NovelToon NovelToon
EXPIREDENS

EXPIREDENS

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Kutukan / Balas Dendam
Popularitas:992
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Tittle : EXPIREDENS
Author : Karamellatee Clandestories

VOL. 1 : Keturunan tanah darah Kutukan

Cerita tentang bagaimana para mahasiswa yang membangun akar dari masalah menghubungkan timbal balik antara masa lalu dan masa depan, terciptanya gelombang tanpa ampunan bagi mereka sang pendosa harus diselesaikan oleh kelima mahasiswa ini. Terjebak antar ruang dan waktu merajalela nyawa satu per satu, nyawa adalah taruhan dan mereka adalah detak jantung dari setiap tragedi yang akan memutarbalikkan fakta.

Pada kenyataannya mereka adalah manusia biasa yang menjadi tokoh utama dari setiap kelam nya masa lalu?

Menyusun harmoni yang ada dalam monarki, disaat semua orang memiliki pemahaman komunisme, fanatisme, dan liberalisme. Sungguh, tekad yang membawa mereka dalam angan-angan kematian. Diiringi kisah pilu, dalam nestapa berdiam diri, goyah oleh setiap godaan ingatan terukir, takkan pernah terkikis oleh waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 26: Ketimpangan kutukan [6]

...●◉◎◈◎◉●...

...#1 Original story [@clandestories]...

...#2 No Plagiatrism...

...#3 Polite and non-discriminatory comments...

...•...

...•...

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

Konsekuensi tidak selalu datang dalam bentuk kehancuran besar. Kadang ia hadir sebagai retakan kecil yang nyaris tak terlihat—retakan pada keyakinan, pada rasa aman, pada definisi diri sendiri.

Zack merasakannya sekarang.

Bukan ledakan.

Bukan serangan.

Melainkan kesadaran bahwa jika ia memilih untuk “mengubah garis”, maka ia juga harus siap kehilangan versi lama dari dirinya. Ia bukan lagi sekadar Mahasiswa biasa yang kebetulan terhubung pada sejarah. Ia adalah simpul aktif dalam jaringan keputusan leluhur, dan simpul yang bergerak akan menggeser seluruh struktur.

Saka tiba-tiba duduk perlahan, menekan dada kirinya.

“Kuat Sak?” tanya Hamu cepat.

Saka mengangguk kecil. “Bukan sakit… cuma padat.”

Rakes memperhatikan dengan tajam. “Banyak keanehan ngga?”

Saka menarik napas perlahan, mencoba menenangkan ritmenya sendiri. “Iya. Tapi bukan karena tekanan luar. Lebih kayak… respon.”

“Respon terhadap apa?” Kale bertanya.

Saka menatap Zack.

“Terhadap niat.”

Semua mata kembali tertuju pada Zack.

Zack tidak sedang menerima potongan ingatan baru. Tidak ada kilatan wajah atau ruang istana. Yang ada hanya satu hal yang jauh lebih kuat: keputusan yang mulai terbentuk di dalam dirinya.

Ia menyadari sesuatu yang sederhana namun berat—kutukan ini bertahan bukan karena ia tak terkalahkan, tetapi karena setiap generasi sebelumnya memilih bertahan di dalam sistemnya. Mereka mencoba bertahan hidup, bukan mengubah struktur.

“Kalau gue jadi pemicu,” ujar Zack pelan, “itu berarti gue harus sengaja ngubah posisi simpulnya.”

Rakes tidak langsung menjawab. Ia tahu kalimat itu bukan sekadar teori.

"Mengubah posisi berarti narik ulang jalur energi yang selama ini stabil,” jelas Rakes akhirnya. “Dan stabilitas itu dijaga bukan cuma sama garis Demar.”

“Bharata Jengga,” gumam Kale.

“Dan mungkin sisa garis Liorlikoza yang masih aktif selain Saka,” tambah Hamu.

