Elia menikah dengan Dave karena perjodohan, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Di malam pertama, Dave membuat perjanjian pernikahan yang menegaskan bahwa Elia hanyalah istri di atas kertas. Hari-hari Elia dipenuhi kesepian, sementara Dave perlahan menyadari bahwa hatinya mulai goyah. Saat penyesalan datang dan kata “I’m sorry, my wife” terucap, akankah cinta masih bisa diselamatkan, atau semuanya sudah terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nouna Vianny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Klub Malam
Air mata itu seketika surut saat pandangannya tertuju pada tas bekal yang tertinggal di dalam mobil. Elia meraihnya, lalu membuka kotak bekal tersebut. Isinya telah habis tanpa sisa. Senyum pun perlahan terbit di bibirnya.
Di dapur, Sarah dan Lisa tampak sibuk. Keduanya tengah mempersiapkan makan malam.
“Uhm, aromanya enak sekali,” ucap Dave, yang memang mencari keberadaan ibunya begitu tiba.
“Eh, Dave, kau sudah kembali. Elia mana?” tanya Sarah sambil mengedarkan pandangan.
“Elia—”
“Aku di sini,” sahut Elia, muncul dari arah belakang.
“Astaga, Mom sedang apa? Tidak usah repot-repot, biar aku saja,” ujar Elia seraya hendak mengambil alih spatula dari tangan Sarah. Namun wanita itu dengan tegas menolaknya.
“Hari ini biar Mom yang memasak untuk kalian. Sekarang lebih baik kalian bersihkan diri dan bersiap untuk makan malam.”
“Tapi, Mom,” Elia merasa tidak enak.
“Sudah, Sayang. Mom tidak merasa keberatan. Ayo, kalian bersihkan diri dulu. Tubuh kalian bau matahari,” ujar Sarah terkekeh sambil mengipas-ngipas hidungnya.
Elia dan Dave spontan mengendus tubuh masing-masing. Keduanya sama-sama mengernyit.
“Ya sudah, kalau begitu aku mandi dulu. Tapi ingat, jika Mom butuh bantuan, segera panggil aku,” kata Elia.
“Iya, Sayang. Kau tenang saja. Sudah ada Lisa di sini,” jawab Sarah lembut.
Elia dan Dave meninggalkan dapur dengan Lisa yang senyum-senyum memperhatikan nya. "Akhirnya, malam ini Nyonya dan Tuan satu kamar. Ugh! Semoga saja keduanya saling khilaf" gumam Lisa dalam hati.
Di kamar Elia merasa canggung. Terlebih ia baru menginjak kamar Dave. Kamar yang begitu luas dan aroma pengharum ruangan mahal, karena dibuat menjadi kamar utama. Matanya mengelilingi setiap sudut, seraya mencari barang-barang nya yang dipindahkan oleh Lisa.
Sementara itu, Dave memilih merokok di balkon kamarnya, menikmati suasana sore yang cerah.
“Lebih baik aku siapkan dulu air panas untuk Dave,” ucap Elia pelan, lalu segera masuk ke dalam bilik mandi.
Ting!
Ponsel Dave bergetar, menandakan pesan masuk. Ia segera meraihnya dan memeriksa layar. Seketika, senyum terbit di wajahnya saat melihat nama Bianca tertera di sana. Kekasihnya itu mengabarkan, jika ia membatalkan ajakan teman-temannya untuk pergi ke klub malam malam ini.
Elia yang baru saja keluar dari bilik mandi menyaksikan pemandangan itu. Langkahnya pun terhenti. Tubuhnya mematung saat melihat raut wajah Dave yang begitu ceria.
"Bahkan aku tidak pernah mendapatkan senyuman setulus itu darimu, Dave", batin Elia. Rasa penasaran pun muncul. Siapa sosok yang sedang bercengkrama dengannya melalui ponsel?
“Dave,” tegur Elia pelan.
“Hm,” jawab Dave singkat, matanya tetap fokus pada layar ponsel.
“Air hangatnya sudah siap. Kau bisa mandi sekarang.”
“Ya, sebentar.”
