Sebuah peristiwa nahas menghancurkan hidup Leon dalam sekejap. Bukan hanya tubuhnya yang kehilangan fungsi, tapi juga harga diri, masa depan, dan perempuan yang pernah ia cintai sepenuh hati. Sosok yang dulu dikenal sebagai CEO muda paling gemilang di kota itu kini terkurung di balik dinding kamar, duduk di kursi roda, ditemani amarah dan rasa hampa yang tak pernah pergi.
Kepribadiannya berubah menjadi dingin dan kasar. Setiap perawat yang ditugaskan akhirnya menyerah, tak satu pun sanggup bertahan menghadapi kata-kata sinis dan ledakan emosinya. Hingga suatu hari, hadir seorang suster baru. Gadis muda dengan sikap lembut, namun menyimpan keteguhan yang tak mudah runtuh.
Ia merawat Leon bukan sekadar menjalankan kewajiban, melainkan menghadirkan kesabaran, kehangatan, dan secercah cahaya di tengah hidupnya yang gelap. Namun, akankah ketulusannya cukup untuk meruntuhkan benteng hati Leon yang telah membeku? Ataukah ia akan bernasib sama. Pergi, meninggalkan Leon. dalam keterpurukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Pembelaan
Seperti janjinya semalam, hari ini Leon akan menemani Nayla menjenguk ayahnya. Meskipun Leon tampak cuek dan duduk di kursi roda sambil membelakangi Nayla, namun sesekali ia menoleh ke arah gadis itu yang sedang mendorong kursinya.
Wajah Nayla terlihat cerah. Senyum bahagia tak pernah lepas dari bibirnya. Melihat itu, entah mengapa, hati Leon ikut terasa hangat. Sudah beberapa waktu ini, hanya dengan melihat senyum Nayla saja, ia bisa ikut merasa bahagia.
“Sepertinya kamu senang sekali hari ini,” ucap Leon tiba-tiba, memecah keheningan di antara mereka.
“Tentu saja, Tuan. Terima kasih karena sudah mengizinkan saya menjenguk Ayah… dan Tuan juga bersedia ikut. Padahal Tuan pasti lelah setelah seharian bekerja,” kata Nayla dengan mata berbinar, meski terlihat sedikit tak enak hati.
Leon menoleh sedikit, tersenyum tipis. “Tenang saja, Nayla. Aku juga yang ingin ikut. Bukankah tadi aku bilang ingin berkenalan dengan....”
“Stop!” potong Nayla cepat, menghentikan ucapan Leon. “Kalau Tuan melanjutkan kalimat itu, saya tidak akan mau membantu Tuan lagi!” katanya setengah mengancam. Nayla tahu pasti Leon akan kembali menggoda dengan kalimat-kalimat ambigu yang bisa membuatnya baper.
Leon tertawa kecil. “Baiklah, maaf. Aku hanya bicara apa adanya. Lagipula, siapa yang tahu seperti apa takdir ke depan?”
Nayla hanya mendengus pelan dan memilih diam. Tak ingin membalas, takut semakin larut dalam perasaannya sendiri.
“Ooo ya, kamu tidak membawakan sesuatu untuk ayahmu?” tanya Leon lagi, mencoba mencairkan suasana.
“Rencananya aku akan membelikan kue favorit Ayah. Di depan sana ada toko kue langganan kami. Kita mampir sebentar ya, Tuan.”
Setelah membeli kue, perjalanan pun dilanjutkan. Tak lama kemudian, mereka sampai di sebuah rumah sederhana. Mata Nayla berbinar saat mobil berhenti di depan halaman.
“Sudah sampai, Tuan. Ayo turun,” ajak Nayla sambil membuka pintu dan mulai mendorong kursi roda Leon menuju rumah.
“Ayah!” seru Nayla saat melihat sosok pria paruh baya yang tengah duduk santai di beranda.
Pria itu segera menoleh. Matanya membelalak senang. “Nayla! Kamu pulang, Nak? Ayah kangen sekali!” ujarnya dengan suara berat.
Nayla segera berlari dan memeluk ayahnya dengan erat. “Aku juga kangen, Yah. Bagaimana keadaan Ayah? Obatnya diminum kan?”
“Sudah, Sayang. Ayah baru saja minum. Kamu lihat sendiri, Ayah baik-baik saja,” jawab pria itu sambil tersenyum hangat.
Namun kemudian, tatapan ayah Nayla tertuju pada pria tampan yang duduk di kursi roda, menunggu dengan tenang.
“Maaf, Tuan. Saking senangnya aku bertemu Ayah, sampai lupa memperkenalkan Tuan,” kata Nayla sedikit canggung.
Leon tersenyum maklum. Ia paham, Nayla pasti sangat rindu pada ayahnya.
