Deskripsi — MY DANGEROUS KENZO
📚✨ Naya Putri Ramadhani selalu hidup di bawah aturan Mommy yang super strict. Serba rapi, serba disiplin… sampai napasnya terasa terkekang.
Tapi ketika study tour sekolah datang, Naya menemukan sedikit kebebasan… dan Kenzo Alexander Hartanto.
Kenzo, teman kakaknya, santai, dewasa, tapi juga hyper affectionate. Suka peluk, suka ngegodain, dan… bikin jantung Naya deg-degan tiap kali dekat.
Bagaimana Naya bisa bertahan antara Mommy yang strict, Pappi yang hangat, dan Kenzo yang selalu bikin dia salah tingkah? 💖
💌 Happy Reading! Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Dinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 - My Dangerous Kenzo
...----------------...
...📚✨💌 HAPPY READING! 💌📚✨...
...Selamat datang di cerita ini, semoga kamu betah, nyaman, dan ketagihan baca 😆💫...
...Siapin hati ya… siapa tahu baper tanpa sadar 💖🥰...
...⚠️🚨 DISCLAIMER 🚨⚠️...
...Cerita ini fiksi yaa ✨...
...Kalau ada yang mirip, itu cuma kebetulan 😌...
...No plagiarism allowed ❌📝...
...----------------...
Pagi itu, Reno, Kenzo, dan Naya sudah siap berangkat sekolah. Mobil hitam milik Kenzo terparkir rapi di depan rumah, mesin menyala pelan. Seperti biasa, Kenzo di balik kemudi, Reno duduk di depan sebelahnya, sementara Naya di kursi belakang.
Saat Naya hendak membuka pintu mobil, langkahnya terhenti.
Mommy memanggilnya.
Naya menoleh. Mommy berjalan mendekat sambil menyerahkan sebuah kartu ATM ke tangannya.
“Nih,” kaa2ata Mommy singkat. “Mommy ada acara di butik, jadi pulang malam.”
Naya menatap kartu di tangannya, lalu menatap Mommy. Matanya jelas menyiratkan keterkejutan.
“Kamu boleh jalan sama temen,” lanjut Mommy datar, “nanti Reno juga ikut.”
Naya terdiam beberapa detik. Tak menyangka kalimat itu keluar begitu saja.
Tak ada larangan.
Tak ada nada tinggi.
“Habis pulang sekolah, ganti baju dulu nantinya,” tambah Mommy.
Naya akhirnya mengangguk pelan. “Iya, Mom.”
Mommy lalu menoleh ke Reno.
“Ren, jagain Naya.”
“Iya, Mom,” jawab Reno mantap.
Mommy melangkah mundur, memberi jalan. Naya masuk ke mobil dengan perasaan campur aduk—antara senang, bingung, dan sedikit takut kalau ini hanya sementara.
Mobil Kenzo melaju meninggalkan rumah.
Dari balik kaca, Naya masih memegang kartu ATM itu erat.
Untuk pertama kalinya, Mommy memberinya kepercayaan—dan entah kenapa, hal itu justru membuat dadanya terasa sesak.
Kenzo melirik sekilas ke spion, menangkap bayangan wajah Naya yang tampak melamun.
Reno ikut memperhatikan, tapi memilih diam.
Hari itu baru saja dimulai.
Dan tanpa mereka sadari, izin kecil dari Mommy akan membawa banyak hal yang tak terduga.
...----------------...
Naya tiba lebih dulu di kelas. Ia duduk di bangkunya, menaruh tas dengan rapi, lalu menatap keluar jendela. Pikirannya masih berantakan—tentang Mommy, izin yang tiba-tiba, dan kartu ATM yang kini tersimpan di dompetnya.
Beberapa menit kemudian, suara langkah cepat terdengar.
“Nay, nay?” suara itu heboh seperti biasa.
Citra muncul di depan bangku Naya dengan wajah penuh ekspresi.
“Lo tau nggak,” Citra langsung duduk sambil mendekat, suaranya direndahin tapi tetap semangat, “tadi gue liat Gisel berantem sama Lula.”
Naya menoleh malas. “Kenapa lagi?”
“Rebutan Kak Kenzo,” jawab Citra tanpa dosa.
Naya terdiam.
‘Tadi malem aja sok lembut ke gue. Dasar playboy,’ batin Naya, rahangnya sedikit mengeras.
“Kak Kenzo bukannya misahin,” lanjut Citra, “malah melengos gitu aja.”
‘Emang dasar playboy yaa. Playboy aja,’ batin Naya lagi, kali ini sambil menghela napas pelan.
Citra mengernyit. “Kok lo diem aja sih?”
Naya tersadar. “Eh? Nggak papa. Bodo amat.”
Citra menatapnya curiga sebentar, tapi kemudian tersenyum lagi.
“Oh iya,” katanya, “kakak lo ngajak jalan nanti. Katanya barengan elo sama Kenzo juga.”
Naya menaikkan bahu. “Mau nonton doang sih.”
“Hayu lah, gas!” Citra nyengir lebar. “Gue juga lagi luang.”
Bel berbunyi, memotong obrolan mereka. Naya menyandarkan punggung ke kursi, matanya menatap papan tulis—tapi pikirannya jelas ke satu nama yang sama sejak pagi.
Kenzo.
Dan entah kenapa, hari itu rasanya bakal panjang.
Bel pulang akhirnya berbunyi.