Elia melangkah perlahan, berdiri di samping Dave. Dengan samar ia melihat layar ponsel yang dilapisi pelindung kaca berwarna gelap. Dave spontan mematikan layar ponselnya.
“Kau sedang apa?” tanya Dave ketus.
“Aku hanya memperhatikan… kau tampak begitu asyik dengan ponselmu,” kata Elia, memberanikan diri.
Dave bangkit dari duduknya. Elia refleks menggeser posisinya sedikit. “Kau ini, sudah berapa kali aku bilang untuk tidak mencampuri urusanku? Dan kau masih ingat, kan, perjanjian yang sudah kita buat?” ucap Dave tegas.
“Bisakah kita menjalani pernikahan ini dengan normal, Dave? Tidak perlu ada perjanjian yang membatasi kita,” ucap Elia terisak. Ia tak lagi sanggup menahan air mata yang sejak tadi tertahan.
Dave menghela napas kasar. “Tidak!”
“Kenapa, Dave?” lirih Elia.
“Karena aku tidak mencintaimu, Elia. Sejak awal kau tahu, kan, kalau aku tidak menginginkan pernikahan ini,” jelas Dave tanpa ragu.
“Tapi, Dave—”
“Sudahlah, Elia. Aku sudah pernah bilang, aku tidak suka drama. Kalau kau sudah tidak tahan dengan sikapku,” Dave berhenti sejenak, menatap Elia dingin, “kau tahu, kan, bagaimana cara mengurus surat perceraian?”ucap Dave melewati Elia tanpa menoleh dan masuk ke dalam bilik mandi.
Tubuh Elia meremang. Rasanya sangat sakit mendengar kata cerai. "Jika aku tidak jatuh cinta padamu mungkin rasanya tidak akan sesakit ini".
Ya, Elia mengakui jika dirinya telah jatuh hati pada Dave. Bahkan saat pertama kali bertemu. Meski sebelumnya ia pernah berpacaran dengan pria lain. Tak dapat di pungkiri jika Dave lah yang paling menggetarkan hati nya.
Sementara di tempat lain, Bianca tengah bersiap untuk malam ini. Ia sedang membersihkan diri sambil berendam di dalam bathtub.
"Maaf,Dave. Tapi aku juga butuh hiburan". Gumam nya . Ia berbohong pada Dave, jika ia tidak jadi pergi ke klub. Namun ia juga tidak ingin rasa cemburu membakar nya karena mengetahui ia sedang bersama Elia seharian penuh.
“Sudahlah, Elia. Aku sudah pernah bilang, aku tidak suka drama. Kalau kau sudah tidak tahan dengan sikapku,” Dave berhenti sejenak, menatap Elia dengan sorot mata dingin, “kau tahu, kan, bagaimana cara mengurus surat perceraian?”
Tanpa menunggu jawaban, Dave melewati Elia begitu saja dan masuk ke dalam bilik mandi.
Tubuh Elia meremang. Kata cerai terasa menghantam telinganya dengan kejam. Dadanya sesak, napasnya tercekat.
"Jika aku tidak jatuh cinta padamu, mungkin rasanya tidak akan sesakit ini". batinnya lirih.
Ya, Elia mengakui bahwa ia telah jatuh hati pada Dave. Bahkan sejak pertemuan pertama mereka. Meski sebelumnya ia pernah berpacaran dengan pria lain, tak bisa dipungkiri, Dave-lah yang paling menggetarkan hatinya.
Sementara itu, di tempat lain, Bianca tengah bersiap untuk malam ini. Ia membersihkan diri sambil berendam di dalam bathtub, membiarkan air hangat menenangkan pikirannya.
“Maaf, Dave. Tapi aku juga butuh hiburan,” gumamnya sendirian.
Bianca berbohong. Ia tidak benar-benar membatalkan rencana pergi ke klub malam. Namun ia juga tak sanggup membiarkan rasa cemburu membakarnya. Terlebih setelah tahu Dave menghabiskan seharian penuh bersama Elia.
Selesai membersihkan diri, Dave keluar dari bilik mandi. Pandangannya langsung tertuju pada pakaian yang telah disiapkan rapi di atas tempat tidur.
Ia meraih salah satunya, lalu mengernyit.
“Pakaian dalam ini… sepertinya aku baru melihatnya.”
