"Benarkah keberuntungan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan? Dan apakah nasib buruk adalah sinonim mutlak bagi kesengsaraan?
Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun memiliki daya hancur yang cukup untuk membuat manusia memalingkan wajah dalam penyangkalan. Secara insting, kita telah terprogram untuk memuja hal-hal baik sebagai satu-satunya sumber kepuasan. Sebaliknya, saat nasib buruk mengetuk pintu, manusia cenderung mendustakannya—bahkan dengan keras mendoktrin diri bahwa itu adalah 'kesialan' yang tidak seharusnya ada.
Namun, apakah persepsi umum tersebut adalah sebuah kebenaran universal?
Mungkin bagi sebagian besar orang, jawabannya adalah iya. Namun bagi mereka yang memahami cara kerja semesta, pandangan itu sungguh disayangkan.
Sebab di balik setiap keberuntungan yang kita rayakan, selalu ada harga yang tersembunyi. Dan di balik setiap kesialan yang kita benci, mungkin tersimpan satu-satunya jalan menuju sesuatu yang tidak kita bayangkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Neraka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Suara itu?...
Tanpa memberikan kesempatan bagi Andersen untuk membalas, Margarette menariknya menjauh dari kerumunan pesta menuju sebuah pintu yang terjaga ketat.
Saat pintu terbuka, kebisingan musik orkestra di luar seketika senyap, digantikan oleh keheningan ruangan privat yang beraroma cerutu mahal dan kayu tua. Di dalam sana, duduk dua sosok yang memancarkan otoritas tidak biasa.
“Ayah...” ucap Margarette lembut, suaranya berubah menjadi jauh lebih sopan dan terkendali, menunjukkan rasa hormat.
Seorang wanita paruh baya dengan gaun biru tua dan kalung mutiara yang melingkar elegan di lehernya menoleh. Matanya langsung mengunci sosok Andersen yang berdiri di belakang putrinya.
“Siapa yang kau bawa di belakangmu itu, Margarette?” tanya sang Ibu dengan nada datar...
Margarette berdehem kecil, mencoba menjaga ketenangannya. “Oh, perkenalkan, Ibu... ini Andersen.
Dia adalah—”
“Pacarmu?” Sanggah sang Ayah, memotong kalimat Margarette dengan suara berat di ruangan yang sunyi itu.
Pria itu meletakkan gelas kristalnya ke meja dengan denting yang tajam.
“Margarette...”
Pria itu mengembuskan napas panjang, menatap Andersen dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan raut wajah yang tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya.
“Bukankah, Ayah sudah berulang kali mengatakan hal ini padamu... putriku? Jika tiba saatnya kau ingin memiliki pendamping, Ayahmu sendiri yang akan memilihkan yang terbaik dari deretan pemuda terhormat di negeri ini."
"Bukan pria yang entah datang dari mana ini.”
Ibu Margarette yang sejak tadi berdiri, menggelengkan kepalanya perlahan. Tatapannya penuh kekecewaan yang dingin.
“Kau itu spesial, Margarette. Kau adalah permata keluarga ini. Ibu tidak akan membiarkanmu menjalin hubungan dengan sembarang orang, meski ini adalah kali pertama kau membuka hatimu.”
Andersen merasakan atmosfir ruangan itu semakin menghimpit, namun ia menolak untuk sekadar diam dan dihakimi. Ia melangkah maju, memutus dominasi sang Ayah dengan tatapan mata yang tajam.
“Maafkan kekurangajaran saya, Nyonya,” suara Andersen bergema rendah namun tegas di ruangan yang kedap suara itu.
“Izinkan saya memperkenalkan diri secara layak. Nama saya Andersen. Saya adalah salah satu dari sedikit orang yang memiliki kemampuan unik... kemampuan yang sama persis dengan yang dimiliki putri Anda, Margarette.”
“Lancang sekali kau!” bentak sang Ayah, wajahnya memerah padam. Ia tidak memberikan perintah kedua.
“Penjaga! Musnahkan dia sekarang juga!”
Beberapa peluru kaliber melesat, menembus jas hitam pemberian Margarette dan bersarang telak di tubuh Andersen. Darah segar menyiprat ke arah karpet mahal, menciptakan noda merah pekat yang mengerikan.
Andersen merasakan sensasi panas yang membakar seluruh dadanya, pandangannya mulai mengabur saat tubuhnya limbung ke belakang.
Dunia seolah melambat. Suara terakhir yang tertangkap oleh indranya adalah teriakan histeris Margarette yang memanggil namanya—suara yang penuh ketakutan dan penyesalan, jauh dari kesan angkuh yang biasanya ia tunjukkan.
Kesadaran Andersen mulai meredup, rasa dingin menjalar ke ujung jari-jarinya.
Namun, tepat sebelum kegelapan total menjemput, sebuah kilatan cahaya aneh muncul di benaknya. Sebuah mekanisme yang tidak seharusnya ada di dunia nyata mulai berputar kembali.
“Keberuntungan.”
Andersen tersentak, merasakan sensasi panas peluru di dadanya lenyap secara ajaib, berganti dengan aroma cerutu mahal yang baru saja ia hirup.
Andersen menyadari posisinya dan kembali berdiri di titik waktu yang sama, tepat saat Margarette baru saja membuka mulut untuk memperkenalkannya.
“Maafkan saya, Nyonya, Tuan...” Suara Andersen terdengar jauh lebih rendah dan tenang, meski jantungnya masih berdegup kencang akibat sisa trauma dari ‘masa depan’ yang ia batalkan.
