"PERINGATAN : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada." Terimakasih 🙏
Ameera Nafeeza memiliki segalanya yang di ditawarkan dunia. Namun di balik pakaian rancangan desainer dan pesta kaum sosialita, jiwanya terasa hampa.
Hidupnya berubah drastis saat ia menyelamatkan Syifa Azzahra, seorang wanita Muslimah yang taat, dari seorang pencopet jalanan.
Bukannya dompet, Ameera justru memegang sebuah Al-Qur'an bersampul beludru, sebuah pemberian dari Syifa yang menjadi awal dari kebangkitan spiritualnya. Demi mencari ketenangan yang belum pernah ia rasakan, Ameera meninggalkan kehidupan kelas atasnya untuk tinggal di sebuah pesantren yang tenang.
Di sana, ia bertemu dengan Liam Al-Gazhi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keheningan dan jarak
Malam di pesantren itu terasa begitu panjang bagi Ameera Nafeeza. Di bawah temaram lampu selasar paviliun yang terbuat dari kayu tua, ia berdiri mematung. Angin pegunungan yang dingin menusuk hingga ke tulang, namun rasa sesak di dadanya jauh lebih dingin.
Langkah kaki yang mantap namun tenang terdengar mendekat. Itu Liam. Pria dengan kaos longgar dan celana cargo itu baru saja menutup pintu klinik. Langkahnya terhenti beberapa meter dari posisi Ameera. Seperti biasa, ia tidak menatap Ameera. Kepalanya tertunduk, fokus pada bayangan mereka yang memanjang di lantai semen.
"Belum tidur, Ameera?" tanya Liam. Suaranya berat, namun selalu ada nada ketulusan yang menenangkan di sana.
Ameera merapatkan selendang krem di bahunya. "Liam... boleh aku bertanya sesuatu?"
"Silakan."
"Kenapa kau melakukan semua ini?" Ameera melangkah maju, mencoba mencari sorot mata itu, namun Liam tetap teguh menunduk. "Kau menyuruhku tinggal di sini, memberiku catatan motivasi, bahkan memberikan Al-Qur'an melalui Syifa. Tapi kenapa kau seolah-olah tidak sudi menatapku? Apa aku begitu mengganggumu? Atau apakah penampilanku terlalu berantakan untuk standar kesucianmu?"
Suasana mendadak hening. Hanya suara jangkrik yang bersahutan di balik semak bunga kamboja. Liam menghela napas panjang, sebuah tarikan napas yang terdengar seperti sedang menahan beban yang besar.
"Aku seorang dokter, Ameera," Liam akhirnya bersuara, lebih lembut dari sebelumnya. "Aku menghabiskan hari-hariku melihat luka dan penyakit. Aku dilatih untuk mendiagnosis apa yang salah pada tubuh manusia. Namun, saat menatapmu..."
Liam berhenti sejenak. Ia memutar tubuhnya sedikit, membelakangi lampu agar wajahnya tak terlihat jelas, namun tetap menjaga pandangannya jatuh ke arah sepatunya.
"Saat menatapmu, aku tidak melihat penyakit. Aku melihat sebuah permata yang selama ini terkubur dalam hiruk-pikuk dunia yang palsu. Menundukkan pandangan bagiku bukan tentang membencimu, Ameera. Ini tentang caraku menghargai mu. Aku tidak ingin menjadi pria kesekian yang menikmati kecantikanmu sebagai pajangan. Aku ingin kau dicintai karena cahaya yang sedang kau bangun di dalam hatimu, bukan karena apa yang tampak di mataku."
Ameera tertegun. Air mata mulai menggenang di sudut matanya.
Di dunia lamanya, kecantikan adalah mata uang. Pria menatapnya dengan rasa lapar akan kekaguman. Tapi di sini, pria ini seorang dokter yang sempurna di matanya—justru menutup mata demi menjaga kehormatannya.
"Aku merasa tidak pantas, Liam," bisik Ameera, suaranya parau. "Setiap kali aku menyentuh Al-Qur'an itu, aku teringat betapa kotornya hidupku yang dulu. Aku bahkan tidak tahu apakah Allah ingin menerimaku kembali."
Liam terdiam lama. Kemudian, dengan nada puitis yang menyayat hati, ia berkata,
"Ameera, ketahuilah... Allah tidak memanggil mereka yang sudah suci, tapi Dia mensucikan mereka yang datang dengan hati yang hancur. Jika kau merasa jauh dari-Nya, itu adalah tanda bahwa jiwamu sedang rindu untuk pulang. Jangan berhenti mengeja Alif, Ba, dan Ta. Karena mungkin, di setiap huruf yang kau ucapkan dengan terbata-bata, ada pengampunan yang mengalir lebih deras dari air mata."
"Tetaplah di sini," lanjut Liam pelan sebelum melangkah pergi. "Sampai kau tidak lagi butuh pengakuan dari mata manusia untuk merasa bahwa kau berharga."
