Shen Yi, tabib desa yang bajunya penuh tambalan, berlutut di sampingnya.
Tanpa ragu, ia pegang pergelangan tangan itu
dan racun dingin yang seharusnya membunuh siapa pun... tak menyentuhnya sama sekali.
Wanita itu membuka mata indahnya, suaranya dingin bagai embun pagi
"Beraninya kau menyentuh Dewi Teratai?"
Shen Yi garuk kepala, polos seperti biasa.
"Maaf, Nona Lian'er. Kalau nggak dicek nadi, bisa mati kedinginan.
Ini ramuan penghangat dulu, ya? Gratis kok."
Dia tak tahu...
sentuhannya adalah satu-satunya harapan Lian'er untuk mencairkan kutukan abadi yang menggerogoti tubuhnya.
Dan juga satu-satunya yang bisa menghancurkannya selamanya.
Dari gubuk reyot di lereng gunung terpencil, hingga dunia jianghu penuh darah dan rahasia,
seorang tabib miskin dan dewi teratai terikat oleh takdir yang tak terucap.
Apa yang terjadi ketika manusia biasa jatuh cinta pada dewi yang terlarang disentuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan di Hutan Teratai Layu
Angin pagi di lereng Gunung Qingyun membawa aroma dingin yang menusuk. Kabut tebal masih menyelimuti lembah, membuat pepohonan tampak seperti siluet samar dalam lukisan tinta. Di antara rerumputan basah embun, bunga teratai liar yang tumbuh di danau kecil mulai layu. Kelopak putihnya menguning di ujung, seolah menolak musim dingin yang datang terlalu cepat tahun ini.
Shen Yi berjalan pelan menyusuri jalur setapak yang hampir tak terlihat. Sandalnya yang sudah usang menjejak lumpur tanpa suara. Di punggungnya tergantung keranjang bambu sederhana, di dalamnya hanya beberapa akar kering, daun obat, dan sebotol kecil ramuan penghangat yang dia buat semalam. Baju biru tuanya penuh tambalan, satu di lengan kiri dari kain goni, satu lagi di dada dari kain katun bekas selimut guru. Tapi matanya cerah, senyum kecil selalu mengembang di bibirnya, seolah dunia ini tak pernah benar-benar kejam baginya.
Hari ini dia mencari akar teratai salju. Ramuan itu langka, hanya tumbuh di bagian paling dalam hutan saat musim dingin. Pak tua Li di desa bawah sedang demam tinggi tiga hari ini. Kalau tak segera diobati, bisa berbahaya. Shen Yi tak punya uang untuk membeli obat mahal dari kota, jadi dia harus bergantung pada apa yang alam berikan.
“Guru bilang, teratai salju itu seperti hati yang murni,” gumam Shen Yi sendiri sambil membelah semak.
“Dingin di luar, tapi hangat di dalam. Cocok buat Pak Li yang keras kepala.”
Dia berhenti sejenak, mendengar suara aneh. Bukan angin, bukan air mengalir. Lebih seperti... hembusan napas yang tertahan, disertai erangan pelan. Shen Yi mengerutkan kening. Di tempat seperti ini, jarang ada orang lewat. Desa terdekat berjarak dua jam jalan kaki.
Dia mengikuti suara itu, melintasi akar pohon yang menjalar seperti ular. Danau kecil muncul di depannya, permukaannya hampir beku, hanya ada beberapa helai teratai yang masih bertahan. Di tengah danau, di atas hamparan daun teratai yang layu, tergeletak seorang wanita.
Shen Yi terpaku.
Wanita itu berpakaian putih sutra tipis, motif kelopak teratai halus terpampang di ujung lengan dan pinggang. Rambut hitam panjangnya terurai, menyentuh air dingin. Kulitnya... transparan. Seperti kristal es yang tipis, hampir bisa melihat urat-urat halus di bawahnya. Napasnya pendek, bibirnya membiru. Di sekitar tubuhnya, embun membeku menjadi kristal kecil, seolah dia membawa musim dingin itu sendiri.
Shen Yi langsung bergerak. Dia melepas sepatu, melangkah masuk ke air dangkal. Dingin menusuk tulang, tapi dia tak peduli. Dia berlutut di samping wanita itu, tangannya langsung meraih pergelangan tangannya untuk memeriksa nadi.
Nadi... lemah sekali. Dingin luar biasa. Tapi anehnya, saat jari Shen Yi menyentuh kulit itu, tak ada rasa sakit atau racun yang menjalar seperti yang seharusnya terjadi pada orang biasa yang menyentuh sesuatu yang terkontaminasi energi dingin ekstrem. Malah, ada aliran hangat kecil dari tubuhnya sendiri yang mengalir ke wanita itu.
Wanita itu membuka mata perlahan.
Mata itu indah seperti danau teratai di musim panas, bening dan dalam. Tapi tatapannya dingin, penuh kewaspadaan.
“Beraninya kau... menyentuh Dewi Teratai?” suaranya lemah, tapi masih mengandung nada angkuh yang tak bisa disembunyikan.
Shen Yi terkejut sejenak, lalu tersenyum lebar.
“Maaf, Nona. Kalau nggak dicek nadi, bisa mati kedinginan. Ini... dingin sekali loh.”
Dia melepaskan tangannya sebentar, mengeluarkan botol kecil dari keranjang.
“Ini ramuan penghangat. Campuran jahe liar, akar ginseng gunung, dan sedikit madu hutan. Minum dulu, ya? Gratis kok.”
Wanita itu, Lian'er memandangnya dengan ekspresi tak percaya.
“Kau... manusia biasa. Kenapa kau tidak mati?”
Shen Yi mengedip.