“Saya lalai dalam etika perkenalan diri. Perkenalkan, saya Andersen. Salah satu putra dari tanah Indonesia yang kini tengah menempuh pendidikan di sini.”
Sang Ayah terdiam sejenak, memutar gelas kristalnya sambil memperhatikan postur tubuh Andersen yang kini tampak lebih rendah hati namun tetap bermartabat.
“Setidaknya dia tahu posisi dirinya di hadapan bangsawan, Margarette,” gumam sang Ayah dengan nada yang masih dingin, namun ada sedikit pengakuan di sana. Ia menghela napas panjang, melirik istrinya sekilas.
“Baiklah. Kali ini aku izinkan kamu menjalin hubungan dengan pria ini. Tapi ingat, Margarette, kamu berada di bawah pengawasanku.”
“Terima kasih, Ayah,” jawab Margarette cepat. Ia tidak membuang waktu. Sebelum suasana hati ayahnya berubah, ia segera menyambar lengan kiri Andersen dan menariknya dengan langkah tergesa menuju pintu keluar.
Keringat dingin membasahi punggungnya di balik kemeja sutra mahal itu.
“Mengerikan...” bisik Andersen lirih, sambil mengusap dadanya yang secara psikologis masih terasa perih. “Aku benar-benar tidak ingin bertemu dengan mereka lagi, Margarette. Tidak akan pernah.”
Margarette meliriknya dengan tatapan yang sulit diartikan... setengah lega, setengah penasaran mengapa Andersen tiba-tiba mengubah cara bicaranya dengan begitu drastis.
Gadis itu tidak tahu bahwa pria di sampingnya baru saja menukar keberuntungannya dengan nyawa demi bisa berdiri di sana bersamanya.
Di bawah remang lampu jalanan gedung pesta, Margarette menunduk, jemarinya meremas gaunnya sendiri.
“Maafkan aku, Andersen... Hal ini terpaksa dilakukan karena Ayah sudah tahu aku membawa seorang pria malam ini.
Sepertinya saudari-saudariku yang bermulut tajam itu sudah melaporkannya bahkan sebelum kita menginjakkan kaki di aula.”
Ia kemudian mendongak, menatap Andersen dengan pandangan yang tidak biasa dan mengartikan sebuah sorot mata yang dipenuhi kecemasan.
“Andersen... apakah kamu melakukan ‘pengulangan’ tadi? Aku merasa ada sesuatu yang bergeser dalam waktu...”
Andersen terdiam sejenak. Sisa rasa sakit dari peluru yang sebenarnya tidak pernah menembusnya di garis waktu ini masih terasa seperti sengatan listrik di dadanya. Namun, ia hanya tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan beban berat di bahunya.
“Tenang saja, Margarette,” ucap Andersen lembut. Ia mengulurkan tangannya, mengelus puncak kepala Margarette dengan gerakan yang menenangkan, seolah sedang meyakinkan gadis itu bahwa dunianya masih utuh. “Aku tidak akan mati semudah itu.”
Perjalanan pulang pun dimulai. Mobil mewah itu meluncur membelah keheningan malam yang dingin. Di dalam kabin yang temaram, hanya terdengar deru mesin yang halus dan detak jam digital di dasbor.
Margarette, yang tampak kelelahan setelah sandiwara keluarga yang menguras emosi, akhirnya menyerah pada kantuk. Ia tertidur pulas dengan kepala bersandar di bahu Andersen, napasnya teratur dan tenang.
"Bukankah sangat menarik jika saya mengujinya lagi?... Kali ini dia harus sangat sabar untuk menghadapi situasi kali ini dan semoga dirinya bisa mengelola emosinya nanti."
Keheningan malam hilang seketika saat sebuah mobil hitam berhenti mendadak di depan mereka, disusul dengan tiga kendaraan lain yang mengepung dari berbagai sudut.
Suara decitan ban yang beradu dengan aspal dingin. Dua pengawal di kursi depan bereaksi secara cepat.
“Tuan, tetaplah di dalam!” perintah salah satu pengawal sambil menendang pintu mobil hingga terbuka.
Mereka keluar dengan senjata api otomatis yang siap menyala, mencoba membentuk barisan pertahanan.
"Kalian tidak diizinkan disini, jadi matilah!"
Dalam sekejap mata, suara benturan keras terdengar dan kedua pengawal Margarette dijatuhkan dengan serangan cepat dan presisi.
Melihat celah berbahaya itu, Andersen tidak tinggal diam. Ia menerjang keluar, gerakannya mengalir dengan insting yang tajam.
Ia menyambar sebuah pistol yang terjatuh dari tangan pengawalnya, merasakan dinginnya logam senjata itu menyatu dengan jemarinya.
Saat Andersen menggerakkan tubuhnya, Margarette mulai bangun dari tidurnya.
"Aku tidak akan membiarkan kamu mati, Margarette…" Ucap Andersen yang juga sambil menyentuh pipi Margarette yang mulai khawatir dengan keadaan ini dan menciumnya. Kunci mobil ini, akan kutangani mereka dengan mudah.
Gerakan tiba-tiba itu membuat Margarette tersentak bangun. Ia mengerjapkan mata, mencoba memproses kekacauan di luar kaca mobil. Ketakutan menyelimuti wajahnya saat melihat Andersen berdiri di ambang pintu dengan senjata di tangan.
"Sangat menarik..."