Zivara Amaira adalah gadis yatim piatu yang tinggal bersama paman dan bibinya. Tempat yang seharusnya menjadi perlindungan justru berubah menjadi luka. Sebuah fitnah yang direncanakan oleh sepupunya membuat Zivara harus pergi. Tanpa diberi kesempatan membela diri, Zivara diusir dan dipaksa menelan hinaan atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan.
Di sisi lain, Arga Aksara Wisesa adalah pria dingin dan misterius, yang tak memikirkan cinta. Ia hanya fokus pada pekerjaan dan keponakan kecilnya yang harus kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan setahun yang lalu.
Dua jiwa yang berbeda dipertemukan oleh takdir. Namun masa lalu, ambisi orang-orang di sekitar mereka, dan rahasia yang perlahan terkuak mengancam kebahagiaan yang baru saja tumbuh.
Akankah cinta mampu menyembuhkan luka yang terlalu dalam, atau justru membuka pintu bagi pengkhianatan yang lebih menyakitkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Rindu Mami Papi
Malam menyelimuti kediaman Arga dengan tenang. Lampu-lampu telah dipadamkan satu per satu. Para pelayan sudah kembali ke kamar masing-masing, dan rumah besar itu tenggelam dalam keheningan yang menenangkan. Hanya suara angin malam dan detik jam dinding yang terdengar samar, mengiringi waktu istirahat penghuninya.
Namun tidak dengan Arga.
Pria itu berdiri di balkon kamarnya, kedua tangannya bertumpu pada pagar besi, menatap langit malam yang bertabur bintang. Hembusan angin dingin menyapu wajahnya, tapi tak mampu mendinginkan pikirannya yang justru semakin penuh.
Tanpa ia sadari, bayangan seorang wanita kembali memenuhi benaknya.
Sejak kapan pikirannya sesibuk ini memikirkan seseorang?
Arga mengerutkan kening. Selama hidupnya, ia tak pernah memberi ruang pada perasaan yang tak perlu. Bahkan pada Julia, yang pernah begitu dekat dengannya, ia tak pernah merasakan kegelisahan seperti ini. Tidak pernah ada getaran aneh, tidak ada dorongan untuk terus memikirkan, apalagi peduli berlebihan.
Namun pada Vara… semuanya terasa berbeda.
“Zivara Amaira…” gumam Arga pelan, hampir tak terdengar.
Nama itu meluncur begitu saja dari bibirnya.
Sementara itu, di kamar lain, Luna terbaring gelisah. Gadis kecil itu menatap langit-langit kamarnya, memeluk boneka kesayangannya erat-erat. Matanya belum juga terpejam.
Tak lama kemudian, Luna bangkit. Dengan langkah pelan, ia keluar dari kamar dan berjalan menuju kamar pamannya.
Tok... Tok...
Tak ada sahutan.
Luna memutar gagang pintu perlahan. Pintu terbuka tanpa suara. Gadis kecil itu mengintip ke dalam, memerhatikan sekeliling. Kamar tampak kosong.
Luna masuk dan menutup pintu kembali. Pandangannya menyapu ruangan hingga akhirnya tertuju pada balkon.
Sosok Arga berdiri di sana.
Luna mendekat tanpa suara, lalu berhenti tepat di belakang pamannya.
“Om,” panggil Luna pelan.
Arga terperanjat. Tubuhnya refleks menegang sebelum akhirnya menoleh.
“Luna?” ucapnya terkejut.
Luna terkikik kecil.
“Om lucu. Begitu saja kaget.”
“Bagaimana om nggak kaget,” sahut Arga sambil menghela napas.
“Tiba-tiba kamu sudah berdiri di belakang om.”
“Siapa suruh om melamun,” balas Luna polos.
“Om lagi ngelamunin Kak Vara, ya?”
Arga langsung mengalihkan pandangan.
“Mana ada. Om nggak melamun,” elaknya cepat.
“Tapi tadi Luna dengar om nyebut nama Kak Vara,” sela Luna sambil tersenyum nakal.
“Om ngaku aja deh, nggak usah malu.”
“Kamu ini,” Arga menggeleng kecil, sedikit salah tingkah.
“Kenapa sih suka sekali godain om?”
“Habis om sok cuek,” jawab Luna.
“Nanti kalau Kak Vara sama orang lain, om baru nyesel.”
Arga terdiam.
Ada sesuatu di dadanya yang terasa tertusuk pelan oleh ucapan polos itu.
Namun Arga segera mengalihkan pembicaraan.
“Luna, kenapa belum tidur? Ini sudah malam.”
Seketika, senyum Luna meredup. Wajahnya menunduk.
“Luna nggak bisa tidur, Om,” ucapnya lirih.
“Luna kangen Mami dan Papi…”
Arga tersentak. Tanpa berpikir panjang, ia berjongkok dan mengangkat tubuh kecil itu ke dalam gendongannya. Luna langsung melingkarkan tangan di leher pamannya.
“Jangan sedih,” ucap Arga lembut.
“Om kan ada di sini.”
Arga mengelus rambut Luna dengan penuh kasih.
“Tidur sama om, mau?”
Luna mengangguk pelan.
“Mau…”
Arga membawa Luna masuk ke kamar, meletakkannya perlahan di ranjang. Ia menyelimuti tubuh kecil itu dengan hati-hati, memastikan selimut menutup hingga ke bahu.
