NovelToon NovelToon
Ayo Bercerai, Mas!

Ayo Bercerai, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

"Di kantor kita adalah rekan kerja, di rumah kita adalah orang asing, dan di ranjang... kita hanyalah dua raga yang tak punya jiwa."

Alsava Emily Claretta punya segalanya: jabatan tinggi sebagai COO Skyline Group, kecantikan yang memabukkan, dan status sebagai istri dari Garvi Darwin—sang "Dewa Yunani" sekaligus CEO perusahaan tempat ia bekerja. Namun, di balik kemewahan mansion Darwin, Sava hanyalah seorang wanita yang terkurung dalam kesepian.
Saat Garvi sibuk menjelajahi dunianya, Sava melarikan penatnya ke lantai dansa nightclub. Ia mengira hubungan mereka akan selamanya seperti itu—dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Hingga suatu saat, rasa jenuh itu memuncak.
"Aku butuh hiburan, Win. Butuh kebebasan," ucap Sava.
Sava tidak tahu bahwa setiap langkahnya selalu dipantau oleh mata tajam Garvi dari kejauhan. Garvi tak ingin melepaskannya, namun ia juga tak berhenti menyakitinya. Saat satu kata perceraian terucap—permainan kekuasaan pun dimulai. Siapa yang akan lebih dulu berlutut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Sinar matahari senja menyelinap masuk melalui celah gorden, menciptakan bayangan panjang yang muram di lantai kamar VVIP. Di dalam ruangan itu, waktu seolah berhenti berputar. Bau obat-obatan yang tajam terasa menyesakkan paru-paru Alsava.

Sava masih menatap langit-langit putih dengan pandangan kosong saat pintu kamar terbuka pelan. Roy dan Winata melangkah masuk. Melihat kedua orang kepercayaannya datang, Sava buru-buru menyeka sisa air mata di sudut matanya dengan punggung tangan yang masih tertancap jarum infus.

Ia memaksakan sebuah senyum tipis—senyum pucat yang sama sekali tidak mencapai matanya yang indah namun layu.

"Kalian sudah kembali?" suara Sava serak, hampir menyerupai bisikan.

Winata tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung menghambur, memeluk tubuh sahabatnya itu dengan erat. Bahu Winata bergetar, ia bisa merasakan betapa dingin dan ringkihnya tubuh Sava saat ini.

"Sava... kumohon, berhentilah berpura-pura kuat," isak Winata. Ia menuntun Sava untuk duduk di sofa panjang dekat jendela besar yang menghadap langsung ke arah pusat Kota Medan yang mulai gemerlap.

"Aku ingin kamu selalu baik-baik saja, Va. Aku ingin kamu yang dulu."

Sava menghela napas panjang, menatap pantulan dirinya yang kusam di kaca jendela.

"Win... apa dokter memberitahumu semuanya?"

Pelukan Winata mengendur. Ia menatap lekat mata sahabatnya itu. Senyum di wajah Winata sirna, digantikan oleh gurat kesedihan yang amat dalam. Ia kembali menggenggam tangan Sava, menyalurkan kehangatan.

"Kenapa kamu menyembunyikan semuanya selama ini, Va? Kenapa kamu membiarkan dirimu hancur sendirian?" bisik Winata di telinga Sava. "Aku tidak ingin memaksamu mengingatnya jika itu menyakitkan. Tapi aku mau menjadi orang yang selalu memegang tanganmu. Aku mau jadi pendukung nomor satu dalam hidupmu, sampai kapan pun."

Sava melepaskan tangannya pelan, matanya beralih ke arah ranjang di mana Garvi masih terbaring kaku.

"Aku akan cerita, Win. Tapi tidak di sini. Ruangan ini terlalu menyesakkan. Bawa aku ke taman rumah sakit... aku ingin melihat langit senja. Aku butuh udara segar untuk bisa bernapas."

Winata melirik Roy. Roy hanya mengangguk kecil, memberikan ruang bagi dua wanita itu.

"Saya akan berjaga di sini, menunggu Tuan muda. Mungkin udara sore bisa membantu Nyonya Muda."

“Terima kasih, Roy.”

“Sama-sama, Nyonya.”

**

Taman rumah sakit itu mulai sepi saat mereka tiba. Semilir angin sore Medan yang sejuk membelai lembut rambut brunette curly milik Sava yang berantakan. Mereka duduk di sebuah bangku kayu di bawah pohon kamboja yang sedang berbunga.

Winata menggenggam erat tangan Sava, seolah takut jika ia melepasnya sedikit saja, sahabatnya itu akan menghilang.

"Berceritalah, Va. Keluarkan semuanya."

Sava memejamkan mata. Seketika, memorinya ditarik mundur ke masa tiga tahun yang lalu. Masa di mana ia masih menjadi seorang istri yang penuh harapan, bukan "Manusia Es" yang ditakuti di Skyline Group.

"Waktu itu... usia pernikahan kami baru satu tahun," Sava memulai, suaranya bergetar mengikuti irama angin. "Aku ingat betapa bahagianya aku saat melihat dua garis merah di test pack itu. Aku hamil dua bulan, Win. Buah cintaku dengan Mas Garvi... atau setidaknya, itu yang kupikirkan saat itu."

