Qiara adalah anak yatim piatu yang selalu dimanfaatkan oleh pamannya. Hidupnya begitu menderita. Bahkan dirinya juga disuruh bekerja menjadi pelayan tiga badboy kembar yang akhirnya menjamah dirinya. Hidupnya penuh penderitaan, sejak ke dua orang tuanya meninggal. Dia harus bekerja mencukupi kebutuhannya. Namun akhirnya, ketiga kembar kaya raya itu jatuh cinta pada Qiara. Bahkan saling berebut untuk mendapatkan cintanya? Siapakah dari pada kembar yang bisa bersama dengan Qiara? Apakah Nolan? Apakah Natan? Apakah Noah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10.
Qiara nampak memandang Angga dengan tatapan bingung, kala tangannya terus di mainkan oleh Saleh.
Saleh terus berjalan menuju ke arah gerbang sekolah, seraya menarik tangan Qiara dengan lembut.
Saleh akhirnya melepaskan pegangan tangannya pada Qiara saat hendak membuka pintu gerbang.
Di saat itulah, Angga berseru pada Qiara, "Qiara, ayo lari!"
Melihat ekspresi Qiara yang lola dan ragu, hal itu sungguh membuat Angga tidak tahan. Dalam satu gerakan cepat, Angga menggendong Qiara ala bridal style dan meletakkannya di jok motor miliknya.
Qiara kini menyadari kesempatan yang ada, "Sungguh beruntung Angga berada di sini," pikirnya.
"Kalian mau kabur?" tanya satpam bernama Saleh dengan wajah merah padam, setelah membuka gerbang sekolah. Ia langsung berlari menuju Qiara dan Angga, niatnya jelas untuk mengejar mereka.
"Satpam itu mesum, Ra! Jangan biarkan dia mengantar lo ke sekolah lo yang sebenarnya. Kenapa lo itu bisa salah masuk sekolah sih?" gerutu Angga sembari menghidupkan motornya.
Qiara merasakan ketakutan dan kelegaan yang bercampur aduk dalam hatinya. Terbawa dalam aliran emosi, dia hanya bisa bersyukur bahwa Angga ada untuk menyelamatkannya dari Saleh yang mencurigakan. Seiring dengan mesin motor yang semakin keras, mereka berdua melarikan diri meninggalkan sekolah tersebut.
Saleh pun naik motor bututnya untuk mengejar Qiara dan juga Angga yang kabur.
"Mau kemana kalian? Awas Angga aku akan buat perhitungan pada mu!" gerutu Saleh dengan amarah yang memuncak. Ia benar benar kesal karena Angga telah mengambil mangsanya.
"Kalau sampai aku tidak bisa mendapatkan Qiara, pasti aku akan di cap sebagai penipu sama teman teman ku. Bagaimana pun aku harus menyenangkan mereka, mengingat hutang ku pada mereka yang banyak. Dan sampai sekarang aku belum bisa membayarnya," gumam Saleh dalam hati dengan ekspresi wajah yang sulit di jelaskan. Ia nampak menambah kecepatan motor miliknya untuk mengejar Qiara dan juga Angga.
Saleh pun dapat mengejar laju kendaraan milik Angga, karena walaupun motor miliknya itu jelek. Namun motor itu memiliki CC yang tinggi.
Angga pun terlihat menambah kecepatan laju motor sport miliknya.
Saleh pun juga tidak tinggal diam. Dia pun sama menambah kecepatan motor miliknya. Lagi lagi dengan mudahnya, ia dapat mengejar laju motor Angga.
"Angga... Aku takut, kalau naik kebut-kebutan seperti ini!" ungkap Qiara dengan tubuh yang gemetar.
Hatinya berdebar keras, terbayang di benaknya kecelakaan tragis yang menimpa kedua orang tuanya saat mengendarai sepeda motor.
Ya, kecelakaan itu merenggut nyawa kedua orang tuanya adalah ketika mereka tengah berbelanja toko pinggir jalan raya dekat rumah. Mereka ditabrak oleh mobil dan mobil itu langsung melarikan diri usai peristiwa tersebut.
"Kenapa aku tidak bisa melupakan semua itu? Apakah ini akan terus menghantuiku setiap kali naik motor?" batin Qiara merasa tertekan.
Waktu itu, infonya Polisi telah menangkap pemilik mobil yang menabrak orang tuanya, namun ia belum tahu siapa orang tersebut. Bahkan informasi mengenai kecelakaan sepuluh tahun yang lalu itu seperti hilang ditelan bumi.