Belum sempat ia berpikir lebih jauh, pintu kamar terbuka tanpa ketukan. Elia terhenti di ambang pintu, lalu spontan mengalihkan pandangan saat melihat Dave yang hanya mengenakan handuk.
“M-maaf… aku tidak tahu kau sudah keluar,” ucapnya gugup, bersiap berbalik.
“Tunggu!” Dave menahan langkah Elia.
“Ya?” sahut Elia tanpa menoleh.
Dave mengangkat pakaian dalam itu sedikit. “Yang ini… aku belum pernah memilikinya.”
“Oh, itu,” jawab Elia pelan. “Kemarin saat
aku belanja kebutuhan dapur, aku ingat beberapa pakaian dalammu sudah melar dan ada yang robek. Jadi aku memutuskan membelikan yang baru.”
Dave terdiam. Untuk pertama kalinya sejak tadi, dadanya terasa tidak nyaman. Ada rasa bersalah yang samar tentang kata-kata kejam yang ia ucapkan sebelumnya.
Dave melangkah mendekat. Handuk di pinggangnya bergerak pelan seiring langkahnya.
“Lain kali, kau tidak perlu repot-repot membeli barang pribadiku,” ucapnya datar. “Aku bisa memesannya sendiri lewat aplikasi.”
Elia hanya mengangguk. Jantungnya berdegup kencang. Aroma sabun dari tubuh Dave menguar lembut, membuat pikirannya semakin kacau.
“Kau kenapa?” tanya Dave, lalu tanpa menunggu jawaban, ia memutar tubuh Elia menghadapnya.
Tanpa sengaja, wajah Elia menempel di dada Dave yang masih dingin dan harum. Ia refleks mengangkat kepala. Pandangan mereka bertemu—terlalu dekat, terlalu lama. Elia tersadar lebih dulu.
“Eh—” Elia segera melepaskan diri, melangkah mundur sebelum jarak itu berubah menjadi sesuatu yang tidak seharusnya. Keheningan kembali jatuh—kali ini jauh lebih berat dari sebelumnya.
“Aku mau mandi dulu,” ucapnya singkat, lalu bergegas masuk ke dalam bilik mandi tanpa menoleh lagi.
Dave hanya diam di tempat, memperhatikan punggung Elia hingga pintu tertutup rapat. Tanpa ia sadari, senyum tipis terbit di sudut bibirnya. Senyum yang tak pernah Elia lihat.
Di dalam bilik mandi, Elia menyandarkan punggungnya di balik pintu. Napasnya masih belum sepenuhnya teratur. Perlahan, senyum kecil terukir di bibirnya. Kedua tangannya menempel di dada, mencoba menenangkan detak jantung yang berdebar tak biasa.
Ada sesuatu yang berdesir di dalam dirinya. Perasaan asing, hangat, dan membingungkan. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
“Elia, apa yang kau pikirkan…” gerutunya pelan, berbicara pada dirinya sendiri.
Selesai membersihkan diri, keduanya keluar dari kamar. Dave merangkul bahu istrinya saat menghampiri Sarah yang tengah menonton televisi.
“Oh, kalian sudah keluar dari kamar. Ayo, kita makan malam bersama,” ajak Sarah sambil mematikan televisinya.
Elia dan Dave hanya mengangguk. Namun bagi Elia, suasana hatinya masih belum sepenuhnya stabil setelah kejadian tadi.
Di ruang makan, Lisa datang membawa beberapa menu masakan buatan Sarah. Semuanya masih hangat, dengan aroma yang menggugah selera.
“Uhm, baunya enak sekali,” ujar Elia sambil menghirup aroma masakan mertuanya.
“Kau mau makan apa? Biar ku ambilkan,” lanjutnya sambil menoleh ke arah Dave.
Dave berdeham kecil. “Ambilkan aku daging, Sayang,” ucapnya dengan penekanan yang disengaja.
Elia langsung menangkap maksud itu. Mereka harus terlihat harmonis,setidaknya di hadapan Sarah.
“Baik, Sayang. Ini,” kata Elia sambil menyodorkan piring berisi daging asap kesukaan Dave.
