NovelToon NovelToon
VELVET & GASOLINE

VELVET & GASOLINE

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Di bawah langit London yang selalu kelabu, Juliatte Fontaine hidup dalam jadwal yang diatur ketat. Baginya, keamanan adalah segalanya.
Maka, ketika gerombolan motor The Ravens menderu di depan gerbang sekolah dengan asap knalpot dan aroma pemberontakan, Juliatte hanya merasakan satu hal, kejijikan.

Puncaknya adalah William Wilson. Cowok itu adalah personifikasi dari semua yang Juliatte benci. William adalah alasan adiknya hampir celaka dalam sebuah tawuran antar-geng motor di Camden. Bagi Juliatte, William adalah kriminal, bagi William, Juliatte hanyalah gadis kaca yang akan pecah jika menyentuh realita.

Namun, sebuah insiden memaksa mereka dalam satu situasi pelarian. Juliatte melihat sisi London yang tak pernah ada di buku sejarahnya, dan William menyadari bahwa gadis kaca ini punya api yang lebih besar dari percikan mesin motornya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Oxford, Enam Bulan Kemudian

Selama enam bulan terakhir, William Wilson bukan lagi berandal yang menghabiskan malam dengan balapan liar tanpa tujuan.

Dia berubah menjadi pria yang haus akan ambisi. Dia menggunakan seluruh kecerdasannya, yang selama ini dia sembunyikan di balik jaket kulitnya untuk mengejar Juliatte dengan cara yang paling terhormat sekaligus tak terduga, Pendidikan.

William belajar siang dan malam, mengurus administrasi pertukaran mahasiswa yang nyaris mustahil bagi orang dengan catatan disiplin seperti dirinya. Namun, koneksi keluarga Wilson dan otak jenius William yang akhirnya bangun demi cinta, berhasil membawanya selangkah lagi menuju gerbang Oxford.

Di sebuah sudut kafe yang tenang di Oxford, Juliatte duduk dengan sweter oversized yang sangat longgar untuk menutupi perutnya yang sudah membuncit Tujuh bulan.

Penampilannya sangat jauh berbeda. Tidak ada lagi diet ketat, tidak ada lagi timbangan 40 kg yang diminta ibunya.

Juliatte makan dengan porsi yang membuat mahasiswa lain melongo. Sepiring penuh pasta, roti lapis besar, dan cokelat panas ada di depannya. Anehnya, meski dia makan sangat banyak karena keinginan bayinya yang sangat rakus, tubuh Juliatte tetap terlihat kurus di bagian wajah dan lengan. Dia tampak seperti mayat hidup yang cantik, pucat, kelelahan, namun matanya tetap waspada.

"Kau lapar lagi, Sayang?" bisik Juliatte sambil mengelus perutnya yang menegang. "Ayahmu benar-benar menitipkan sifat rakusnya padamu."

Juliatte merasa nihil. Sebanyak apa pun dia makan, bayinya seolah menyerap seluruh nutrisi itu, membuatnya tetap terlihat layu namun perutnya semakin sulit disembunyikan di balik korset atau pakaian longgar.

Sore itu, Juliatte berjalan terburu-buru menuju perpustakaan, memeluk setumpuk buku tebal untuk menutupi bagian depan tubuhnya. Saat ia hendak melewati lorong gedung hukum yang megah, langkahnya terhenti.

Seseorang berdiri di sana, bersandar pada pilar batu tua dengan gaya yang sangat familiar. Pria itu tidak lagi memakai jaket kulit yang kumal, melainkan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, namun aura berandal yang berwibawa itu tidak hilang.

"Lama tidak jumpa, Fontaine."

Jantung Juliatte serasa merosot ke lantai. Buku-buku di tangannya nyaris jatuh. Suara berat itu, suara yang menghantuinya setiap malam selama enam bulan ini, kini terdengar nyata di hadapannya.

William melangkah maju, matanya yang tajam langsung turun, memindai tubuh Juliatte. Meski Juliatte mencoba menutupi perutnya dengan buku, insting William sebagai pria yang menanamkan benih itu tidak bisa ditipu.

William berjalan perlahan, memangkas jarak sampai Juliatte bisa mencium aroma maskulin yang sangat ia rindukan. William meletakkan tangannya di atas tumpukan buku yang dipegang Juliatte, menekannya pelan hingga buku itu turun, menampakkan gundukan di balik sweter longgar Juliatte.