Sava tersenyum getir mengenang masa bodohnya.

"Malam itu adalah perayaan anniversary pertama kami. Aku sudah menyiapkan makan malam spesial di rumah. Aku memasak makanan kesukaannya, menata meja dengan lilin-lilin cantik, dan mengenakan gaun putih yang paling dia sukai. Aku ingin memberikan kejutan itu padanya. Aku ingin memberitahunya bahwa dia akan menjadi seorang ayah."

Sava menarik napas dalam, mencoba menahan sesak yang mulai menghimpit dadanya.

"Aku menunggunya sampai hampir tengah malam. Berkali-kali aku menelepon, tapi panggilanku diabaikan. Sampai akhirnya, instingku membawaku pergi mencarinya. Aku melacak keberadaannya lewat orang kepercayaanku saat itu."

"Dan kamu menemukannya?" tanya Winata pelan.

Sava mengangguk, air mata pertama jatuh ke pangkuannya. "Aku menemukannya di sebuah hotel mewah di pusat kota. Ada jamuan makan malam besar, tapi Mas Garvi tidak ada di sana. Aku melihatnya... aku melihat suamiku masuk ke sebuah kamar suite bersama seorang perempuan. Itu bukan sekadar 'teman minum' atau relasi bisnis, Win. Tatapannya, cara dia merangkul pinggang wanita itu... itu adalah tatapan yang menghancurkan seluruh duniaku dalam satu detik."

Sava menjeda ceritanya, tubuhnya mulai gemetar hebat. Ingatan akan rasa sakit itu seolah kembali nyata merobek kulitnya.

"Aku tidak melabraknya. Aku tidak punya kekuatan untuk itu. Aku pergi dengan perasaan terluka yang sangat dalam. Aku menyetir sendiri ke penthouse pribadiku dalam kondisi terguncang hebat. Air mata membuat pandanganku kabur."

"Saat aku sampai di penthouse... semuanya gelap. Aku berlari menaiki tangga menuju lantai dua, aku ingin segera bersembunyi di bawah selimut dan menganggap semua ini mimpi. Tapi... kakiku terpeleset."

Sava terisak, suaranya pecah menjadi tangisan yang menyayat hati. "Aku jatuh berguling di tangga itu, Win. Sakitnya luar biasa. Tapi rasa sakit di perutku jauh lebih mengerikan daripada rasa sakit di tubuhku. Di lantai yang dingin itu, dalam kesendirian yang pekat, aku merasakan hangatnya darah yang mengalir di sela kakiku."

"Janin itu... anakku yang berusia dua bulan... dia tidak bisa diselamatkan," Sava menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis tergugu. "Trauma rasa sakit di perut itu menyatu dengan pengkhianatan Mas Garvi. Sejak malam itu, aku memutuskan untuk mematikan hatiku. Aku membekukan segala perasaanku padanya."

"Kenapa kamu tidak meminta cerai saat itu juga, Va?" tanya Winata ikut menangis.

"Keluarga, Win. Kamu tahu bagaimana posisi keluarga Claretta dan Darwin di kota ini. Tidak akan ada yang setuju dengan perceraian, apalagi jika alasannya adalah perselingkuhan yang bisa merusak citra perusahaan. Jadi, aku memilih tetap bertahan... tapi sebagai orang asing. Aku mengubah diriku menjadi Miss Sava yang dingin, agar tidak ada lagi celah bagi Mas Garvi untuk menyakitiku."

Suasana taman mendadak menjadi sangat dingin. Sava menyeka air matanya, menatap langit yang kini sudah berubah menjadi ungu gelap.

"Itulah alasanku ingin bebas, Win. Aku sudah cukup memberikan hidupku untuk dinasti Darwin. Aku ingin pergi sebelum sisa-sisa diriku benar-benar habis."

Winata mengeratkan pelukannya pada bahu Sava. Ia bisa merasakan tubuh sahabatnya itu sedikit gemetar, bukan karena dinginnya angin sore, melainkan karena luka lama yang baru saja dikuliti kembali. Aroma bunga kamboja yang jatuh di sekitar bangku taman menambah kesan melankolis pada suasana tersebut.

"Va..." Winata berbisik, suaranya serak karena ikut merasakan kepedihan itu. "Boleh aku bertanya sesuatu? Sesuatu yang selama ini mengganjal di pikiranku setiap kali aku melihat isi tas kerjamu?"

Sava melepaskan tatapannya dari awan-awan yang berarak. Ia menoleh pelan, rambut brunette curly-nya yang berantakan tertiup angin, membingkai wajah cantiknya yang pucat.

"Tentang apa, Win?"

Winata ragu sejenak, namun ia harus memastikannya. "Apakah karena trauma keguguran itu... karena pengkhianatan Garvi di malam itu, kamu selalu rutin meminum pil KB? Bahkan saat hubungan kalian terlihat 'baik-baik saja' di mata publik?"

Sava terdiam. Ia menarik napas panjang, menghirup udara Medan yang mulai lembap oleh embun sore. Sebuah senyum pahit terukir di bibirnya yang kering.