Sarah tersenyum-senyum melihat pemandangan tersebut. “Biarkan saja anak itu mengambil makanannya sendiri, Nak,” timpalnya ringan.
“Tidak apa-apa, Mom. Ini sudah kewajibanku sebagai istri,” sahut Elia lembut.
Dave menerima piring itu dan tersenyum tipis. Senyum yang terlihat cukup meyakinkan bagi siapa pun yang melihat, meski maknanya hanya mereka berdua yang tahu.
Di tempat lain, hal serupa juga terjadi. Ketiga pemuda yang sebelumnya diantar pulang kini tengah menyantap makan malam di kediaman masing-masing. Kepulangan mereka yang mendadak sempat mengejutkan keluarga, terlebih tanpa kabar sebelumnya. Namun perlahan, suasana kembali mencair seiring hidangan malam yang tersaji.
Bianca kini tengah bersiap setelah mengisi perutnya. Ia tak ingin membuat temannya menunggu terlalu lama.
Beberapa rangkaian kosmetik dan skincare tersusun rapi di atas meja rias—produk-produk buatan Dave sendiri yang selama ini ia gunakan. Dengan telaten, Bianca merias wajahnya, memastikan setiap detail tampak sempurna. Tak lupa, ia menyemprotkan parfum mahal di beberapa titik tubuhnya.
“Selesai,” gumamnya pelan sambil menatap bayangannya di cermin.
Ia mengenakan gaun panjang berwarna merah muda yang dibelinya beberapa waktu lalu di mal. Potongan dengan lengan rendah itu membuatnya tampak semakin anggun. Lekuk tubuhnya yang sedikit berisi justru memberi kesan dewasa dan menawan.
Dering ponsel memecah keheningan. Bianca segera meraih ponselnya dari dalam clutch.
“Halo?”
[Aku sudah di parkiran apartemen mu], terang Clara di seberang.
“Baik, aku akan segera turun,” jawab Bianca singkat sebelum memutus sambungan.
Ia mengambil napas kecil, lalu melangkah keluar kamar. Siap menghabiskan malam dengan caranya sendiri.
Selesai makan malam dan berbincang dengan keluarga, Erik masuk ke kamarnya. Ia mengecek jadwal kegiatannya lebih dulu. “Uhm, jadwalku besok belum terlalu padat,” gumamnya.
Erik meraih ponsel dari saku celananya, lalu membuat panggilan grup dengan Albert dan James.
“Halo.”
[Halo], jawab Albert dan James hampir bersamaan.
“Kalian lagi sibuk?” tanya Erik.
[Kalau aku tidak. Baru saja selesai makan malam], jawab James.
[Sama, aku juga], sahut Albert.
“Bagus. Kalian tidak merasa jenuh?” lanjut Erik.
[Tidak], jawab mereka kompak.
“Maksudku, karena jadwal kita masih longgar… bagaimana kalau kita pergi ke klub malam?” ajak Erik.
[Hmmm… bagaimana ya], gumam James ragu.
[Kau baru saja pulang setelah lima tahun merantau. Kenapa tidak menghabiskan waktu dengan keluarga saja?], ujar Albert.
“Aku tahu. Tapi kita juga sudah lama tidak merasakan suasana malam kota Bangkok,” balas Erik.
Di seberang, suara mendadak hening.
“Bagaimana?” Erik memastikan.
[Baiklah, aku setuju. Bagaimana denganmu, James?], tanya Albert.
[Oke. Pakai mobilmu saja, Rik. Kau jemput kami ke rumah], jawab James.
[Setuju. Karena kau yang mengajak], tambah Albert.
“Ya, ya, baiklah. Aku akan menjemput kalian. Bersiaplah dari sekarang,” kata Erik.
Dentuman musik menghentak, berpadu dengan sorot lampu warna-warni yang seolah menyambut setiap tamu yang melangkah masuk ke klub malam itu. Suasana hiruk-pikuk langsung menyergap indra.
Para penjaga bertubuh tinggi besar dengan raut wajah sangar berdiri tegap di berbagai sudut ruangan. Tatapan mereka awas, memastikan keamanan tetap terjaga dan tak ada tamu yang berani membuat keributan.