“Yah, ini Tuan Leon. Putra dari Nyonya Gaby, yang waktu itu menjemputku,” jelas Nayla.
Ayah Nayla tersenyum ramah dan segera mengulurkan tangan, meski agak ragu. “Terima kasih, Tuan, sudah mau datang ke rumah sederhana kami. Saya merasa terhormat.”
“Tidak perlu sungkan, Pak. Saya yang merasa senang bisa datang ke sini,” balas Leon dengan sopan.
“Oh iya, Ayah. Aku bawakan kue favorit Ayah. Aku masuk dulu ya, mau memotong kue ini dan siapkan minuman,” ujar Nayla sambil membantu Leon dan ayahnya masuk ke dalam rumah. karena hari mulai beranjak senja.
seorang wanita paruh baya masuk dari pintu samping. “Nayla? Astaga, kamu pulang, Nak!” serunya senang. Itu adalah bibi Nayla, yang selama ini membantu merawat ayahnya.
Sementara Nayla dan bibinya sibuk di dapur, Leon dan ayah Nayla duduk santai di ruang tamu.
“Bapak sehat-sehat saja, kan? Saya dengar dari Nayla kalau Bapak sakit,” tanya Leon membuka pembicaraan.
“Beginilah, Tuan. Kondisi bapak memang naik turun. Tapi sekarang jauh lebih baik. Tuan sendiri, bagaimana? Apakah Nayla merawat Tuan dengan baik?” ayah Nayla balik bertanya.
Leon tersenyum. “Sangat baik, Pak. Nayla bukan hanya merawat saya, tapi juga… entah kenapa, bisa membuat saya percaya diri lagi.”
Mata ayah Nayla berbinar haru. “Syukurlah, kalau begitu. Bapak doakan Tuan cepat pulih, dan bisa berdiri serta berjalan seperti dulu lagi.”
Leon merasa do'a itu begitu tulus dan menyentuh. “Terima kasih, Pak. Dan… tidak perlu panggil saya Tuan. Cukup Leon saja, agar terasa lebih akrab.”
Ayah Nayla tersenyum hangat. “Baiklah, Leon.”
Sejenak suasana hening. Lalu ayah Nayla berkata pelan namun dalam, “Nak Leon… bapak ingin minta sesuatu.”
Leon menatap serius. “Apa itu, Pak? Jika saya bisa, pasti saya bantu.”
“Dengan kondisi bapak seperti ini, bapak tidak tahu akan sampai kapan bisa mendampingi Nayla. Dia hanya punya saya dan bibinya. Maka bapak mohon, jaga Nayla… sampai nanti dia menemukan seseorang yang benar-benar tulus mencintainya. Maaf kalau permintaan ini terlalu berat…”
Leon tak butuh waktu lama untuk menjawab. “Saya janji, Pak. Saya akan menjaga Nayla sebaik mungkin. Bapak tidak usah khawatir. Fokus saja untuk sembuh.”
Beberapa saat kemudian, Nayla kembali dari dapur membawa nampan berisi kue dan dua gelas minuman, disusul bibinya di belakang.
“Ayah, Tuan, ini kue dan minumannya. Ayo dimakan selagi masih hangat,” ucap Nayla sambil meletakkan semuanya di atas meja.
“Tuan, kenalkan ini Bibi saya. Yang selama ini merawat Ayah selama saya bekerja.”
Leon menyambut ramah, dan suasana hangat pun menyelimuti pertemuan singkat itu.
---
Setelah kunjungan yang hangat di rumah ayah Nayla, hari pun beranjak malam. Saat mobil meninggalkan kawasan rumah sederhana itu, Nayla baru menyadari arah yang mereka ambil tidak menuju kediaman Mahesa.
“Tuan mau ke mana? Ini bukan jalan pulang.”
Nayla menoleh dengan dahi sedikit berkerut saat mobil yang mereka tumpangi berbelok ke arah yang tak dikenalnya.
Leon melirik sekilas ke arahnya. “Sejak kapan aku bilang kita langsung pulang? Kita makan malam dulu. Kamu mau makan apa?”
Nayla tersenyum kecil. “Saya ikut Tuan saja. Apa pun tidak masalah.”
Leon mendengus pelan. “Hati-hati jawabnya. Nanti aku pesan ranting pohon.”
“Nggak gitu juga tuan,” sahut Nayla ringan.
Leon tersenyum. Entah sejak kapan, percakapan sederhana seperti ini terasa… menenangkan bahkan menyenangkan.
Mereka tiba di sebuah restoran eksklusif. Lampu kristal menggantung anggun, suasananya hangat dan tenang. Nayla mendorong kursi roda Leon ke meja di sudut yang cukup privat.
