NovelToon NovelToon
Perjodohan Di Bawah Bayangan Mafia

Perjodohan Di Bawah Bayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: hairil

SEASON 1 ; BAB ; 41 TAMAT

SINOPSIS SEASON 2

Tujuh tahun telah berlalu sejak perayaan ulang tahun ke-5 Yayasan Aulia & Hidayat. Kedamaian dan kesuksesan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Putri dan Rizky. PT Adinata Berkah Lestari kini menjadi raksasa bisnis yang dihormati secara global, dan yayasan mereka telah menumbuhkan ribuan anak menjadi generasi yang tangguh. Rara kini berusia 19 tahun dan sedang menempuh pendidikan tinggi di bidang kedokteran, sementara Arka (11 tahun) dan Bara (9 tahun) tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan penuh kasih.

Namun, kedamaian yang rapuh itu mulai retak ketika serangkaian insiden misterius terjadi. Mulai dari sabotase kecil di operasi perusahaan, ancaman anonim terhadap yayasan, hingga hilangnya beberapa dokumen penting hukum. Putri, dengan naluri hukum dan kehati-hatiannya, mulai menyadari bahwa ada kekuatan yang tidak terlihat sedang bergerak di balik layar—kekuatan yang tidak ingin melihat keluarga Adinata terus

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: PERANG DI JALANAN DAN PENGORBANAN BESAR

 

Pukul delapan pagi, matahari baru saja menampakkan dirinya, namun kabut tipis masih menyelimuti jalanan kota. Di kediaman Adinata, suasana pagi itu terasa berbeda dari biasanya. Tidak ada suara tawa Rara yang ceria, tidak ada aroma kopi pagi yang menenangkan. Yang ada hanyalah ketegangan yang membungkus setiap sudut rumah.

Rizky dan Putri sudah siap. Mereka mengenakan pakaian biasa, namun di balik jaket Rizky terselip senjata api, dan di saku Putri terdapat semprotan merica serta ponsel yang selalu siap menekan tombol darurat. Di tangan Putri, dia menggenggam tas koper tiruan yang persis sama dengan yang berisi bukti asli—tas ini hanya berisi tumpukan kertas kosong dan beberapa buku tebal untuk memberikan bobot yang sama.

"Apakah kamu yakin dengan ini, Putri?" tanya Rizky pelan, matanya menatap tajam ke dalam mata istrinya, mencari kepastian. "Kita bisa membatalkan dan mencari cara lain. Aku tidak bisa membayangkan kalau sesuatu terjadi padamu."

Putri menggeleng tegas, menggenggam tangan Rizky erat-erat. "Tidak, Rizky. Ini satu-satunya cara. Kalau kita mundur sekarang, Pak Darmawan akan menang. Dan aku tidak akan membiarkan kejahatan orang tuaku tidak terbalaskan. Kita harus melakukan ini. Percayalah pada rencana kita. Percayalah pada Bang Rio dan Nina."

Rizky menghela napas panjang, lalu mengangguk. "Baiklah. Tapi ingat, apa pun yang terjadi, jangan pernah meninggalkan sisiku. Aku akan melindungimu dengan nyawaku."

Mereka berjalan keluar menuju garasi. Sebuah mobil sedan hitam biasa sudah menunggu, dikendarai oleh salah satu pengawal paling setia. Di belakangnya, ada dua mobil lain yang berisi pengawal tambahan untuk memberikan perlindungan. Pukul sembilan tepat, rombongan mobil Rizky dan Putri melaju keluar dari gerbang utama kediaman Adinata, menuju arah markas besar polisi lewat jalan utama yang ramai.

Sementara itu, setengah jam sebelumnya, di pintu belakang yang tersembunyi, Bang Rio dan Nina sudah bersiap. Mereka naik ke dalam sebuah mobil van pengantar barang berwarna putih kusam yang tidak mencolok sama sekali. Di bagian belakang van, tersembunyi di antara kotak-kotak kardus kosong, terdapat tas koper asli berisi semua bukti berharga itu.

