NovelToon NovelToon
Luka Dalam Hidupku

Luka Dalam Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Lari Saat Hamil / Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ewie_srt

alia, gadis malang. kehidupannya yang menyakitkan setelah ibu tiri menjualnya, hamil tanpa suami di sisinya, kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tujuh

6 tahun kemudian....

"Lukaaa..dengerin bunda deh, kalau luka nakal terus dan gak mau dengerin omongan bunda, bunda pastiin, mainan yang kamu minta kemarin gak akan bunda beli" ancam Alia terengah-engah mengejar anak laki-laki yang superaktif itu.

Setiap pagi ia harus berjibaku membereskan perlengkapan anak laki-lakinya yang memang sangat energik, alia kelelahan, ia terduduk menahan kesalnya.

"Iya bunda..maaf" pinta bocah 5 tahun itu menatap Alia dengan tatapan memohon, dengan kedua tangan yang saling terkait di depan wajah mungilnya yang tampan.

 Alia akhirnya tersenyum membuang padangannya ke arah lain, mata putranya itu selalu berhasil menghipnotis alia.

 Bola mata yang berwarna abu-abu dengan hidung mancungnya yang selalu kembang kempis memohon pengampunan, terlihat sangat imut dan juga yah,tampan. Tak dapat dipungkiri walau alia tidak menyukai kenyataan itu, Luka, putranya itu sangat mirip dengan Langit Mahesa, pria bajingan yang sangat ia benci.

"Kalau begitu, luka dengerin bunda yah nak, nanti sepulang sekolah, luka tunggu jemputan bude Nari, jangan kemana-mana, tunggu bunda pulang bekerja, luka di rumah bude yah sayang dan patuh sama bude yah" bujuk alia mengelus kepala putranya itu lembut.

"Siap...bunda sayang" luka berdiri dengan pose menghormat pada Alia dengan berdiri layaknya seorang prajurit.

"Bagus.., pintar anak bunda" puji alia tersenyum menjentik ujung hidung mancung putranya yang tergelak imut.

Alia bekerja pada anak cabang perusahaan milik laksana grup yang berpusat di Jakarta. Sementara cabang yang di Bandung, tempat Alia dan Nari bekerja di kantor utama PT. laksindo yang bergerak di bidang pendistribusian barang-barang impor serta usaha ekspedisi.

Alia baru bekerja setahun terakhir ini, setelah dengan susah payah ia menyelesaikan kuliah malamnya, bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang hamil dan kuliah.

Memang Narida, sahabat terbaiknya itu, tidak memaksa Alia untuk memikirkan sewa rumah dan lainnya, namun alia bukan orang yang tak tahu diri.

Jasa narida padanya sudah sangat tak terhitung banyaknya, Alia tak mau hanya berpangku tangan mengharapkan belas kasihan narida seumur hidupnya.

 Saat ini saja, alia masih tinggal di rumah yang mereka beli dengan atas nama narida, 70% pembayaran rumah itu, berasal dari gaji nari yang di cicilnya setiap bulan.

Narida baru saja pindah rumah 4 bulan yang lalu, karena sahabatnya itu sudah menikah dengan seorang pria berkewarganegaraan german, yang jatuh cinta padanya pada pandangan pertama.

 Ludwig vischer, seorang ekspatriat yang menjalin kerja sama dengan laksana grup dan ditempatkan di PT tempat alia dan nari bekerja dulunya. Namun saat ini pria itu telah membuka usahanya sendiri dan tak lagi bekerja dengan laksana grup.

4 bulan sudah Nari tidak bekerja, karena Ludwig, lelaki tinggi berambut coklat berkulit pucat kemerahan itu, tidak mengijinkan nari bekerja.

Alia sangat bahagia melihat nari dicintai begitu dalam oleh seorang pria baik seperti ludwig, bagaimanapun nari memang pantas mendapatkannya.

Alia melangkah terburu-buru mengejar lift yang sedang terbuka, dengan bergegas ia mengambil tempat diantara padatnya pegawai-pegawai yang berdesakan.

Alia bernafas lega, karena lift itu tidak menunjukkan overload pada muatan. Ia melirik jam tangannya,

"Huffftttt...." desah alia lega, ternyata ia belum terlambat.

Lift berhenti di lantai 8 tempat perusahaan alia berada, ia berjalan dengan sedikit tergesa, manager pemasaran, atasan alia langsung terkenal sedikit jutek dan julid, seorang wanita berusia 39 tahun yang terkenal sangat hobby menyusahkan anggota timnya yang kedapatan terlambat atau tidak mematuhi aturan yang dibuatnya untuk tim.

Sementara posisi wakil manager, yang selama ini adalah posisi narida masih kosong, namun secara eksplisit alia sudah di dapuk oleh semua anggota tim, untuk menggantikan posisi nari.

 Karena, yah kerja alia memang sangat bisa di acungi jempol, ia cukup mumpuni di bagian pemasaran.

