Di sudut sepi Yogyakarta, di bawah naungan pohon beringin yang tua, terdapat sebuah warung tenda yang tidak terdaftar di peta manapun. Warung itu tidak memiliki nama, tidak memiliki daftar harga, dan hanya buka ketika lonceng tengah malam berdentang.
Pemiliknya adalah Pak Seno, seorang koki bisu dengan tatapan mata setenang telaga namun menyimpan ribuan rahasia. Pelanggannya bukanlah manusia yang kelaparan akan kenyang, melainkan arwah-arwah gentayangan yang kelaparan akan kenangan. Mereka datang untuk memakan "hidangan terakhir"—resep dari memori masa hidup yang menjadi kunci untuk melepaskan ikatan duniawi mereka.
Kehidupan sunyi Pak Seno berubah ketika Alya, seorang gadis remaja yang terluka jiwanya dan berniat mengakhiri hidup, tanpa sengaja melangkah masuk ke dalam warung itu. Alya bisa melihat mereka yang tak kasat mata. Alih-alih menjadi santapan makhluk halus, Alya justru terjebak menjadi asisten Pak Seno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Tangga Menuju Langit dan Penjaga Gerbang
Kompleks Makam Raja-Raja Imogiri bukanlah tempat wisata biasa. Terletak di atas bukit Merak, tempat ini adalah peristirahatan terakhir para penguasa tanah Jawa. Di mata orang awam, ia megah dan bersejarah. Di mata batin Alya, ia adalah benteng spiritual raksasa yang memancarkan cahaya putih menyilaukan, saking sucinya hingga membuat mata perih.
Mereka tiba saat matahari baru saja tergelincir di ufuk barat, menyisakan semburat jingga yang muram.
Seno memarkir motornya di area bawah. Dia tidak langsung mengajak Alya naik. Dia mengeluarkan buntalan kain dari tasnya.
"Kita mau ngapain, Pak? Piknik?" tanya Alya polos.
Seno menggeleng. Dia menyerahkan selembar kain batik panjang (jarik) dan atasan kebaya lurik sederhana kepada Alya. Untuk dirinya sendiri, dia mengeluarkan beskap hitam dan blangkon.
KITA AKAN MASUK KE WILAYAH SAKRAL. TIDAK BOLEH PAKAI JEANS ATAU JAKET DENIM. HARUS PAKAI PAKAIAN ABDI DALEM (PELAYAN RAJA) SEBAGAI TANDA HORMAT.
"Yah... ribet amat," keluh Alya. "Susah jalan dong pakai jarik?"
MEMANG. AGAR LANGKAH KITA PELAN DAN TERATUR. AGAR KITA TIDAK SOMBONG.
Alya menurut. Dia berganti pakaian di toilet umum yang sepi. Saat dia keluar, penampilannya berubah total. Alya yang tomboy terlihat anggun (dan sedikit canggung) dalam balutan kebaya.
Gulo, si Bajang, menolak memakai baju. Dia memilih bersembunyi di dalam tas selempang Alya, hanya menyisakan matanya yang mengintip takut-takut. Bagi makhluk hutan liar seperti Gulo, aura kesucian tempat ini membuatnya sesak napas.
Mereka berdiri di kaki tangga.
Di hadapan mereka, membentang ratusan anak tangga batu yang menanjak curam menembus kabut, seolah menuju pintu langit.
"Konon katanya ada 409 anak tangga," bisik Alya, mengingat pelajaran sejarah. "Kalau kita bisa menghitungnya dengan tepat sampai atas, permohonan kita terkabul."
Seno menatap tangga itu. Wajahnya serius.
JANGAN MENGHITUNG. ITU JEBAKAN PIKIRAN. FOKUS PADA NAPAS. SETIAP LANGKAH ADALAH DOA.
Mereka mulai mendaki.
Satu. Dua. Tiga.
Awalnya terasa biasa saja. Tapi begitu melewati anak tangga ke-50, Alya merasakan sesuatu yang aneh.
Kakinya terasa berat. Sangat berat. Seolah ada pemberat besi yang diikatkan di pergelangan kakinya.
Udara menjadi tipis. Bau dupa dan kembang setaman tercium samar, padahal tidak ada siapa-siapa di sekitar mereka.
"Pak..." napas Alya mulai memburu. "Kok... berat banget ya?"
Seno menoleh. Dia tidak tampak lelah, tapi keringat dingin membasahi pelipisnya.
Dia menunjuk dada Alya.
