Liora merasa dunianya runtuh dalam semalam. Baginya, Raka adalah pelabuhan terakhir, dan Salsa adalah rumah tempatnya bercerita. Namun kini, kenyataan pahit menghantamnya tanpa ampun; dua orang yang paling ia percayai justru menusuknya dari belakang dengan cara yang paling hina. Kepercayaan yang ia jaga setinggi langit, kini hancur berkeping-keping di bawah kaki tunangan dan sahabatnya sendiri.
Liora tidak pernah menyangka bahwa prinsip yang ia pegang teguh untuk menjaga kehormatan di depan Raka, justru menjadi celah bagi Salsa untuk masuk dan mengambil alih segalanya. Bagai sebuah ironi, Liora memberikan kasih sayang yang tulus, namun dibalas dengan perselingkuhan yang dilakukan tepat di belakang punggungnya.
Apakah Liora akan tetap diam dan pura-pura tidak tau atau ia akan membalaskan dendamnya kepada kedua manusia yang telah mengkhianatinya...
Penasaran ayok ikuti kisah selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Kesedihan Kevandra
Kini Kevandra mengendarai mobilnya membelah hiruk-pikuk kota di malam hari. sesekali ia melirik ke arah belakang memastikan Ibunya tetap baik-baik saja.
"Bertahanlah, Ma!" lirih Kevandra, kini ia mengendari mobil itu dengan cepat.
"Sabar Mas, aku yakin Mama akan baik-baik saja." ucap Salsa, memasang wajah sedih dengan sangat baik.
"Iya Sayang, aku harap Mama tidak apa-apa." jawab Kevandra pelan, kini ia tidak bisa menyembunyikan kesedihan dan kekhawatirannya.
Dua puluh menit berlalu, akhirnya Kevandra sampai di rumah sakit. Dengan langkah cepat ia turun dari mobil dan beralih membuka pintu kursi belakang. Ia menggendong Almaira menuju pintu masuk.
"Dokter! Suster! tolong Mama Saya." teriak Kevandra.
Seketika para suster dan perawat, yang selalu siap siaga berjaga di pintu utama rumah sakit, dengan langkah cepat menghampiri Kevandra dan Salsa.
"Kenapa dengan pasien, Tuan!" tanya salah satu perawat tersebut, sambil membawa berangker untuk membaringkan tubuh Almaira.
"Saya tidak tau Sus! Saya sudah menemukan Mama Saya dalam keadaan tidak sadar di dalam kamar mandi." jelas Kevandra, dengan nada gemetar. setelah membaringkan tubuh Almaira.
"Baiklah sebaiknya anda! isi data terlebih dahulu, agar kami bisa langsung memberikan tindakan pertolongan pertama." jelas Suster tersebut, sembari mendorong berangker menuju ruangan UGD.
"Baik, Sus! lakukan yang terabaik, untuk Mama Saya." pinta Kevandra dengan nada lirih, lalu ia beralih menuju meja resepsionis untuk mengisi formulir yang dibutuhkan rumah sakit.
Sementara, Salsa kini ia sedang duduk di kursi tunggu, yang berada tepat di depan ruangan Almaira.
"Merepotkan." desis Salsa, dengan suara pelan, kini matanya tertuju pada ruangan Almaira. "Semoga saja wanita tua itu tidak selamat, jika ia selamat maka aku tidak punya cara lain, selain menghabisinya agar tetap menutup mulutnya selama-lamanya." lanjut Salsa dengan menatap tajam ruangan Almaira.
Sementara, di sisi lain setelah Kevandra menyelesaikan urusan pendaftarannya di meja resepsionis, ia melangkah menuju ke arah Salsa.
"Mas! bagaimana susah selesai." tanya Salsa dengan nada lirih, kini ia menghampiri Kevandra dan memeluknya. Seolah ia juga sedang merasakan kesedihan yang Kevandra rasakan.
"Aku yakin, Mama! akan baik-baik saja Mas!" bisik Salsa dengan nada lembut yang dibuat-buat, ia mengusap punggung Kevandra seolah sedang menguatkan suaminya.
Kevandra membalas pelukan Salsa, seolah ia sedang menumpahkan kesedihan dan kekhawatirannya pada Salsa. "Terima kasih, Sayang." ucap Kevandra, dengan suara pelan dan bergetar.
Sementara, saat ini di dalam ruang UGD. Suara detak jantung dari monitor terdengar semakin cepat dan tidak beraturan.
Almaira sedang dalam masa kritis akibat pendarahannya yang tidak berhenti.
"Dok! tekanan jantung, pasien melemah." lapor sang Perawat tersebut.
"Tetap pantau Sus, Saya akan menghentikan pendarah terlebih dahulu." ucap sang Dokter, dengan cekatan ia menghentikan aliran darah pada tengkuk Almaira. "Siapkan tambahan kantong darah dan suction! kita tidak bisa menjahit lukanya jika pendarahan belum berhenti." lanjut sang Dokter dengan nada tegas, dan membuat keringat bercucuran di pelipisnya. Kini Almaira di ruang operasi tengah berjuang dalam masa kritisnya.