Liam berlalu, meninggalkan Ameera yang kini terisak dalam diam. Malam itu, di bawah langit pesantren yang bersahaja, Ameera menyadari satu hal, Liam adalah penyembuh yang berbeda. Ia tidak menyembuhkan luka luar dengan pisau bedahnya, melainkan menyembuhkan luka batin Ameera dengan jarak dan doa-doa yang rahasia.
Ameera memegang erat Al-Qur'an di dadanya. Ia tidak lagi peduli pada kemewahan yang ditinggalkannya di kota. Di sini, di tempat yang ia anggap asing ini, ia akhirnya menemukan sesuatu yang tidak pernah ia temukan di rumah megahnya, Harapan.
Seminggu di pesantren terasa seperti perjalanan seribu tahun bagi jiwa Ameera Nafeeza. Jakarta dengan segala hiruk-pikuknya kini terasa seperti mimpi buruk yang samar, sementara kesunyian pesantren telah menjadi detak jantung barunya.
Pagi itu, Ameera berdiri di depan cermin kecil di paviliun. Tangannya yang dulu hanya terampil memulas eyeliner, kini dengan cekatan melilitkan kain jilbab berbahan katun yang nyaman. Tidak ada lagi helai rambut yang tersembul keluar. Jilbab itu membingkai wajahnya dengan cara yang tak pernah ia duga, bukan dengan kesan mengekang, melainkan dengan aura yang memancarkan kemuliaan.
Ia menatap pantulan dirinya. Ada yang berbeda. Bukan hanya pada pakaiannya, tapi pada binar matanya yang kini lebih teduh dan tutur katanya yang mulai tertata, jauh dari kesan angkuh seorang gadis kota.
Sore itu, Ameera sedang membantu Syifa menyusun kitab-kitab di perpustakaan saat Liam masuk untuk mengembalikan beberapa jurnal medis. Seperti biasa, suasana mendadak hening.
Dulu, saat pertama kali datang, Ameera akan menatap Liam dengan berani, mencoba menantang harga diri pria itu karena merasa diabaikan. Namun sekarang, saat Liam melangkah masuk dengan kepala tertunduk, Ameera secara naluriah melakukan hal yang sama. Ia menundukkan pandangannya.
Ia menatap ujung jemarinya sendiri, membiarkan kelopak matanya jatuh menghadap lantai. Di sanalah, dalam kegelapan yang terjaga itu, Ameera akhirnya memahami apa yang selama ini Liam lakukan.
"Menundukkan pandangan ternyata bukan tentang kebencian atau rasa rendah diri," batin Ameera. "Ini adalah sebuah perisai. Saat aku tidak menatapnya, aku sedang menjaga hatiku agar tetap terpaut pada Sang Pemilik Cinta, bukan pada keindahan ciptaan-Nya yang fana."
Ia merasakan sebuah kedamaian yang asing namun candu. Dengan tidak menatap, ia merasa lebih merdeka. Ia tidak lagi menjadi budak dari penilaian mata manusia.
"Syifa, ini jurnal yang kau butuhkan," suara Liam memecah kesunyian. Ia meletakkan buku di meja, posisinya cukup dekat dengan Ameera, namun jarak yang mereka ciptakan lewat pandangan membuat ruangan itu terasa sangat luas dan suci.
"Terima kasih, Kak Liam," jawab Syifa riang. "Oh ya, Ameera sudah sampai di halaman terakhir Iqra tiga hari ini. Dia sangat cepat belajar!"
Liam terdiam sejenak. Ameera bisa merasakan kehadiran pria itu, namun ia tetap setia menatap sela-sela ubin lantai.
"Barakallahu lakum, Ameera," ucap Liam, suaranya terdengar tulus. "Kau sudah paham sekarang, kenapa kita harus menunduk?"
Ameera tersenyum kecil, masih tanpa mengangkat kepalanya. "Aku baru mengerti hari ini, Liam. Menundukkan pandangan adalah cara kita mengatakan bahwa hati kita terlalu berharga untuk sekadar dipamerkan. Terima kasih sudah memberiku obat yang paling manjur tanpa perlu pisau bedah."
Liam tertegun sejenak mendengarnya. Ada secercah rasa kagum yang ia simpan rapat-rapat dalam sujudnya. "Ilmu yang paling sulit bukan menghafal ayat, Ameera, tapi mengamalkannya dalam diam. Kau sudah melampaui banyak orang yang sudah belajar bertahun-tahun."
Namun, kedamaian itu terusik ketika sebuah suara deru mesin mobil mewah yang sangat asing di telinga santri terdengar dari gerbang depan. Sebuah sedan sport mewah berwarna merah menyala berhenti tepat di depan gedung utama, membelah ketenangan sore itu dengan sombongnya.
Dua orang turun dengan kacamata hitam dan pakaian yang sangat kontras dengan suasana pesantren. Itu adalah orang tua Ameera. Mereka datang dengan amarah yang tertahan, siap membawa pulang investasi mereka yang dianggap telah tersesat di tempat terpencil ini.