Zack mengepalkan tangannya pelan. “Jadi kalau gue bergerak, mereka bakal ngerasa?”

Rakes mengangguk. “Bukan cuma ngerasa. Mereka bakal respon.”

Keheningan kali ini terasa seperti ruang sebelum langkah pertama.

Saka memejamkan mata sejenak. Di dalam dirinya, ia bisa membedakan dua arus: satu yang berasal dari dirinya sendiri, dan satu lagi yang bergetar mengikuti niat Zack. Resonansi itu bukan sekadar pantulan—ia adalah penguat.

Dan di situlah letak bahayanya.

“Rak,” Saka membuka mata, suaranya lebih stabil sekarang, “kalau gue resonansi, berarti setiap keputusan Bang Zack bakal gue perbesar.”

Rakes mengangguk perlahan. “Iya.”

“Berarti kalau dia ragu, keraguan itu juga bakal nyebar.”

Zack terdiam.

Kalimat itu menancap lebih dalam daripada ancaman eksternal mana pun.

Ini bukan hanya soal keberanian memilih. Ini soal kestabilan batin.

Karena satu celah kecil di simpul bisa menjadi gelombang besar di resonansi.

Hamu berdiri lebih tegak. “Berarti kita gak bisa biarin Bang Zack mikir sendirian.”

Kale menambahkan, “Dan gak bisa biarin Saka nahan sendirian.”

Rakes akhirnya menyadari pola lengkapnya.

Zack adalah simpul.

Saka adalah resonansi.

Kale dan Hamu adalah penyeimbang eksternal.

Dan dirinya—Rakes—adalah pengarah ritme.

Bukan kebetulan mereka berada di titik ini bersama.

“Dengerin gue baik-baik,” ujar Rakes, suaranya dalam namun tenang. “Perubahan besar gak dimulai dari aksi. Ia dimulai dari stabilitas. Kalau lo mau ngubah struktur, Zack, lo harus pastiin lo stabil dulu. Bukan emosi. Bukan impuls.”

Zack mengangguk perlahan.

“Dan Saka,” lanjut Rakes, “lo belajar pisahin mana getaran lo sendiri, mana yang dari dia. Lo gak boleh larut.”

Saka mengangguk balik. Kali ini lebih yakin.

Zack menatap jendela sekali lagi. Di luar, orang-orang berjalan biasa. Dunia tidak tahu bahwa di dalam satu ruangan kecil, sebuah simpul sejarah sedang mempertimbangkan untuk bergeser.

Ia menarik napas panjang.

“Gue gak mau cuma jadi simpul yang diwarisin,” katanya pelan tapi tegas. “Kalau memang ini desain lama, gue mau nulis ulangnya.”

Resonansi di dalam dada Saka bergetar—bukan liar, tapi kuat.

Rakes menyadari sesuatu yang krusial saat itu juga.

Ini bukan lagi fase transisi.

Ini fase konsolidasi niat.

Dan di dunia yang selama ini bergantung pada pola turun-temurun, niat sadar adalah variabel paling berbahaya.

Karena jika simpul bergerak dengan stabil,

dan resonansi menguat dengan terkontrol,

maka yang akan terguncang bukan hanya kutukan—

melainkan fondasi yang selama ini menganggapnya perlu.

Niat bukan sekadar keputusan yang diucapkan.

Ia adalah perubahan posisi batin.

Dan perubahan posisi batin, pada seseorang yang menjadi simpul, tidak terjadi tanpa konsekuensi yang halus.

Zack tidak langsung berbicara lagi. Ia berdiri diam, tetapi di dalam dirinya sesuatu sedang bergeser—bukan memaksa, bukan meledak—melainkan mengkalibrasi ulang.

Selama ini, setiap potongan ingatan datang sebagai gangguan. Sesuatu yang menyerang, memaksa, menyusup. Ia selalu berada dalam posisi bertahan.

Sekarang untuk pertama kalinya, ia berhenti melawan.