Bianca dan Clara tiba di depan pintu masuk klub, lalu langsung melangkah menuju meja resepsionis.
“Selamat malam, Nona,” sapa resepsionis itu ramah.
“Berikan aku meja VIP yang kosong. Yang menghadap ke pantai,” pinta Bianca dengan nada angkuh sambil mengeluarkan sebuah kartu hitam dari dalam clutch-nya. Aksi itu sontak membuat Clara tercengang.
“Mohon ditunggu sebentar, Nona,” ujar resepsionis tersebut sopan. Ia segera memeriksa ketersediaan meja yang dimaksud. Tanda Available terpampang jelas di layar komputer. Tanpa menunggu lama, ia mengklik pilihan itu dan mencetak bill sebagai tanda jadi. “Ini, Nona. Bill-nya.”
Bianca menempelkan kartu hitamnya ke mesin pembayaran. Beberapa detik kemudian, selembar struk keluar.
Resepsionis lalu berbicara singkat melalui interkom, meminta pelayan untuk mengantar tamu VIP tersebut. Tak lama kemudian, seorang wanita datang menghampiri.
“Silakan, Nona. Saya antar,” ucapnya.
Bianca dan Clara tak berkata apa pun. Keduanya mengikuti sang pelayan menuju meja mereka.
“Aku mau satu botol whisky yang paling mahal,” pinta Bianca dengan nada sombong begitu duduk.
Clara menelan ludah.
“Eh, Bianca—”
Bianca mengangkat tangannya, menghentikan Clara. “Malam ini aku yang bayar,” katanya tegas.
Clara langsung tersenyum lebar, bahkan bertepuk tangan pelan penuh antusias.
“Baik, Nona. Ada lagi pesanannya?” tanya pelayan itu.
“Aku juga mau makanan yang enak dan buah potong.”
“Baik, Nona. Ada lagi?"
“Cukup.”
“Baik, mohon ditunggu sebentar.”
Bianca mengangguk pelan tanpa berkata apa-apa. Pandangannya lalu tertuju pada Clara yang tampak begitu bahagia malam itu.
“Bianca, dari mana kau mendapatkan kartu hitam itu?” tanya Clara penasaran.
“Jelas saja dari kekasihku,” jawab Bianca dengan nada penuh kebanggaan.
“Dave memberimu black card?” seru Clara spontan, suaranya sedikit terlalu keras hingga membuat beberapa pengunjung menoleh ke arah mereka.
Bianca langsung melirik tajam. “Kau ini memalukan sekali.”
“M-maaf,” ucap Clara cepat sambil menangkupkan kedua tangannya. “Aku hanya… tidak menyangka.”
Bianca menyandarkan tubuhnya santai, seolah menikmati sorotan dan kemewahan yang mengelilinginya malam itu.
Albert, James, dan Erik juga telah tiba di klub yang sama. Begitu turun dari mobil, mereka langsung menuju pintu masuk dan menjalani serangkaian pemeriksaan dari para penjaga depan. Setelah dinyatakan aman, ketiganya dipersilakan masuk.
“Kalian berdua saja yang pesan,” titah James sambil melangkah lebih dulu ke arah sofa. Ia memilih duduk santai, sibuk memainkan ponselnya.
Albert dan Erik menurut. Keduanya menghampiri resepsionis dan meminta meja di area VIP yang menghadap ke pantai.
Sambil menunggu pengecekan ketersediaan tempat, Erik tak henti-hentinya bersiul kecil, matanya mengikuti para gadis cantik yang datang tanpa pasangan.
“Jangan bikin malu, mengerti?” ancam Albert pelan namun tegas.
“Kau ini terlalu tegang. Santai saja,” sahut Erik sambil terkekeh. “Malam ini kita harus bersenang-senang sebelum kembali bekerja. Sayangnya Dave sudah menikah. Kalau belum, pasti akan lebih seru.”
Setelah pembayaran selesai, ketiganya diantar menuju area VIP yang mereka pesan.
“Bawakan kami satu botol whisky, buah potong, dan camilan,” pinta James setelah mereka duduk.
“Eh, kenapa cuma satu? Dua saja,” sela Erik cepat.
“Satu saja,” jawab James datar.
