Bagi Adrian Dirgantara, hidup adalah angka dan algoritma dari lantai 50 gedung pencakar langit. Namun, semua berubah saat ia mewarisi Dirgantara Tea Estates—perkebunan teh bangkrut yang penuh utang dan petani keras kepala.
Ambisi Adrian hanya satu: menjual tanah itu dan kembali ke kota. Tapi wasiat ayahnya mengikat: tanah tak boleh dijual sebelum ia berhasil memanen teh kualitas "Grade A".
Di tengah kabut pegunungan, Adrian berhadapan dengan Sekar, agronomis desa yang menganggapnya "hama kota". Terjepit antara debt collector dan lumpur perkebunan, Adrian harus memilih: memaksakan teknologi canggihnya, atau belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan satu klik aplikasi.
Satu musim, satu panen, atau kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri sanafila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Di Antara Langit dan Daun
Cahaya emas yang tadi meledak di Kawah Putih perlahan memudar, tapi bukannya ninggalin bau belerang yang nyengat atau tanah yang gosong, Sekar justru ngerasain udara yang sangat sejuk. Dingin, seger, dan punya wangi pucuk teh yang paling enak yang pernah dia hirup seumur hidupnya.
Sekar ngebuka matanya pelan-pelan. Dia masih di dalem bunker "Akar Sejati", tapi ada yang aneh. Layar hologram yang tadi nampilin peta bumi sekarang cuma nampilin garis-garis statis warna putih. Suara mesin lift yang biasanya berdengung pelan juga udah mati. Sunyi banget, tipe sunyi yang bikin kita bisa denger detak jantung sendiri.
"Ris... lu nggak apa-apa?" Sekar nengok ke samping.
Aris lagi megangin kepalanya, duduk di lantai besi sambil ngos-ngosan. "Gua rasa... otak gua baru aja di-format ulang, Kar. Kita masih hidup kan? Gua masih ngerasa laper, berarti gua masih manusia."
Sekar nggak jawab. Dia berdiri, langkah kakinya kerasa ringan banget, kayak berat badannya ilang setengah. Dia jalan nuju ke pintu keluar bunker lubang ventilasi raksasa yang tadi dipake Adrian buat melesat keluar.
Begitu dia ngelihat ke atas, Sekar langsung mematung.
"Ris... lu harus liat ini," bisik Sekar. Suaranya hampir nggak keluar karena saking kagetnya.
Aris nyamperin dengan langkah pincang. Pas mereka berdua ngelihat ke luar, mulut mereka kompak melongo. Mereka nggak lagi di bawah tanah Malabar. Mereka nggak lagi di bumi yang penuh api dan perak.
Bunker mereka sekarang melayang di sebuah ruang hampa yang warnanya biru dongker keunguan, mirip langit pas mau subuh. Tapi yang bikin gila adalah pemandangannya: di sekeliling mereka, sejauh mata memandang, ada pohon-pohon teh raksasa yang tingginya mungkin ribuan kilometer.
Batangnya terbuat dari jalinan cahaya emas, dan daun-daunnya segede pulau. Pohon-pohon itu nggak tumbuh di tanah, tapi melayang bebas, akar-akarnya saling melilit ngebentuk jembatan-jembatan cahaya di antara bintang-bintang.
"Kita di mana, Kar? Galaksi lain? Atau kita udah mati terus masuk ke surga versi tukang kebun?" Aris nanya dengan suara gemeteran.
"Ini bukan galaksi lain, Ris," Sekar ngulurin tangannya ke luar lubang. Dia bisa ngerasain partikel-partikel cahaya nempel di kulitnya, rasanya anget dan penuh energi. "Inget kata Adrian tadi? Dia mau ngerubah realitas jadi sesuatu yang nggak dikenal sama The Architect. Gua rasa... ini adalah 'Dunia Emosi' yang dia buat pake protokol Overload tadi. Ini adalah Malabar yang udah jadi semesta sendiri."
Sekar nggak nunggu lama. Dia langsung manjat keluar dari lubang ventilasi itu, loncat ke salah satu akar cahaya yang melintas di deket bunker.
"Woi! Kar! Jangan nekat! Kita nggak tahu gravitasinya gimana di sini!" teriak Aris panik.
"Gravitasinya ngikutin niat kita, Ris! Lu bayangin aja lu lagi jalan di kebun teh biasa!" jawab Sekar tanpa nengok. Dia mulai lari di atas jembatan akar cahaya itu.