Ia tidak menolak tekanan di pelipisnya. Tidak menghindari gema yang muncul di dadanya. Ia justru memperhatikannya.

Dan di situlah perbedaannya.

Saka merasakan perubahan itu hampir bersamaan. Resonansi yang biasanya liar dan reaktif kini terasa… tertata. Seperti gelombang yang menemukan ritme alaminya.

“Rak…” suara Saka pelan, tapi ada kejelasan di dalamnya. “Dia ngga lagi ditarik.”

Rakes tidak menjawab. Ia sudah melihatnya.

Zack tidak lagi tampak seperti seseorang yang sedang dikejar masa lalu. Ia tampak seperti seseorang yang sedang membuka pintu dengan sadar.

Dan ketika simpul berhenti menolak tarikan struktur, struktur itu sendiri mulai memperlihatkan bentuknya.

Zack memejamkan mata.

Kali ini, potongan yang datang bukan adegan berdarah atau bayangan istana. Ia melihat pola.

Garis-garis.

Jalur yang saling terhubung.

Demar bukan pusat tunggal. Ia simpul dalam jaringan tiga arah. Garis ke Bharata Jengga bukan garis permusuhan sederhana—itu garis penyeimbang. Garis ke Liorlikoza bukan sekadar sejarah pengkhianatan—itu garis intervensi.

Kutukan tidak diciptakan untuk menghancurkan.

Ia diciptakan untuk menahan sesuatu.

Zack membuka mata perlahan.

“Mahaniyan bukan cuma kunci buat ngelepas,” ucapnya pelan. “Dia kunci buat ngebuka perubahan besar yang gak semua pihak siap hadapin.”

Hening turun, tapi bukan karena kebingungan. Melainkan karena pengakuan.

Rakes melangkah satu langkah lebih dekat. “Apa yang ditahan?”

Zack menggeleng pelan. “Belum jelas. Tapi kutukan ini bukan cuma hukuman. Ia rem.”

Kata itu terasa berat.

Rem.

Saka menelan ludah. Jika kutukan adalah rem, maka membebaskannya berarti melepaskan batas.

“Kalau rem dilepas,” ujar Kale perlahan, “kendaraan bisa melaju… atau kehilangan kendali.”

“Makanya Evangelin milih bunuh Mahaniyan,” lanjut Hamu, logikanya mulai menyatu. “Bukan buat jahat. Tapi buat nahan sesuatu.”

Zack mengangguk kecil.

“Dan sekarang,” ia melanjutkan, “gue berdiri di titik yang sama.”

Rakes memahami sepenuhnya.

Pilihan Zack bukan sekadar antara bebas atau tetap terkutuk.

Ia memilih antara mempertahankan sistem yang menahan perubahan… atau membiarkan sesuatu yang lama terkunci akhirnya bergerak.

Dan perubahan besar tidak pernah netral.

Saka memejamkan mata sesaat. Ia memeriksa dirinya sendiri. Resonansi itu tidak terasa panik. Tidak terasa seperti ancaman. Justru ada stabilitas yang aneh—seolah sistem di dalam dirinya menyambut kejelasan Zack.

“Rak,” katanya pelan, “kalau dia konsisten, getarannya ngga destruktif.”

Rakes menatapnya. “Artinya?”

“Artinya yang bakal terguncang bukan kita duluan.”

Kalimat itu menggantung.

Zack menarik napas dalam.

Selama ini ia mengira menjadi simpul berarti menjadi pusat beban. Sekarang ia mengerti—simpul juga pusat distribusi. Jika ia mengubah arah, ia tidak hanya menahan tekanan. Ia mengirim ulang arus.

Dan arus yang diarahkan dengan sadar lebih berbahaya daripada arus liar.

“Gue gak mau gegabah,” katanya akhirnya. “Gue gak mau jadi pemicu cuma karena emosi atau rasa penasaran.”

Ia menatap Rakes lurus.

“Gue mau ngerti dulu apa yang sebenernya ditahan sama kutukan ini.”