Namun senyum Leon memudar sejenak.
Clarissa.
Wanita itu duduk beberapa meja dari mereka, bersama seorang pria berjas rapi.
Nayla menangkap perubahan ekspresi Leon. “Kalau Tuan tidak nyaman”
“Tidak,” potong Leon tenang. “Aku tidak mau terlihat menghindar.”
Mereka tetap duduk. Anehnya, Leon terlihat santai, bahkan beberapa kali tertawa kecil. Nayla menikmati momen itu, melihat sisi Leon yang jarang ditunjukkan.
Di meja seberang, Davin justru lebih sering melirik ke arah Nayla. Ada sesuatu dari gadis itu ketenangan dan ketulusan terlihat jelas, seperti berhasil membuat Leon tampak berbeda. Lebih hidup.
Saat menunggu makan malam disajikan, Nayla berdiri sambil tersenyum ke arah Leon.
“Sayang, aku mau ke toilet sebentar.”
Leon mengangguk. “Hati-hati.”
Namun baru beberapa langkah pergi, Nayla berhenti mendadak. Ia menepuk tas kecilnya.
“Ponselku…” gumamnya pelan. “Sepertinya tertinggal di mobil.”
Ia berbalik arah menuju parkiran basement restoran.
Tak lama kemudian, terdengar langkah suara langkah dibelakang nya.
“Kamu sengaja, ya?”
Nayla menoleh. Clarissa berdiri beberapa meter darinya, tangan terlipat di dada.
"Apa maksud anda?" Tanya Nayla wajahnya tampak tenang.
Clarissa mendekat. “Cepat sekali naik derajat. Dari perawat jadi pasangan makan malam. Kamu pikir Leon benar-benar serius?”
Nayla membuka pintu mobil, mengambil ponselnya, lalu menutup kembali dengan perlahan.
“Apa pun urusanku dengan Leon, itu bukan urusanmu.”
Clarissa terkekeh sinis. “Jangan sok kuat. Kamu cuma pengganti. Pelarian sementara. Mana ada wanita normal yang mau hidup dengan pria lumpuh.”
Nayla berhenti melangkah.
“Kamu keterlaluan,” ucapnya pelan, tapi jelas.
“Oh?” Clarissa mendekat. “Aku hanya jujur. Jangan-jangan kamu cuma mengejar hartanya. Lagipula, sebagai pria lumpuh… apa dia masih normal?”
Ucapan sungguh keterlaluan.
Nayla berjalan lebih dekat, dan menatap Clarissa tanpa gentar.
“Yang tidak lengkap itu bukan tubuh Leon. Tapi hatimu.”
Clarissa terdiam sesaat.
“Kau mencintainya hanya saat dia berdiri tegak,” lanjut Nayla. “Saat dia jatuh, kau pergi. Aku berbeda.”
Clarissa tertawa mengejek. “Kamu terlalu percaya diri.”
“Aku percaya pada Leon,” balas Nayla tegas. “Dan tentang hal yang kamu hina tadi, Leon tidak pernah kurang sebagai pria. Kalau kamu tidak pernah merasakannya, mungkin memang kamu bukan orang yang dia inginkan.”
Wajah Clarissa memucat.
“Itu mustahil,” desisnya.
“Tidak semua wanita berhak mendapatkan sisi terbaik seorang pria,” jawab Nayla dingin.
“Kau murahan!” sembur Clarissa.
“Terserah,” Nayla mengangkat bahu ringan. “Tapi setidaknya aku tidak meninggalkan orang yang kucintai saat dia terpuruk.”
Ia melangkah pergi, meninggalkan Clarissa yang membeku di tempat.
Di dalam restoran, Leon melihat rekaman yang dikirim oleh sang sopir, ternyata sopir segera merekam kejadian, dari Clarissa datang menghampiri Nayla. Rekaman diputar.
Matanya melebar sesaat. Lalu senyum tipis muncul di bibir Leon hangat, tulus, dan tak disadari membuat hatinya menghangat.
“Perempuan keras kepala,” gumamnya lirih.
Bukan karena ucapan beraninya saja. Tapi karena Nayla berdiri di sisinya tanpa ragu, tanpa takut.
Nayla kembali ke meja.
“Lama sekali?” tanya Leon.
Nayla mengangguk. “Iya, tadi saat akan ke toilet, aku teringat ponsel ku ketinggalan dimobil, jadinya lama. Maaf ya."
Leon menatapnya lebih lama dari biasanya.
“Terima kasih.”
Nayla tersenyum kecil. “Untuk apa?”
Leon tidak menjawab. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatinya merasakan hal yang berbeda.
Bisa-bisanya diplagiat tanpa rasa bersalah 👎👎👎👎👎👎👎👎👎