"Kita berangkat, Nona Nina," kata Bang Rio dengan suara tenang namun tegas. Dia mengenakan seragam supir biasa dan topi yang menutupi sebagian wajahnya. "Pegangan yang kuat. Jalanan mungkin tidak aman."

"Aku siap, Bang Rio," jawab Nina, meski jantungnya berdegup kencang. Dia memegang laptopnya erat-erat, di mana salinan digital bukti sudah tersimpan aman di cloud terenkripsi sebagai cadangan terakhir.

Mobil van melaju pelan, menyusuri gang-gang kecil dan jalanan sampingan yang jarang dilalui orang. Bang Rio tampak sangat hafal dengan setiap belokan, setiap jalan tikus, dan setiap tempat persembunyian. Dia mengemudi dengan santai namun waspada, seolah-olah dia hanya seorang supir pengantar barang biasa yang sedang menjalani rutinitas harian.

Namun, di tempat lain, di sepanjang jalan utama yang dilalui Rizky dan Putri, suasana mulai terasa aneh. Beberapa mobil tampak mencurigakan, mengikuti rombongan mereka dari jarak yang tidak terlalu jauh.

"Mereka mengikuti kita, Pak," bisik pengawal di kursi depan melalui radio kecil.

"Aku tahu," jawab Rizky dingin. "Biarkan mereka. Fokus pada jalan. Jangan lakukan apa pun sampai aku memberi perintah."

Putri duduk di samping Rizky, tangannya gemetar sedikit, tapi wajahnya tetap tenang. Dia tahu, semakin lama mereka bisa memancing perhatian musuh di jalan utama, semakin aman posisi Bang Rio dan Nina membawa bukti asli.

Tiba-tiba, saat mereka melewati sebuah jembatan besar yang sepi di tengah kota, sebuah truk besar tiba-tiba memotong jalan dari samping, menghalangi mobil pengawal di depan dan belakang. Pada saat yang sama, tiga mobil sport hitam memblokir jalan di depan dan belakang mobil Rizky, menjebak mereka di tengah jembatan.

"Ini dia," bisik Rizky, tangannya siap meraih senjata. "Tetap di bawah, Putri!"

Belum sempat Rizky dan pengawal lainnya bereaksi, jendela mobil di sekitar mereka ditodong oleh puluhan senjata api. Pintu-pintu mobil dibuka paksa.

"KELUAR! JANGAN BERGERAK!" teriak seorang pria bertubuh besar dengan wajah tertutup masker, menodongkan senapan ke arah Rizky.

Rizky perlahan keluar dari mobil, mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Putri juga keluar di belakangnya, wajahnya pucat tapi matanya tetap menatap tajam pada para penyerang.

"Putri Aulia... dan Tuan Muda Rizky," suara pria itu terdengar sarkastik di balik masker. "Kalian pikir kalian bisa mengakali Bos Darmawan? Kalian terlalu naif. Kami sudah menunggu kalian di sini sejak pagi."

"Apa yang kalian inginkan?" tanya Rizky tenang, meski di dalam hatinya dia sangat khawatir. Dia harus mengulur waktu. Dia harus memastikan Bang Rio sudah sampai.

"Kami mau tas yang kalian bawa," jawab pria itu, menunjuk tas koper di tangan Putri. "Serahkan, dan mungkin kami akan membiarkan kalian hidup... untuk sementara."

Putri menggenggam tas itu erat-erat. "Ini tidak ada isinya selain kertas—"

"DIAM!" teriak pria itu, lalu memberi isyarat pada dua anak buahnya. "Ambil tas itu! Dan bawa mereka! Bos ingin bertemu dengan mereka sebelum menghabisi mereka!"

Dua pria berlari mendekat untuk merampas tas dari tangan Putri. Rizky melihat kesempatan itu. Dengan gerakan cepat, dia menendang perut salah satu pria itu, lalu merampas senjata dari tangan pria lainnya. Suara tembakan mulai terdengar memekakkan telinga.

DOR! DOR! DOR!