Rakes menahan napas sejenak.

Inilah perbedaan antara dorongan impulsif dan kesadaran struktural.

Jika Zack bergerak sekarang dengan niat membongkar, sistem akan melawan. Tapi jika ia memilih memahami pola sepenuhnya, maka ketika ia bergerak nanti… ia tidak akan sekadar memutus garis.

Ia akan menulis ulang jalurnya.

Dan perubahan yang lahir dari pemahaman selalu lebih permanen.

Di luar, angin sore mulai bergerak. Cahaya siang berubah sudutnya, bayangan di lantai bergeser perlahan.

Perubahan tidak datang dengan suara keras.

Ia datang seperti ini—

diam, terukur, nyaris tak terlihat.

Namun Rakes tahu, jauh di luar ruangan ini, dalam jaringan yang tidak kasatmata antara tiga garis kerajaan, sesuatu baru saja tercatat.

Simpul tidak lagi pasif.

Dan ketika simpul sadar akan posisinya,

sejarah tidak lagi berjalan lurus—

ia mulai menunggu.

Keheningan setelah semua itu terasa lebih panjang dari biasanya.

Bukan karena mereka kehabisan kata-kata, tapi karena masing-masing sedang mencoba memahami sesuatu yang pelan-pelan berubah di dalam diri Zack.

Ia tidak lagi terlihat seperti orang yang ketakutan oleh potongan masa lalu. Wajahnya masih serius, masih tegang, tapi ada ketenangan yang baru. Seolah-olah ia akhirnya berhenti melawan bayangan yang selama ini mengejarnya.

Zack duduk di lantai, punggungnya bersandar ke dinding. Matanya tidak terpejam, tapi pandangannya jauh. Ia sedang memikirkan ulang semuanya—tentang Mahaniyan, tentang Evangelin Arkozia, tentang kutukan yang diwariskan turun-temurun.

Selama ini, ia hanya ingin bebas.

Sesederhana itu.

Bebas dari mimpi aneh.

Bebas dari rasa sakit tiba-tiba.

Bebas dari perasaan bahwa hidupnya dikendalikan sesuatu yang lebih tua darinya.

Tapi sekarang, ia mulai sadar kalau semuanya tidak sesederhana “lepas” atau “tidak lepas”.

Kalau memang leluhur Liorlikoza membunuh orang yang seharusnya bisa mengakhiri kutukan, berarti ada alasan besar di baliknya. Mungkin keputusan itu bukan sekadar kejam. Mungkin waktu itu ada sesuatu yang dianggap lebih berbahaya daripada kutukan itu sendiri.

Pikiran itu membuat dada Zack terasa berat.

Bukan karena takut.

Tapi karena tanggung jawabnya jadi terasa lebih nyata.

Saka duduk tak jauh darinya. Ia bisa merasakan perubahan itu juga. Biasanya, setiap kali Zack memikirkan soal kutukan, getaran di dalam dirinya jadi tidak stabil—kadang terlalu kuat, kadang hilang tiba-tiba.

Sekarang berbeda.

Getarannya tenang. Dalam. Seperti air yang tidak lagi diaduk.

“Lo lagi mikir apa?” tanya Kale pelan, suaranya lebih lembut dari biasanya.

Zack menarik napas pelan. “Gue mikir… mungkin kutukan ini bukan cuma buat nyiksa.”

Tidak ada yang langsung menanggapi.

Zack melanjutkan, suaranya pelan tapi jelas. “Kalau dari dulu bisa dilepas tapi gak dilepas, berarti ada sesuatu yang dijaga.”

Hamu mengerutkan kening. “Dijaga dari siapa?”

Zack menggeleng pelan. “Gue belum tau. Tapi rasanya… kayak ada hal yang lebih besar dari sekadar keluarga gue.”

Rakes memperhatikan dengan saksama. Ia tidak memotong, tidak mengarahkan. Ia ingin Zack sampai pada kesimpulannya sendiri.