"Iya, Win. Setiap hari. Tanpa absen satu kali pun," jawab Sava jujur. Suaranya datar, namun sarat akan kelelahan batin.

Ia memandangi telapak tangannya sendiri. "Aku takut, Win. Aku sangat ketakutan. Aku tidak ingin ada nyawa lain yang lahir ke dunia ini tanpa cinta yang utuh dari ayahnya. Aku tidak ingin anakku nanti harus menyaksikan ayahnya yang masih senang 'bermain' di luar sana dengan wanita-wanita seperti Shila."

Sava menunduk, suaranya mengecil. "Dan kamu tahu sendiri bagaimana Mas Garvi. Dia pria yang manipulatif dan posesif. Dia menganggapku miliknya seutuhnya, tapi dia tidak pernah mau menggunakan pengaman. Dia ingin mengendalikanku, termasuk keinginannya untuk memiliki pewaris tanpa memikirkan kesiapanku. Baginya, anak mungkin hanya sekadar pelengkap kekuasaan Skyline Group. Tapi bagiku, anak adalah jiwa yang tidak pantas terjebak dalam pernikahan beracun ini."

Winata mengusap air mata yang mengalir di pipi Sava. "Aku tahu, Va. Aku tahu perasaanmu. Tapi sekarang, fokus utamanya adalah memulihkan dirimu sendiri. Kamu harus kuat. Ingat, perjuanganmu masih sangat panjang."

Sava mengangguk lemah. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Winata, menatap lampu-lampu jalanan di luar pagar rumah sakit yang mulai menyala satu per satu.

"Sejujurnya, Win... aku sudah sangat lelah," gumam Sava. "Kadang, saat aku duduk di kursi COO yang megah itu, aku merasa sedang duduk di atas kursi listrik. Semua kekayaan, kemewahan, dan nama besar Skyline Group ini... rasanya seperti rantai yang mengikat leherku."

"Lalu, apa yang sebenarnya kamu inginkan, Va? Jika suatu saat kamu benar-benar bisa lepas dari Garvi?" tanya Winata lembut.

Sava terdiam sejenak. Tiba-tiba, binar matanya berubah. Sesuatu yang sudah lama padam di dalam sana seolah menyala kembali.

"Aku ingin menyepi, Win," ucap Sava dengan nada yang mendadak penuh harapan. "Jauh dari Medan, jauh dari kebisingan bisnis. Aku ingin tinggal di sebuah desa yang sejuk... mungkin di kaki gunung. Sebuah rumah kecil dengan halaman luas di mana aku bisa berkebun. Menanam sayur, memetik buah yang kutanam sendiri."

Senyum yang sangat tulus, senyum yang tidak pernah Winata lihat selama empat tahun terakhir, tiba-tiba merekah di bibir Sava.

"Aku membayangkan bangun pagi karena suara burung, bukan karena alarm ponsel yang berisi tumpukan masalah kantor. Aku ingin memasak makanan enak dari hasil kebunku, membaca buku di teras tanpa perlu merasa dimata-matai, dan benar-benar menikmati hidup dengan ketenangan yang sesungguhnya. Tanpa drama, tanpa pengkhianatan, dan tanpa Mas Garvi."

Winata terpaku. Ia menatap wajah sahabatnya itu dengan takjub. Dalam keremangan senja, Sava tampak begitu cantik dan hidup saat menceritakan mimpinya. Itu adalah senyum terbahagia yang pernah terpancar dari wajah sang COO Skyline Group.

Ya Tuhan, berikanlah dia kebahagiaan itu, doa Winata dalam hati. Dia sudah terlalu lama berada di neraka yang terlihat seperti surga.

"Ayo kita kembali ke dalam, Va. Anginnya semakin kencang, tidak baik untuk kesehatanmu," ajak Winata sambil membantu Sava berdiri.

Sava mengangguk, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya untuk melangkah kembali menuju ruang VVIP yang terasa seperti penjara itu.

***

1
Umi Kolifah
kamu hebat Sava, semoga garvi sadar perbuatannya menyakitimu sebelum penyesalan datang terlambat
Desi Santiani
semangat thor💪
Desi Santiani
semangat miss sava, semoga gravi segera siuman n dya bisa menunjukan cara mencintaimu dgn lebih nyata
Desi Santiani
semangat thor😍
Desi Santiani
selalu suka dgn karya2nya thor, krna alur cerita nya dkemas apik, tokoh karakter ddlm cerita sgt jelas per partnya, bahasa penulisannya selalu apik.
Desi Santiani
seru thor double up,
Nda
penasaran thor,di tunggu kelanjutanya
Nda
di tunggu double up-nya thor
Murnia Nia
lanjut thor aku kirim vote ni untuk karyamu
Umi Kolifah
buat gavi menyesal Thor , ave pergi sejauh mungkin
Desi Santiani
menarikk alurnya semangat thor
merry
cinta tp menlukai psagann y,,
Nda
selalu mampir thor
Nda
ditunggu double up-nya thor 😍
Nda
ditunggu kelanjutanya thor,ceritanya seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!