NovelToon NovelToon
THE BLOGGER STORY

THE BLOGGER STORY

Status: sedang berlangsung
Genre:TimeTravel / Fantasi Timur / Wanita perkasa / Konflik etika / Fantasi Wanita / Transmigrasi
Popularitas:15.4k
Nilai: 5
Nama Author: Delia Ata

JANGAN LUPA UNTUK SELALU MEMBERIKAN DUKUNGANNYA YA...!!!

Lin Yao seorang blogger makanan didunia modern Time Travel kenegeri kuno, menjadi seorang wanita muda miskin.

Berawal hanya dengan sebuah sendok, ia menghasilkan uang sepenuhnya melalui Hobby & kecerdasannya dalam makanan.

Lin Yao memanfaatkan keterampilan memasaknya untuk bisa bertahan bertahan hidup didunia yang baru ia pijaki.

Bukan cuma untuk dirinya seorang, tapi juga bagi keluarganya.



Bagaimana kah kisah perjalan Lin Yao diDunia kuno...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

04

Sesampainya didapur, Lin Yao lalu menyebar daun bawang ketalenan. Dengan hati-hati ia memilih, membuang daun layu.

Setelah itu Yao mencucinya, dipotong halus lalu disisihkan kemangkuk usang.

Aroma daun bawang liar yang tajam dan harum, langsung memenuhi udara dapur kecil itu.

Lin Yao meraih keranjang bambu dirak kayu, mengambil tiga butir telur.

Dengan cekatan Lin Yao memecahkan telur, mengaduknya dengan sumpit hingga halus dan mengembang.

Denting sumpit memukul sisi mangkuk, menciptakan suara berderak yang renyah, mengusir keheningan diruangan berukuran 5 x 5 meter itu.

Selanjutnya bawang daun ditambahkan bersama sejumput garam, tujuh sendok tepung, aduk rata hingga membentuk adonan seperti pasta kental.

Api tungku menyala, penggorengan tanah liat diletakkan disana.

Suara mendesis lirih terdengar begitu sesendok lemak babi dituangkan kedasar wajan.

Setelah lemak berubah menjadi minyak panas, Lin Yao menuangkan campuran telur dan kucai disepanjang tepi wajan.

Letupan kecil tercipta, adonan pancake telur bawang daun mengembang, lalu mengeras renyah.

Pinggiran panekuk berubah menjadi keemasan, dengan spatula Lin Yao membaliknya agar matang merata disetiap sisinya.

Aroma gurih lezat menguar hingga tercium sampai dihalaman.

Hidung bangir Lin Song kembang kempis, mengendus asal aroma yang begitu menggoda.

Kepala kecil yang sejak tadi merunduk lesu bertumpu dilutut, mendongak kearah dimana dapur berada.

Ling Song bangkit setelah melempar batu digenggaman, berlari kecil tak sabaran menghampiri kakak perempuan.

"Kakak membuat apa...? baunya harum sekali." tanya Lin Song dengan kepala melongok kedalam wajan.

Lin Yao tersenyum, mengelus lembut kepala sang adik.

"Pancake bawang daun."

Lin Yao merobek sepotong kecil panekuk kucai dan telur yang sudah matang, memberikan pada Lin Song.

Pupil Lin Song berbinar, gigi runcingnya menggigit kecil bagian pinggiran pancake yang renyah.

Kres

"Woah, enak sekali. Renyah diluar lembut didalam." komentar jujur bocah tampan itu.

Meski hanya dibumbui garam. Namun rasa khas yang terdapat pada bawang daun, menjadikan rasa telur itu lezat.

Pipi Lin Song menggembung begitu potongan pancake ia jejalkan dalam satu suapan kemulut mungilnya. Ekspresi puas terpancar jelas diwajah kusamnya.

Lin Song melirik panekuk kucai dipiring, bibirnya ia jilat pertanda ingin. Namun ia tak berani meminta lebih, karena ia tahu makanan itu untuk nanti menu santap siang.

Lin Yao terkekeh melihat wajah lucu penuh minat adik bungsunya.

