnya terbuka perlahan saat ia merasakan kehadiran Ray Zen.
Dengusan berat keluar dari hidungnya.
“Kau…” suara dalam dan berat itu bergema, penuh kebencian yang belum padam. “Akhirnya datang juga.”
Ray Zen melangkah mendekat tanpa kewaspadaan berlebihan. Wajahnya tenang, bahkan nyaris ramah. Ia berhenti beberapa langkah di depan Raja Gorilla Hitam, menatapnya sejenak, lalu mengangkat tangan.
Rantai emas itu bergetar. Dengan satu tarikan lembut—
KRAK!
Rantai emas yang selama ini menahan Raja Gorilla Hitam terlepas, berubah menjadi partikel cahaya dan menghilang.
Untuk sesaat, keheningan menggantung.
Raja Gorilla Hitam terdiam, seolah tak percaya. Ia menatap kedua lengannya, lalu menggerakkannya perlahan.
Tidak ada lagi pengekangan.
Tidak ada lagi rasa terikat.
Dan pada detik berikutnya—
RAAAARGH!!!
Amarah yang terpendam meledak.
Aura hitam pekat membubung ke langit, tanah retak di bawah kakinya. Tanpa ragu sedikit pun, Raja Gorilla Hitam mengayunkan tinjunya ke arah Ray Zen dengan kekuatan penuh—pukulan yang cukup untuk meratakan gunung.
Namun—
Ray Zen hanya melangkah satu langkah ke samping.
Pukulan itu menghantam udara kosong, menciptakan gelombang kejut dahsyat yang merobek tanah di belakangnya.
“BERANI KAU MENGHINA AKU?!” raung Raja Gorilla Hitam.
Tubuh raksasanya bergetar hebat, lalu menyusut. Tulang-tulang bergeser, otot memadat, dan dalam beberapa napas, sosok gorilla raksasa itu berubah menjadi seorang pria bertubuh besar, berkulit gelap, dengan rambut hitam panjang dan mata merah menyala.
Aura kekerasan dan kebuasan menyatu sempurna dalam wujud manusianya.
“MATI KAU, MANUSIA! Asal kau tahu, pria beruang itu hanya beruntung, karena saat itu aku tidak sempat berubah ke wujudku ini!”
Ia menerjang lagi.
Namun kali ini—
Ray Zen bergerak.
Tidak ada ledakan besar. Tidak ada teknik rumit. Hanya satu langkah maju, satu ayunan tangan, dan satu sentuhan ringan di dada lawannya.
BUM!
Raja Gorilla Hitam terlempar jauh, menghantam tanah berkali-kali hingga berhenti di kejauhan. Ia batuk keras, darah hitam menyembur dari mulutnya. Sebelum sempat bangkit, Ray Zen sudah berdiri di hadapannya.
Satu tangan Ray Zen menekan bahunya.
Tekanan itu tidak kasar—namun cukup untuk membuat seluruh tubuh Raja Gorilla Hitam terkunci. Aura buasnya runtuh seketika, seperti api yang disiram air.
“Kau tidak mungkin menang melawanku,” ucap Ray Zen datar.
Tidak ada ejekan. Tidak ada kemarahan.
Hanya fakta.
Raja Gorilla Hitam mencoba melawan, namun tubuhnya menolak. Perbedaan kekuatan di antara mereka begitu jelas, begitu mutlak, hingga perlawanan terasa sia-sia.
Ray Zen menarik tangannya.
Cahaya putih keemasan mengalir dari telapak tangannya, menyelimuti tubuh Raja Gorilla Hitam. Luka-luka yang menganga pada tubuh gorilla itu menutup perlahan, tulang yang retak pulih, dan energi yang terkuras kembali mengalir.
Raja Gorilla Hitam tertegun.
“…Kenapa?” suaranya parau. “Kenapa kau tidak membunuhku?”
Ray Zen berdiri tegak, menatapnya dari atas dengan mata yang tenang. “Karena aku tidak sembarangan membunuh.”
Ia berbalik sedikit, menatap langit dimensi miliknya. “Bagiku, hanya orang-orang tertentu yang pantas mati. Kau… bukan salah satunya.”
Raja Gorilla Hitam terdiam lama.
“Kau telah menunjukkan kekuatanmu,” lanjut Ray Zen. “Dan kau juga memiliki kehendak. Aku membutuhkannya.”
Ia menoleh kembali. “Bergabunglah denganku. Dan jadilah bagian dari pengawalku.”
Mata Raja Gorilla Hitam membelalak. “Mengabdi… padamu?”
“Aku tidak akan memaksa, keputusannya berada di tanganmu.” jawab Ray Zen tenang.
Hening kembali menyelimuti tempat itu.
Akhirnya, Raja Gorilla Hitam menundukkan kepalanya perlahan. “…Aku tidak mengerti dirimu, manusia,” katanya lirih. “Namun… aku tidak bisa menyangkal apa yang kulihat.”
Ia mengangkat kepalanya, menatap Ray Zen dengan sorot mata yang berubah—bukan lagi kebencian, melainkan pengakuan. “Aku akan mengikuti mu.”
Ray Zen tersenyum tipis. “Sudah kuduga, kau akan mengatakan itu. Kalau begitu,” katanya pelan, “Selamat bergabung.”
...****************...
Hari-hari berlalu, bulan-bulan berganti, dan entah sudah berapa lama mereka semua berada di dalam dimensi itu.
Waktu di dalam dimensi Ray Zen mengalir dengan cara yang berbeda—tanpa matahari terbit dan tenggelam yang jelas, tanpa penanda hari dan malam yang tegas. Yang ada hanyalah perubahan halus pada cahaya langit, denyut hukum yang berdenyut seperti jantung dunia, dan irama latihan yang tak pernah berhenti. Di sana, hari tidak diukur oleh jam, melainkan oleh terobosan, kegagalan, dan kebangkitan kembali.
Di bawah bimbingan para Jenderal, latihan berlangsung tanpa kompromi.
Auralis, sang Jendral Kehidupan ke-11, melatih Lia Zen dengan kesabaran yang tegas. Setiap langkah Lia Zen diawasi, setiap kesalahan diperbaiki dengan ketelitian seorang pengukir. Ia tidak membuka segel kekuatan Lia Zen—tidak satu pun retakan dibiarkan muncul—melainkan memperkuat wadahnya terlebih dahulu: tubuh, jiwa, dan kehendak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan Lupa Like dan Komennya Cesss.....
Selamat Membaca.....
Lanjut Terussss.....
reader yg setia masih menanti update yg terbaru