Sementara di depan ruangan, Kevandra tampak gelisah dengan keadaan Ibunya. Ia berjalan kesana kemari di depan pintu ruangan tersebut dengan wajah khawatir.
Tiba-tiba Salsa menghampiri Kevandra. "Mas, duduk dulu aku tau kalau kamu khawatir, kalau kamu seperti ini kamu bisa kelelahan." ucap Salsa, dengan nada perhatian seolah-olah ia memang benar menghawatirkan Kevandra dan Almaira.
"Kenapa tidak langsung mati saja, mengganggu waktu istirahatku saja, lebih baik aku bertemu Raka daripada menunggunya di sini membuatku kesal." batin Salsa dengan geram.
"Aku tidak bisa tenang Sa! aku sangat khawatir terjadi sesuatu dengan Mama... kenapa Mama bisa terluka di kamar mandi?" lirih Kevandra.
"Karena aku yang melukainya." batin Salsa tersenyum smirk.
Dengan cepat Salsa memegang kedua tangan Kevandra, ia langsung memasang mimik wajah sendu dengan kedua matanya yang berkaca-kaca. "Bisa jadi, Mama! terpeleset Mas." ucap Salsa dengan nada menenangkan di buat-buat.
Kevandra hanya mengangguk pelan sebagai balasan, mungkin memang benar apa yang di katakan Salsa.
Sementara di sisi lain saat ini, di kediaman Kevandra dan Salsa. Bi Ratih langsung menghubungi seseorang—yaitu Liora. Dengan raut wajah gelisah dan khawatir, Bi Ratih langsung mengambil ponsel di dalam kamarnya setelah itu tanpa membuang waktu lagi ia langsung menghubungi Liora.
"Hallo, Non." sapa Bi Ratih, dengan suara bergetar menahan isak tangisnya.
"Iya, ada apa Bi?" tanya Liora di sebrang sana, dengan kening mengkerut mendengar suara Bi Ratih yang terdengar tidak seperti biasanya.
"Non, Ibu! Tuan Kevandra di larikan kerumah sakit." ujar Bi ratih, dengan suara tertahan karena isak tangisnya. Kini Bi Ratih menjelaskan apa yang terjadi dan apa yang ia ketahui pada Liora.
Sementara kini di sisi lain, Liora yang mendengar perkataan Bi Ratih di buat terkejut dengan apa yang terjadi.
dengan ponsel yang masih Liora genggam di tangannya. perlahan Liora menutup panggilan yang tersambung, Ia meremas ponselnya dengan erat sambil memejamkan matanya.
"Salsa!" gumam Liora pelan nyaris seperti bisikan. Perlahan Liora membuka matanya, kini kedua netranya memancarkan dendam yang sudah tidak bisa lagi ia kendalikan.
Tiba-tiba suara Raka membuyarkan ketenangannya. "Sayang!" panggil Raka dengan nada lembut, kini Raka melangkah menghampiri Liora dan berdiri di sampingnya. "Aku ada pertemuan dengan para devisi pemasaran malam ini, kamu tidak apa-apa, aku tinggal?" tanya Raka lembut, dengan raut wajah sedih seolah ia benar-benar tidak tega meninggalkan Liora sendiri di apartemen.
Liora menatap kedua mata Raka, ini sudah menjadi hal biasa untuknya, ia tau pasti Raka akan menemui Salsa. "Tentu saja, tidak apa-apa Rak!" jawab Liora dengan nada tenang.
"Mungkin aku akan pulang larut malam, jadi kamu tidak perlu menungguku." ujar Raka, lalu ia mendekat dan ingin mencium kening Liora. Namun, dengan cepat Liora menghindar.
"Sudah aku katakan jaga batasanmu Rak!" ucap Liora dengan nada tetap tenang. Namun ia meremas jemarinya dengan erat seolah-olah ia sedang menahan kekesalannya.
"Maaf!" lirih Raka. dengan menatap kedua mata Liora dengan tatapan sendu. "Baiklah, kalau begitu aku akan berangkat sekarang." pamit Raka, sementara Liora hanya mengangguk sebagai balasan.
Setelah itu Raka meninggalkan Liora ia bergegas keluar apartemen menuju tempat yang akan ia tuju, di sisi lain Liora hanya menatap punggung Raka dengan pandangan yang sulit diartikan sampai menghilang di balik pintu apartemen mereka.
"Pergilah dan temui kekasih gelapmu itu, sebelum aku bertindak dan menghancurkan kalian." gumam Liora, dengan nada dingin dan datar setelah melihat kepergian Raka.
kentang banget ini 😭
cepet banget dia bersimpati dan ada tanda peduli lebih
kalau posisinya dibalik dia pun berpotensi selingkuh juga kaya Raka hadehhh...
ku tak jadi kibarkan bendera hijau
padahal sempet simpati sama dia ni 😏
bahaya ga jadi green flag