Arga duduk di sisi ranjang, mengusap pipi Luna dengan punggung jarinya.
“Tidurlah, Om ada disini.”
Luna menurut. Tangannya masih menggenggam jari Arga.
Arga menepuk-nepuk punggung Luna pelan, seperti yang biasa ia lakukan sejak dulu.
Napas Luna perlahan menjadi teratur. Beberapa menit kemudian, gadis kecil itu terlelap, wajahnya kembali tenang.
Arga menatap Luna lama. Menatap dengan berbagai pikiran.
---
Hari berganti begitu cepat. Tanpa terasa, akhir pekan pun tiba.
Di Perusahaan Wisesa, Arga baru saja menyelesaikan pertemuan bulanan. Setelah menandatangani beberapa dokumen terakhir dan memastikan semuanya berjalan sesuai rencana, ia bersiap meninggalkan kantor.
Luna sudah turun lebih dulu. Gadis kecil itu berdiri di dekat pintu keluar, tepat di samping Vara.
“Luna, ayo kita pulang,” ajak Arga saat mereka bertemu di area parkiran.
“Iya, Om,” jawab Luna patuh, lalu menoleh ke Vara dengan mata berbinar.
“Kak Vara, ayo. Om Arga antar Kak Vara pulang.”
Vara tersenyum lembut dan menggeleng.
“Terima kasih, Luna. Kak Vara pulang sendiri saja.”
“Ayolah, Kak,” rengek Luna.
Lalu ia menoleh ke Arga, menarik tangan pamannya.
“Om, kita antar Kak Vara pulang, ya.”
Arga menatap mereka berdua sejenak, lalu berkata singkat dengan nada datar,
“Ayo, Vara. Masuklah.”
Luna langsung tersenyum lebar.
“Ayo, Kak!” katanya antusias sambil menarik tangan Vara.
Vara sempat ragu, tapi akhirnya menurut.
“Nita, aku pulang dulu, ya,” ucapnya sebelum masuk ke mobil.
“Iya, aku bisa pulang sendiri,” balas Nita sambil tersenyum.
Di dalam mobil, Luna justru lebih banyak diam. Ia duduk tenang di kursi belakang bersama Vara. Namun wajahnya jelas menunjukkan kebahagiaan, senyum kecil yang tak lepas sejak tadi.
Arga mengantar Vara hingga ke depan rumahnya. Setelah Vara turun dan mengucapkan terima kasih sekali lagi, mobil kembali melaju menuju kediaman Arga.
Beberapa menit kemudian, mobil itu berhenti di halaman rumah. Saat mereka keluar langkah mereka terhenti.
Sebuah mobil mewah terparkir di sana.
“Om, itu mobil siapa?” tanya Luna penasaran.
“Kita lihat saja di dalam,” jawab Arga tenang. Dari raut wajahnya, jelas ia sudah menduga siapa tamu tersebut.
Luna yang tak sabar langsung berlari masuk ke dalam rumah.
“Luna, jangan lari-lari! Nanti jatuh,” tegur Arga dari belakang.
Namun Luna tak menjawab. Begitu sampai di ruang tengah, matanya langsung membulat.
“Kakek! Nenek!” teriak Luna penuh kegembiraan.
Benar saja. Kedua orang tua Arga sudah duduk di ruang tamu.
Luna berlari memeluk kakek dan neneknya bergantian, lalu dengan manja duduk di pangkuan sang nenek.
Arga menyusul masuk.
“Papa, Mama… kenapa tidak memberi kabar dulu kalau mau datang?” ucapnya sambil duduk di seberang ayahnya.
“Arga bisa menjemput.”
“Sengaja,” jawab Nicholas singkat sambil tersenyum.
“Kami ingin memberi kejutan.”
Melani mengusap rambut Luna dengan lembut.
“Luna, kenapa pulang sekolah tidak langsung pulang ke rumah?”
“Luna ke kantor Om, Nek,” jawab Luna polos.
“Di sana Luna bisa ketemu Kak Vara.”
“Kak Vara?” ulang Melani, lalu menatap Nicholas dan Arga bergantian.
“Kak Vara siapa?” kini Nicholas yang bertanya.
“Kak Vara itu karyawan di perusahaan Om,” jawab Luna bersemangat.
“Dia baik, cantik, dan tadi Om baru saja antar Kak Vara pulang.”
Melani menatap Arga dengan penuh selidik.
“Siapa dia, Arga? Kenapa kamu tidak pernah cerita ke Mama?”
“Dia bukan siapa-siapa, Ma,” jawab Arga singkat.
“Hanya karyawan yang dekat dengan Luna.”
“Benarkah?” Melani mengangkat alis.
“Bukankah selama ini Luna tidak mudah dekat dengan orang baru?”
Arga terdiam.
“Mama ingin bertemu dengannya,” lanjut Melani mantap.
Melani lalu menoleh pada Luna.
“Bagaimana, Luna? Bolehkah Nenek bertemu dengan Kak Vara?”
“Tentu boleh, Nek,” jawab Luna cepat.
“Tapi… untuk apa Nenek ingin bertemu Kak Vara?”
“Nenek hanya ingin mengenalnya,” jawab Melani sambil tersenyum penuh arti.