Mata William bergetar. Ia menatap perut itu, lalu menatap mata Juliatte yang sudah berkaca-kaca.

"Ternyata kau tidak berbohong saat mengiyakan permintaanku malam itu," bisik William, suaranya serak karena emosi. Ia mengabaikan tatapan mahasiswa lain, lalu berlutut di depan Juliatte, menempelkan telinganya tepat di perut gadis itu.

"Kau pikir bisa membesarkan anakku sendirian di kota sedingin ini, hm?"

Wajah Juliatte memucat, tangannya mencengkeram lengan kemeja William dengan kuat saat rasa kram itu menusuk perut bawahnya. Tanpa membuang waktu dan mengabaikan protes lemah Juliatte, William langsung membopongnya. Ia tidak membawa Juliatte ke rumah sakit umum demi keamanan, ia membawa Juliatte ke apartemen luas yang baru saja ia sewa dengan hasil jerih payahnya sendiri.

Begitu sampai, William segera menghubungi dokter pribadi yang sudah ia siapkan sejak di London. Selagi menunggu dokter, William membaringkan Juliatte di ranjang yang jauh lebih empuk daripada ranjang di markas mereka dulu.

Juliatte, meskipun keringat dingin membasahi keningnya, masih mencoba memasang wajah datar. Ia membuang muka saat William mencoba mengelap wajahnya dengan handuk hangat.

"Pergilah, William. Kenapa kau ke sini? Aku tidak butuh bantuanmu," ucap Juliatte, suaranya berusaha tetap sedingin es, meski nafasnya masih tersengal.

William justru terkekeh rendah. Ia duduk di tepi ranjang, menatap Juliatte dengan tatapan yang sangat memuja, sekaligus geli. Ia tidak terpengaruh sedikit pun oleh benteng es yang dibangun Juliatte.

"Hey, Sayang... sebaiknya kamu segera mendaftar untuk mendapatkan Piala Oscar. Aktingmu sungguh luar biasa," goda William sambil menyentuh lembut dagu Juliatte, memaksanya menatap matanya. "Tapi sayangnya, di mataku kau masih gadis yang sama yang menangis di markasku malam itu."

William menggeser tangannya, dengan sangat hati-hati ia meletakkannya di atas perut Juliatte yang membuncit. Kali ini Juliatte tidak menepisnya, ia hanya memejamkan mata, membiarkan sentuhan hangat itu menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Ceritakan padaku," bisik William, suaranya melunak. "Apa anak kita membuatmu tersiksa selama ini? Apa dia senakal ayahnya sampai kau terlihat pucat begini?"

William kemudian menundukkan kepalanya, mendekatkan bibirnya ke permukaan perut Juliatte yang terbungkus sweter. "Hey, anak Daddy... jangan rewel ya, Sayang. Kasihan Mommy, dia sudah cukup lelah berpura-pura membenci Daddy setiap hari. Jangan ditendang terlalu keras, oke? Daddy sudah di sini sekarang."

Mendengar ucapan itu, pertahanan Juliatte runtuh. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya meluncur jatuh. Ia melihat William, pria yang ia kira tidak akan pernah mau belajar, ternyata rela menembus tembok Oxford hanya untuk menemukannya.

"Dia... dia sangat suka makan, William," isak Juliatte akhirnya jujur. "Dia tidak membiarkanku istirahat. Aku takut... aku sangat takut Ayah akan tahu."

William naik ke atas ranjang, menarik Juliatte ke dalam pelukannya, membiarkan kepala gadis itu bersandar di dadanya yang bidang. "Ayahmu tidak akan menyentuhmu lagi, Jules. Aku bukan lagi sekadar berandal jalanan. Aku mahasiswa Oxford sekarang, dan aku adalah ayah dari anak itu. Biarkan mereka mencoba mengambilmu, maka mereka harus melewati mayatku dulu."

🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear😍

1
Zoya Humaira
Akuu sukaaaa tthoor,,💪💪💪
Zoya Humaira
Kereeeen otoor ,,,tetap semangaat yaaa
Fbian Danish
wow... crazy up...... tingkyu otor,....😄😄
Fbian Danish
terima kasih update nya Thor.... ceritamu bagusss sekali sukakkkkkkkkkkkk❤️❤️❤️
Lisna
suka banget sama cerita yang inii😍😍
Lisna
thor ini udah jam 8 lebihh🤭🤭nungguin🤭🤭
Ros_10: Terharuuu😍😍😍
total 1 replies
Lisna
lanjutt kakk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!