Zack menunduk, menatap kedua tangannya.

“Kalau gue langsung maksa ngilangin semuanya tanpa ngerti kenapa ini ada,” lanjutnya, “takutnya gue malah ngerusak sesuatu yang seharusnya gak gue rusak.”

Kalimat itu sederhana. Tidak rumit. Tapi berat.

Saka menatapnya dan menyadari satu hal penting—Zack tidak lagi bicara soal kabur dari beban. Ia bicara soal memahami dulu sebelum bertindak.

Itu perubahan besar.

Di luar, angin sore terdengar pelan menyentuh pepohonan. Cahaya mulai bergeser, membuat ruangan terasa lebih hangat.

Zack mengangkat wajahnya.

“Gue gak mau jadi orang yang cuma nurunin masalah ke generasi berikutnya,” katanya pelan. “Kalau gue harus jadi titik, ya gue harus ngerti dulu garisnya.”

Rakes akhirnya berbicara. Suaranya tenang. “Dan ngerti itu butuh waktu.”

Zack mengangguk. “Gue ngga bakal buru-buru.”

Keputusan itu terasa lebih kuat daripada keputusan untuk melawan.

Saka menghela napas pelan. Getaran di dadanya tetap stabil. Itu pertanda baik. Artinya Zack tidak sedang terbawa emosi. Ia berpikir jernih.

Kale menyandarkan punggungnya ke tembok. “Berarti sekarang kita pelan dulu.”

Hamu mengangguk. “Pelan tapi sadar.”

Zack berdiri perlahan. Wajahnya tidak lagi penuh kebingungan seperti sebelumnya. Ia belum punya semua jawaban, tapi ia punya arah.

Dan arah itu tidak dibangun dari kemarahan atau ketakutan.

Ia dibangun dari pemahaman.

Di dalam dirinya, kutukan itu masih ada. Masih terasa. Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak merasa seperti korban.

Ia merasa seperti seseorang yang sedang belajar membaca peta yang diwariskan padanya.

Dan mungkin, suatu hari nanti, ia akan cukup mengerti untuk menggambar ulang peta itu.

Tapi tidak hari ini.

Hari ini, ia memilih untuk memahami dulu.

Dan pilihan itu—yang terlihat kecil dan tenang—mungkin adalah langkah paling penting yang pernah ia ambil.

Sore makin turun ketika keputusan itu akhirnya terasa jelas di antara mereka.

Memahami tidak cukup kalau hanya duduk di satu ruangan.

Kalau semua ini berakar pada garis keluarga Demar, kalau kutukan itu diwariskan turun-temurun, maka jawaban paling dekat bukan ada di luar—melainkan di rumah Zack sendiri.

Rakes yang pertama kali menyadarinya.

“Kita gak bisa cuma nebak-nebak dari potongan,” katanya tenang. “Kalau mau ngerti kenapa semua ini masih ada, kita harus lihat langsung asalnya.”

Zack langsung mengerti maksudnya.

Rumah.

Bukan sekadar bangunan tempat ia dibesarkan. Tapi tempat sejarah keluarganya menempel paling kuat. Tempat foto-foto lama tergantung. Tempat cerita-cerita yang jarang dibicarakan mungkin masih tersimpan diam-diam.

Dadanya terasa sedikit lebih berat.

Pulang sekarang bukan cuma soal mampir. Itu berarti menghadapi kemungkinan bahwa keluarganya tahu lebih banyak daripada yang pernah mereka katakan.

Saka menatapnya, peka pada perubahan napas Zack.

“Lo siap?” tanyanya pelan.

Zack tidak langsung menjawab. Ia membayangkan ruang tamu rumahnya. Lemari kayu tua milik kakeknya. Dokumen-dokumen yang selalu disimpan rapi dan jarang disentuh. Tatapan ayahnya yang kadang terlalu tenang saat topik keluarga muncul.