TANGGA INI MENIMBANG DOSA DAN BEBAN HATI. SEMAKIN BANYAK PENYESALAN YANG KAMU BAWA, SEMAKIN BERAT LANGKAHMU.
Alya menggigit bibir. Penyesalan? Dia punya gudangnya. Penyesalan kabur dari rumah, penyesalan membenci orang tuanya, penyesalan ingin mati.
Setiap langkah menjadi siksaan. Lutut Alya gemetar. Dia ingin berhenti. Dia ingin duduk.
Jangan berhenti, suara Pak Haris terngiang di kepalanya. Jangan berhenti menulis ceritamu.
Alya memaksakan kakinya melangkah. Dia mencengkeram kain jariknya erat-erat.
Gulo di dalam tas mencicit pelan, dia juga merasakan tekanannya.
Mereka sampai di sebuah pelataran peristirahatan di tengah tangga.
Di sana, berdiri sebuah gapura batu kuno.
Dan di depan gapura itu, berdiri sosok penjaga.
Bukan manusia.
Seorang kakek tua bungkuk, mengenakan pakaian peranakan lengkap dengan samir (kalung kain) berwarna merah tua. Dia memegang tombak pusaka yang ujungnya berkarat namun memancarkan aura biru.
Wajahnya keriput, matanya putih semua tanpa pupil, dan kakinya tidak menapak tanah.
Abdi Dalem Gaib. Penjaga setia yang bersumpah menjaga makam rajanya bahkan setelah mati ratusan tahun lalu.
Seno langsung berhenti. Dia melakukan sembah sujud di tangga batu yang dingin.
Alya ikut berlutut di sampingnya, menundukkan kepala dalam-dalam. Jantungnya berdegup kencang.
"Sopo kowe?" (Siapa kamu?) suara kakek itu terdengar langsung di dalam kepala Alya, bukan lewat telinga. Suaranya berwibawa, seperti suara guruh yang tertahan.
Seno mengangkat wajahnya sedikit, lalu membuat gerakan tangan khusus—bahasa isyarat keraton kuno yang sudah punah. Dia menjelaskan siapa dirinya: Seorang Koki yang tersesat, mencari obat untuk menebus janji.
Kakek hantu itu menatap Seno lama. Dia mengelus jenggot putihnya yang panjang.
"Seno... Ah, aku ingat baumu. Kau keturunan dapur istana. Dulu leluhurmu yang memasak Gudeg Manggar kesukaan Sultan."
Seno mengangguk takzim.
Kakek itu beralih menatap Alya. Tatapannya tajam menusuk.
"Dan bocah ini? Dia bau kematian. Tapi juga bau kehidupan. Dia membawa senjata tajam di pinggangnya."
Kakek itu menunjuk pisau Beras Wutah yang diselipkan Alya di balik stagen (sabuk kain). Membawa senjata ke makam adalah larangan keras.
"Lancang!" bentak kakek itu. Tombaknya dihentakkan ke tanah. DUG!
Gelombang energi tak kasat mata menghantam dada Alya. Dia terdorong ke belakang, nyaris terguling menuruni tangga.
"Ampun, Mbah!" teriak Alya panik, berpegangan pada pinggiran batu. "Saya nggak bermaksud jahat! Ini... ini cuma buat jaga diri dari orang jahat yang ngejar kami!"
"Di sini tidak ada orang jahat," kata kakek itu dingin. "Tanah ini suci. Yang jahat akan terbakar sebelum melewati gerbang pertama. Buang senjatamu, atau kau tidak boleh lewat."
Alya menatap Seno. Seno mengangguk pelan. Turuti.
Alya dengan ragu mengeluarkan pisau Beras Wutah itu. Dia meletakkannya di lantai batu.
"Bagus," kata kakek itu. "Ambil lagi nanti saat kau turun. Jika kau masih hidup."
Kakek itu minggir sedikit, memberi jalan.
"Kalian mencari Bunga Wijayakusuma, bukan? Bunga kejayaan. Bunga itu sedang mekar malam ini. Tapi ingat... dia hanya jatuh pada tangan yang tidak ingin menggenggam."
Alya tidak mengerti teka-teki itu, tapi dia mengangguk saja. "Maturnuwun, Mbah."
Mereka melanjutkan pendakian. Tanpa beban pisau itu, entah kenapa langkah Alya terasa sedikit lebih ringan. Mungkin benar kata Seno, senjata itu juga membawa beban "niat membunuh".
Akhirnya, mereka sampai di puncak.
Pelataran Pasarean Sultan Agung.