Alia baru saja duduk, merilekskan badannya, saat sania, si biang gosip di tim mereka, sudah kasak-kusuk memanggil teman-teman yang lain.

Bibirnya yang menyong-menyong menunjukkan betapa seriusnya berita yang dibawanya, mau tak mau Alia pun menarik kursinya yang beroda mendekati kerumunan yang semakin ramai itu.

"Beneran, teman-teman, berita yang aku bawa ini 100% valid" ucap sania penuh keyakinan, matanya menatap satu-persatu wajah yang sedang antusias mendengar ceritanya.

"Pak Romy, akan digantikan oleh anak bungsu dari keluarga laksana grup, namun sebelum anak bungsunya itu yang memimpin di sini, konon katanya pak Bara akan membimbing adiknya itu beberapa bulan, kalian bayangkan, kantor kita akan bercahaya setiap hari dengan kehadiran pak bara yang super guanteenng itu" jelas sania berapi-api penuh semangat.

 Terdengar beberapa teriakan kecil penuh kekaguman dari anggota wanita tim pemasaran,  mata mereka terlihat berbinar-binar mendengar cerita sania.

Alia hanya tersenyum melihat betapa sangat antusiasnya para wanita yang ada di timnya mendengar berita itu

"dengar-dengar adiknya pak bara juga gak kalah gantengnya loh" celetuk clara sigadis paling fashionable di tim mereka.

Teriakan kecil penuh kekaguman itu kembali terdengar, para gadis terlihat sangat bersemangat, alia sampai menggeleng-gelengkan kepalanya takjub melihat antusias para gadis yang luar biasa.

"Kalaulah semangat kalian ini, kalian gunakan untuk bekerja betapa sangat bagusnya" tegur bu wirda, manager mereka yang entah datang darimana,tiba-tiba sudah berada di antara mereka.

Gerombolan gosip yang dipimpin sania mendadak beranjak kalang kabut dari arena pergosipan, alia yang memang sudah melihat bu wilda tadi berjalan ke arah mereka, sudah terlebih dahulu kembali ke posisinya semula.

 Terdengar mulutnya yang terkenal pedas itu mengomel kesal, alia pura-pura tidak mendengar dengan sibuk membuka file di personal computer yang ada di mejanya dengan tenang.

Pukul 12 siang, tiba-tiba semua staf kantor dan pegawai di minta untuk berdiri menyambut seseorang, sepertinya cerita yang sania bawa benar.

 Terlihat rombongan staf kesekretarisan dan para direktur berjalan ketengah ruangan, dengan mengiringi seorang pria berwajah aristokrat, tulang pipinya yang menonjol dengan tatapan mata tajam, hidungnya yang mancung, garis bibirnya yang terlihat seksi, rambutnya yang tersisir rapi klimis ke belakang, memang cukup tampan, tidak— memang tampan, pantas saja sania cs tadi begitu berapi-api.

Terdengar suara baritonnya memperkenalkan diri, pria itu terlihat cukup dingin.

"Selamat siang, mungkin sebahagian saudara-saudara yang ada di sini sudah mengenal saya, tapi saya akan memperkenalkan diri saya secara resmi, nama saya Umbara harsyah Laksana. Biasa di panggil Bara atau terserah anda bagaimana memanggil saya, dan untuk kedepannya saya mohon kerja samanya"

 Perkenalan yang singkat dari pria yang bernama Bara itu mendapat tepuk tangan yang gegap gempita, Alia merasa risih melihat situasi yang sangat hipokrit ini, namun mau tak mau ia juga bertepuk tangan walau tidak seantusias yang lain.

Ketika rombongan staf dan direktur utama itu akan berlalu dari ruangan itu, saat para pegawai akan duduk, tiba-tiba asisten pribadi dari pria bernama bara itu, meminta  manager dan wakil manager setiap tim dan juga para direktur yang membawahinya berkumpul di ruang rapat.

 Terlihat kehebohan yang lumayan grasak-grusuk di setiap tim, bu wirda terlihat heboh membawa hal-hal yang dianggap penting, kakinya sudah hendak melangkah namun urung, matanya menatap alia yang masih duduk tenang tanpa beban, heran.

"Alia.." panggil bu wirda datar,

"mengapa kamu masih belum bergerak?"

"Saya buk?" Tanya alia menunjuk dirinya heran,

"Sayakan bukan siapa-siapa!"

"Siapkan alat tulismu, ayo ikut aku, kamu saat ini jadi wakil saya walau belum resmi" ajaknya, meninggalkan alia yang tergopoh-gopoh mempersiapkan alat tulisnya.

Alia berjalan setengah berlari mengejar managernya yang berjalan cepat, ketika alia menoleh ke belakang terlihat anggota timnya kompak mengepalkan tangan, menunjukkan pose 'semangat'  kepada alia yang melambaikan tangannya sembari tersenyum miris.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!