Nethaniel adalah pria muda tampan, sukses, dan berkarisma. Lahir di tengah keluarga konglomerat dan hidup berkelimpahan. Namun ada yang kurang dan sulit diperoleh adalah pasangan hidup yang tulus mencintainya.
Ketika orang tua mendesak agar segera berkeluarga, dia tidak bisa mengelak. Dia harus menentukan pilihan, atau terima pasangan yang dipilih orang tua.
Dalam situasi terdesak, tanpa sengaja dia bertemu Athalia, gadis cantik sederhana dan menarik perhatiannya. Namun pertemuan mereka membawa Nethaniel pada pusaran konflik batin berkepanjangan dan menciptakan kekosongan batin, ketika Athalia menolaknya.
》Apa yang terjadi dengan Nethaniel dan Athalia?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "I Miss You Because I Love You."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. IMU coz ILU
...~•Happy Reading•~...
Athalia berdiri mematung sambil melihat wajah Ethan yang keras dan tulang rahangnya terlihat jelas bergerak menahan marah. Dia seakan tidak mengenal Niel, pria pertama yang membuat hatinya bergetar dan sanggup membuatnya tidak bisa berpaling.
Namun saat ini, hatinya yang hancur dan sakit membuat dia tidak bisa berpikir baik. Pria yang telah jadi pacarnya bukan pria biasa dengan segala atribut yang menempel padanya.
Dia benar-benar shock mengetahui siapa Niel dan melihat dia digandeng oleh seorang wanita di depan matanya. Hatinya panas dan hancur berkeping-keping.
Cinta dan kebahagiaan yang baru dirasakan bagaikan bunga yang belum sempat mekar sudah disiram air raksa. Semua impian yang datang perlahan, pupus di awal kisah perjalanan cintanya.
~••~
"Mengapa membohongiku?" Athalia coba mengatakan satu rasa dari sekian banyak rasa yang menyesakan dadanya.
"Membohongimu? Apa kalau pertama kali aku bilang siapa aku, kau mau pacaran denganku?"
"Tidak." Jawab Athalia cepat dan singkat.
"Sudah dengar jawabanmu?" Ethan mengatakan sambil membuka tangannya.
"Tapi mengapa mempermainkan aku? Mengapa membiarkan aku berharap? Me nga pa..." Athalia bertanya berulang dan makin menangis.
"Mempermainkanmu? Siapa mempermainkanmu?"
"Lalu tadi di lobby apa? Tadi siapa?" Athalia tidak bisa mengendalikan emosi dan hatinya yang panas dan sedih.
"Mau dengar aku?" Ethan menurunkan nada suata mendengar yang dikatakan Athalia. Jadi bukan semata karena dia adalah Nethaniel.
"Tidak." Athalia kembali tidak mau. "Pak, saya hanya..." Athalia tidak meneruskan, karena kakinya sudah tidak sanggup menopang tubuhnya.
"Saya tidak tahan di sini. Saya akan berhenti bekerja. Saya tidak sanggup......" Athalia terdiam, karena tidak sanggup mengatakan apa yang menghancurkan hatinya. Mengakhiri hubungan mereka.
Dia menyimpan di sudut hati, saat melihat gadis cantik menggandeng Ethan sambil tersenyum bahagia. Setiap kali mengingat itu, hatinya seperti dirobek.
Dia langsung melangkah cepat untuk meninggalkan rooftop. "Kau tetap bekerja di sini. Aku yang pergi." Ethan membuat keputusan dalam keputusasaan untuk mempertahankan Athalia.
"Kau sangat kejam padaku. Hanya dengan melihat itu, kau melupakan janjimu padaku?" Ethan bertanya sambil menatap Athalia yang berbalik melihatnya. Athalia tidak berkata sesuatu, agar tidak menambah luka di hati mereka.
"Jika kau berhenti dari sini, kau akan membayar untuk itu." Ucap Ethan lagi saat melihat keteguhan di mata Athalia.
Dia mengeluarkan ponsel. "Rion, naik ke rooftop." Ucap Ethan, lalu membelakangi Athalia yang terdiam sambil air matanya mengalir melihat punggung pria yang dicintainya.
"Saya, Pak." Rion berlari mendekati bossnya yang sedang menatap langit kota Jakarta yang sedang mendung.
"Antar Talia pulang. Berikan istirahat hanya satu hari. Jelaskan padanya, konsekuensi jika dia berhenti bekerja dari sini." Ethan bicara tanpa menengok ke arah Athalia.
"Baik, Pak." Rion mengerti yang dimaksudkan bossnya.
"Mari Nona Talia. Ikut saya." Rion menggerakan tangan mempersilahkan Athalia turun.
Sebelum masuk ke lift, Athalia menengok melihat Niel untuk terakhir kali. Hatinya seperti lepas dari tempatnya dan hancur melihat Ethan mengusap wajahnya dengan kedua tangan tanpa menengok ke arahnya.
Setelah Rion dan Athalia meninggalkan rooftop, Ethan berteriak untuk melonggarkan dadanya. Teriakannya seakan memanggil hujan yang mulai turun. Alam seperti ingin memadamkan bara api di hati, agar tidak membakarnya.
