Muhammad Zaka Fauzian Azkar. Nama itu tak asing di telinga para santri Pondok Pesantren Al-Hikmah. Gus Azkar, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang disegani, bahkan ditakuti. Pribadinya dingin, irit bicara, dan dikenal sangat galak, baik oleh santri putra maupun putri. Tegas dan disiplin adalah ciri khasnya, tak ada yang berani membantah.
Namun, dinding es yang menyelimuti hati Gus Azkar perlahan retak saat seorang santriwati baru hadir di pondok. Rina, gadis pendiam yang sering menyendiri, menarik perhatiannya. Berbeda dari santri putri lainnya, Rina memiliki dunianya sendiri. Suaranya yang lembut, seperti anak kecil, kontras dengan tingginya yang mungil. Cadar yang menutupi wajahnya menambah misteri pada sosoknya.
Gus Azkar sering mendapati Rina tertidur saat pelajaran fiqih yang ia ampu. Setiap kali ditegur karena tidak mendengarkan penjelasannya, Rina hanya diam, kepalanya menunduk. Jawaban yang selalu sama keluar dari bibirnya yang tertutup cadar, "Maaf Ustadz, saya kan sant
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35
Gus Azkar mengerem mobilnya dengan mendadak di depan pangkalan ojek yang remang-remang. Wajahnya mengeras, urat-urat di lehernya menonjol menahan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun. Melihat kelima santri itu tampak hendak menaiki bus antarkota, Gus Azkar perlahan memindahkan kepala Rina dari bahunya ke sandaran kursi dengan sangat hati-hati, tak ingin mengusik mimpi istrinya.
Gus Azkar keluar dari mobil dengan bantingan pintu yang cukup keras. Langkah kakinya yang lebar dan tegas menyapu jalanan aspal, membuat kelima santri yang sedang bersembunyi di balik tiang listrik itu gemetar hebat. Ustadz Fadly dan Ustadz Bian menyusul di belakang, sementara Ustadz Zidan tetap berdiri mematung di samping mobil, matanya nanar melihat pemandangan di depannya.
"BERHENTI DI SITU!" suara Gus Azkar menggelegar, memecah kesunyian subuh. "Apa yang kalian lakukan? Mau jadi apa kalian kalau keluar dari pondok dengan cara hina seperti ini?!"
Kelima santri itu tertunduk dalam, salah satu santri putri mulai terisak ketakutan. Gus Azkar melangkah mendekat, telunjuknya terangkat tinggi. "Kalian tahu berapa besar kekecewaan orang
tua kalian? Kalian tahu—"
Tiba-tiba, pintu mobil terbuka. Rina yang ternyata terbangun karena suara bentakan suaminya, keluar dari mobil dengan langkah sedikit tertatih karena kakinya masih nyeri. Mukena putihnya berkibar ditiup angin malam, dan cadar marunnya menutupi ekspresi wajahnya, namun matanya memancarkan ketenangan.
"Mas..." panggil Rina lembut, namun sanggup menghentikan kalimat Gus Azkar.
Gus Azkar menoleh dengan napas memburu. "Rina, Mas bilang tetap di dalam mobil!"
Rina berjalan mendekat, ia berdiri di samping Gus Azkar dan menyentuh lengan suaminya dengan lembut, sebuah gerakan yang seketika menurunkan tensi ketegangan di sana.
"Mas, jangan dibentak... kasihan mereka," ucap Rina dengan suara yang sangat tenang dan menyejukkan. "Kita nggak tahu alasan sebenarnya kenapa mereka kabur. Mungkin ada masalah yang nggak bisa mereka ceritakan, atau mereka sedang merasa tersesat."
Gus Azkar terdiam, menatap mata istrinya yang jernih. Amarahnya yang meluap-luap perlahan surut, berganti dengan rasa takjub akan kelembutan hati Rina.
Rina kemudian beralih menatap santri-santri itu. "Kalian... kenapa, Nak? Ada apa di pondok sampai kalian lebih milih jalanan yang dingin ini?"
Mendengar suara lembut Rina, salah satu santri putri yang paling kecil langsung lari dan memeluk kaki Rina sambil menangis tersedu-sedu. "Kami takut, Ning... kami nggak sanggup ikut ujian hafalan, kami merasa gagal...".
Ustadz Zidan yang melihat kejadian itu dari jauh merasa hatinya seolah diremas. Rina, wanita yang dulu ia anggap "bermasalah", ternyata memiliki sisi keibuan dan kebijaksanaan yang luar biasa, bahkan mampu menjinakkan amarah seorang Gus Azkar yang paling ditakuti di pesantren.
Gus Azkar menghela napas panjang, ia membuang muka sejenak ke arah sawah, mencoba menenangkan diri. Ia lalu menatap istrinya. "Ya sudah. Bawa mereka kembali ke mobil Ustadz Fadly. Kita selesaikan ini di kantor pondok dengan cara baik-baik."
Rina tersenyum di balik cadarnya, ia mengusap kepala santri putri itu. "Ayo ikut Mbak Rina ya? Kita pulang, nanti kita bicara lagi pelan-pelan."
Mendengar jawaban jujur dari santri putri tersebut, Rina merasakan genggaman tangan santri itu semakin erat dan gemetar. Gadis kecil itu menatap Rina dengan mata yang sembab, seolah-olah Rina adalah satu-satunya pelindung mereka dari kemurkaan sang Gus.