Perkelahian pun terjadi. Pengawal-pengawal Rizky yang terjebak di mobil lain berhasil keluar dan membalas tembakan. Asap mesiu memenuhi udara di atas jembatan. Rizky melindungi Putri di balik tubuhnya, menembaki para penyerang yang terus berdatangan. Namun, jumlah musuh terlalu banyak, dan perlahan posisi mereka terdesak.

"Rizky, kita kalah jumlah!" teriak Putri, sambil menunduk menghindari peluru yang beterbangan.

"Tahan sebentar lagi! Polisi pasti sudah mendengar suara tembakan ini!" teriak Rizky, meski dia tahu polisi mungkin butuh waktu untuk sampai.

Sementara itu, di dalam mobil van yang sedang melaju di jalanan kecil yang tenang, Bang Rio tiba-tiba mengerem mendadak.

"Ada apa, Bang Rio?" tanya Nina kaget.

Bang Rio menoleh ke belakang, wajahnya serius. "Saya mendengar suara tembakan dari arah jembatan. Itu pasti Tuan Muda dan Nona Putri. Mereka sedang diserang."

"Tapi kita harus membawa bukti ini ke polisi!" kata Nina panik.

"Benar. Tapi kalau Tuan Muda dan Nona Putri mati, bukti ini tidak akan ada artinya. Musuh akan terus mengejar mereka sampai dapat," kata Bang Rio berpikir cepat. "Nona Nina, kamu lanjutkan perjalanan sendiri. Saya akan pergi membantu mereka."

"Tidak, Bang Rio! Itu terlalu berbahaya! Kamu sendirian!" cegah Nina.

"Saya sudah tua, Nona. Tapi saya masih bisa bertarung. Pergilah sekarang! Ini perintah! Bawa bukti itu ke tempat aman!" seru Bang Rio, lalu dia membuka pintu van dan melompat turun. Dia mengambil sebuah senjata yang dia sembunyikan di balik jaketnya, lalu berlari menuju arah suara tembakan yang semakin kencang.

Nina terpaku sejenak, tapi dia tahu dia tidak boleh membuang waktu. Dengan tangan gemetar, dia memindahkan kursi supir, lalu menginjak gas melanjutkan perjalanan menuju markas polisi, berdoa agar Bang Rio selamat.

Kembali di jembatan, situasi semakin genting. Rizky sudah kehabisan peluru, dan beberapa pengawalnya sudah tergeletak terluka. Putri sudah tersudut di pinggir jembatan, di bawah todongan senjata pemimpin penyerang.

"Sudah cukup, Rizky! Buang senjatamu! Atau aku tembak gadis ini sekarang juga!" teriak pemimpin penyerang itu, menodongkan pistol tepat ke dahi Putri.

Rizky berhenti bergerak, matanya membelalak ngeri. "Jangan sentuh dia! Aku serah, aku serah!" Dia perlahan melempar senjatanya ke lantai.

Pemimpin penyerang itu tersenyum licik. "Bagus. Sekarang, bawa mereka ke mobil—"

Belum selesai dia bicara, tiba-tiba sebuah mobil tua melaju kencang menabrak barikade mobil musuh di belakang, membuat kekacauan besar.

BRUK!

Semua orang menoleh kaget. Dari mobil yang penyok itu, Bang Rio keluar dengan wajah garang, memegang dua senjata api.

"LEPASKAN TUAN MUDA DAN NONA PUTRI!" teriak Bang Rio dengan suara menggelegar, lalu dia mulai menembaki para anak buah Pak Darmawan yang tidak siap.

"Bang Rio?!" seru Rizky kaget.

"Maaf terlambat, Tuan Muda!" teriak Bang Rio sambil terus menembak, maju perlahan mendekati Putri dan Rizky. "Lari! Saya akan menahan mereka!"

"Bang Rio, ikut kami! Kita lari bersama!" teriak Rizky.

"Tidak! Kalian harus pergi! Nona Nina sudah membawa bukti asli! Sekarang pergilah!" seru Bang Rio, lalu dia melempar sebuah granat asap ke tanah. Asap tebal segera menyebar, membatasi pandangan musuh.