Mungkin selama ini ia tidak bertanya cukup dalam.

Mungkin keluarganya memang sengaja tidak pernah menjelaskan.

Ia menarik napas panjang.

“Kalau jawabannya ada di mana-mana,” katanya pelan, “rumah gue pasti salah satunya.”

Hamu mengangguk. “Minimal kita bisa cari jejak. Surat lama, catatan, apa pun.”

Kale menambahkan, “Dan kalau ternyata keluarga lo tau sesuatu… kita bisa langsung konfirmasi.”

Rakes tetap tenang, tapi pikirannya sudah menyusun langkah.

Pergi ke kediaman keluarga Zack bukan langkah kecil. Jika memang garis Demar menyimpan rahasia besar, maka kemungkinan besar rumah itu bukan sekadar tempat tinggal biasa. Bisa jadi ada hal yang selama ini tersembunyi—secara sengaja atau tidak.

“Besok pagi,” putus Rakes akhirnya. “Kita berangkat bareng. Jangan malam ini. Kita butuh kepala yang jernih.”

Zack mengangguk.

Keputusan itu terasa nyata. Bukan lagi sekadar diskusi tentang masa lalu, tapi langkah konkret menuju asal mula.

Saka berdiri perlahan. Getaran di dadanya tetap stabil, tapi ada rasa tegang yang baru—bukan karena kutukan bergerak, melainkan karena mereka akan mendekati sumbernya.

Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya.

Zack sendirian sebentar sebelum tidur. Ia menatap langit-langit kamar, pikirannya kembali pada satu hal: bagaimana jika keluarganya memang tahu? Bagaimana jika semua ini bukan kebetulan, bukan sesuatu yang “baru”, tapi sesuatu yang memang sudah dijaga selama ini?

Ada kemungkinan ia akan menemukan jawaban.

Ada kemungkinan juga ia akan menemukan kebenaran yang tidak nyaman.

Namun untuk pertama kalinya, ia tidak ingin lari.

Jika ia adalah titik, maka ia harus berani melihat dari mana garis itu ditarik.

Dan besok, ia akan kembali ke tempat di mana semuanya bermula—

kediaman keluarga Demar.

Bukan sebagai anak yang bingung.

Tapi sebagai seseorang yang siap membuka apa pun yang selama ini disembunyikan oleh waktu.

Pagi datang lebih cepat dari yang mereka rasakan.

Udara masih dingin ketika mereka berkumpul di depan gerbang. Tidak banyak bicara. Bukan karena tegang, tapi karena masing-masing sedang menyiapkan diri.

Perjalanan ke kediaman keluarga Zack memakan waktu beberapa jam. Semakin jauh mereka dari pusat kota, jalanan semakin sepi. Bangunan tinggi berganti dengan rumah-rumah lama, pohon besar, dan pagar besi yang tampak sudah berdiri puluhan tahun.

Mobil berhenti di depan sebuah rumah besar dengan halaman luas dan pepohonan tua yang menaungi sebagian atapnya.

Rumah itu tidak terlihat angker.

Justru tenang.

Terlalu tenang.

Zack turun lebih dulu. Kakinya menyentuh tanah halaman yang sangat ia kenal, tapi hari ini rasanya berbeda. Setiap sudut terasa seperti menyimpan sesuatu yang belum pernah ia perhatikan.

Saka turun setelahnya. Begitu mendekati pagar, ia merasakan sesuatu—bukan getaran kuat seperti sebelumnya, tapi rasa padat yang tipis, seperti udara yang lebih berat.

“Lo ngerasa?” tanya Kale pelan.

Saka mengangguk sedikit. “Bukan ancaman… tapi ada lapisan.”

Rakes mengamati rumah itu dengan saksama. Dindingnya kokoh. Jendelanya tinggi. Tidak ada tanda-tanda aneh. Namun ada kesan bahwa rumah ini menyimpan lebih banyak dari sekadar kenangan keluarga.

Zack membuka pintu pagar.