"Bagaimana bisa korban jiwa kecelakaan itu bisa begitu cepat terlupakan oleh media? Apakah aku harus mencari tahu lebih jauh tentang siapa penabrak itu dan mengapa mereka melarikan diri?" pikir Qiara, kehilangan arah dalam labirin perasaan dan ingatan masa lalu yang mencekik.
Mengendarai motor bersama Angga di jalan raya seolah menambah luka yang belum terobati di dalam hatinya.
"Angga lo salah jalur."
Ke dua bola mata Qiara di buat membulat sempurna, kala truk tronton ada di depannya.
"Angga .... Awas!!" teriak Qiara.
Lalu kecelakaan beruntun pun tidak terelakkan.
**
Bel masuk sekolah pun berbunyi.
"Noah, kok celingukan sih? Memangnya kamu itu mencari siapa?" tanya Dila.
Bukanya menjawab pertanyaan yang barusan di tanyakan oleh pacarnya, Noah malah terlihat menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Noah di buat bingung, apakah harus menjawab pertanyaan Dila dengan jujur. Mengingat pacarnya itu terkenal posesif dan juga cemburuan kepada dirinya.
"Aku sedang tidak mencari siapa pun Dila," sahut Noah dengan hati berat.
Dalam hati Noah, "Sebenarnya aku mencari keberadaan Qiara, tapi aku tak mungkin mengatakan hal itu padamu, Dila. Bukan ingin menyakiti hatimu, tapi aku tahu betul watakmu yang posesif dan cemburuan. Aku tidak ingin masalah ini meruncing lebih jauh."
"Okelah. Aku kira kamu sedang mencari siapa," sahut Dila dengan wajah penasaran. Namun, dia merasa ada yang tidak beres dengan jawaban Noah. Ia masih curiga karena sebelumnya sempat melihat Nolan menghampiri meja dan menanyakan perihal gadis bernama Qiara.
Sejak saat itu, ekspresi wajah Noah tampak berubah, seperti menyimpan kekhawatiran yang sulit untuk diungkapkan.
Noah berpikir keras, "Semoga Dila tidak mencurigai apa-apa, aku harus menemukan Qiara tanpa membuatnya semakin marah atau merasa terancam. Semoga saja Tuhan membantuku melalui situasi yang rumit ini dan menjaga keharmonisan hubungan kami."
"Memangnya Qiara itu siapa? Kenapa Nolan tiba tiba menanyakan nama seorang gadis kepada mu?" celetuk Dila. Ia benar benar di buat penasaran dengan gadis yang membuat Nolan nampak memasang wajah khawatir.
"Sebenarnya siapa Qiara itu? Karena setahu ku, selain Kinara. Nolan tidak mungkin peduli dengan seorang perempuan." gumam Dila dalam hatinya.
Tak berselang lama, seorang guru pun datang ke kelas para kembar. Sebelum Noah dapat menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh pacarnya.
Setelah menyapa para murid, guru itu terlihat celingukan untuk mencari keberadaan seseorang.
Melihat orang yang dicari olehnya tidak ada di kelas. Guru itu memilih untuk diam dan melanjutkan pelajaran.
Sementara Noah nampak saling pandang dengan Kakak kembarnya yang pertama Nolan. Ke duanya sedang berusaha untuk berbicara lewat batin.
***
Bel istirahat di sekolah Taruna High School pun berbunyi. Menandakan jika para murid sudah di perbolehkan untuk beristirahat.
"Bukankah tadi lo itu berangkat sekolah bareng dengan Qiara? Sebenarnya dia itu dimana?" tanya Nolan pada adik bungsu nya dengan tatapan menyelidik.
Seketika ekspresi wajah Dila yang duduk di samping Noah pun berubah.
Di ke dua bola matanya terlihat amarah yang terpancar.
"Apa?" kata Dila dengan nada terkejut, bahkan ia langsung melirik ke arah pacarnya dengan lirikan maut.
Noah ingin sekali menepuk jidatnya sendiri. Padahal sedari tadi dia sudah memberikan kode pada kakak kembarnya itu. Agar membicarakan Qiara di tempat lain.
Tapi karena dirinya sudah telanjur ketahuan, dan juga sudah terlanjur membuat Dila marah. Dia akhirnya memilih untuk membahasnya sekalian di depan pacarnya.
"Tadi Qiara itu salah turun bis. Dia malah turun di SMA negeri 14," sahut Noah pasrah.
Ke dua tangan Dila nampak terkepal.
"Jadi kamu itu rela naik bis, demi cewek lain. Bahkan tadi kamu juga berduaan di dalam bis dengan cewek lain," ujar Dila dengan nada geram.