Tempat itu sunyi, luas, dan berbau harum yang memabukkan. Harum bunga kantil dan melati yang sangat pekat.
Di sudut pelataran, di bawah sinar bulan yang temaram, tumbuh sebatang pohon yang aneh. Daunnya tebal dan pipih memanjang seperti kaktus, menjuntai ke bawah.
Itu adalah pohon Wijayakusuma.
Dan benar saja. Di salah satu ujung daunnya, ada satu kuncup bunga berwarna putih bersih yang sedang perlahan-lahan mekar.
Kelopaknya membuka satu per satu dengan gerakan yang anggun, memperlihatkan benang sari di dalamnya yang bersinar keemasan.
"Indah banget..." desis Alya.
Seno menahan Alya agar tidak mendekat sembarangan.
Dia menunjuk tanah di bawah bunga itu.
Tanahnya bersih. Tidak ada satu pun bunga yang jatuh.
BUNGA INI HARUS DIAMBIL SEBELUM MENYENTUH TANAH. KALAU SUDAH JATUH KE TANAH, KEKUATANNYA HILANG DAN KEMBALI KE BUMI.
Mereka harus menunggu bunga itu rontok dengan sendirinya, dan menangkapnya di udara. Tidak boleh dipetik paksa. Memetik paksa sama dengan mencuri.
Seno mengeluarkan sebuah kain sutra putih bersih. Dia bersiap di bawah bunga itu, seperti kiper yang menunggu bola penalti.
Alya berdiri di sampingnya, berjaga-jaga.
Waktu berlalu lambat.
Satu jam. Dua jam.
Kakinya Alya pegal berdiri. Matanya mulai mengantuk.
Tiba-tiba, angin berhembus kencang.
Awan hitam bergerak menutupi bulan. Suasana menjadi gelap gulita.
Seno menegang. Instingnya menyala.
Ini bukan angin alam. Ini angin kiriman.
Dari balik tembok makam, terdengar suara tawa halus.
"Hihihi..."
Alya menoleh. Di atas tembok pembatas, bertengger seekor burung gagak hitam yang matanya merah menyala.
Burung itu membuka paruhnya, dan suara Jaka keluar dari sana.
"Tuan Seno... kau pikir tempat suci bisa menghalangiku? Aku memang tidak bisa masuk, tapi aku bisa meniup."
Burung gagak itu mengepakkan sayapnya kuat-kuat.
Angin ribut (puting beliung kecil) tercipta, menerjang ke arah pohon Wijayakusuma.
Tujuannya jelas: Menjatuhkan bunga itu ke tanah sebelum Seno sempat menangkapnya. Atau menerbangkannya jauh-jauh.
"Pak! Bunganya!" teriak Alya.
Tangkai bunga itu bergoyang hebat. Kelopaknya yang rapuh mulai goyah.
Krek. Tangkainya patah.
Bunga putih bercahaya itu jatuh.
Tapi karena angin kencang dari si gagak, bunga itu tidak jatuh lurus ke bawah (ke kain Seno). Bunga itu terbawa angin, melayang menjauh ke arah jurang di sisi makam.
Seno melompat berusaha menggapainya, tapi kalah cepat dengan angin.
"TIDAK!" teriak Seno—suaranya keluar serak, saking paniknya dia lupa dia bisu.
Bunga itu melayang di atas bibir jurang.
Jika jatuh ke sana, tamat sudah.
Alya tidak berpikir panjang. Latihan Jurus Sutil Naga dan refleks anak muda mengambil alih.
Dia lari sekencang-kencangnya menuju tepi jurang.
Dia tidak melompat. Dia melakukan sliding tackle di atas batu, mencondongkan tubuhnya ke luar bibir jurang.
Tangannya terulur.
Jari-jarinya menggapai udara kosong.
Bunga itu turun.
Lima sentimeter dari ujung jarinya.
"Gulo!" teriak Alya.
Dari dalam tas Alya, si Bajang melompat keluar bagaikan peluru berbulu.
Gulo melompat ke bahu Alya, lalu melompat lagi ke udara kosong, menangkap bunga itu dengan tangan mungilnya.
HAP!
Gulo dapat!
Tapi Gulo tidak punya pijakan. Gravitasi menariknya jatuh ke jurang.
"GULOOO!" Alya menjerit.
Seno tiba tepat waktu. Dia menangkap kaki Alya yang nyaris ikut jatuh.
Dan Alya, dengan sisa tenaganya, berhasil menangkap ekor panjang Gulo.