Sekar lari secepat yang dia bisa. Di dunia ini, dia ngerasa sangat tangguh. Nggak ada rasa capek, nggak ada napas yang sesak. Dia terus manggil-manggil nama Adrian.
"Adrian! Lu di mana?! Lu janji bakal balik!"
Suaranya bergema di antara daun-daun teh raksasa yang setiap kali kena suara Sekar, mereka bakal ngeluarin pendaran cahaya warna-warni. Sekar terus nembus kabut cahaya itu sampai dia tiba di sebuah area yang mirip banget sama puncak Malabar, tapi versi jauh lebih megah.
Di tengah area itu, ada sebuah meja kayu tua meja yang sama yang ada di gubuk mereka—dan di atasnya ada dua cangkir teh yang masih ngeluarin uap.
Sekar berhenti. Jantungnya berdegup kencang. Dia ngelihat sosok pria lagi berdiri membelakangi dia, natap ke arah "matahari" yang sebenernya adalah kumpulan memori manusia yang bersinar terang di kejauhan.
Pria itu pake zirah hitam-emas, tapi helmnya udah dibuka. Begitu dia nengok, Sekar bisa liat wajah Adrian. Tapi ini bukan Adrian yang transparan atau Adrian yang ketakutan. Ini adalah Adrian yang bener-bener kelihatan tangguh, tenang, dan punya wibawa yang luar biasa. Tatapan matanya tajam tapi lembut, kayak laut yang dalem.
"Dri..." Sekar nyaris ambruk karena lega.
Adrian senyum. "Gua tau lu bakal nemuin jalan ke sini, Kar. Lu selalu punya navigasi yang bagus kalau urusan perasaan."
Sekar lari dan langsung meluk Adrian. Kali ini, zirahnya nggak kerasa dingin. Malah anget banget, sehangat pelukan manusia asli. "Gua pikir lu meledak bareng si Architect itu."
Adrian ngelepas pelukannya pelan, terus dia ngajak Sekar duduk di meja kayu itu. "Secara fisik, kita emang meledak. Tapi protokol Overload itu sebenernya adalah perintah 'Copy-Paste'.
Gua mindahin seluruh kesadaran Malabar, termasuk kalian dan bunker itu, ke dalam dimensi saku yang gua ciptain di dalem memori gua sendiri. The Architect nggak bisa masuk ke sini karena di sini hukumnya bukan matematika atau kode, tapi perasaan. Dan dia... dia nggak punya itu."
"Terus dia sekarang di mana?" tanya Sekar sambil megang cangkir teh yang rasanya bener-bener kayak teh Malabar asli.
"Dia terjebak di luar sana, di realitas yang udah gua bikin 'kosong'. Dia kayak penguasa yang nggak punya rakyat. Dia punya kekuatan buat ngerubah dunia, tapi dunianya udah gua pindahin ke sini," Adrian ngejelasin sambil natap langit semesta barunya.
Sekar ngelihat ke sekeliling. "Dunia ini... indah banget, Dri. Tapi apa kita bakal selamanya di sini? Jadi bayangan di dalem pikiran lu?"
Adrian ngegenggam tangan Sekar. Tangannya kerasa sangat padat dan kuat. "Ini bukan sekadar bayangan, Kar. Ini adalah benih dunia baru. Gua lagi proses buat nancepin 'akar' dunia ini balik ke bumi yang asli. Gua butuh waktu buat bersihin sisa-sisa radiasi perak di sana. Begitu bumi udah 'bersih', gua bakal tumpahin semua memori dan kehidupan di sini balik ke sana."
Adrian berdiri, dia ngebuka tangannya lebar-lebar. Tiba-tiba, dari arah bawah pohon-pohon teh raksasa itu, muncul ribuan titik cahaya biru. Titik-titik itu adalah jiwa-jiwa manusia yang tadi diselametin Adrian. Mereka melayang-layang dengan tenang, nunggu giliran buat "ditanam" balik ke bumi.
"Lu bener-bener jadi penjaganya ya sekarang?" gumam Sekar bangga.
"Gua cuma ngerjain apa yang harus dilakuin, Kar. Tapi gua nggak bisa sendirian. Gua butuh lu buat jadi 'penyambung' antara dunia ini dan raga manusia nanti.