“Dua,” Erik bersikeras.
Pelayan yang mencatat pesanan tampak bingung. Kepalanya menoleh bergantian ke arah Albert dan James.
“Hei, hentikan,” Albert menengahi.
“Satu saja,” tegasnya.
“Baik. Ada pesanan lain?” tanya pelayan itu sopan.
“Aku pesan wanita cantik, bisa?” celetuk Erik santai.
“Astaga, jangan dengarkan dia,” sahut James cepat. “Segera buatkan pesanan kami.”
“Baik, mohon ditunggu sebentar,” ujar pelayan itu sebelum undur diri.
Erik mendecak kesal. “Kalian ini payah. Kenapa tidak sekalian pesan wanita untuk menemani kita?”
Albert dan James hanya saling pandang, lalu menggeleng pelan. Kebiasaan Erik memang tak pernah berubah setiap kali berada di tempat hiburan malam.
Pesanan untuk Bianca dan Clara akhirnya tiba. Satu botol whisky mahal masih tersegel, lalu dibuka di hadapan mereka. Bianca menuangkannya ke dalam dua gelas, menyerahkannya satu pada Clara.
Keduanya bersulang, lalu meneguk isinya hingga tandas.
“Wah… ini whisky terenak yang pernah aku minum,” ujar Clara dengan mata berbinar.
Bianca hanya tersenyum tipis, tampak puas. Sama sekali tak terlintas di benaknya bahwa setiap transaksi yang ia lakukan malam ini akan tercatat rapi. Dan cepat atau lambat, Dave pasti akan melihat mutasi itu.
Lampu klub terus berputar, dentuman musik semakin menghentak. Bianca berdiri dari kursinya, membawa gelas di tangan, berniat menuju balkon kecil yang menghadap pantai. Clara menyusul di belakang, sedikit sempoyongan.
Di saat yang sama, Erik bangkit dari sofa VIP miliknya. Pandangannya tertarik pada siluet seorang wanita bergaun merah muda yang berjalan anggun di tengah keramaian. Tanpa terlalu memperhatikan sekitar, ia melangkah maju.
Bruk!
Tubuh mereka bertabrakan. Gelas di tangan Bianca hampir terlepas, sebagian isinya tumpah membasahi lantai dan sedikit mengenai gaunnya.
“Hey!” Bianca tersentak, wajahnya langsung berubah kesal. “Apa kau tidak bisa melihat jalan?!”
Erik refleks menahan lengan Bianca agar tidak terjatuh. “Whoa, santai. Klub ini gelap, bukan salahku sepenuhnya.”
Tatapan Bianca naik perlahan dari tangan Erik yang masih mencengkeram pergelangannya, ke wajah pria itu. Alisnya terangkat tipis, menilai. Tampan. Terlalu santai. Terlalu percaya diri.
“Lepaskan,” ucap Bianca dingin.
Erik menurut, tapi senyum nakalnya belum hilang. “Maaf. Tapi kalau kau jatuh, itu akan jadi dosa besar malam ini.”
Bianca mendengus pelan. “Gombal murahan.”
Clara akhirnya menyusul. “Bianca, kau tidak apa-apa?”
“Aku baik,” jawab Bianca singkat, lalu kembali menatap Erik. “Hati-hati lain kali.”
Ia berbalik hendak pergi, namun Erik melirik noda kecil di gaun Bianca.
“Gaunmu kena tumpahan. Kalau mau, aku bisa gantikan minumannya.”
Bianca berhenti melangkah. Ia menoleh perlahan, menatap Erik dengan senyum tipis senyum yang penuh perhitungan.
“Aku tidak biasa menerima tawaran dari orang asing.”
“Kalau begitu,” Erik mengangkat bahu, “anggap saja kita baru berkenalan.”
Dari kejauhan, Albert memperhatikan interaksi itu dengan tatapan tajam. James berdecak pelan.
“Dia sudah mulai lagi,” gumamnya.
Dave karakter sangat kuat sdngkn istri melohoyyy apa dia bias marah
kalau bisa Weh luar biasa lain ini Thor
kenal mama Reni ga
uhhh istri sah dapat Otong sisa 🤭
semoga berbeda ini cerita