Pemandangan yang menegangkan: Seno memegang kaki Alya, Alya menggantung di bibir jurang memegang ekor Gulo, dan Gulo memeluk bunga Wijayakusuma erat-erat di dadanya.
"Dapet...?" Alya bertanya dengan suara gemetar.
Gulo mendongak, nyengir lebar, dan mengacungkan bunga yang masih utuh dan bersinar itu.
Seno menarik mereka berdua naik ke tanah aman dengan kekuatan lengannya yang luar biasa.
Mereka bertiga terkapar di lantai batu, napas memburu.
Burung gagak di atas tembok memekik marah. "KURANG AJAR! LIHAT SAJA NANTI!"
Burung itu terbang menjauh, menghilang ditelan malam.
Alya tertawa. Tawa lega campur histeris.
"Kita menang lagi... kita menang lagi..."
Seno bangkit duduk. Dia mengambil bunga itu dari tangan Gulo dengan sangat hati-hati. Dia membungkusnya dengan sutra putih.
Dia menatap Alya dan Gulo dengan tatapan bangga yang tak terlukiskan.
BUNGA KEJAYAAN. JATUH PADA TANGAN YANG TIDAK INGIN MENGGENGGAM.
Teka-teki kakek penjaga tadi terpecahkan.
Alya dan Gulo tidak menginginkan bunga itu untuk diri mereka sendiri. Mereka mengambilnya untuk menyelamatkan Seno. Niat murni itulah yang membuat semesta (dan gravitasi) berpihak pada mereka.
Mereka turun dari makam dengan hati ringan, meski fisik mereka babak belur.
Alya mengambil kembali pisau Beras Wutah-nya di pos penjagaan. Kakek hantu itu sudah tidak ada, tapi tombaknya masih bersandar di sana, seolah memberi restu.
Satu bahan utama didapat. Bunga Kehidupan.
Tinggal satu lagi.
Mata Air dari Dasar Samudra.
Seno menatap ke arah Selatan. Ke arah Pantai Parangtritis.
Tantangan berikutnya bukan angin, melainkan air. Dan di sana, penguasanya jauh lebih temperamental daripada hantu makam.
"Pak," kata Alya sambil menuruni tangga. "Abis ini kita makan sate klathak ya? Saya laper banget."
Seno tersenyum, mengangguk.
Mereka butuh energi. Karena besok, mereka akan pergi ke Laut Selatan.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
Dan jangan pernah bersinggungan lagi dengan yang ghoib, berat dan menyiksa.
pasrahkan semua ke hadapan yang Maha Kuasa.
menjalani hidup di jalur yang sudah di garis kan .
percaya lah kebahagiaan akan menemani sampai ujung usiamu.
di akhir hayat di tempat tidur yang hangat ,didampingi putri angkatmu dan keluarga ajaibmu : Gulo
terselip rasa kekeluargaan tanpa mereka sadari.
petualangan batin dan raga yang harus selalu bisa menempatkan diri, singkirkan keangkuhan,keserakahan dan hubungan yang erat saling melengkapi,menjaga dan empati serta simpati yang tinggi.👍
menunggu datang nya tamu wanita dlm foto itu
alya 😂
3 hari dalam ambang batas dunia nyata dan maya
belajar berdampingan
menghantarkan mereka pulang
mungkin hal yang tak pernah terpikirkan.
3 hari menyulam asa, dari keputus asaan.
haru, sedih dan gembira berbaur
ilmu yang berat baru saja terlewati
IKHLAS
jago sekali anda merayu eyang banaspati, amarah melunak ,melebur dalam cita rasa ,aroma khas nusantara.
kereen thor, tetap semangat yaa mengetik karya indah.
menyusun kalimat perkata dengan ketelitian ekstra
sepanjang apik runut no typo
ciamik
endah thor, ora bakal cukup ratusan mangsi
horor tapi beda, auranya gak menakutkan.
perjuangan remaja putri yang merasa tidak dapat kasih sayang ,kenyamanan hidup bersama keluarga.
diambang putus asa malah ketemu sosok misterius yang terbelenggu perjanjian , pertukaran nyawa demi sang terkasih, meski tragis ...
pada akhirnya cinta tak berpihak padanya.
hanya bisa memandang dari kejauhan.
ketulusan kasih tanpa perhitungan .
memendam bara asmara seorang diri ,menuangkan rasa lewat cita masakan ,walau beda alam.
semoga di penghujung pak seno bisa menemukan kebahagiaan sejati..
bersama alya saling membantu terlepas dari kerumitan sebuah janji