Lu adalah satu-satunya yang punya koneksi murni sama tanah Malabar," Adrian natap Sekar dengan serius. "Lu siap buat tugas yang lebih gede dari sekadar nanem teh?" Sekar ngangguk mantap. "Apapun, Dri. Asal bareng lu."
Sementara itu, Aris akhirnya nyampe ke tempat mereka setelah perjuangan panjang manjat akar cahaya sambil ngomel-ngomel sendiri.
"Woi! Enak bener ya malah ngeteh! Gua di sana hampir dimakan sama kupu-kupu cahaya segede helikopter!" Aris dateng sambil banting pantat di rumput cahaya.
Adrian ketawa, suara tawanya kedengaran sangat lepas. "Kupu-kupu itu cuma mau nyapa, Ris. Mereka itu sensor keamanan baru gua."
"Terserah lu dah, Bos. Yang penting sekarang kita aman kan? Si emak-emak putih dari langit itu nggak bakal bisa nemuin kita di sini?" Aris nanya sambil nyicipin teh yang ada di meja.
"Di sini kita aman," jawab Adrian. "Tapi kita nggak boleh lengah. Gua baru aja nangkep sinyal aneh dari luar dimensi saku ini. Sepertinya The Architect lagi nyoba buat ngebangun raga baru di bulan buat ngepung bumi dari luar."
Adrian jalan ke arah pinggir tebing cahaya itu. Dia nunjuk ke sebuah titik hitam kecil di kejauhan langit semesta itu. "Itu adalah sisa-sisa pasukan The Harvester yang nggak ikut kesedot portal. Mereka lagi nunggu instruksi. Dan gua ngerasa... ada seseorang di bumi yang lagi nyoba buat komunikasi sama mereka."
"Siapa?" Sekar ngerasa firasat buruk.
"Pak Wijaya," jawab Adrian dingin. "Dia ternyata punya back-up kesadaran di dalem satelit rahasia. Dia lagi nyoba buat ngebuka pintu dimensi ini dari luar pake frekuensi Jantung Emas yang lu bawa, Kar."
Sekar kaget, dia langsung ngecek tasnya. Jantung Emas itu masih ada, tapi cahayanya mendadak kedap-kedip warna merah.
"Gua lupa kalau benda ini punya jalur dua arah!" Aris panik.
"Tenang," Adrian megang Jantung Emas itu. Cahayanya langsung balik jadi emas tenang lagi. "Selama gua ada di sini, dia nggak bakal bisa nembus. Tapi ini artinya kita harus kerja lebih cepet. Kita harus mulai proses 'Re-Birth' bumi besok pagi."
Adrian ngajak mereka berdua balik ke arah bunker. Dia nunjukin sebuah ruangan baru di dalem bunker yang tadinya nggak ada. Ruangan itu isinya adalah ribuan bibit pohon teh yang bercahaya biru.
"Ini adalah bibit kehidupan. Setiap bibit ini bawa satu kesadaran manusia. Besok, kita bakal turun ke bumi bareng-bareng. Bukan sebagai pengungsi, tapi sebagai penakluk yang bakal balikin warna hijau ke bumi," ucap Adrian dengan nada yang sangat tangguh.
Malam itu, mereka bertiga tidur di bawah rindangnya pohon teh raksasa. Adrian nggak tidur, dia tetep berjaga, berdiri di puncak akar paling tinggi sambil natap ke arah bumi yang kelihatan kecil dan redup di kejauhan. Dia ngerasa kekuatannya makin gede, tapi dia tetep berusaha buat nggak kehilangan sisi manusianya.
Dia ngambil selembar daun teh, terus dia tiup. Daun itu berubah jadi burung kecil warna emas yang terbang nuju ke arah bumi. "Pergi... kasih tahu mereka yang masih bertahan kalau bantuan bakal segera dateng," bisik Adrian.
Besok paginya, suasana mendadak berubah. Langit semesta saku itu yang tadinya biru tenang, tiba-tiba bergetar hebat. Suara dentuman keras kedengaran dari arah atas, kayak ada sesuatu yang lagi mukul-mukul kaca raksasa.
"Dri! Apa itu?!" Sekar bangun dengan kaget.
Adrian natap ke langit dengan wajah yang sangat serius. "Dia nemuin celahnya. The Architect nggak nyerang pake energi, dia nyerang pake 'Paradoks'. Dia masukin memori-memori palsu ke dalem sistem gua buat bikin gua ragu."