~••~
Rion yang sedang di lift untuk mengantar Athalia, berpikir keras menterjemahkan perintah bossnya. Dia tidak tega melihat Athalia menghadap dinding lift untuk menyembunyikan tangisnya yang tidak bisa berhenti.
Ketika bunyi lift berhenti, Athalia berbalik. "Pak, maaf. Saya minta ijin ke toilet." Ucap Athalia tanpa melihat Rion.
"Iya, Non. Tunggu saya di toilet. Jangan ke mana-mana. Saya akan ambil tas Nona." Ucap Rion, serius. Dia khawatir Athalia melarikan diri.
"Tapi, saya harus minta ijin Pak Cano dulu, Pak." Athalia ingat tasnya.
"Tidak usah Nona pikirkan. Saya yang urus. Nona tolong bersihkan wajah sebelum saya kembali jemput..." Rion menjelaskan permintaannya, karena mereka akan keluar lewat lobby.
"Iya, Pak." Jawab Athalia pelan, lalu berjalan cepat ke toilet sambil menunduk untuk menyembunyikan wajahnya.
Setelah Athalia masuk ke toilet, Rion segera menuju ruangan administrasi dan berbicara dengan supervisor tentang Athalia. "Baik, Pak. Silahkan." Supervisor mempersilahkan sambil mengantar Rion keluar dan menunjuk meja kerja Athalia.
"Terima kasih." Ucap Rion setelah mengambil tas dan paper bag Athalia.
"Sama-sama, Pak." Ucap Supervisor sopan. Dia jadi tahu, siapa di balik Athalia.
Supervisor hanya bisa diam melihat Rion meninggalkan ruangan. Begitu juga dengan Alea yang sudah kembali bersama beberapa rekan yang melihat perlengkapan Athalia dibawa.
'Ternyata Athalia yang berhubungan dengan petinggi.' Supervisor membatin sambil kembali ke ruang kerja. Dia jadi mengerti, mengapa Athalia dan Alea dipindahkan ke administrasi.
Sambil membawa perlengkapan pribadi Athalia, Rion menuju toilet dan mengetuk pintu sambil memanggil Nona. Dia berharap tidak terjadi sesuatu dengan Athalia dalam toilet.
Ketika Athalia keluar, Rion bernafas lega. "Ini perlengkapan Nona. Mari kita cepat keluar dari sini sebelum semua bubar."
Mereka berjalan cepat di lobby. Athalia terus menunduk karena air matanya tidak bisa berhenti. "Silahkan naik, Nona. Ini mobil saya." Ucap Rion cepat, sebab melihat Athalia ragu untuk naik.
"Iya, Pak. Terima kasih." Ucap Athalia pelan. Rion ikut naik, tapi duduk di depan bersama sopir. Jantungnya berdegup kuat melihat mobil bossnya sudah tidak ada di depan lobby. Pertanda bossnya sudah meninggalkan kantor.
~••~
Beberapa waktu kemudian, mobil Ethan masuk ke mansion. Dia turun dan melangkah cepat menuju ruang keluarga, karena melihat mobil orang tua dan Opahnya sudah ada di halaman.
"Akhirnya kau datang." Ayahnya sambut dengan marah meluap, karena dibilang akan menunggu, tapi justru mereka yang menunggunya dan hadapi investigasi Opahnya.
Mamah Ethan memegang tangan suaminya, karena melihat wajah Ethan tidak kalah marah. Dia khawatir terjadi sesuatu dengan mereka berdua dan Papahnya.
"Sekarang, Papah jelaskan padaku. Mengapa tiba-tiba putuskan mau adakan perkenalan hari ini. Sedangkan aku sedang lakukan perombakan?" Ethan bertanya tanpa duduk.
"Kau bisa lakukan itu, setelah resmi diperkenalkan. Untuk apa terus di belakang layar?" Bentak Papahnya.
"Lalu Papah putuskan tanpa diskusi denganku?"
"Kalau diskusi denganmu, akan ada seribu alasan untuk ditunda. Kau jangan bicara yang sudah terjadi. Sekarang jawab, apa yang kau lakukan pada Velina."
"Bagus. Sudah bicara namanya. Untuk apa dia datang tadi?"
"Kau bertanya untuk apa? Kau pura-pura tidak tahu atau bodoh?"
"Tidak perlu bertanya pertanyaan bodoh itu. Katakan tujuan Papa menyusupkan dia seperti maling." Ethan yang sedang emosi, makin emosi dengar pertanyaan Papahnya sama dengan Velina.
"Nethaniel. Jaga bicaramu." Bentak Papahnya. Mamanya hendak melerai, tapi Opahnya menggerakan tangan untuk menyuruh diam.
"Papah yang jaga bicara dan tahu batasnya." Ethan balik membentak dengan suara lebih keras.
"Kau yang harus tahu batas dan jaga sikap. Apa pergi ke mana-mana dengan karyawan resepsionis itu, pantas?" Pertanyaan Papahnya membuat mata Ethan membara.
...~•••~...
...~•○♡○•~...