Naya merapikan bukunya pelan, pikirannya masih nyangkut di obrolan pagi tadi. Citra sudah lebih dulu pamit karena ada urusan lain.
Di parkiran, mobil Kenzo sudah menunggu. Reno berdiri sambil main ponsel, sementara Kenzo bersandar santai di pintu mobil.
“Ayo,” kata Reno singkat.
Perjalanan pulang diisi keheningan aneh. Reno sibuk dengan ponselnya, Kenzo fokus menyetir, dan Naya duduk di kursi belakang menatap keluar jendela, pikirannya kemana-mana.
Sampai di rumah, Naya langsung naik ke kamarnya. Reno masuk ke kamar sendiri.
“Ken, gue duluan yang mandi,” teriak Reno dari balik pintu.
“Oke,” jawab Kenzo santai.
Naya membuka lemari. Matanya menelusuri deretan baju.
‘Ini terlalu biasa… ini terlalu ribet… ini kok kayak mau kondangan?’
Ia mengeluarkan satu per satu, menaruh di kasur, lalu mengacak rambutnya sendiri.
“Kenapa sih ribet amat,” gumamnya.
‘Cuma nonton. Bukan apa-apa,’ katanya meyakinkan diri.
Ia mengenakan kaos kebesaran dengan tulisan di bagian depan, rok mini, sepatu, dan sebuah topi hitam—topi milik Reno.
Naya menatap cermin sebentar, lalu mengangguk kecil seolah menguatkan diri.
Ia keluar kamar, berniat menunggu di ruang tengah.
Namun, tepat saat ia melangkah keluar, pintu kamar Reno juga terbuka. Kenzo keluar hampir bersamaan.
Pandangan Kenzo langsung tertuju ke Naya.
“Cocok juga pake topi,” katanya. “Buat lo aja topinya.”
Naya refleks berhenti.
‘Hah? Topinya punya dia… bukan punya Reno?’ batinnya kaget.
‘Yaudah… dia juga udah ngasih,’ pikirnya kemudian.
Kenzo turun ke bawah lebih dulu, Naya mengikutinya. Keduanya menuju dapur untuk mengambil minum.
Di depan lemari es, Naya hendak membuka pintunya. Kenzo yang sedang mengambil gelas meletakkan gelas di meja bar.
Tiba-tiba—
Kenzo memeluk Naya dari belakang.
Naya tersentak kaget. Tangannya refleks mencoba melepaskan lengan Kenzo yang melingkar di perutnya.
“Ken—!”
“Diem,” bisik Kenzo.
“Lo kan peluk gue waktu gue tidur di kasur Reno,” lanjutnya pelan. “Sekarang gantian.”
“Nanti Kak Reno liat,” suara Naya mengecil.
“Kalo Reno nggak liat berarti boleh,” jawab Kenzo santai.
“Hah?” Naya melotot.
Tiba-tiba—
“Nay?”
Suara Reno terdengar dari tangga.
Jantung Naya serasa berhenti.
“Lepasin, lepasin, Kenzo!” bisiknya panik.
Kenzo langsung melepaskan pelukannya.
Dan—
Hap.
Kenzo melahap bibir Naya dengan cepat.
Reno sudah berdiri di ujung tangga.
“Lagi ngapain?” tanya Reno curiga.
Kenzo mengangkat bahu santai.
“Gue haus. Bibir gue kering, basah in dulu, kan.”
Naya membeku di tempat.
Wajahnya panas, jantungnya berdegup nggak karuan.
‘Ini cowok bener-bener gila…’ batinnya.
‘Dan kenapa gue nggak langsung kabur sih?’
Reno memandangi Kenzo beberapa detik lebih lama dari biasanya. Tatapannya datar, tapi jelas ada sesuatu yang ia simpan.
“Bibir kering?” ulang Reno pelan.
“Iya,” jawab Kenzo santai sambil mengambil gelas dan menuang air. “Kurang minum.”
Naya berdiri kaku di samping kulkas. Ia bahkan nggak berani menatap Reno.
Reno melirik ke arah Naya.
“Kamu kenapa? Mukanya merah.”
“Panas,” jawab Naya cepat. “Dapur pengap.”
Kenzo menyesap airnya, lalu bersandar ke meja bar seolah tak terjadi apa-apa.
Reno menyipitkan mata.
“Dari tadi ngapain di dapur?”
“Ngambil minum,” jawab Kenzo datar.
“Terus nunggu lo turun.”
Reno menghela napas pelan.
“Ken,” katanya lebih rendah, “jangan macem-macem sama adek gue.”
Kenzo menoleh, ekspresinya tetap santai tapi sorot matanya berubah lebih serius.
“Takut banget kayaknya.”
Reno menatapnya lurus.
“Jangan mainin.”
Naya menunduk. Jantungnya kembali berdebar, kali ini bukan karena Kenzo—tapi karena tatapan Reno yang terasa tajam.
Reno lalu mengalihkan pandangan.
Naya menghembuskan napas panjang.
Kenzo menoleh ke arahnya, suaranya direndahkan.
“Tenang aja. Kakak lo protektif.”
“Hampir aja” bisik Naya.
Kenzo tersenyum tipis.
“Justru itu serunya.”
Naya melotot.
“Sinting.”
Kenzo cuma terkekeh pelan.
...----------------...
...💥 Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾 biar nggak ketinggalan update selanjutnya!...
...🙏💛 TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA! 💛🙏...
...Dukung karya lokal, gratis tapi berasa 🫶📖...
...Biar penulisnya senyum terus 😆✨...
...----------------...