"Kakak cobalah...!" kata Lin Yao menyodorkan sepotong panekuk pada Lin Shun yang baru bergabung.

Lin Shun dengan penasan menerima, melahap dengan satu kali suapan. Indra perasanya langsung terangsang. Gurih, renyah dan lembut, bercampur menjadi satu, memanjakan lidahnya.

Lin Shun menatap sang adik penuh selidik "Yao'er, panekuk ini enak sekali. Dari mana kau mempelajarinya..?"

Lin Yao telah memiliki rencana untuk mencari nafkah dengan keterampilan memasak yang ia miliki, jadi ia perlu menemukan penjelasan yang masuk akal.

Terlebih selama ini kemampuan memasak Lin Yao asli cuma sebatas masakan rumahan kuno berbumbu garam saja.

Dizaman ini, keterampilan memasak tak banyak dimiliki orang. Bakat seorang koki diturunkan secara teliti dari generasi kegenerasi, atau dipelajari dari seorang guru melalui ritual rumit dengan biaya mahal.

Pemilik tubuh aslinya hanyalah seorang gadis biasa yang belum pernah meninggalkan kota kabupaten.

Bagaimana mungkin dia bisa mahir memasak secara tiba-tiba....

Lin Yao merendahkan suara "kakak, ketika aku terluka dan pingsan, aku mengalami mimpi yang sangat ajaib. Dalam mimpi itu disekelilingku cuma ada kabut putih tebal, aku tidak bisa melihat apa pun. Tiba-tiba cahaya merah menyilaukan muncul didepanku, membentuk tubuh seorang lelaki tua yang terlihat seperti dewa."

"Dewa itu berambut putih, panjang jenggotnya hampir menyentuh tanah. Pakaian yang dikenakan berkilauan dengan cahaya bintang kecil, dia tampak begitu agung."

Kepala ketiga saudara itu kompak condong kedepan saling mendekat.

"Dia tersenyum padaku, tetapi tidak mengatakan apa pun. Dia membawaku ketempat ajaib dimana ada meja batu besar, dipenuhi dengan makanan lezat yang belum pernah kulihat sebelumnya."

Wajah Lin Shun dan Song amat serius. Dengan cermat mereka mendengarkan lalu mencerna cerita Lin Yao.

Tahayul, cerita mistis, sumpah, atau apa pun yang didunia modern dianggap mustahil tak penting. Dimasa ini masih amat sangat dipercaya dan diyakini serta patut dijadikan pedoman.

Lin Yao semakin bersemangat saat berbicara, tangannya dengan santai menelusuri adegan dari mimpinya di udara.

"Dewa abadi itu bercerita tentang banyak makanan kepadaku, dan ketika aku bangun, cara memasak hidangan-hidangan itu terukir jelas di kepalaku."

Lin Shun dan Song membeku, dunia disekitar seolah terhenti berputar. Ruangan makin menyempit, hening tanpa secuil pun desis angin.

Lin Shun sedikit memiringkan kepala, tatapannya seolah menembus atap reot, melayang ke langit yang jauh nan sunyi, mencari sisa jejak bayang-bayang Dewa yang dibicarakan adiknya.

Untuk sesaat smeua terdiam, sebelum akhirnya Lin Shun membuka bibir pucatnya.

Dengan suara tercekat oleh emosi, Lin Shun berujar "pasti Ibu mengkhawatirkan kita. Ibu sangat menyayangi kita ketika masih hidup, ibu pasti tidak tega melihat kita bertiga menderita."

Meski pun Lin Song masih muda, ia sedikit mengerti. Tangan kecilnya mencengkeram erat ujung lengan baju Lin Yao. Kepala bocah itu mendongak kebelakang, mata sipitnya berkaca-kaca.

"Kakak perempuan, apakah itu Ibu..? Aku sangat merindukan Ibu." ucap sendu Lin Song.

Lin Yao mengulurkan tangan, menyentuh kepala Lin Song, lalu menatap Lin Shun sedih "Kakak, pasti Ibu yang melindungi kita. Dengan keahlian ini, kita bisa mendapatkan banyak uang dan hidup sejahtera dimasa depan."