Tiba-tiba, di depan mereka, muncul sosok-sosok dari masa lalu Adrian. Ada staf kantornya di Jakarta, ada saingannya di bisnis, bahkan ada sosok ayahnya yang lagi marah-marah. Mereka semua teriak, nyalahin Adrian atas hancurnya bumi.
"Lu pembunuh, Adrian! Lu mindahin kami ke sini cuma buat mati pelan-pelan!" teriak salah satu bayangan itu.
"Jangan dengerin, Dri! Itu cuma virus mental!" Aris nyoba nutup kupingnya.
Adrian memejamkan mata. Dia ngerasa kepalanya sakit banget. Dunia pohon teh itu mulai layu dan rontok daunnya. Kegelapan mulai masuk lewat retakan-retakan di langit.
"Gua... gua bukan pembunuh..." bisik Adrian, suaranya mulai bergetar.
"Adrian, liat gua!" Sekar meluk Adrian, maksa Adrian buat buka mata. "Liat apa yang udah lu lakuin! Ini nyata! Kasih sayang kita nyata! Jangan biarin dia ngerusak ini semua pake kebohongan!"
Adrian ngerasain kehangatan Sekar. Dia narik napas panjang, dan perlahan amarahnya bangkit bukan amarah yang merusak, tapi amarah yang melindungi. Dia ngebuka matanya, dan kali ini matanya bener-bener putih terang.
"Cukup!" teriak Adrian.
Seketika, semua bayangan itu hancur jadi abu. Adrian ngangkat tangannya ke langit, dan dari tangannya keluar ribuan rantai cahaya yang langsung "menjahit" kembali retakan-retakan di langit semesta sakunya.
"Gua nggak bakal biarin lu masuk ke sini, Architect!" Adrian menggelegar.
Tapi, saat retakan terakhir hampir tertutup, sebuah tangan perak raksasa berhasil nahan celah itu. Tangan itu sangat kuat, lebih kuat dari semua serangan yang pernah Adrian terima. Dan dari balik celah itu, muncul wajah The Architect yang sekarang nggak lagi pake rupa ibunya, tapi rupa asli aliennya yang mengerikan.
"Jika aku tidak bisa masuk, maka tidak ada yang boleh keluar,"suara The Architect bikin seluruh dunia pohon teh itu berguncang hebat.
Tiba-tiba, portal pembuangan di bawah dunia itu terbuka paksa. Gaya tarik gravitasi yang sangat besar mulai nyedot semua jiwa-jiwa manusia di sana nuju ke arah ruang hampa yang mematikan.
"Adrian! Jiwa-jiwanya kesedot!" teriak Aris sambil pegangan ke akar pohon.
Adrian ngelihat ke bawah, terus ngelihat ke arah tangan raksasa di langit. Dia harus milih: nutup celah di langit atau nyelametin jiwa-jiwa di bawah.
Tanpa ragu, Adrian loncat nuju ke arah portal pembuangan di bawah. "Sekar! Aris! Ambil alih kendali bunker! Pake energi Jantung Emas buat nahan celah di langit! Biar gua yang urus di bawah!"
"Adrian, jangan! Lu nggak bisa sendirian di sana!" Sekar nyoba ngejar, tapi Adrian udah melesat jauh.
Adrian mendarat di tengah-tengah ribuan jiwa yang lagi ketakutan. Dia ngerentangin tangannya, ngebentuk jaring emas raksasa buat nangkep mereka semua. Badannya gemeteran nahan beban jutaan jiwa, ditambah lagi gaya tarik portal yang mau ngebawa dia pergi.
"Gua nggak bakal ngelepasin kalian!" teriak Adrian.
Tapi di saat yang sama, tangan perak di langit berhasil ngebuka celah lebih lebar, dan The Architect mulai masukin pasukan Cleaners-nya ke dalam semesta saku Adrian.
Mampukah Adrian menahan jutaan jiwa manusia sendirian di tengah tarikan portal pembuangan yang mematikan, sementara Sekar dan Aris harus berjuang melawan invasi pasukan Cleaners yang mulai masuk ke semesta saku mereka?
Apa yang akan terjadi jika Jantung Emas yang dipegang Sekar justru menjadi pintu masuk bagi kesadaran Pak Wijaya untuk mengacaukan pertahanan dari dalam? Di tengah kepungan dari dua arah, rahasia terakhir apa yang disembunyikan Adrian di dalam bibit-bibit pohon teh biru yang belum sempat dia jelaskan?
semangat update terus tor..