Bunyi gesekannya terdengar jelas di pagi yang sunyi.

Saat mereka melangkah masuk ke halaman, Zack menyadari satu hal yang dulu tak pernah ia pikirkan—rumah ini dibangun bukan dengan desain biasa. Denahnya simetris. Terlalu simetris. Ruang tengah berada tepat di pusat bangunan.

Titik pusat.

Dadanya bergetar pelan.

Bukan sakit. Hanya respons.

Pintu utama terbuka sebelum mereka sempat mengetuk.

Ayah Zack berdiri di sana.

Wajahnya tenang seperti biasa, tapi ada sesuatu di matanya—seolah ia sudah menunggu.

“Kamu datang,” ucapnya pelan.

Bukan bertanya.

Mengatakan.

Zack menelan ludah. “Ayah… kita perlu ngomong.”

Ayahnya memandang ke arah teman-teman Zack satu per satu. Tidak ada ekspresi terkejut. Tidak ada keberatan.

“Hari ini memang waktunya,” katanya pelan.

Kalimat itu membuat udara terasa lebih berat.

Mereka dipersilakan masuk.

Begitu melewati ambang pintu, Saka langsung merasakan perubahan yang lebih jelas. Bukan tekanan yang menyakitkan, tapi seperti berdiri di dalam ruang yang menyimpan gema lama.

Dinding ruang tamu dipenuhi foto-foto keluarga. Beberapa di antaranya sangat tua—hitam putih, dengan wajah-wajah yang mirip Zack, hanya berbeda zaman.

Rakes memperhatikan satu foto yang lebih besar dari yang lain. Seorang pria muda berdiri tegak dengan tatapan serius. Wajahnya sangat mirip Zack.

“Siapa itu?” tanya Rakes.

Ayah Zack menjawab tanpa ragu. “Kakek buyut Demar.”

Zack mendekat.

Semakin ia memandang foto itu, semakin jelas kesamaan di garis rahang, di sorot mata.

Dan di dalam dirinya, sesuatu bergetar lebih kuat.

Bukan seperti potongan memori.

Lebih seperti pengakuan.

Saka berdiri diam, mencoba menstabilkan napasnya. Getaran di dalam rumah ini bukan liar. Ia teratur. Seolah-olah rumah ini memang dibangun untuk menahan sesuatu tetap di tempatnya.

Ayah Zack berjalan ke arah sebuah lemari kayu tua di sudut ruangan. Ia membuka laci bagian bawah dan mengeluarkan sebuah kotak kecil yang tampak sudah sangat lama.

Ia meletakkannya di meja.

“Seharusnya ini diberikan ketika kamu siap,” katanya pelan pada Zack. “Dan sepertinya… waktunya sudah tiba.”

Zack menatap kotak itu.

Tangannya terasa sedikit dingin.

Bukan karena takut.

Tapi karena ia tahu—apa pun yang ada di dalam kotak itu bukan sekadar benda lama.

Itu jawaban.

Atau awal dari jawaban.

Dan saat jari-jarinya perlahan menyentuh tutup kotak itu, seluruh ruangan terasa seolah menahan napas.

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

1
Astari ques
🤣🤣🤣
Astari ques
iyalah rakes sangatlah mental baja💪
Astari ques
si rakes di luar angkasa emang🤭🤣🤣
Astari ques
alur ceritanya bagus dan penokohannya keren keren🤗🤗
Astari ques: Siap kak😄😄
total 2 replies
Astari ques
seru banget ceritanya😍
Astari ques
Wow cerita bagus banget mana ganteng2 lagi karakternya😍
Karamellatee Clandestories
lanjutt baca ajaa
Rectoverso
menarique.... /Applaud/
Junet-ssi
Zack punya penyakit mental kah?
Aarmaaa28
hi
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel
bagus sih buat cerita nya NIAT banget malah, tapi kurang promosi aja
Karamellatee Clandestories: terimakasihhhn
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!