Di tengah kebingungan, Bang Rio mendorong Rizky dan Putri menuju mobil yang masih bisa berjalan. "Pergi! Selamatkan bukti! Selamatkan keadilan!"

Rizky tahu ini bukan waktunya untuk berdebat. Dia menarik tangan Putri, berlari menuju mobil. "Terima kasih, Bang Rio!"

Mereka masuk ke dalam mobil dan melaju secepat kilat melewati celah yang dibuat oleh Bang Rio. Di kaca spion, Putri melihat Bang Rio terus bertarung, menahan serangan puluhan orang sendirian, menjadi tameng hidup bagi mereka. Hati Putri sakit, tapi dia tahu pengorbanan Bang Rio tidak boleh sia-sia.

"Kita harus ke markas polisi sekarang! Nina pasti sudah sampai atau sedang dalam perjalanan!" teriak Putri di atas suara angin yang masuk lewat jendela yang pecah.

Rizky mengemudi dengan kecepatan tinggi, air mata mengalir di pipinya karena rasa haru dan khawatir pada Bang Rio, tapi dia tidak bisa berhenti. Dia harus memastikan Nina dan bukti aman.

Sesampainya di depan markas besar polisi, mereka melihat mobil van putih yang ditinggalkan Bang Rio dan Nina sudah terparkir di sana. Nina berlari keluar menghampiri mereka, wajahnya penuh air mata.

"Pak Rizky! Bu Putri! Kalian selamat! Tas bukti sudah aman di dalam!" teriak Nina.

Detektif Rian dan timnya sudah menunggu di sana, mereka segera membawa tas itu masuk dengan pengawalan ketat.

"Di mana Bang Rio?" tanya Nina cemas.

Wajah Rizky dan Putri mendung. Rizky mengangkat radio komunikasi yang dia bawa. "Bang Rio... Bang Rio, bisakah kau mendengarku? Kami sudah sampai di polisi. Tas aman. Kembalilah, Bang Rio. Tolong jawab..."

Hening. Tidak ada jawaban dari radio itu, hanya suara desis statis yang menyakitkan telinga.

"Bang Rio..." bisik Putri, air matanya jatuh lagi. Dia tahu betapa besar pengorbanan yang dilakukan pria itu demi keadilan dan demi menebus kesalahannya di masa lalu.

Detektif Rian mendekati mereka dengan wajah serius. "Kalian aman di sini. Kami akan segera mengirim tim untuk mencari Bang Rio. Tapi sekarang, kita punya tugas yang lebih besar. Dengan bukti ini, kita bisa menangkap semua orang yang terlibat, termasuk Pak Darmawan dan sisa-sisa jaringannya. Pertarungan kalian belum selesai, tapi kalian sudah melangkah jauh."

Rizky menatap markas polisi yang kokoh di depannya, lalu menatap Putri dan Nina. "Kita tidak akan mundur. Pengorbanan Bang Rio, keberanian kita... semuanya harus berbuah keadilan. Ayo masuk. Kita akan ungkap semuanya hari ini."

Mereka berjalan masuk ke dalam markas polisi, meninggalkan ketakutan di belakang, dan berjalan menuju masa depan yang lebih cerah, meski bayang-bayang kesedihan atas nasib Bang Rio masih menghantui hati mereka.

 

[PERTANYAAN UNTUK PEMBACA]: Bang Rio melakukan pengorbanan besar dengan menahan musuh sendirian agar Rizky, Putri, dan bukti bisa selamat sampai ke polisi. Nasibnya kini tidak diketahui. Jika kamu menjadi Rizky atau Putri, bagaimana perasaanmu setelah sampai di tempat aman namun meninggalkan penyelamatmu dalam bahaya? Apakah kamu akan terus berjuang demi keadilan atau akan kembali mencari dia meski berisiko mati?

1
Iril
semoga suka
Iril
halo KK mohon atas dukungannya saya penulis pemula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!