Lin Shun menarik napas dalam-dalam, menekan emosi pahitnya. Dia tahu sekarang bukan waktunya untuk berduka. Adiknya benar, masih ada kehidupan panjang menanti mereka didepan sana.

Lin Shun menyeka wajahnya, menatap Lin Yao kemudian bertanya, "Yao'er, apa rencanamu..?"

Lin Yao tahu ini akan berhasil, jadi dia dengan cepat mencurahkan rencana yang telah ia pikirkan sejak berada disungai.

"Kakak, aku berencana untuk membuka kedai makan kecil didermaga, dimulai dengan panekuk kucai telur ini. Modalnya tidak banyak, rasanya juga enak kan..? jadi orang pasti akan membelinya. Setelah kita menabung cukup uang, aku bisa menambahkan beberapa menu makanan lain."

Lin Shun mengangguk. Tanpa kata pemuda itu berbalik pergi menuju kekamarnya.

Lin Shun mengeluarkan sebuah kotak kayu usang dari tumpukan jerami dibawah ranjangnya. Didalam kotak itu ada kantong kain usang.

Lin Shun membuka lapis demi lapis buntelan kain, memperlihatkan segenggam koin tembaga, uang yang ia peroleh dari menjual hasil buruannya.

Lin Shun menghitung uang itu, menyusunnya satu per satu.

"Satu, dua, tiga..." suara lirih Lin Shun terdengar samar.

Setelah selesai, ia membawa koin-koin itu lalu diserahkan kepada adik perempuannya.

"Totalnya ada seratus dua puluh wen, belilah barang-barang untuk kebutuhan kiosmu."

Mata sayu Lin Yao memanas, ia amat sangat terharu oleh kemurahan hati Lin Shun.

"Kakak, jangan khawatir, aku pasti akan mendapatkan lebih banyak uang dimasa depan. Aku tidak akan menyia-yiakan kerja keras kakak." janji parau Lin Yao.

Meski kakaknya tahu persis kemampuan memasak Lin Yao asli, tapi nyatanya pemuda itu rela memberikan tabungannya untuk dijadikan modal.

Sungguh pengorbanan dan wujud dukungan yang amat berharga serta mengharukan.

1
Zabarra
yo bisa yo tiga saudars 👏👏👏
Enah Siti
sama beladri biar tbah seru gtu 💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏🙏thor
Murni Dewita
double up thor
Murni Dewita
seharusnya tiga saudara memiliki ilmu bela diri
Murni Dewita
ko lin yao tidak memiliki ruang dimesi thor
Ari Peny
ayo2 lagi thor🤣🤣🤣
Zabarra
hadir thor 😍
Zabarra
karyamu yang gandre kuno gin bagus thor, bahanya rapi, dialognya cocok. keren 👏👏
Markuyappang
AYO PERJUANGKAN RESEP RESEP ITUU. KITA BERANTAS TIKUS LINTAH ITU GAKNADA KAPOK KAPOKNYA ISHHH KESEL BANGETT.
Sabrina
laris mansi tanjung kimpul 🤣🤣🤣
Sabrina
semangat untuk kalian 👏👏👏
Sabrina
selalu hadir untukmu thor, semangat 👐
Sabrina
Selalu keren, suka sama tata bahas dan dialog rapi, cocok sama tema cerita. Alurmya juga enggak ngebosenin..semangat thor 😍
Datu Zahra
Keren thor, tatanan bahasanya rapi, berkembang dan dialognya sangat pas demgan cerita. Karyamu emang top 👍
Datu Zahra
cakep 👏👏👏
Datu Zahra
thor, novelmu makin berkembang. bahasa kata²nya sangat cocok sama cerita. keren 🫰
Lala Kusumah
semangat Yao'er 👍👍👍💪💪💪
Murni Dewita
lanjut
Datu Zahra
punya niat jahat nih pasti Sun Dafu 😡
Markuyappang
siapa lagi itu yg bakalan ganggu jualan tiga saudara itu haishhhhhh kalo sampe bibi or paman or kakeknya awas aja. kalo ada yg mau nyuri resep yakinlah kau pasti gagallll.
semangat trs updatenyaaa 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!