“Mati? Kenapa harus mati? Saya cuma pegang tangan Nona sebentar. Lagipula, tangan Nona dingin banget, kayak es batu. Kalau dibiarkan, meridiannya bisa rusak permanen.”
Lian'er mencoba bangun, tapi tubuhnya lemah. Dia jatuh kembali ke daun teratai.
“Pergi... Jangan dekati aku lagi. Sentuhanmu... seharusnya membunuhmu.”
Shen Yi menggeleng.
“Nggak bisa. Nona lagi sakit parah. Kalau saya tinggal, Nona mati di sini. Desa bawah nggak ada yang tahu tempat ini. Dan saya tabib, tugas saya menyelamatkan orang.”
Dia tak menunggu jawaban. Dengan hati-hati, Shen Yi mengangkat tubuh Lian'er. Ringan sekali, seolah tak ada bobot. Tapi dinginnya menjalar ke lengan Shen Yi. bukan dingin biasa, tapi seperti es yang hidup, ingin membekukan segalanya. Namun anehnya, dingin itu tak menyakitinya. Malah terasa... familiar, seperti sesuatu yang pernah dia rasakan di mimpi masa kecil.
Shen Yi membawa Lian'er keluar dari danau, menuju gubuk kecilnya di lereng gunung. Jalan setapak curam, tapi dia sudah hafal setiap batu dan akar. Sepanjang jalan, Lian'er diam, hanya memandang wajah Shen Yi dengan tatapan penuh tanya.
“Kenapa kau tidak takut?” tanyanya pelan saat mereka hampir sampai.
Shen Yi tertawa kecil. “Takut apa? Nona cantik, tapi lagi sakit. Tabib yang takut pasien, lebih baik tutup praktek.”
Lian'er terdiam. Tak ada yang pernah bicara padanya seperti itu. Di dunia yang dia kenal, orang-orang gemetar hanya melihat bayangannya. Mereka memanggilnya Dewi Teratai, makhluk suci yang tak boleh disentuh. Kutukan tubuhnya membuat siapa pun yang menyentuhnya membeku jadi patung es kecuali... orang ini.
Gubuk Shen Yi sederhana: atap jerami, dinding kayu bambu, satu ruang dengan tungku kecil dan tempat tidur jerami. Di sudut, ada rak penuh botol obat dan gulungan resep tua. Shen Yi merebahkan Lian'er di atas tikar tebal, lalu menyalakan api.
“Tunggu sebentar, saya buatkan sup hangat. Nona pasti lapar.”
Lian'er memandang sekeliling. “Ini... tempatmu tinggal?”
“Iya. Guru meninggal lima tahun lalu, sejak itu saya di sini sendiri. Tenang kok, nggak ada hantu.”
Shen Yi tersenyum sambil mengaduk panci.
Lian'er menutup mata. Tubuhnya masih gemetar. Kutukan teratai abadi semakin parah. Setiap hari, es di dalam darahnya menyebar lebih luas. Dia turun ke dunia fana untuk mencari Air Teratai Abadi di pulau mistis, tapi serangan dari pemburu sekte jahat membuatnya terluka parah dan jatuh ke hutan ini.
Dan sekarang... dia diselamatkan oleh manusia biasa yang bahkan tak tahu apa itu jianghu.
Shen Yi kembali dengan mangkuk sup panas. Aroma jahe dan herbal menyebar.
“Minum pelan-pelan. Kalau terlalu panas, bisa melepuh lidah.”
Lian'er menerima mangkuk itu dengan tangan gemetar. Saat jarinya menyentuh jari Shen Yi lagi, aliran hangat itu muncul kembali. Es di tubuhnya seolah mundur sedikit.
“Kau... siapa sebenarnya?” tanyanya, suara hampir berbisik.
Shen Yi garuk kepala. “Shen Yi. Cuma tabib miskin di lereng gunung. Nona siapa? Nona Lian'er, kan? Tadi Nona bilang Dewi Teratai... itu nama julukan?”
Lian'er menatapnya lama. “Bai Lian. Lian'er saja.”
“Baik, Nona Lian'er. Istirahat dulu. Besok pagi saya cek lagi lukanya. Ada luka di punggung Nona, kayak terkena pedang beracun dingin.”
Lian'er terkejut. “Kau bisa lihat itu?”
“Ya dong. Tabib mana yang nggak bisa bedain luka biasa sama luka energi.” Shen Yi duduk di samping tungku, menambahkan kayu.
“Nona dari mana? Kelihatannya bukan orang desa.”
Lian'er diam sejenak. “Dari... tempat jauh. Aku sedang mencari sesuatu.”
“Sesuatu yang penting ya? Kalau butuh bantuan, bilang aja. Saya nggak punya ilmu tinggi, tapi saya tahu banyak tentang obat dan ramuan.”
Lian'er tersenyum tipis. pertama kalinya sejak bertahun-tahun. Senyum itu kecil, hampir tak terlihat, tapi cukup membuat hati Shen Yi hangat.
Malam semakin larut. Api tungku menari-nari, menerangi wajah keduanya. Di luar, angin menderu, membawa salju pertama musim ini.
Shen Yi tak sadar, di luar gubuk, ada bayangan gelap mengintip dari balik pohon. Matanya menyipit melihat siluet dua orang di dalam.
“Dewi Teratai ditemukan. Dan bersama manusia aneh itu.”
Bayangan itu menghilang ke dalam kegelapan, meninggalkan jejak dingin yang lebih mengerikan daripada salju.
Di dalam gubuk, Lian'er memejamkan mata. Untuk pertama kalinya dalam kutukan panjangnya, dia merasa aman.
Shen Yi menarik selimut tipis menutupi tubuhnya.
“Tidur ya, Nona Lian'er. Besok kita bicara lagi.”
Dia tak tahu, malam itu adalah awal dari segalanya.