Ameera menarik napas panjang. Ia meremas pinggiran jilbabnya, mencoba mencari kekuatan dari setiap ayat yang baru saja ia pelajari seminggu ini.
Kedatangan orang tua Ameera bukan untuk menjemput dengan rindu, melainkan untuk menyeret pulang sebuah aset yang mereka anggap telah rusak. Saat melihat Ameera berdiri dengan jilbab anggun dan mata yang menunduk takzim, ibunya menjerit histeris seolah-olah putri tunggalnya baru saja melakukan dosa besar.
"Ameera! Apa-apaan penampilanmu ini? Lepas kain murahan itu sekarang juga!" bentak sang ayah, suaranya menggelegar di pelataran pesantren yang tenang.
Ameera dipaksa masuk ke dalam mobil mewah itu. Ia bahkan tidak diberi kesempatan untuk berpamitan secara layak kepada Syifa, apalagi kepada Liam.
Dari kaca jendela mobil yang mulai bergerak menjauh, Ameera hanya sempat melihat siluet Liam berdiri di kejauhan. Pria itu tetap pada posisinya, tegak, tenang, namun dengan kepala yang tertunduk dalam. Tidak ada kata-kata, tidak ada pengejaran dramatis. Hanya doa yang entah bagaimana bisa Ameera rasakan menembus kaca mobil yang kedap suara itu.
Sejak hari itu, kaki Ameera tidak pernah lagi menginjakkan tanah pesantren. Ia dikurung dalam kemewahan yang kini terasa seperti penjara bawah tanah. Ponselnya disita, akses dunianya dibatasi, dan ia dipaksa kembali ke pergaulan lamanya yang penuh kepalsuan.
Namun, orang tuanya melakukan satu kesalahan besar, mereka tidak tahu bahwa Ameera membawa pulang senjata yang paling ampuh.
Di balik laci riasan mahalnya, tersembunyi Al-Qur'an bersampul beludru pemberian Syifa. Di sana juga tersimpan secarik kertas dari Liam yang kini sudah mulai lecek karena terlalu sering dibaca dan dipeluk setiap malam.
Bulan demi bulan berganti. Ameera tidak lagi pergi ke kelab, tidak lagi haus akan pujian pria-pria kaya. Ia tetap menjadi Ameera yang cantik, namun kecantikannya kini tertutup rapat oleh pakaian yang lebih sopan, meski ia harus berdebat setiap pagi dengan ibunya.
Ia sering duduk di balkon kamarnya yang menghadap ke gemerlap lampu Jakarta, namun hatinya tertinggal di sebuah perpustakaan tua dan klinik kecil di pinggiran kota. Ia sering membayangkan suara azan Liam yang membelah fajar.
"Jika kau merindukan cahaya, jangan cari pada lampu-lampu kota yang fana. Carilah pada Dia yang menciptakan cahaya itu sendiri," bisik Ameera, mengulang salah satu pesan puitis yang pernah Liam ucapkan.
Suatu hari, setahun setelah kejadian itu, ayah Ameera jatuh pingsan di tengah rapat besar. Serangan jantung mendadak. Ia dilarikan ke salah satu rumah sakit terbaik di Jakarta.
Ameera duduk di ruang tunggu dengan cemas, butiran tasbih kecil tersembunyi di balik telapak tangannya. Pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter dengan jas putih yang sangat bersih keluar, masker medis masih menggantung di lehernya.
Ameera mendongak. Jantungnya berhenti berdetak sesaat.
Dokter itu masih sama. Wajahnya yang tegas namun teduh itu tampak lelah setelah berjam-jam bertaruh nyawa di meja operasi. Dan saat dokter itu berdiri di hadapan Ameera, ia tetap melakukan hal yang membuat Ameera jatuh hati setahun yang lalu, ia menundukkan pandangannya.
"Operasinya berjalan lancar, Ameera. Ayahmu sudah melewati masa kritis," ucap suara bariton yang sangat ia kenali.
"Liam...?" bisik Ameera, air matanya jatuh tanpa sanggup dibendung.
Liam terdiam sejenak. Ia tetap tidak menatap Ameera, namun sudut bibirnya tampak tertarik membentuk senyuman tipis yang sangat tulus.
"Allah tidak pernah memutus jalan bagi hamba-Nya yang sungguh-sungguh ingin pulang. Jika pesantren tidak bisa kau datangi, maka Allah membawa pesantren itu ke hadapanmu, lewat ujian ini. Bagaimana kabarmu... Alif-ku yang hilang?"
Ameera menutup wajahnya dengan tangan, menangis sejadi-jadinya. Bukan karena sedih, tapi karena ia tahu, sejauh apa pun ia dipaksa pergi, takdir Tuhan selalu punya cara yang lebih puitis untuk mempertemukan kembali dua jiwa yang saling menjaga dalam doa.
🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 🥰🥰